Tanggal 2 bulan 12,,hari yang menyejarah.. Tapi bukan tentang aksi damai yang akan kutuliskan,,sudah banyak yang lebih ahli menuliskannya. MaasyaAllah, bergetar hebat menyaksikan, membaca dan melihat foto-foto para mujahid dan mujahidah..
Tanggal 2 bulan 12,,hari lahir seorang anak gadis remaja yang seminggu lalu tepatnya saat aku menelpon ke rumah dia segera merebut hape mama dan langsung menodong
"Mana kadoku?".
"Kado apa?"
"Ultah" sedikit merajuk malu-malu
"Emang kapan?" pura-pura lupa
"Tanggal 2, pas aksi damai bela Islam" jawabnya meyakinkan
"Tawwa,,berarti sama dong, kita ultah di hari pas aksi damai"
"Iyo dih, ultahmu tanggal 4 11 kemarin"
Dan akhirnya dia minta jatah kadonya, gaji saya yang saya tawar 10rb saja dan dia merajuk gag apa-apa 10rb asal dikali 1000 wkwkwk..
Oh,,adikku sayang
RisKa Afifah...Kau sudah besar ternyata. Udah belasan tahun, gag terasa yah. Padahal aku ingat dulu, sebelum kau lahir, saat kutau dari tante kalau mama sedang mengandungmu. Aku hampir tiap hari mengabarkan dengan riang gembira kepada teman-temanku di sekolah, SD. Bahwa aku akan segera punya adik padahal usiaku saat itu sudah belasan juga. Mungkin mereka akan lupa pernah kuceritakan perasaan senangku, tapi aku tidak dek. Dan kebahagiaan itu akhirnya pecah setelah saat subuh hari di bulan Ramadhon kami-aku dan kakak-kakakmu yang lain-masih tidur dan terbangun saat mendengar suara tangismu. Mama memang hebat, hampir selalu melahirkan di rumah dengan bantuan nenek dan tetangga. Maka, kami entah mengapa yang sudah terjaga, malu-malu turun dari tempat tidur, malu-malu melihat rupamu bagaimana, hanya saling memandang, bersuarapun tidak hingga nenek membangunkan kami yang sebenarnya sudah terbangun.
Dan kau akhirnya menjadi mainan baru dalam rumah, disayang, direbutin untuk digendong, direbutin dicium, direbutin ditemani main, ditemani bobo, diayun dalam buaian, digantiin celana, baju, dipakaikan topi, hiasan lain-lain untuk bayi perempuan. Kau hadir melengkapi kebahagiaan dalam rumah sederhana kita. Dan tak terasa kau mulai merangkak, hingga bisa berdiri dan akhirnya bisa berjalan. Kau semakin lucu seiring kau bisa bicara walau masih patah-patah, pipi cubby mu selalu jadi rebutan untuk dicium dan dicubit. Kenakalanmu menghiasi keramaian dalam rumah, walau ketika kau menangis suaramu entah mengapa sangat kencang, hampir-hampir satu kampung orang mendengarnya.
Waktu memang seperti anak panah yang melesat, sangat cepat. Kau akhirnya masuk TK, kau sangat membanggakan mama papa. Otakmu mulai kelihatan keren. Itu terlihat saat kau ikut lomba senam TK se kecamatan pada 17 agustusan. Kau tiap hari bahkan mengajariku mengikuti irama senam yang terlihat centil, khas anak TK. Dan saat di arena lomba, ku dengar sayup-sayup para ibu-ibu menunjuk-nunjuk dan mengatakan, kalau irama dan gerakanmu pas, nggak sama dengan anak-anak yang lain yang acak-acakan. Aku berdiri di situ sedikit kagum dan bangga padamu.
Ternyata otak kerenmu sampai di bangku SD, kau selalu rangking 1. Kecuali saat ujian datang sebagai peringatan padamu, kau jatuh di rangking 4 saya lupa kelas berapa, itu akibat keseringan main game. Kau nangis, itu cerita mama, sebab aku sudah di tanah rantau menjadi seorang Mahasiswa. Aku yang menelponmu berusaha membesarkan hatimu, masih ingat? Aku bilang, gag mesti rangking 1 buat sukses kan? Tapi sekali lagi buat mama sama papa bangga dong. Maka, sejak itu kau berusaha mengurangi main-mainmu dan belajar giat lagi. Terbukti kau lulus SD dengan menduduki peringkat pertama.
Dan sekali lagi waktu begitu cepat berlalu, kau masuk SMP. Aku ingat,saat aku balik kampung kau tiba-tiba berubah. Kau sudah tidak mau saya peluk dan cium. Kau mulai masuk pubertas ternyata, mulai malu-malu. Sangat berbeda waktu masih di bangku SD, setiap aku balik kau selalu peluk, dan tetap membiarkan aku mencium pipi cubbymu. Ah, dan itu menjadi senjata baruku. Sebagai ancaman jika kau tidak menurut. "Nggak mau pergi nggak, nanti saya cium" Dan kau mengalah, lebih memilih bersegera dibanding aku cium. Padahal pipimu itu masih cubby walau tak secubby dulu, selalu menggoda untuk dicium. Walau pada akhirnya aku sampai sekarang masih sering berhasil mencium pipimu yang akhirnya kau lap kasar, sebagai bentuk kejengkelan sudah kucium, haha
Hmmm,,kau betul-betul sudah masuk usia remaja, maka setiap saya pulang kau pasti akan bosan mendengar ceramahku tentang bahwa kau sudah wajib sholat loh, sudah wajib berhijab loh. Kau sudah bosan saya suruh menghapal Al-Qur'an, bahkan kau hampir suka menolak menjawab telponku, kata mama, kau malas diceramahi. Alamak.. Tapi, sepertinya kau memang hanya cuek dengan semua. Aku tahu kita sama-sama bergolongan darah B yang cueknya minta ampun. Dan kemarin pas mau Romadhon, mungkin karena terbujuk rayuan gombal kami--aku dan 2 kakak kembar--kau tiba-tiba berbisik untuk ditemani pasar beli jilbab. Tapi aku berharap itu karena hidayah dari Allah. Akhirnya kau membeli jilbab mungil bersama bunda Fifa, sebab you knowlah, aku tak ahli dalam hal itu,hehe. Dan di hari pertama bulan Romadhon, kau pakai jilbab mungil itu. Aku menahan diri untuk tak membullymu, padahal aku sangat ingin menggodamu waktu itu, sekedar bilang "cie cie makin cantik pake jilbabnya" tapi urung. Dan hari-hari berikutnya, aku tak membullymu tapi betul-betul jujur mengatakannya "Cantik ternyata pake jilbab" dan kau hanya bisa senyum-senyum malu-malu.
Yah, kau masih remaja, tapi kau kadang lebih dewasa dariku. Kau malah jadi teman curhat, haha. Padahal usia kita jauhh lebih 10. Kau bahkan lebih tahu banyak tentangku dibanding mama. Kau juga terlihat dewasa ketika kau selalu mengalah, merelakan si TAMPAN (TAbungan Masa dePAN)mu, yang di depannya kau tulis besar-besar 'TAMPAN' untuk berpidah tangan ke aku ketika aku lebih butuh. Dan setiap aku balik kampung, kau selalu sibuk menghitung 'hutang-hutang'ku pada semua orang di rumah. 'Hutang'ku di mama, papa, nenek, amir, kembar, yus, sampai 'hutang'ku padamu. Dan kau menyimpulkan, 'hutang'ku padamu yang paling besar, haha..
Ah,,makasih pokoknya sudah rela berkorban selama ini buat kakakmu yang gag tahu kapan bisa kalian andalkan. Makasih udah jadi sahabat, teman ngakak malam-malam, entah menertawakan apa, yang akhirnya sakit perut karena menahan tawa mengingat orang serumah, bahkan sekampung sudah pada tidur. Dan maaf, kalau belum jadi kakak yang baik untuk kalian, belum jadi kakak yang baik dicontoh olehmu, malah kadang lebih childis dibanding kau.
Eh,,,malah cerita panjang lebar padahal cuma mau bilang "Barokallahu fii Umurik adik bontot kami, doa terbaik buat kamu, tetap jadi adik yang keren dan membanggakan yah. Eh,, itu sholat jangan sampai bolong-bolong yah, kan sayang udah jilbaban tapi sholatnya gitu, ups. Ah, kamu udah hapallah kata-kata ini "Semua dikali nol kalau gag sholat", setiap kuberitahu, kau selalu bilang udah pernah bilang...udah pernah. Pokoknya jadi wanita sholehah yang dicemburui bidadari,,kan itu pernah kamu bilang. OK??"
Kadooooo..gag ada haha..
Kadonya do'a ajah...huhu..
Nantilah,,surprise,,u knowlah kakakmu ini gimana hidupnya..
:) 