Aku menyeka air di sudut mata. Entah sudah berapa kali aku menguap. Aku melirik jam di dinding, baru pukul delapan. Semalam memang aku tidak tidur sampai subuh. Badanku malah pegal-pegal berbalik kiri kanan kayak sate yang lagi dibakar. Sate aja nggak sampai semalaman di bolak balik. Huh, mana aku harus begadang malam ini buat selesaikan tugas yang sudah di ujung deadline. Wajah sudah kubasuh berkali-kali, kopi kental sudah habis kuteguk. Hanya mata yang tidak mau kompromi.
Hoammm, sekali lagi aku menutup mulut dengan punggung tangan kiri. Kali ini dibarengi dengan air kelenjar yang keluar cukup banyak. Buru-buru kulap dengan ujung lengan baju, sebentar kalau ada yang lihat dikiranya aku nangis gara-gara apa. Ah, sudahlah, mungkin saatnya tidur walau hanya semenit. Kata mama, nggak boleh paksakan diri, nanti malah sakit. Yang repot siapa coba?
Mataku segera merapat seiring kepala menyentuh benda empuk di ujung tempat tidur. Keesokan harinya, aku gelagapan melihat jam di handphoneku. Pukul 12.00.