Senin, 23 Juli 2018

Akhirnya Gatal Juga

Sudah seminggu sejak peristiwa terseret motor sendiri di depan rumah yang mengakibatkan kaki sebelah kanan saya pada luka. Tidak separah yang dibayangkan sih, hanya beberapa titik yang akhirnya perih sebab meluncur sedemikian rupa dan tergores jalan beton. Hari-hari pertama setelah itu adalah betapa tersiksanya saya lalu berpikir sejenak "Banyak dosa nih, makanya dikasih cobaan kayak gini." duh, sadar juga ternyata 😅😅. Tidak ada yang kritis memang, Alhamdulillah, tapi satu luka di lutut yang entah bagaimana begitu lebarnya dan membuat saya harus meringis setiap permukaannya mengenai kain gamis yang saya kenakan. Juga ketika menekuk dan meluruskan kaki adalah semacam penyiksaan yang tiada berujung, ah, lebay deh. Tapi begitulah, ketika waktu sholat tiba, saya harus pakai mode slow motion gitu kalau lagi mau sujud dan si bontot yang sedang nonton korea di sebelah saya malah cekikikan dan mati-matian menahan tawa oleh karena betapa gelinya dia melihat aksi saya. Dan dia semacam menemukan senjata ampuh ketika saya sedang menjahilinya dan saat emosinya memuncak, dia dengan kejengkelan yang telah penuh akan mencoba membalas dengan menyerang lutut saya. Maka jejeritanlah saya berusaha menghindari tangannya yang hampir mendarat di luka, walau saya yakin dia tidak akan setega itu. Lain cerita dengan si mamak. Ketika tengah asyik bercerita di samping, dan hal lucu mulai jadi perbincangan, oh Allah, tiba-tiba saja dengan refleksnya memukul-mukul lutut saya yang sedang terluka, duh, jangan dibayangkan, antara geli dan perih. Dan beberapa adegan besok-besoknya yang dengan tangan lebarnya selalu entah bagaimana menyambar lutut saya. Dan parahnya, si bontot malah ikutan tertawa melihat penderitaan saya. Mereka memang jahat euyyy 😅😅.

Meski begitu, si bontot suka sekali, entahlah, semoga saja, memperhatikan luka saya. Ketika suatu hari, saya dengan cengengnya meniup-niup lutut saya karena sedang perih-perihnya, dia lalu bertanya "Belum gatalkah?". "Belumlah, orang lagi ditiup juga, artinya masih sakit." Arti pertanyaan "Belum gatal?" adalah pasti semua sudah pada mengerti bahwa, ketika kita memiliki luka dan telah berada pada fase luka itu telah gatal, maka itu berarti bahwa sebentar lagi luka itu pasti akan sembuh. Dan hari ini, setelah genap seminggu, Alhamdulillah luka saya telah gatal, yeyhhh, gitu aja bahagia yakh? Sudah bisa berjalan leluasa bahkan bisa meladeni afifa, ponakan saya berlari kesana kemari tadi sambil teriak-teriak "Kekuatan.....super" lalu tangan mungilnya memukul saya dan langsung terbirit-birit ketika saya pura-pura berlari kencang mengejarnya.

Well, pada hakikatnya "Akhirnya gatal juga" adalah semacam simbol dari sebuah babak awal dari bangkitnya kita dari sebuah luka yang baru saja kita alami. Luka akibat "jatuh" secara harfiah dan membuat kita perih a.k.a galau dengan sangat parah. Entah jatuh dari sebuah karier yang bagus, terperosok ke dalam kenestapaan sebab yang diinginkan akhirnya terlepas, atau jatuh lalu patah pada sebuah kisah percintaan. Dan kisah "jatuh" lainnya yang membuat kita akhirnya hanya bisa mengurung diri di kamar dan membiarkan bantal menjadi basah oleh air mata kesedihan. Duh, segalau itukah? Lalu pada satu titik, ketika akhirnya waktu mencoba mengambil bagian sebagai obat dari luka-luka itu, membuat kita "akhirnya gatal juga" untuk segera bangkit dan berlari menggapai yang belum kita gapai. "Akhirnya gatal juga" untuk segera move on dan mencari hal baru yang lebih membahagiakan. Meninggalkan bantal-bantal kesedihan, meraih berbagai harapan baru. Lalu menunggu kita benar-benar telah pulih dan siap untuk memulai pertarungan yang baru. Dan mungkin, di antara waktu menunggu itu, kita bisa menghibur diri dengan menertawakan diri yang terlalu cengeng memanjakan luka selama ini, yang terlalu cengeng ketika ada yang tidak sengaja menambah lukanya. Padahal kita sebenarnya mampu bangkit lebih cepat dari yang kita lakukan. Dan ketika kita telah merasa bahwa luka kita telah betul-betul sembuh, melangkahlah dan yakinlah bahwa Allah telah mempersiapkan hal yang lebih baik dari yang kita lepaskan. Lebih baik dari yang telah kita usahakan dulu. Sebab, setiap takdir detik demi detik kita, telah Allah jaminkan kebaikan di dalamnya. Bahkan untuk sebuah "luka" yang "akhirnya gatal juga" 😅😅

r.i.a

#maafkanAkuYangCurhatIni
#jugaKesimpulanLukaYangApaAdanya 😁😁