Selasa, 19 Januari 2016

Mitsaqan Gholizah

Sedari pagi dia sudah menyiapkan tekad mengucapkan kata-kata itu. Sedari pagi dia bahkan sudah membaca lagi postingan seorang teman di akun facebook tentang kisah Salman Al Farisi, tentang cintanya yang dia serahkan kepada sahabatnya Abu Dzar. Sedari pagi bahkan dia kembali meyakinkan diri bahwa inilah takdir terbaik yang Allah berikan padanya. Sedari pagi Ahmad saudara tanpa talian darahnya itu kelihatan sangat bahagia, senyum yang dia beri tak pernah seindah itu sebelumnya.
Dan kini dia melihat lagi saudaranya itu di seberang sana masih menghias wajah dengan senyumnya. Kini, dengan bermodal kemeja berlapis jas hitam dan sepatu pantofel dia melangkah mendekat. Di sana ada sahabatnya dan seorang bapak penghulu beserta para saksi. Mitsaqan gholizah, sakral dan hikmat. Hingga beberapa detik berlalu "Sah..." sahutan beberapa saksi menyadarkannya bahwa baru saja ia mengucapkan Ijab Qobul. Arsy bergetar,menggetar pula dadanya.

Minggu, 10 Januari 2016

Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah

Bagaimanalah kami terlampau sedih menghadapi sebuah ujian sedang engkau diuji bertubi-tubi dari Rabbmu dengan sangat berat, bahkan hingga kepergianmu ..
Bagaimanalah kami terlalu mengeluhkan lapar yang hanya beberapa jam, sedang engkau senantiasa menghias pengikat bajumu dengan batu-batu pengganjal laparnya perutmu..
Bagaimanalah kami terlalu mengeluhkan beban dakwah hanya sebab sms kami tak terbalaskan mad'u, seruan menjalankan kewajiban tak diindahkan sedang engkau diolok-olok, difitnah, dilempari, terancam terbunuh, bahkan gigi2mu harus tanggal, besi pelindung wajahmu menembus wajahmu mengucurkan darah di uhud,, sakit yang kau rasa sungguhlah tak bisa tergambarkan..
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami mempelajari, mengamalkan, mengajarkan kepada saudara kami wahyu yang turun kepadamu sedang turunnya padamu membuat keringatmu mengalir, kadang sesak batapa beratnya, tapi engkau mengajarkannya kepada kami dengan tulusmu..
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami membalas cintamu yang jika kami mengumpulkan semua cinta-cinta terserak kami tak sanggup menyamai cintamu kepada kami,,
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami memikirkanmu yang hingga sakaratul mautmu masih engkau pikirkan kami umatmu,, Ummati,ummati,ummati..
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami meneruskan dakwahmu ini yang telah menerangi hidup-hidup kami, yang engkau perjuangkan dengan harta, darah, bahkan nyawamu hingga kami bisa menikmatinya sekarang..
Yaa Rasulullah,, betapa rindu ini.. Betapa rindu ini tak bisa tergambarkan,, betapa inginnya kami yaa Rasulullah,, inginnya kami memandang wajahmu kelak, minum di Al-kautsarmu..
Tapi Yaa Rasulullah, bahkan cinta ini, rindu ini, perjuangan ini amatlah jauh,,jauh dari yang kau lakukan untuk kami ummatmu,, Maka bagaimanalah kami yaa Rasulullah... Bagaimanalah kami...
Allahumma Sholli Ala Muhammad yaa Rabbi Sholli alayhi washolli..