Baiklah kalian pasti sudah bisa menerka, yaph..resolusi ibuku adalah berhijab. Simple mungkin bagi sebagian orang tapi bagiku itu luar biasa. Bagaimana tidak, aku sangat ingat ketika pertama kali pulang ke kampung dengan mengenakan kain segi tiga itu, walau belum syar'i. Biasa anak baru tarbiyah, semangat ikutin apa kata murobbi. Maka, dengan ala kadarnya, hehe. Aku mengenakan jilbab yang masih sangat aku ingat warna pink, transparan, hampir cuma sampai di leher. Tapi tetap aku pakai, entahlah saat itu sangat risih rasanya keluar tanpa menutupi kepala, menyembunyikan mahkotaku ini. Sampailah saat kakak menyuruhku menjemur pakaian di luar, sontak semua orang menegurku, terutama ibu "lah, buka toh itu jilbabnya, malu diliat tetangga". Hiks,,hampir-hampir aku mewek terkewek-kewek, tapi aku tahan mencoba tersenyum, masih bingung juga mau jelasin bagaimana. Akhirnya berat hati aku buka jilbab pink itu menggantinya dengan sarung yang tetap berusaha kututupi rambutku. Akhirnya saat tiba di tempat jemuran tak kuasa kubendung air yang mau keluar tadi, akhirnya jebol, banjirlah pipiku dengan buliran-buliran bening hangat.
Itu kisah yang tak mungkin kulupakan, tak ketinggalan nenek ikut meledek "Tambah alim saja ini cucuku" sambil nyengir memperlihatkan gigi ompongnya. Kakak yang mengataiku kolot, "rantasa'", gag gaul dll. Adik laki-lakiku yang kemudian spontan bilang "mau ceramah dimana ustadzah?". Adik perempuanku yang baru masuk Sekolah Dasar tidak ayal menarik-narik rok yang kukenakan. Mungkin pikirnya sejak kapan kakak tomboyku ini pakai rok lebar kayak gini apalagi berkaos kaki. Huah,,rasa-rasanya ingin segera aku balik ke Makassar, di sana begitu banyak saudara yang selalu mengingatkan tentang menutup aurat, banyak kakak-kakak yang mengingatkan Godhul Bashor (menundukkan pandangan), larangan pacaran selagi belum halal, berkhalwat, ngakak gag jelas, larangan ini itu yang tentunya untuk kebaikanku.
Ok, untungnya bapak yang memang pendiam tidak ikut heboh menyikapi tingkah seisi rumah. Hanya diam. Itu kesyukuranku namun, belum jelas juga apakah beliau menyetujuiku berhijab atau tidak. Hingga akhirnya liburan semester kedua aku pulang lagi ke kampung. Tentu dengan penampilan yang lebih beda dari pulang kampung pertama. Jilbab yang lebar, kaos kaki yang setia membungkus kaki bahkan sampai di dapur dan rok lebar serta baju yang kegedean kata orang di rumah. Maka, makin deraslah segala kata-kata menghujaniku yang rasa-rasanya panas di telinga sampai di hati dan kemudian keluar di mata. Kembali mataku menghangat, pipi banjir dan hidung memerah. Nangis tiap malam memikirkan kata-kata mereka, bukan sebab kata-kata yang tidak sepantasnya namun merasa gagal belum bisa memahamkan mereka tentang ini perintahnya Allah loh, mama, papa, adek, kakak, nenek. Tidak hanya seisi rumah, bahkan saat ada kerabat yang datang mereka juga menghujaniku dengan kata-kata yang sebenarnya bagus tapi menyindir. Duh, sempat berpikir tidak akan pulang kampung lagi. Bahkan Idul Adha beberapa kali aku tidak pulang, selain memang karena lagi bokek, juga sengaja menghindari kata-kata yang nusuk sampai jantung :(
Dan berselang tahun kedua hampir masuk ketiga kuliahku aku pulang. Paling tidak aku lega, tidak ada lagi kata-kata yang membuatku harus menutup telinga. Tidak ada, bahkan celetuk ibu ketika kami sedang sibuk-sibuknya membungkus beras yang akan kami jadikan makanan khas pada saat lebaran Idul Fitri, burasa namanya, beliau berkata "Yah, sebenarnya bagus juga kamu berjilbab begitu, dari pada teman-teman kamu yang kuliah di Makassar pas pulang ke sini mereka malah buka jilbab dan berseksi-seksi ria". Aku hanya berucap syukur dalam hati sembari berdo'a semoga seisi rumah suatu saat nanti diberi hidayah oleh Allah agar mereka mengikutiku berhijab karena taat pada Allah. Tapi tetap saja mereka akan menertawaiku jika dengan hebohnya aku tiba-tiba berlari masuk kamar atau ke dapur hanya karena mendengar suara tamu laki-laki menjejak mengetuk pintu karena biasanya kalau di dalam rumah semua mahram jadi aku buka jilbab sementara. Atau ketika akan keluar rumah, aku sibuk mencari kaos kakiku yang lupa kutaro dimana saat keluar dari kamar mandi.
Yah, begitulah perlahan-lahan keluarga di rumah mulai mau menerima perubahanku. Terkadang malah mereka yang mengingatkan jika ada tamu laki-laki "Ria cepat pakai jilbabmu ada orang" atau saat keluar rumah adik kecilku bersorak "pakai kaos kaki kamu" atau " Ria itu rok transparan loh, double ki". Wah, senangnya..semua yang dulunya merespon negatif malah yang mengingatkan.
Nah, sekitaran tahun yang sama, kakakku yang tinggal di Pare-pare mengatakan akan ikut terbiyah, yah suntuk seharian bahkan sampai malam hanya di asrama yang ruangannya sangat kecil hanya berdua dengan nenek yang #ups sangat cerewet. Jadi, dari pada menghabiskan waktu mendengar ocehan si nenek mending tarbiyah kataku. Dan akhirnya melalui Murobbiku, maka didapatkanlah Murobbi untuk kakakku. Awal ikut kakak biasa, pakai jeans baju lengan pendek dengan sarung bali. Dia bilang lucunya dia dulu awal ikut tarbiyah. Namun lama-lama Alhamdulillah berhijab denga baik dan rapih. Suatu kesyukuran. Dan kebetulan kakakku ini punya kembaran, maka saat pulang kampung diajaklah si kembarannya berjilbab juga. Walau awalnya tidak mau, akhirnya selang beberapa bulan sebelum pernikahan mereka yang digelar di hari yang sama, biasanya orang bilang "nikah kembar" maka kakak yang satu akhirnya berhijab juga. Wah,,makin senanglah aku. Oke di rumah sudah ada tiga anak gadis yang berhijab. Dan saat aku sudah di Makassar lagi, saat adik laki-lakiku menelpon dia bercerita betapa lucunya kakak kembar kami. Kata adikku, mereka yang dulu menertawaimu yang lari-lari ke kamar jika ada ramu laki-laki, sekarang mereka yang melakukannya. hehehe
Lucu memang tapi itu seperti waktu yang tidak terasa akhirnya sekitar setahunan yang lalu dan sekarang kakak kembarku sudah punya anak, dan yang satunya tinggal menunggu hari untuk melahirkan cucu kedua ibu bapak sekaligus ponakan keduaku. Waktu juga terasa begitu cepat ketika awal tahun 2015 ini kakakku mengirimkan foto anak kecilnya yang sedang digendong ibu di depan rumah. Yang buat haru adalah ibu berjilbab saat menggendong si kecil, maka dengan penasaran kutanyakan kepada kakak. Dan diapun berkata "Ibu memang berjilbab pas masuk tahun baru". Alhamdulillah inilah resolusi 2015 ibuku. Yah, mungkin kebahagiaan yang biasa menurut kebanyakan orang, tapi menurutku ini hal luar biasa. Kalian tahu, hidayah itu sangat indah mampu menghangatkan hati, menenangkan jiwa. Do'a yang utama,,Yaa Allah jadikan kami anak yang soleh, dengan begitu Engkau akan mendengar do'a kami untuk ibu bapak kami.
Luv U Mom,,semoga hidupmu selalu diberkahi Allah.
Dan maafkan anakmu yang belum bisa berbuat banyak untukmu.
![]() |
| My Mom and Dad |
.jpg)

