Selasa, 27 Januari 2015

Resolusi 2015 Ibuku

Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat berarti pun buatku dan terutama ibuku. Baiklah akan aku ceritakan. Sekitar 3 bulan yang lalu, aku divonis sebuah penyakit,,gag parah cuma dengan keadaan yang sendiri tinggal di sebuah rumah di sekitar Makassar membuatku tidak bisa mengurus diri sendiri. Akhirnya dengan sebuah instruksi dari bapak akhirnya pulanglah aku ke kampung. Biasa di kampung, banyak yang urus enak juga. Banyak yang perhatiin, terutama masakin. Masak masakan kesukaan apalagi kalau bukan 'kapurung'. Saat asik-asiknya masak dalam keheningan tiba-tiba ibu memecah kesunyian dengan bergumam "nanti jika sudah masuk tahun 2015 ibu mau berjilbab". "Alhamdulillah, bagus itu bu".

Baiklah kalian pasti sudah bisa menerka, yaph..resolusi ibuku adalah berhijab. Simple mungkin bagi sebagian orang tapi bagiku itu luar biasa. Bagaimana tidak, aku sangat ingat ketika pertama kali pulang ke kampung dengan mengenakan kain segi tiga itu, walau belum syar'i. Biasa anak baru tarbiyah, semangat ikutin apa kata murobbi. Maka, dengan ala kadarnya, hehe. Aku mengenakan jilbab yang masih sangat aku ingat warna pink, transparan, hampir cuma sampai di leher. Tapi tetap aku pakai, entahlah saat itu sangat risih rasanya keluar tanpa menutupi kepala, menyembunyikan mahkotaku ini. Sampailah saat kakak menyuruhku menjemur pakaian di luar, sontak semua orang menegurku, terutama ibu "lah, buka toh itu jilbabnya, malu diliat tetangga". Hiks,,hampir-hampir aku mewek terkewek-kewek, tapi aku tahan mencoba tersenyum, masih bingung juga mau jelasin bagaimana. Akhirnya berat hati aku buka jilbab pink itu menggantinya dengan sarung yang tetap berusaha kututupi rambutku. Akhirnya saat tiba di tempat jemuran tak kuasa kubendung air yang mau keluar tadi, akhirnya jebol, banjirlah pipiku dengan buliran-buliran bening hangat.

Itu kisah yang tak mungkin kulupakan, tak ketinggalan nenek ikut meledek "Tambah alim saja ini cucuku" sambil nyengir memperlihatkan gigi ompongnya. Kakak yang mengataiku kolot, "rantasa'", gag gaul dll. Adik laki-lakiku yang kemudian spontan bilang "mau ceramah dimana ustadzah?". Adik perempuanku yang baru masuk Sekolah Dasar tidak ayal menarik-narik rok yang kukenakan. Mungkin pikirnya sejak kapan kakak tomboyku ini pakai rok lebar kayak gini apalagi berkaos kaki. Huah,,rasa-rasanya ingin segera aku balik ke Makassar, di sana begitu banyak saudara yang selalu mengingatkan tentang menutup aurat, banyak kakak-kakak yang mengingatkan Godhul Bashor (menundukkan pandangan), larangan pacaran selagi belum halal, berkhalwat, ngakak gag jelas, larangan ini itu yang tentunya untuk kebaikanku.

Ok, untungnya bapak yang memang pendiam tidak ikut heboh menyikapi tingkah seisi rumah. Hanya diam. Itu kesyukuranku namun, belum jelas juga apakah beliau menyetujuiku berhijab atau tidak. Hingga akhirnya liburan semester kedua aku pulang lagi ke kampung. Tentu dengan penampilan yang lebih beda dari pulang kampung pertama. Jilbab yang lebar, kaos kaki yang setia membungkus kaki bahkan sampai di dapur dan rok lebar serta baju yang kegedean kata orang di rumah. Maka, makin deraslah segala kata-kata menghujaniku yang rasa-rasanya panas di telinga sampai di hati dan kemudian keluar di mata. Kembali mataku menghangat, pipi banjir dan hidung memerah. Nangis tiap malam memikirkan kata-kata mereka, bukan sebab kata-kata yang tidak sepantasnya namun merasa gagal belum bisa memahamkan mereka tentang ini perintahnya Allah loh, mama, papa, adek, kakak, nenek. Tidak hanya seisi rumah, bahkan saat ada kerabat yang datang mereka juga menghujaniku dengan kata-kata yang sebenarnya bagus tapi menyindir. Duh, sempat berpikir tidak akan pulang kampung lagi. Bahkan Idul Adha beberapa kali aku tidak pulang, selain memang karena lagi bokek, juga sengaja menghindari kata-kata yang nusuk sampai jantung :(

Dan berselang tahun kedua hampir masuk ketiga kuliahku aku pulang. Paling tidak aku lega, tidak ada lagi kata-kata yang membuatku harus menutup telinga. Tidak ada, bahkan celetuk ibu ketika kami sedang sibuk-sibuknya membungkus beras yang akan kami jadikan makanan khas pada saat lebaran Idul Fitri, burasa namanya, beliau berkata "Yah, sebenarnya bagus juga kamu berjilbab begitu, dari pada teman-teman kamu yang kuliah di Makassar pas pulang ke sini mereka malah buka jilbab dan berseksi-seksi ria". Aku hanya berucap syukur dalam hati sembari berdo'a semoga seisi rumah suatu saat nanti diberi hidayah oleh Allah agar mereka mengikutiku berhijab karena taat pada Allah. Tapi tetap saja mereka akan menertawaiku jika dengan hebohnya aku tiba-tiba berlari masuk kamar atau ke dapur hanya karena mendengar suara tamu laki-laki menjejak mengetuk pintu karena biasanya kalau di dalam rumah semua mahram jadi aku buka jilbab sementara. Atau ketika akan keluar rumah, aku sibuk mencari kaos kakiku yang lupa kutaro dimana saat keluar dari kamar mandi.

Yah, begitulah perlahan-lahan keluarga di rumah mulai mau menerima perubahanku. Terkadang malah mereka yang mengingatkan jika ada tamu laki-laki "Ria cepat pakai jilbabmu ada orang" atau saat keluar rumah adik kecilku bersorak "pakai kaos kaki kamu" atau " Ria itu rok transparan loh, double ki". Wah, senangnya..semua yang dulunya merespon negatif malah yang mengingatkan.

Nah, sekitaran tahun yang sama, kakakku yang tinggal di Pare-pare mengatakan akan ikut terbiyah, yah suntuk seharian bahkan sampai malam hanya di asrama yang ruangannya sangat kecil hanya berdua dengan nenek yang #ups sangat cerewet. Jadi, dari pada menghabiskan waktu mendengar ocehan si nenek mending tarbiyah kataku. Dan akhirnya melalui Murobbiku, maka didapatkanlah Murobbi untuk kakakku. Awal ikut kakak biasa, pakai jeans baju lengan pendek dengan sarung bali. Dia bilang lucunya dia dulu awal ikut tarbiyah. Namun lama-lama Alhamdulillah berhijab denga baik dan rapih. Suatu kesyukuran. Dan kebetulan kakakku ini punya kembaran, maka saat pulang kampung diajaklah si kembarannya berjilbab juga. Walau awalnya tidak mau, akhirnya selang beberapa bulan sebelum pernikahan mereka yang digelar di hari yang sama, biasanya orang bilang "nikah kembar" maka kakak yang satu akhirnya berhijab juga. Wah,,makin senanglah aku. Oke di rumah sudah ada tiga anak gadis yang berhijab. Dan saat aku sudah di Makassar lagi, saat adik laki-lakiku menelpon dia bercerita betapa lucunya kakak kembar kami. Kata adikku, mereka yang dulu menertawaimu yang lari-lari ke kamar jika ada ramu laki-laki, sekarang mereka yang melakukannya. hehehe

Lucu memang tapi itu seperti waktu yang tidak terasa akhirnya sekitar setahunan yang lalu dan sekarang kakak kembarku sudah punya anak, dan yang satunya tinggal menunggu hari untuk melahirkan cucu kedua ibu bapak sekaligus ponakan keduaku. Waktu juga terasa begitu cepat ketika awal tahun 2015 ini kakakku mengirimkan foto anak kecilnya yang sedang digendong ibu di depan rumah. Yang buat haru adalah ibu berjilbab saat menggendong si kecil, maka dengan penasaran kutanyakan kepada kakak. Dan diapun berkata "Ibu memang berjilbab pas masuk tahun baru". Alhamdulillah inilah resolusi 2015 ibuku. Yah, mungkin kebahagiaan yang biasa menurut kebanyakan orang, tapi menurutku ini hal luar biasa. Kalian tahu, hidayah itu sangat indah mampu menghangatkan hati, menenangkan jiwa. Do'a yang utama,,Yaa Allah jadikan kami anak yang soleh, dengan begitu Engkau akan mendengar do'a kami untuk ibu bapak kami.

Luv U Mom,,semoga hidupmu selalu diberkahi Allah.
Dan maafkan anakmu yang belum bisa berbuat banyak untukmu.

My Mom and Dad

Rabu, 21 Januari 2015

Kupu-kupu Cinta

Kau tahu, sebelum kepakan sayapmu menghampiriku
Kejahiliaan begitu buas menyelimutiku
Begitu banyak gugatan yang kulontarkan kepada Sang Pemberi Hidup
Namun, saat sayap kecilmu menghampiri,
Perlahan menaungi dan akhirnya mengajakku terbang.

Aku tersadar, betapa nikmat perjalanan yang kau tawarkan padaku
Akupun terlarut, perlahan kulepaskan jubah kejahiliaanku
Menyambut indahnya mahkota hidayahNya,,

Terkadang malah beban yang kutambahkan di sela-sela sayapmu begitu berat
Dan kaupun harus berhenti sejenak di antara ranting-ranting dahan kering
Mungkin engkau sedang mengumpulkan kekuatan untuk kembali membawaku
Karena kutahu, kau tak akan pernah meninggalkanku sedetikpun.

Sayap-sayap indah itu kau kepakkan lagi dan lagi
Kembali menuntunku setiap hari tanpa lelah
Aku baru sadar ternyata kau sedang membawaku melewati jalan menuju-Nya
Dengan cintamu, kesabaranmu, kemaafanmu atas segala salahku
Dan dengan sejuta  Rabithah di setiap helaan nafasmu, kau rengkuh aku

Kau begitu kuat,
Kau begitu perkasa,
Kaulah kupu-kupu cintaku,
Murobbiku...

Aku menyebutnya "Move On"

Kita seperti bermain petak umpet,,saling mengejar saling bersembunyi.. Namun, saat giliranq berjaga aku tak mendapatimu dalam setiap ruang pencarianku.. Akupun lelah mencari, dan berniat berhenti. Yah, aku berhenti dan aku pulang meninggalkanmu dalam persembunyianmu. Aku tidak peduli?? Bukan begitu, tapi aku kepayahan mencarimu, terkadang dalam gelap, dalam terang, dalam panas maupun dingin. Tak kutemukan.. benar2 nihil. Dan benar2 sudah tidak mempedulikanmu kali ini.
Maka, saat aku sampai di depan pintu rumahku. Kau tiba2 muncul, mengejutkanku. Bagaimana tidak terkejut, kau hadir dengan rupa yang berbeda. Sangat berbeda saat kubiarkan kau bersembunyi tadi. Apa yang terjadi? Tanyaku.
Kau hanya diam, bibirmu seakan terkunci. Sepertinya apa2 yang kau alami kemarin sudah kau masukkan dalam besi baja. Kau gembok dan kau lemparkan ke dalam palung yang paling dalam.
Oh, tidak... ada setetes,,bukan 2 tetes,,eh,,bukan bukan bertetes tetes air bening membasahi wajah teduhmu. Sungguh payah kau ingin menyembunyikannya dariku, kau berbalik badan dan pergi.. Aku tak dapat menahanmu. Entah mengapa tak sedikitpun usahaku untuk menghentikan langkah gontaimu. Sekali lagi kubiarkan kau. Mungkin saatnya kita untuk tidak bersapa, tidak bertatap. 
Paling tidak untuk waktu yang lama. Yah, aku ingin waktu yg lama. Bahkan selamanya.. Bukan karena marah tidak mendapatimu dalam persembunyianmu. Namun, ada seberkas keyakinan bahwa itulah yang terbaik saat ini.
Akhirnya pandanganku sudah tidak menangkap bayanganmu sedikitpun. Dan akupun berbalik, aku memasuki rumahku, menutup dan menguncinya.
Demikianlah, dan keesokan harinya. Aku mendapatkan hadiah yang luar biasa, apa itu? 
"Hati yang baru"

Cinta Yang Terlambat

Sejak awal kita memang terkesan dijodohkan. Bagimana tidak, tante, adik ayahku mengenalkanku padamu. Saat itu untuk pertama kalinya aku mendengar namamu disebut. Kau masuk dalam beberapa pilihan yang akan mengisi hari-hariku ke depan. Hingga tibalah ketika pilihan itu jatuh padamu, entahlah mungkin sudah takdir kita, akupun menerima saja. Lah, ini tante yang pilihkan, dia sudah mengenalmu lebih dari sepuluh tahun, pasti yang terbaik katanya untukku.
Baiklah, aku menerimamu. Kau pun. Kita menjalani hari-hari baru kita berdua. Hari yang biasa-biasa saja bukan? Sangat biasa hingga aku merasa kau mulai menyiksaku. Hari-hariku seperti tersita hanya untukmu. Bahkan malam saat semua orang telah terlelap, aku masih harus menemanimu, mengerjakan tugas-tugas untukmu.
Tidak hanya sampai di situ, kau mulai membuatku menangis. Terkadang saat tidak sanggup lagi menanggung beban ini karenamu, aku menelepon ayah dan ibuku di kampung meminta mereka memisahkan kita. Namun, mungkin saja harapan mereka masih besar untuk baiknya masa depan kita. Oke, aku menyerah aku mengikuti apa kata mereka. Ayahku, ibuku, saudara-saudaraku, yang justru mereka ikut berkorban untukmu. Ah, andai saja hanya diri ini yang merasakan sungguh beratnya hidup bersamamu, mungkin aku akan baik2 saja. Namun, mereka yang kusayangi harus merasakannya juga.
Aku juga paling benci jika beberapa orang menanyakanmu. Awalnya aku begitu menyanjungkanmu. Hah, memang mereka begitu terpesona mendengar ceritaku tentangmu. Bukannya harus begitu? Tapi yah aku memang tidak berbohong, memang seperti itu cerita tentangmu. Hingga makin lama makin jenuh juga selalu menjawab pertanyaan mereka tentangmu. Buat apa? Sepeduli itukah mereka tentangmu? Atau hanya ingin tahu? Atau mau membandingkan dengan apa yang mereka miliki? Entahlah. Aku juga malas mencari tahunya.
Saban hari kau mengajakku jauh, jauh dari teman2ku. Aku mulai berpikir, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenalmu lebih dalam. Mungkin saja nanti setelah mengenalmu aku akan jatuh cinta padamu. Iyyah, CINTA yang bahkan tak pernah kubisikkan padamu. Namun, nyatanya di tempat yang jauh itu belum selesai deritaku karenamu. Memang kau memperlihatkan hal-hal indah di sana. Tempat baru, orang baru, kawan baru. Tapi tetap aku tidak berhasil mengenalimu hingga kita kembali ke rumah. Dan sesampainya di rumah aku mulai berniat untuk mengacuhkanmu. Tidak akan mempedulikanmu. Aku bahkan meninggalkanmu dan pergi berpetualang bersama teman2ku. Kau tahu hal yang paling kusuka? Saat aku dan teman2ku mendaki puncak gunung. Saat-saat itulah aku tak mengingatmu sedikitpun. Aku sibuk dengan perjalananku, bercengkrama dengan teman2 seperjalananku, menikmati indahnya pohon-pohon, air yang mengalir, langit biru yang begitu dekat, awan yang berkumpul bak ombak di pantai, rumput-rumput mungil yang rela jadi pijakan, batu-batu kecil hingga besar. Semuanya memanjakan mataku, hatiku jadi tenang, tasbihku berkejaran, tahmidku bersahutan. Dengan begitu kau tak sedetikpun hadir dalam pikiranku. Itulah saat-saat bahagiaku. Terkadang aku pergi ke pulau seberang, sengaja untuk menghindarimu. Tega? Sungguh tidak, dengan begitu kau bisa berbuat seenakmu. Aku betul-betul berhasil mengacuhkanmu.
Pernah, bahkan banyak kali kita berjanji melakukan hal bersama di luar. Aku tidak peduli, berkali-kali aku malah tinggal di rumah. Terkadang tidur-tiduran saja, atau menonton tayangan di televisi. Atau aku sengaja berdiam diri merajut benang2 woll atau benang katun menjadi beberapa bentuk yang kurasa indah di mataku. Aku lebih suka seperti itu. Aku terus seperti itu dan terus melakukannya. Namun, kau tak juga pergi dariku, tetap bertahan. Oh Tuhan, sampai kapan kau berbuat seperti itu? Pernah aku mendengar bahwa kau akan pergi jika aku mencintaimu. Apakah kali ini aku harus jatuh cinta padamu? Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan? Bagaimana caranya aku mencintaimu?
Baiklah,,aku kali ini juga menyerah. Akan kucoba mencintaimu, lebih dan lebih.
Mencoba segala cara. Bukankah dulu pernah kucoba namun gagal. Tapi, demi kita berpisah akan kucoba. Haha, mana ada cinta seperti ini? Mencintai untuk meninggalkan? Iyyah, katamu. Dan mari kita memulainya. Ah, ini konyol..
Aku mulai mengingat2 apa yang telah kau lakukan padaku selama ini hingga aku bisa mencintaimu. Aku mulai menangkap ingatanku, ada satu hal. Iyyah, satu hal. Bukan bukan dua, tiga, empat, lima, enam. Oh, tidak, Kenapa semakin memikirkannya semakin banyak? Ternyata kebaikanmu begitu banyak, akankah aku benar2 jatuh cinta saat ini padamu? Aku ingat, berkat kaulah aku bertemu dengan beberapa orang yang mampu merubahku, membawaku ke dunia hijrahku yang baru. mereka malaikat-malaikat yang singgah beristirahat di selasar bumi. Aku ingat, kaulah yang membawaku menjelajah separuh bumi jawa di tahun pertama kita bersama. Aku ingat, kaulah yg membawaku pada tokoh-tokoh favoritku. Aku ingat, kaulah yang pertama mengenalkanku teman-teman mendakiku. Aku ingat, kaulah yang mengajarkan ketabahan, kesabaran, pengorbanan, tanggung jawab dan masih banyak lagi. Aku ingat dan aku ingat,,semuanya aku ingat sekarang.
Yah, Tuhan aku mulai mencintainya. Aku ingin mencintainya hingga waktu perpisahan itu terjadi, detik-detik terakhir bersamanya. Walau terlambat tapi biarkan aku mencintainya saat ini. Memperhatikannya, merawatnya, menemaninya siang malam, memenuhi kebutuhannya. Biarkan semua berakhir bahagia. Hingga, saat itu tiba. Saat bukan hanya aku dan kau yang bahagia, tapi semua orang yang mengenal kita.
Dan ini kisah tentang Aku dan Perkapalan...
‪#‎Menikmati‬ cinta (skripsi) sampai bergelar ST