Cinta Yang Terlambat

Sejak awal kita memang terkesan dijodohkan. Bagimana tidak, tante, adik ayahku mengenalkanku padamu. Saat itu untuk pertama kalinya aku mendengar namamu disebut. Kau masuk dalam beberapa pilihan yang akan mengisi hari-hariku ke depan. Hingga tibalah ketika pilihan itu jatuh padamu, entahlah mungkin sudah takdir kita, akupun menerima saja. Lah, ini tante yang pilihkan, dia sudah mengenalmu lebih dari sepuluh tahun, pasti yang terbaik katanya untukku.
Baiklah, aku menerimamu. Kau pun. Kita menjalani hari-hari baru kita berdua. Hari yang biasa-biasa saja bukan? Sangat biasa hingga aku merasa kau mulai menyiksaku. Hari-hariku seperti tersita hanya untukmu. Bahkan malam saat semua orang telah terlelap, aku masih harus menemanimu, mengerjakan tugas-tugas untukmu.
Tidak hanya sampai di situ, kau mulai membuatku menangis. Terkadang saat tidak sanggup lagi menanggung beban ini karenamu, aku menelepon ayah dan ibuku di kampung meminta mereka memisahkan kita. Namun, mungkin saja harapan mereka masih besar untuk baiknya masa depan kita. Oke, aku menyerah aku mengikuti apa kata mereka. Ayahku, ibuku, saudara-saudaraku, yang justru mereka ikut berkorban untukmu. Ah, andai saja hanya diri ini yang merasakan sungguh beratnya hidup bersamamu, mungkin aku akan baik2 saja. Namun, mereka yang kusayangi harus merasakannya juga.
Aku juga paling benci jika beberapa orang menanyakanmu. Awalnya aku begitu menyanjungkanmu. Hah, memang mereka begitu terpesona mendengar ceritaku tentangmu. Bukannya harus begitu? Tapi yah aku memang tidak berbohong, memang seperti itu cerita tentangmu. Hingga makin lama makin jenuh juga selalu menjawab pertanyaan mereka tentangmu. Buat apa? Sepeduli itukah mereka tentangmu? Atau hanya ingin tahu? Atau mau membandingkan dengan apa yang mereka miliki? Entahlah. Aku juga malas mencari tahunya.
Saban hari kau mengajakku jauh, jauh dari teman2ku. Aku mulai berpikir, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenalmu lebih dalam. Mungkin saja nanti setelah mengenalmu aku akan jatuh cinta padamu. Iyyah, CINTA yang bahkan tak pernah kubisikkan padamu. Namun, nyatanya di tempat yang jauh itu belum selesai deritaku karenamu. Memang kau memperlihatkan hal-hal indah di sana. Tempat baru, orang baru, kawan baru. Tapi tetap aku tidak berhasil mengenalimu hingga kita kembali ke rumah. Dan sesampainya di rumah aku mulai berniat untuk mengacuhkanmu. Tidak akan mempedulikanmu. Aku bahkan meninggalkanmu dan pergi berpetualang bersama teman2ku. Kau tahu hal yang paling kusuka? Saat aku dan teman2ku mendaki puncak gunung. Saat-saat itulah aku tak mengingatmu sedikitpun. Aku sibuk dengan perjalananku, bercengkrama dengan teman2 seperjalananku, menikmati indahnya pohon-pohon, air yang mengalir, langit biru yang begitu dekat, awan yang berkumpul bak ombak di pantai, rumput-rumput mungil yang rela jadi pijakan, batu-batu kecil hingga besar. Semuanya memanjakan mataku, hatiku jadi tenang, tasbihku berkejaran, tahmidku bersahutan. Dengan begitu kau tak sedetikpun hadir dalam pikiranku. Itulah saat-saat bahagiaku. Terkadang aku pergi ke pulau seberang, sengaja untuk menghindarimu. Tega? Sungguh tidak, dengan begitu kau bisa berbuat seenakmu. Aku betul-betul berhasil mengacuhkanmu.
Pernah, bahkan banyak kali kita berjanji melakukan hal bersama di luar. Aku tidak peduli, berkali-kali aku malah tinggal di rumah. Terkadang tidur-tiduran saja, atau menonton tayangan di televisi. Atau aku sengaja berdiam diri merajut benang2 woll atau benang katun menjadi beberapa bentuk yang kurasa indah di mataku. Aku lebih suka seperti itu. Aku terus seperti itu dan terus melakukannya. Namun, kau tak juga pergi dariku, tetap bertahan. Oh Tuhan, sampai kapan kau berbuat seperti itu? Pernah aku mendengar bahwa kau akan pergi jika aku mencintaimu. Apakah kali ini aku harus jatuh cinta padamu? Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan? Bagaimana caranya aku mencintaimu?
Baiklah,,aku kali ini juga menyerah. Akan kucoba mencintaimu, lebih dan lebih.
Mencoba segala cara. Bukankah dulu pernah kucoba namun gagal. Tapi, demi kita berpisah akan kucoba. Haha, mana ada cinta seperti ini? Mencintai untuk meninggalkan? Iyyah, katamu. Dan mari kita memulainya. Ah, ini konyol..
Aku mulai mengingat2 apa yang telah kau lakukan padaku selama ini hingga aku bisa mencintaimu. Aku mulai menangkap ingatanku, ada satu hal. Iyyah, satu hal. Bukan bukan dua, tiga, empat, lima, enam. Oh, tidak, Kenapa semakin memikirkannya semakin banyak? Ternyata kebaikanmu begitu banyak, akankah aku benar2 jatuh cinta saat ini padamu? Aku ingat, berkat kaulah aku bertemu dengan beberapa orang yang mampu merubahku, membawaku ke dunia hijrahku yang baru. mereka malaikat-malaikat yang singgah beristirahat di selasar bumi. Aku ingat, kaulah yang membawaku menjelajah separuh bumi jawa di tahun pertama kita bersama. Aku ingat, kaulah yg membawaku pada tokoh-tokoh favoritku. Aku ingat, kaulah yang pertama mengenalkanku teman-teman mendakiku. Aku ingat, kaulah yang mengajarkan ketabahan, kesabaran, pengorbanan, tanggung jawab dan masih banyak lagi. Aku ingat dan aku ingat,,semuanya aku ingat sekarang.
Yah, Tuhan aku mulai mencintainya. Aku ingin mencintainya hingga waktu perpisahan itu terjadi, detik-detik terakhir bersamanya. Walau terlambat tapi biarkan aku mencintainya saat ini. Memperhatikannya, merawatnya, menemaninya siang malam, memenuhi kebutuhannya. Biarkan semua berakhir bahagia. Hingga, saat itu tiba. Saat bukan hanya aku dan kau yang bahagia, tapi semua orang yang mengenal kita.
Dan ini kisah tentang Aku dan Perkapalan...
#Menikmati cinta (skripsi) sampai bergelar ST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar