Well, seharian. Eh, ralat. 1/4 hari di ujung sore tadi adalah satu dari kegilaan yang sepertinya entah harus disyukuri atau dipenati. Penat? Ah, tidak juga. Capek mungkin. Capek yang menyenangkan. Setelah mondar mandir beberapa instansi dari pagi (terhitung tempat kerja) dan berakhir ba'da ashar. Saya dengan segala dilema antara pulang lalu berhibernasi lagi seperti hampir seminggu ini atau menggerakkan tungkai yang sepertinya telah sangat kesemutan, akhirnya maybe karena setengah jengkel sama abang-abang di sebuah Bank, bapak satpam dan pegawai berdasi di kantor pajak. Ralat lagi. Bukan setengah jengkel. SEPENUH JENGKEL. Dan saya dengan menahan nahan diri, mengakhiri perjuangan hari ini dengan bersungut-sungut melenggang dari instansi-instansi itu sambil memberengut "I HATE ADMINISTRATION". Dan berujunglah saya dengan begitu khilaf "mentraktir" diri sendiri hingga hampir bangkrut kalau saja saya tidak ingat bahwa masih ada lebih 10 hari sampai waktu gajian datang. Tidak biasanya saya begini. Kecuali satu hari yang seperti sudah menjadi ritual saya. Yaitu ketika hari ulang tahun saya, dan saya akan "mentraktir" diri sendiri, membelikan kado untuk diri sendiri dan makan apa yang saya suka. Dan anehnya, hari ini, saya dengan segala sisa-sisa kejengkelan berusaha menikmati ujung sore dengan melakukan semua hal membahagiakan itu. Hey, siapa memang yang ulang tahun hari ini sehingga saya harus membuat senang diri sendiri? Well, whatever.
Tapi tapi tapi. Sukses besar membuat saya terkapar setelah sampai di rumah. Dan apa yang saya dapat setelah sampai di depan pintu? 2 jagoan menghadang saya yang sudah seperti orang mabok yang merindukan tempat tidur dengan menutup akses masuk, berkata kalau "oh, sudah maghrib tutupmi pintu" yang tahu betul saya berdiri di depan sambil menggeram kepada mereka, alhasil kotak besar hasil traktitan diri sendiri mendarat di perut satu satu di antara mereka. Kalau saya tidak ingat kalau anak SMP ini sudah baligh, meski sudah saya anggap adek sendiri, tetap saja bukan muhrim, tentu tinju saya yang melayang menghantam mereka. Dan lebih parah lagi. Setelah dua the boys go. The girls entah dari mana, enam enamnya menyerang saya sampai sempoyongan. Langsung merebut apapun yang ada di genggaman yang berhasil saya pertahankan, alasannya, saya malas membereskan barang belanjaan setelah mereka obrak abrik. Lalu bercerita tentang film yang sudah ditonton sampai menangis bombay dan mengekspresikannya dengan memeluk badan saya yang sudah selembek jelly lalu sok sok menenangkannya dengan mengusap punggungnya. Dan saya akhirnya harus mengalah kepada mereka semua yang sudah mengelilingi saya dengan tatapan berbinar-binar penuh harapan sambil menengadahkan tangan. Oke, pembagian "sembako" dilakukan. Mereka happy, saya makin tepar.
Tidak sampai di situ. Satu hal yang membuat saya juga serasa mau meledak-meledak sejak dari pagi adalah ada satu anak laki-laki yang entah bagaimana bisa mengetahui sesuatu tentang saya yang saya rasa siapapun tidak akan mengetahuinya jika bukan saya yang memberitahu. Dan melihat wajahnya membuat saya kembali meradang dan langsung melakukan tindakan frontal dan memaksanya mengaku mengetahui hal itu dari mana? Kapan? Dan bagaimana caranya? Yang dengan begitu santai dengan wajah liciknya dan tingkah songongnya malah tertawa dan mengaku-ngaku punya kekuatan sendiri. Maka, aksi tanya jawab yang tidak akan menemukan titik temu itu lama-lama seperti interogasi tingkat tinggi di mana saya dengan segala kejengkelan harus memegang sapu sebagai ancaman dan sayangnya dia malah punya kelincahan yang kalau tidak segera menghindar akan merasakan pukulan sapu di punggungnya. Dan aksi interogasi ini sempat membuat semua orang menghentikan kegiatannya. Maksud saya mereka terdiam beberapa saat, mungkin menerka-nerka, ada apa, tumben sekali saya bersuara sekeras itu yang saya pelankan lagi setelah si adek badung ini mengeluh "Ih, langsung diam semua orang kak." Maka saya menyerah. Baiklah, saya sebenarnya tidak amat sangat marah, tapi penasaran tingkat dewa, bagaimana dia si adek yang mulutnya gag bisa berhenti bicara itu tahu tentang hal itu. Oughhhh, dan saya akhirnya dengan memohon, lebih tepatnya mengancam bahwa, jika ada orang lain yang mengetahui itu. Awassssss saja. Entah apa yang akan saya lakukan. Dan dia memang anak slengean yang menganggap semua hanya permainan, dan memang nih anak yang paling suka bikin jengkel. Maka dia hanya tertawa lagi dan lagi. Sebel. Hewhhh..
Tapi mengingat bahwa hari ini, saya melakukan satu hal yang menyenangkan hati dan melihat barang hasil traktiran diri sendiri, maka saya memilih tersenyum saja. Saya baru sadar seexcited inikah ketika perempuan habis shopping? Lalu dengan berbinar-binar menertawakan hari yang selalu menyenangkan begini. Yah yah, tidak semua menyenangkan tapi tetap patut disyukuri. Mensyukuri bahwa di sini meski kadang ada saja yang buat jengkel tapi selalu bikin kangen kalau mereka pulang ke rumah mereka. Dan yah, akibat pekan lalu mereka pulang dan membiarkan saya melewati malam dengan mata yang tak bisa terpejam sebab telinga yang begitu sensitif, menebak hal-hal aneh yang terjadi di luar sana. Maka semalaman di malam minggu, saya tidak tidur dan membuat pagi saya rasanya bumi berputar-putar dan hal itu terjadi selama sepekan kemudian. Yah, membuat pola tidur menjadi kacau karena siang hari setelah merasa pusing, sakit kepala yang begitu menyiksa, membuat saya tidur seperti orang pingsan dan malam hari malah berasa 100 watt saja. Dan hari ini saya membayar semuanya dengan, tidak tidur siang, malah keluyuran kemana-mana berharap tenaga habis dan sebelum waktu menunjuk pukul 10 sebentar saya berharap sudah tewas dengan damai. Hewwh, kayak horor. Ralat lagi. Tidur dengan nyenyak dan membiarkan saya kembali ke pola tidur sewajarnya.
Baiklah, mata sudah 5 watt rasanya. Semoga setelah menekan button share di sebelah kanan atas tulisan ini, saya bisa menemukan kembali damainya tidur lebih awal.
r.i.a