Minggu, 11 Februari 2018

Weekend

Ahad. Hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh manusia yang punya kesibukan dari senin sampai jumat, serta tambahan kegiatan di hari sabtu. Orang semacam itu adalah saya salah satunya. Tapi tidak begitu menggembirakan ketika setiap dua ahad datang. Well, sedikit bocoran. I live with many people who make me happy every single day. Kecuali minggu seperti ini. Kenapa? Karena kemarin mereka, anak-anak setara SMP itu pada pulang ke rumahnya setiap dua pekan dan parahnya dengan tega membiarkan saya semalam dalam keadaan paling tidak tenang sedunia.

Oke, begini ceritanya. Hal paling tidak menyenangkan dalam hidup saya adalah ketika melewati hari-hari yang ramai dengan suara yang berisik setengah mati dan tiba-tiba dihadapkan pada satu momen yang hanya suara nafas saya sendiri yang saya dengar. Singkatnya feeling lonely. Ada sih satu keluarga dengan dua jagoan mereka yang masih kecil yang akan bisa dengan sangat menggantikan suara berisik-berisik kemarin hanya dengan teriakan mereka. Tapi, mereka pada malam harinya akan berada di lantai dua di gedung sebelah. Dan mungkin mereka tidak akan mendengar ketika saya berteriak minta tolong kalau ada apa-apa. Oke, itu sedikit lebay dan saya tidak berharap dalam keadaan seperti itu. Dan juga, sebenarnya masih ada satu keluarga yang punya anak kecil yang imut dengan segala kelucuan yang menambah betapa bahagianya saya hidup di sini. Tapi sebakda isya mereka pamit ke rumah kakek si adek kecil. Dan saya akan lebih bahagia jika mereka tinggal dan mendengar suara tangisan si adek kecil yang menembus dinding kamar kami yang bersebelahan yang selalu membuat saya gemes dan ingin cepat-cepat datang memeluk si adek imut itu dan sangat bahagia setiap dapat pelukan manja darinya daripada hanya bisa mendengar suara aneh di luar, yang dalam pikiran positif saya bahwa itu pekerjaan si ping dan pong, dua anak kucing yang lincah sana sini berlarian yang mungkin tidak sengaja menabrak piring dan menjatuhkan gelas dari atas meja. Dan mungkin mereka yang membuat suara gedoran di pintu dan bunyi kunci rumah yang diputar.

Dan saya dengan segala pikiran positif itu mati-matian menghilangkan perasaan cemas dan khawatir yang tiba-tiba datang menyerang dan membuat saya tidak bisa memejamkan mata dengan cepat seperti malam-malam sebelumnya. Satu-satunya cara membuat semua menjadi mudah adalah membiarkan lampu menyala terang benderang, memutar mp3 dengan suara Abu Usamah dan membaca buku tebal sampai hampir habis hanya untuk memicu kantuk yang sangat saya harapkan muncul dan menyelamatkan saya dari semua rasa-rasa tidak enak itu.

Well, sepagi tadi saya bangun dengan kepala berasa habis dijatuhi besi berton-ton akibat kekurangan tidur. Entah jam berapa semalam saya bisa tidur dan memaksa saya seharian hanya mengurung diri di kamar dengan perut keroncongan. Saya akan selalu memilih memenuhi rasa kantuk dibanding rasa lapar dan juga, saya sebenarnya tidak suka menyalahkan hujan dalam kondisi seperti ini. Salah sendiri juga, tidak punya payung jadi tidak bisa keluar beli sesuatu dan mie yang tergeletak di meja tidak bisa banyak membantu. Saya sudah berjanji tidak akan sering-sering makan makanan instan itu yang menurut dokter salah satu penyebab saya terkapar di meja bedah sekitar 2 tahun lalu dan saya tidak mau berakhir seperti itu untuk kedua kalinya. Jadi, makan siang saya apa coba? 3 bungkus chocolatos dengan segelas besar air putih dan teh.

Hari ahad yang menyenangkan bukan? Oke, saya berhenti pura-pura bahagia tapi mengingat sebentar lagi rumah akan kembali ramai, saya dengan segala sisa-sisa kekhawatiran masih menyunggingkan senyum ceria. Paling tidak, sebentar lagi ada anak-anak yang siap dibully atau teman berkelahi datang dan membuat keadaan rumah berisik dan membebaskan saya dari rasa berada di kuburan. Fiuhhh, ah baiklah kita kembali menghabiskan saja buku tebal yang bersisa dari semalam untuk diakhirkan sebelum tidak ada waktu untuk me time karena banyak anak-anak yang mengganggu atau siap diganggu. 😊😊

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar