Sabtu, 10 Maret 2018

Tunggu

Perihal tunggu menunggu yang membuat kita kadang terjebak dalam roda-roda waktu yang tak menentu itu adalah semacam bias maya-maya yang entah bagaimana bisa memporak-porandakan keyakinan. Keyakinan bahwa sebagai makhluk yang segala jiwa ada dalam genggaman Penciptanya, hanya Dia menjadi tempat menggantung segala apa yang ditunggu dan menunggu. Maka, tak perlulah terlalu atas hal-hal yang belum menjadi milik kita. Sewajarnya saja, jika sudah berada dalam zona waktu yang mengizinkanmu untuk meraihnya, di situlah tugas dan amanah baru menantimu. Yaitu...menjaganya tetap utuh terutama (b)utuh kepada Tuhannya.
.
.
.
Jadi,, siapami?? (look the picture) #ehhhh

r.i.a

Pergi

Ketika kutahu kau akan pergi, jiwaku yang sedang rapuh seketika menangis dan hanya mampu berbisik dalam hati "Jangan pergi, jangan pergi" berkali-kali. Namun sungguh ironis. Aku malah memasang wajah ceria dengan senyum cemerlang yang dibuat-buat dan berkata "Pergilah, temui takdirmu. Aku tak usah kau khawatirkan." Lalu justru itulah yang sekarang aku inginkan. Aku ingin kau mengkhawatirkan seberapa menderitanya aku karena telah menabung jutaan rindu yang telah tumpah-tumpah di dada. Membuat segalanya menjadi perih, nafas yang tercekat, jantung yang seolah tak kuasa berdetak dan pandangan nanar melihat kenyataan bahwa kau sudah tidak ada di sini lagi.

r.i.a

Perkataan adalah Do'a

"Berhati-hatilah dengan perkataan, karena perkataan bisa jadi sebuah do'a". Itu adalah kalimat pembuka di status seorang akhwat yang sedang viral. Sewaktu kecil ketika orang-orang bertanya "Kakak-kakak kamu kan mau jadi dokter kalau besar nanti, terus kamu mau jadi apa? Jadi pasiennya?" begitulah kalimat orang-orang itu meluncur lancar dibarengi tawa tanpa berpikir bahwa suatu saat perkataan mereka benar-benar menjadi kenyataan. Dan kita tahu setahun belakangan ini ukhty ini beberapa kali keluar masuk rs bahkan sampai di meja beda sekalian. Innalillah. Semoga penggugur dosa.

Saya jadi teringat obrolan saya dengan teman di telpon. Biasa, sahabat yang carenya gede banget sama saya itu gemes sekali mau lihat saya cepat-cepat bebas dari status 'jomblo'. Maka, setiap ngobrol saya akan 'dihasut' untuk segera menggenap. Yang benar saja, kata saya, emang segampang balik telapak tangan? Dan dia dengan sibuknya menjodoh-jodohkan saya dengan entah teman, entah kenalannya dan memaksa saya mempercayai bahwa salah satu dari mereka adalah bisa saja jodoh saya. Well, beberapa waktu terakhir  saya agak-agak sensi dengan bahasan seperti itu. Saya sepertinya sedang mengalami trauma akibat mendengar begitu banyak kisah pernikahan yang 'gagal' di mata saya. Dan membuat saya balik nanya sama teman saya "Emang orang habis nikah bahagia yah?" Skeptis amat yah? Ketika emosi kadang yang keluar hal-hal serem memang. Lalu teman saya menjelaskan bla bla bla tentang pernikahan, suka duka dan kawan-kawannya. Dan tetap ngotot 'maksa-maksa' saya menyegera, hehe. Dan saya yang masih dalam mode 'trauma' tadi dan dalam rangka menghentikan rayuan yang terkesan 'pemaksaan' saya berujar
"TIDAK MAUKA MENIKAH"
"Eh, perkataan adalah doa loh"
"Eh, gag deh, gag deh. Para malaikat-malaikat yang lewat. Jangan dicatat yang tadi, bercanda. 😂😂" Keder juga gueh. Nikah itu ibadah, itu poinnya dan itu yang sukses buat saya kembali berkata "baiklah, baiklah, jika Allah berkehendak".

So, jaga ucapan, jaga lisan. Kata adek-adek di sini, kak..ada malaikat di sekitar kita, semua dicatat, nanti diaminkan.

Dan, setiap manusia punya air matanya sendiri. Semoga tidak menjadikan saudari yang terkena berbagai penyakit itu menjadi menyalahkan keadaan begitu saja. InsyaaAllah penggugur dosa jika ikhlas. Syafakillah, semoga dikuatkan kesabarannya.
Ada Allah yang begitu penyayang sedang membelaimu dengan lembut, sedang mengatakan sayang lewat ujian yang Dia berikan. Sedang sangat pengampunnya dan menggugurkan dosa-dosamu melalui penyakit-penyakit itu. Believe Allah, everyting will be okay.

r.i.a