Minggu, 13 Desember 2015

Kira

“Kira.. Kira.. di mana kau sembunyi? Ayo keluarlah!” Wajah cemasnya menambah garis kelelahan seharian mencari kawan barunya itu.
“Belum ketemu juga?” Kali ini aku jadi ikut-ikutan celingak celinguk setelah tadi siang membiarkannya mencari sendiri. Bukannya tidak mau membantu, aku bahkan belum tahu jenis apa sekarang kawannya itu.
            Baiklah akan kuceritakan, dia adik bungsuku yang baru masuk Sekolah Dasar tahun lalu, sekarang dia sedang mencari teman mainnya yang entah bersembunyi di mana atau lebih tepatnya kabur ke mana. Dan teman barunya itu, bukanlah anak kecil seusianya yang imut atau boneka lucu pemberian ayah. Tidak salah lagi seekor binatang yang mungkin dia dapat di jalan sekembalinya dari sekolah dan membawanya ke rumah. Tapi aku bisa menebak, bukan kucing, anjing, kelinci, hamster, ikan, ayam, angsa, bebek dan segala jenis binatang yang pernah dia bawa sebab sedari tadi hanya bibir manyunnya yang tampak ketika kutanyakan soal buruannya ini. Pasti sesuatu yang berada di luar imajinasiku sekarang.
            Namanya Ica, umur kami memang terlampau jauh. Aku yang seorang Mahasiswi tahun kedua menjadi seorang kakak saat menginjak usia remaja. Saat kelahirannya kami sangat bahagia terutama aku yang akhirnya mendapat adik sekaligus ‘mainan’ baru, hehe. Tapi setahun ini hampir-hampir aku selalu dibuat kesal olehnya. Dia punya hobby baru yang menurutku sangat ekstrem. Bermain bersama binatang, maksudku itu mungkin wajar bagi semua orang tapi bagiku Ica berbeda. Dia suka bahkan sangat suka sehingga dia lebih banyak bermain dengan binatang itu dibanding denganku. Bukannya aku iri, hanya saja ini sudah keterlaluan bagiku.
            Pernah ketika masih TK kami sekeluarga berkunjung ke rumah Nenek di kampung. Sebenarnya, Ayah dan Ibu kami dari sana hanya setelah menikah mereka menetap di kota karena tuntutan pekerjaan. Dan di kampunglah hobby barunya itu dimulai. Saat pulang dari kebun bersama kakek, tiba-tiba saja ada anak ayam yang selalu mengikuti langkah kaki kecil Ica hingga sampai di rumah. Karena tidak tega dan merasa anak ayam itu lucu Ica pun memungutnya, yah setelah minta persetujuan kakek. Sejak saat itu dia mengklaim anak ayam itu sebagai miliknya. Memberinya makan, memandikannya pagi-pagi sehabis dia mandi, bahkan tidur bersamanya. Saat sore hari, tiba-tiba dia datang, matanya sembab habis menangis. Di tangannya anak ayamnya tergolek lemah. Apa yang terjadi? Seharian dia keluar bermain bersama anak tetangga tidak lupa membawa anak ayam yang dia beri nama Kira itu. Mereka bermain lompat tali. Kira dia simpan di kantong gamisnya dan saat gilirannya main, Kira jatuh dan tak sengaja Ica menginjakx. Untung saja cuma kakinya yang terluka, nenekpun mengobatinya dengan memberi obat merah. Setelah itu Kira Ica rawat dengan sungguh-sungguh, memaksanya makan dan minum. Pagi-pagi sekali Ica menangis meraung-raung. Kira Mati.
            Kami pun pulang sebab waktu libur sudah habis. Ica masih sedih atas perginya Kira, tapi tidak lama sebab sesampainya di rumah dia mendapatkan Kira yang baru. Seekor ikan yang Ibu belikan di pasar. Sama seperti anak ayam yang ada di rumah kakek, dia rawat sungguh-sungguh dan masih dia beri nama Kira. Tapi berselang waktu ikan mas pun mati. Bisa dibilang kami belum punya pengalaman memelihara ikan sebelumnya, jadi agak susah merawatnya. Setelah ikan, kelinci, hamster, burung, jangkrik, yang semuanya mati satu-satu.
Pernah sepulang sekolah dia membawa anak kucing, di sinilah dia mulai mencari sendiri binatang peliharaannya, tidak dibelikan ibu lagi. Satu anak kucing hari ini, besok anak kucing lagi, hingga hampir-hampir rumah penuh anak kucing. Aku jadi heran dari mana semua dia dapatkannya. Karena merasa terganggu aku minta ayah dan ibu mengatasi masalah ini, sebab aku tidak tahan, bulu kucing ada dimana-mana. Bahkan ‘poop’ dimana-mana. Akhirnya kucing-kucing itu kami lepas satu persatu hingga tinggal seekor, namanya masih Kira. Yah, semua Kira dari peliharaan pertama hingga sekarang ‘Kira’. Pernah kutanya  kenapa harus Kira, dia cuma bilang suka. Tidak puas dengan kucing, anak anjing dia bawa pulang. Tuhan, kali ini aku sempat marah sebab saat aku balik dari kampus dengan lelahnya si anak anjing menyerangku. Untung saja hanya ujung rokku yang dia gigit. Aku memarahi Kira dan menyuruhnya membawa anjing itu keluar padahal hujan mengguyur sangat deras. Keesokan harinya kami dapati anak anjing itu mati mengapung di selokan. Mungkin karena masih terlalu kecil jadi belum mahir berenang atau terlalu kedingian. Aku sempat menyesal dan merasa sedih melihat Ica tapi mengingat kejadian itu jengkelkupun masih ada.
“Terakhir main di mana?” Tanyaku semakin penasaran sambil menengok ke belakang sofa.
“Di kamar…” Jawabnya sekenanya dengan tangan yang sibuk menyibak tikar-tikar di ruang tamu.
Kali ini dengan melihat wajah seriusnya, aku juga mulai serius mencari, betul-betul mencari berkeliling rumah. Masuk keluar kamar, masuk keluar toilet, keluar pekarangan rumah. Itu sedikit membuat frustasi. Bagaimana tidak, binatang yang kucari tak terlintas di pikiranku seperti apa bentuknya. Dalam hati sudah kuazamkan jika aku mendapatkan seekor binatang apa saja akan aku bawa kepada Ica. Sudah hampir sejam kami sibuk mencari, hingga sepertinya aku kehilangan kesabaran dan hampir berhenti ketika tiba-tiba suara aneh mengagetkanku. Berasal entah dari mana menghentikan tanganku menyibak kain gorden ketika tiba-tiba sesuatu seperti melompat mengenai tepat di wajahku, seketika aku berteriak mengamuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Kejadian yang sangat cepat dan tak dapat kukontrol. Detik berikutnya aku menabrak meja, membuat vas bunga jatuh berhamburan, beling berserakan dimana-mana. Detik berikutnya aku merasakan sakit di tapak kakiku, pecahan beling menggoresnya dalam membuatku hilang keseimbangan. Terjatuh, terantuk ujung tangga, darah menetes deras di pelipis. Perih tak tertahankan membuat penglihatan semakin buram dan gelap. Terakhir aku ambruk tak sadarkan diri. Entahlah bagaimana nasib Ica dan peliharaannya itu.
Malam hari aku baru sadarkan diri. Sempat bingung sebab kukira aku terbaring di kamar ternyata di sebuah bangsal di Rumah Sakit terdekat. Tanganku sudah tersambung selang infus, pelipis dipasangi perban dan luka-luka di kaki sudah ditutupi. Kulihat ibu menggenggam tanganku seraya memasang senyum keibuannya seperti biasa. Mataku kemudian menangkap Ica yang bersembunyi sedikit menunduk sambil memegangi ujung belakang kemeja ayah. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan. Aku masih menatapnya sambil menunggu reaksinya. Dia balas menatapku, mencoba melangkah maju ke ujung tempat tidur, dia mulai bersuara.
“Kak Fizah, maafkan Ica” Sengaja aku seolah membuang muka menatap ke ibu.
“Itu salah kak Fizah” Suaranya mulai meninggi, tidak ada getaran, sangat jelas. Kembali kutatap wajahnya namun enggan bersuara. Ingin memprotesnya namun belum kuat bergerak.
“Kak Fizah tidak pernah mau buka kamar kalau Ica ketuk. Kak Fizah selalu sibuk dengan hape, dengan laptop, dengan tab. Sibuk dengan teman-teman kak Fizah yang datang ke rumah. Kak Fizah jarang di rumah dan selalu pulang telat pulang.” Dia masih menatapku dengan wajah menuduhnya mengingatkanku betapa sibuknya aku setelah kuliah. Benar kata Ica, apalagi mahasiswa jurusan Farmasi. Lab seabrek, tugas yang menumpuk, laporan yang menguras tenaga. Bahkan sesampainya di rumah aku masih mengurung diri di rumah membuat laporan. Tapi bukannya Ica yang lebih dulu sibuk dengan hewan peliharaannya?
“Padahal Ica kangen sama Kak Fizah, kangen main boneka bareng, kangen dibacakan dongeng-dongeng, cerita putri dan kancil. Makanya Ica lebih suka main sama Kira. Kira selalu main-main sama Ica. Ica lebih suka. Kak Fizah yang jahat.” Dia mulai menunduk kembali, tangan kecilnya memegangi besi ujung tempat tidur. Ingatanku kembali saat awal-awal perkuliahan, Ica dengan semangatnya membawa buku-buku ceritanya. Awalnya aku masih membacakannya, namun lama-lama tugas semakin menggunung. Membuatku mengurung diri di kamar, ketika Ica membuka pintu aku menyuruhnya keluar, selalu hingga aku menguncinya dari dalam, enggan membuka jika dia mengetuknya. Ya Allah padahal dia hanya ingin bermain denganku. Kutatap dia yang masih menunduk sedih, kucoba mendudukkan diriku. Ibu membantu. Ayah hanya terdiam sambil mengelus lembut kepala Ica.
“Ica, ayoo sini!” Ucapku kemudian sambil mengayunkan tangan berinfusku, kutahan rasa sakit sebab sakit di hati lebih besar kini. Sakit penyesalan telah mengabaikan Ica adik satu-satuku yang merindukan kakaknya. Membuatku menyesal tidak dapat memberi waktu barang sedikit untuk Ica hingga dia lebih memilih hewan-hewan itu dibanding aku. Mungkin awalnya dia hanya mencoba, lama-lama karena selalu kuabaikan dia malah menambah koleksi hewan yang juga akhirnya mati satu-satu.
Sambil menatap ayah, dia melangkah mendekatiku. Ayah mengangguk, ibupun. Setelah dekat kupeluk ia, kubisikkan padanya kata maafku, kukatakan jika aku sangat mencintainya lebih dari apapun. Tak terasa mutiara bening hangat membasahi pipiku. Adik kecilku yang berumur tujuh tahun, dia menyadarkanku betapa aku menghabiskan waktuku seorang diri untuk diriku saja. Diapun akhirnya menangis, awalnya hanya linangan air mata lama-lama ia menangis keras-keras hingga sesenggukan. Pelukanku semakin erat. Ayah dan ibu tersenyum puas sambil ikut memeluk kami. Malam itu Ica tinggal di Rumah Sakit menemanika beserta ayah dan ibu. Lelah menangis, dia akhirnya tertidur di sampingku. Kukecup keningnya sambil berjanji dalam hati akan menjadi kakak yang baik.
Keesokan harinya, dia terbangun dengan mata bengkak, sembab sama halnya denganku. Dia menertawakanku, akupun. Dia kemudian dengan semangatnya mengambil sesuatu dari dalam tas yang dia bawa dari rumah. Dia menyodorkannya padaku, membuatku kaget dan setengah berteriak. Makhluk berduri-duri, berkulit keras, berlidah panjang, berekor panjang. Jika tidak berfikir logis aku sudah menganggap makhluk itu Dinosaurus. Dia menyebutnya Kira.


End

Kamis, 03 Desember 2015

Kehilanganmu

Senja itu kami bertemu, ini bukan pertemuan pertama, kami sudah mengenal sejak kecil. Dia adalah sahabat masa kecilku namun hari ini ada yang berbeda darinya tidak seperti biasanya. Dia hanya menunduk memperhatikan ujung sepatunya. Tangannya sibuk memelintir ujung jilbabnya. Ini yang membuatku khawatir, sebab jika dia mulai bertingkah begitu biasanya dia sedang mencemaskan sesuatu. Tapi apa? Dia bahkan tidak bersuara sejak hampir tiga puluh menit yang yang lalu. Dia hanya menanggapi begitu saja pertanyaanku sambil menatap ke arah yang lain.
Yah, dia sangat berbeda. Mulai dari pakaian yang dia pakai. Ok kami memang belum pernah bertemu lagi sejak tiga tahun terakhir tapi bukankah itu bukanlah waktu yang lama hingga dia berubah sedrastis ini. Tapi lihatlah apa yang dia pakai, membuatku terbahak sejenak membuatku lepas kendali dan bertanya apakah dia memakai baju ayahnya yang punya berat badan 86 kilo dan jilbab apa yang dia pakai itu, hampir selebar bendera merah putih yang berkibar tiap senin di sekolah pada saat upacara bendera. Dia hanya tersenyum kecil mendengar celetukanku. Setelah itu dia hanya banyak menunduk atau melihat bougenville yang ada di taman yang ramai ini. Dia bahkan mengambil jarak yang sangat jauh dariku. Ini membuatku sedikit depresi, aku seperti kehilangan seseorang yang sangat aku kenal. Kemana perginya Nagisa yang ceria, cerewet minta ampun, yang selalu menjambak rambutku atau meninju lenganku jika aku mengusilinya, yang menghambur kepadaku jika lama tidak bertemu memelukku erat. Kemana perginya Nagisa yang memulai pembicaraan menanyakan ini itu, menceritakan ini itu, mengajak makan ini itu, membuat kejahilan, kebodohan dan kegilaan yang bahkan tidak sampai di nalarku. Kemana dia pergi, apa yang dia lakukan selama tiga tahun ini selama aku pergi.
                Dia masih diam, kali ini dia memperhatikan lekukan ukiran kursi kayu panjang yang memisahkan kami. Aku akhirnnya memberanikan diri bertanya tentang sikapnya ini. Dia hanya menjawab bahwa dia tidak apa-apa. Ini semakin membuatku bingung dan bersumpah akan mendatangi rumahnya dan menanyakannya kepada paman gendut bagaimana Nagisa bisa berubah seperti ini. Yah, kuakui ini perubahan yang baik tapi aku seakan tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar merindukan Nagisa yang dulu kukenal. Ingatanku tiba-tiba seperti menjelajah pada 15 tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu, hari itu kami masih di bangku Sekolah Dasar, Nagisa adalah anak pindahan yang datang dari Timur. Pada saat dia memasuki kelas kami, serentak kelas menjadi tenang. Semua siswa terheran-heran. Semua siswa bertanya-tanya betulkah dia masih anak Sekolah Dasar seperti kami. Dia memiliki postur tubuh yang bongsor, tingginya bahkan melebihi anak laki-laki lainnya. Hingga saat istirahat tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya. Padahal selama ini jika ada anak baru kami akan mengusilinya. Karena tidak ada yang berani, aku dan teman sebangkuku si Marlo yang berkacamata tebal memberanikan diri menghampirinya. Kamipun memberikannya tantangan tapi dia malah acuh tak acuh, dia meningggalkan kami begitu saja. Begitu seterusnya hingga suatu hari pada pelajaran olahraga kami menantangnya lari cepat. Alhasil kami kalah. Pada kesempatan lain kami adu panco, tidak ada harapan. Lempar lembing, main bola, krambol, lompat tali. Kami masih di bawahnya. Bahkan ketika usai sekolah kami masih melakukan tantangan-tantangan yang selalu dimenangkan olehnya.
                Kami kehabisan akal dan kehabisan tenaga melawannya. Tapi tidak menyurutkan langkah kami. Pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia, kompleks tempat tinggal kami mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak. Ini kesempatan kami mengalahkannya. Dan yang kami tunggu-tunggu adalah adu kekuatan semacam sumo di Jepang. Hadiahnya lumayan menggiurkan, sebuah piala besar dan sejumlah uang cukup untuk jajan sebulan. Semua anak-anak antusias mengikutinya bahkan beberapa anak dari kompleks sebelah juga datang. Nagisa awalnya cuek dan tidak mau mengikuti pertandingan ini jika kami tidak mengatainya pecundang. Mungkin karena sudah capek selalu kami ganggu seharian itu akhirnya dia memenuhi keinginan kami. Ada seorang anak laki-laki dari kompleks sebelah yang mempunyai tubuh yang besar juga mengikutinya. Dia adalah pemenang tahun lalu untuk kategori anak SD. Kami memastikan dialah pemenangnya. Nagisa pasti kalah. Tapi bukan itu tujuan kami, kami ingin kamilah yang mengalahkan Nagisa bagaimanapun Nagisa belum pernah mengikuti lomba ini, kami lebih berpengalaman. Lomba dimulai, Marlo berhasil mengalahkan satu anak, dia kini melawan Nagisa. Nagisa seorang anak perempuan membuat sejarahnya sendiri. Dia mengalahkan Marlo, beberapa anak-anak juga dikalahkannya. Dia seperti tidak kehilangan tenaga, dia bahkan mengalahkanku dengan satu dorongan. Itu adalah hari yang memalukan, bahkan kakak perempuanku mengambil gambar saat aku harus mencium tanah basah saat dikalahkan Nagisa dan selalu menertawaiku ketika melihat foto itu.
                Nagisa keluar sebagai juara pertama mengalahkan si anak gede dari kompleks sebelah, dia membawa piala dan uang. Dia kemudian pulang tanpa ekspresi. Dia selalu begitu, seakan tidak menganggap setiap tantagan yang kami berikan. Di tengah jalan beberapa anak laki-laki mendatanginya yang tidak menerima kekalahannya. Mereka menyerang Nagisa. Nagisa sudah terjatuh saat kami kebetulan melihat adegan itu. Kami kemudian dengan jiwa kelaki-lakian berusaha menolong Nagisa yang cuma terduduk, terdiam melihat ke arah kami yang mati-matian berkelahi. Ini memang area laki-laki, perempuan sekuat apapun tidak mahir dalam hal ini. Setelah beberapa saat berkelahi kami kelelahan dan akhirnya berhenti, anak-anak itu akhirnya pulang. Aku dan Marlo jatuh ke tanah sambil membentangkan tangan kecapekan sambil mengatur nafas, bagaimanapun kami hanya berdua melawan beberapa anak-anak. Nagisa kemudian berdiri di samping kami sambil memegang pialanya yang sudah patah ujungnya. Kami memprotesnya karena hanya diam saja melihat kami dikeroyoki. Dia tidak menjawab malah menangis keras-keras membuat kami kaget dan langsung terduduk dan saling menatap. Dia masih menangis bahkan makin keras saat kami berusaha menenangkannya. Setelah itu kami mengantarnya pulang dan ibunya yang ramah menyuruh kami masuk rumahnya dan memakan beberapa kue buatannya beserta sirup jeruk. Kami pun mengiyakan saja, lagian kami sudah kecapekan sehabis berkelahi dan mengantar Nagisa. Selagi Nagisa membersihkan diri, ayah Nagisa yang bertubuh gempal mendatangi kami, menepuk-nepuk punggung kami. Kami kemudian meminta maaf karena selama ini mengusili Nagisa. Ayahnya malah tertawa terbahak-bahak. Dia bercerita, Nagisa sudah menceritakan tentang kami kepadanya. Dan ayahnya mengatakan jadi kamilah laki-laki pecundang yang belum pernah menang melawan Nagisa selama ini. Diapun menjelaskan kenapa Nagisa bisa menangis seajdi-jadinya tadi. Paman gendut berkata Nagisa bukannya sedih, dia menangis bahagia akhirnya ada juga orang yang berdiri di sampingnya, menolongnya. Selama ini Nagisa selalu menjadi bahan ejekan anak-anak di tempat asalnya sebab tubuhnya yang bongsor dan tak ada yang mau berteman dengannya dan tak ada yang membelanya saat dipukuli anak-anak laki-laki. Nagisa adalah anak satu-satunya di keluarga ini.
                Begitulah kami akhirnya memulai persahabatan kami bertiga. Kemana-mana kami selalu bersama, hingga naik tingkat sekolah. Kami saling membantu, melakukan hal-hal konyol bersama. Tentunya saling melindungi. Saat SMP tubuh kami makin bertambah tinggi dan melampaui Nagisa. Secara, walau bagaimanapun laki-laki akan lebih pesat pertumbuhannya apalagi saat memasuki masa pubertas. Nagisa beberapa kali protes, itu membuat kami seakan memenangkan pertandingan bertahun-tahun ini. Sebab setelah persahabatan kami terjalin, kami masih melakukan berbagai tantangan-tantangan. Dia makin cerewet, makin gesit dan makin jahil. Setiap kami pergi jauh ke suatu tempat, berpisah sementara dia akan berkirim surat. Atau menghabiskan waktu berjam-jam di telpon untuk menanyakan ini itu, menceritakan ini itu dan saat bertemu lagi dia akan menghambur memeluk kami erat-erat. Begitu juga jika dia kembali ke Timur, kami akan sangat merindukannya. Dan setamat SMA kami mengambil jurusan yang berbeda. Saya dan Marlo di kampus yang sama di Jawa, sedangkan Nagisa masih bertahan di sini.

                Setelah tiga tahun kami baru kembali lagi di tempat favorit kami di taman kota. Melihat perubahan Nagisa yang seperti ini, kami seolah tidak bisa menerima. Terutama aku yang sudah menganggapnya saudariku sendiri. Mengapa dia mengambil jarak, mengapa dia tidak memandang wajahku, mengapa dia tidak menjabat tanganku, mengapa dia sependiam ini. Aku juga mulai bertanya mengapa dua tahun terakhir ini dia sangat jarang menghubungi kami. Kami berfikir mungkin dia sangat sibuk mengerjakan tugas kuliahnya atau tugas-tugas yang lain. Ada apa? Dan langit senja semakin memudar. Petang akan datang, dia pun berpamitan meninggalkanku dalam kebingungan yang luar biasa. Dalam hati aku sangat kehilangannya. Aku kehilanganmu Nagisa.

Masa

Waktu adalah harta. Dianya mampu membeli banyak harap
Waktu adalah kebijaksanaan. Dianya mampu menjadi penasihat yang baik
Waktu adalah sejarah. Dianya mampu menyampaikan alur masa lalu
Waktu adalah kehidupan. Dianya mampu menguasai tindak burukmu atau baikmu
Ada yang berfikir bagaimana menghabiskan waktu.
Ada yang berfikir bagaimana menggunakan waktu.
Itu beda, sebab kemanfaatannya akan terasa.
Waktu menjadi sumpah Sang Khalik dalam surat cintanya.
Wal Ashr (Demi masa)..
Ketika Allah bersumpah atas sesuatu, Dia menyimpan pesan yang sangat serius di sini.
Lihat, Innal Insaana lafikhusri..
Betapa banyak orang yang mengalami kerugian, mengahabiskan waktunya dengan hal tak berguna.
Betapa banyak orang kehilangan waktunya, sehari seminggu, sebulan bertahun-tahun lewat begitu saja tanpa adanya perubahan berarti.
Rasulullah dalam sabdanya yang agung
Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, dia celaka
Barang siapa hari ini lebih buruk dengan hari kemarin, dia merugi.
Waktu tidak akan terulang kawan, kau tidak akan bisa kembali ke masa kecilmu.
Kau akan menuju tuamu atau matimu.
Kita semua sedang berbaris menuju akhir waktu kita masing-masing.
Apa pesan dari Qur'an ini belum sampai padamu?
Dengar, habiskan waktumu menjemput tiap bekal untuk kau bawa di akhir hidupmu di dunia, untuk kau bawa ke akhirat.
Sholatlah tepat waktu. Sesungguhnya sholat adalah pengingat waktu yang sangat bijak.
Habiskan waktu luang dengan kegiatan produktif, perbanyak hafalanmu saat kau luang.
Sebab waktu luang jika kau tidak isi dengan hal baik, hal buruk akan datang.
Sebab adanya waktu luang, ada waktu untuk pacaran, ada waktunya ke tempat maksiat dll, maka habiskan dengan yang berfaedah.
Illalladsina Aamanu (Kecuali orang-orang)
Orang yang bagaimana?
Yang berbuat baik, saling menasihati.
Pesanku, cari kawan baik yang bisa menasihatimu di kala kau jauh dari Tuhanmu.
Kau tahu para sahabat jika bertemu saudaranya mereka akan meminta dinasihati.
Apa yang mereka katakan? "Akhi, belumlah satu nasihat sampai padaku darimu hari ini"
Yang saling menasihati dalam kebenaran
Yang saling menasihati dalam kesabaran.

Rabu, 02 Desember 2015

Dik, Kukisahkan Tentang Robert Davilla

Dik, Kukisahkan Tentang Robert Davilla
Dik, bagaimana kabarmu? Gundahmu sudah sembuhkah? Pencarian jati dirimu sudah kau temukankah? Aku rindu ceritamu, cerita tentang petualanganmu, cerita tentang kejahilan, kebodohan dan kegilaanmu dan semua yang selalu kau ceritakan yang membuat suasana berisik hingga tengah malam. Tapi hari ini aku lebih rindu ingin bercerita padamu. Sudahkah kau dengar cerita tentang Robert Davilla? Apa kau kenal? Tidak? Akupun sebenarnya tidak, tapi aku baru saja mendengar kisah tentangnya. Mau kuceritakan? Baiklah dengarkan baik-baik.
Dik, Robert Davilla adalah seorang anak dari keluarga petani di sebuah kota yang berjarak sekitar 40 menit dari Fort Wort. Kau tahu di mana itu? Salah satu tempat di Amerika, jauh yah? Tapi di sinilah kisahnya bermula. Dia seorang pemuda berumur 30 tahun yang hidup sehari-harinya berada dalam sebuah bilik kamar di sebuah Bandar seperti sebuah tempat penjagaan. Dia mengidap sebuah penyakit genetik yang membuatnya lumpuh dari leher sampai kaki yang membuat tubuhnya tidak seperti kebanyakan pria dewasa. Dia tinggal di sana bersama beberapa orang dan kebanyakan orang tua berusia 90 dan 100 tahun. Sudah sepuluh tahun dia di sana dan orang tuanya membelikannya sebuah komputer yang bisa dia operasikan dengan suaranya, yah saya sudah jelaskan di atas dia mengidap penyakit genetik dan seluruh tubuhnya lumpuh kecuali leher ke atas. Dengan komputer itu dia bisa mengakses dan melihat dunia di luar kamarnya.
Dik, Robert Davilla berasal dari keluarga yang sangat kuat memegang agama Kristiani, dan setiap minggu seorang pendeta akan datang ke kamarnya untuk bersembahyang dengannya. Kamu tahu, dia juga mempunyai seorang sahabat layaknya persahabatan kita. Sahabatnya itu tinggal di bilik sebelah dan dia juga mengidap penyakit dan memerlukan sebuah hati yang baru. Sahabatnya itu sedang menunggu untuk transplantasi hati dan mereka berdua sering bercerita tentang agama dan Tuhan.
Suatu hari sahabatnya itu mendapatkan donor hati dan dia sangat senang. Dia berkata kepada Robert "Robert, saya akan merindukanmu tetapi saya harus pergi". Akhirnya pergilah sahabatnya itu untuk bedah transplantasi hati namun sahabatnya itu meninggal di atas meja bedah. Sahabatnya juga adalah seorang Kristiani yang taat. Dia memiliki kalung salib yang selalu dia pakai di lehernya dan pada saat dia meninggal kakaknya memberikan kalung itu kepada Robert sebagai kenang-kenangan dan Robert menyimpannya, menggantungnya di kamarnya.
Dik, Robert Davilla walaupun hidupnya seperti itu dia sangat bahagia, dia sederhana dan dia menikmati hidupnya. Pada suatu malam saat dia tidur, dia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu memberitahu bahwa namanya adalah Muhammad. Sambil menuding ke arah kalung dari sahabatnya, dia memberitahu bahwa Tuhan tidak mengutus Rasul itu untuk disembah tetapi Tuhan mengutus Rasul untuk menyembah Tuhan. Dan Yesus hanyalah seorang manusia biasa yang pergi ke pasar dan ikut makan. Dan mimpi itu pun berakhir.
Dik, Robert mengetahui dari mimpinya bahwa Yesus hanyalah seorang manusia biasa dan manusia bernama Muhammad memberitahu perkara itu kepadanya. Dia tahu bahwa Rasul hanya diutus untuk menyembah Tuhan bukan untuk menyembah Rasul itu. Itu saja yang dia tahu dari mimpinya. Timbul rasa penasaran dan ingin tahu yang luar biasa dalam dirinya, jadi dia mulai 'googling' nama Muhammad. Dia menemukan 'Islam' yang begitu indah. Dia lantas dengan mantap mengucapkan syahadat. Setelah mengucapkan syahadat dia ingin mempelajari Al-qur'an. Dia akhirnya mencari seseorang lewat chat untuk mengajarinya membaca Al-qur'an dan dia menemukan seorang saudara dari Mesir dan mereka berkomunikasi melalui skype untuk belajar bahasa Arab. Diapun belajar abjad Arab dan seterusnya mempelajari Al-Qur'an. Hasilnya, dia dapat menghafalkan sepuluh surah di rumah penjagaan itu. Dia sudah mengenal surah-surah, mengenal Rasulullah tapi dia ingin memahami isi Al-Qur'an. Jadi dia mulai googling lagi tentang cara-cara memahami Al-Qur'an dan dia menemukan video-video yang dibawakan oleh seorang Ustadz di Amerika yang bernama Nouman Ali Khan. Kemudian ia menonton semua video-video Ustadz Nouman Ali Khan.
Dik, di rumah penjagaan itu ada seorang pekerja dari Mesir yang pekerjaan sehari-harinya memperbaiki apa saja di rumah itu. Lelaki ini punya kisahnya sendiri. Kau tahu, dia seorang Muslim yang keimanannya semakin memudar. Jarak masjid dari rumahnya hanya sepelemparan batu, tapi dia tidak lagi ikut sholat berjamaah. Diapun merasa kekurangan rohani lalu dia ke gereja untuk merasa dekat dengan Allah. Dia dilahirkan dari keluarga Muslim dan dia ke gereja semata-mata untuk dekat kepada Allah? Subhanallah.
Suatu hari dia berjalan di depan kamar Robert dan dia mendengar bacaan "Wal ashri, innal insaana lafihusri". Dan dia masuk ke dalam kamar Robert dan bertanya "Apa yang baru saja saya dengar? apa kamu juga mendengarnya?". Robert berkata "Tidak ada apa-apa, saya hanya membaca beberapa ayat".
Pekerja itu kaget dan bertanya lagi "Apa kamu seorang Muslim?"
"Ya" jawab Robert "Alhamdulillah saya sudah menjadi seorang Muslim"
Dan pekerja itupun sangat terkejut, dalam benaknya dia heran bagaimana Allah memberi petunjuk kepada seseorang yang berada di tengah-tengah Bandar yang bersalib bahkan di Amerika yang minoritas Muslim dan hey lihat lelaki ini bahkan tidak bisa bergerak barang sejengkal pun. Si pekerja ini akhirnya berkata dia ingin kembali kepada Allah, dia bahkan kembali mendapat jati dirinya sebagai seorang Muslim melalui Robert. MaasyaaAllah.
Dik, kau lihat begitu sempurna rencana Allah. Robert memberitahu kawan barunya ini tentang seseorang yang memberinya banyak ilmu agama yaitu Ustad Nouman Ali Khan melalui youtube. Laki-laki Mesir ini kemudian mulai juga menonton video-video Nouman Ali Khan dan dia berkata saya sangat ingin bertemu dengan Ustadz ini suatu hari nanti. Robert berkata "Ya, saya berdo'a untukmu". Dan kau tahu dik disinilah keajaiban yang lagi-lagi Allah tunjukkan. Lima tahun kemudian orang Mesir ini mendatangi sebuah mesjid menjalankan sholat Jumat berjamaah dan disana dia sangat bersyukur Allah mengabulkan doanya dan doa Robert sebab yang mengisi Khutbah Jumat pada hari itu adalah Ustadz Nouman Ali Khan yang setelah empat tahun baru sekali itu lagi berkhutbah disana oleh permintaan pengurus masjid yang datang menjemputnya di rumahnya sebab Ustadz Nouman Ali Khan bukanlah penduduk di situ. Selesai sholat Jumat orang Mesir ini mendatangi Ustadz Nouman dan berkata "Allah telah mengabulkan doa saya dan doa sahabat saya" Ustadz Nouman bertanya "Apakah do'amu?". "Bahwa Allah akan mempertemukan Ustadz Nouman Ali Khan dengan Robert Davilla". " Saya?" kaget Ustadz Nouman. "Iya". "Mmm apakah kau Robert Davilla?". "Bukan, tapi kawan saya". Dan mulailah orang Mesir ini bercerita tentang perjalanan Robert bertemu Islam dan membuat si pria ini juga akhirnya kembali kepada Islam dengan benar.
Dik, ini adalah kekuatan do'a. Ustadz Nouman akhirnya bertandang ke rumah penjagaan itu menemui Robert Davilla bersama beberapa orang temannya. Sesampainya di sana para pekerja-pekerja di pusat penjagaan merasa terkejut bagaimana seorang Nouman Ali Khan, yang notabebe seorang ustadz ingin menemui Robert. Mereka pun bertanya kenapa mereka ingin bertemu Robert. Ustadz Nouman berkata "Dia adalah inspirasi kami". Sederhana, dan akhirnya mereka dibolehkan menemui Robert. Robert begitu terkejut dan Ustadz bertanya "Apakah betul kamu sudah menghafal beberapa surah Al-Qur'an?". "Ya" jawabnya. "Dapatkah kau membacakannya untukku?". Lalu Robert membaca surah Al Asr dan satu persatu yang hadir di sana menangis haru. Tak ada yang tidak menangis. Air mata mereka berlinangan. Jadi Dik, ketika seseorang kembali kepada Allah, jangan risau bagaimana caranya. Dia akan membimbing siapapun. Dia akan menunjukkan jalanNya. Hijrah sesuatu yang indah bukan?
Dik, masih ada kisah Robert yang ingin kusampaikan padamu sebab kau masih muda, kuat, energik, bahkan beberapa gunung telah kau taklukkan. Dengarkan baik-baik. Saya sudah cerita bahwa Robert telah lumpuh dari kecil dari lehernya sampai kakinya. Dan ini kisahnya, dia memiliki sebuah kursi roda khas yang menopang seluruh tubuhnya agar tidak bergerak. Kursi itu seperti memegang lehernya sampai kaki,semua bagian tubuhnya ada pegangannya. Karena kau tahu dia tidak bisa menopang badannya sendiri. Dan dia juga memerlukan sebuah mobil khusus yang harusnya bisa menahan kursi roda itu sehingga jika Robert menaikinya tidak akan melukai tubuhnya saat terhentak atau bergoyang dalam perjalanan. Dan, suatu hari di hari Jumat, dia memohon agar diantar ke masjid untuk Sholat Jumat. Mereka tidak memiliki mobil khusus seperti itu dan harus memakai mobil biasa. Apa yang terjadi dik? Dalam perjalanan, mobil itu melewati beberapa jalan yang berlekuk menyebabkan tulang belakang Robert semakin parah. Dia menunaikan sholat Jumat dan pulang dengan kesakitan. Orang-orang berkata kepadanya bahwa dia tidak boleh lagi duduk di atas kursi roda itu dan harus berbaring di atas tempat tidur selama enam bulan lamanya atau sekurang-kurangnya hingga dia pulih kembali. Dia bertemu dengan Ustadz idolanya itu setelah tiga bulan beristirahat. Dia tidak bersedih, dia bercerita kepada ustadz Nouman bahwa dia tidak pernah merasa berada dalam keadaan yang tenteram, damai dan tenang selepas sholat Jumat pertamanya itu di masjid. Dan dia berkata lagi "Ustadz tahu apa yang ingin saya lakukan setelah pulih? saya ingin menaiki mobil itu lagi dan pergi lagi ke masjid menunaikan sholat Jumat. Saya ingin kembali ke masjid karena saya tidak pernah merasakan keadaan seperti itu selain di masjid". Itu yang didapat bagi seseorang yang tidak memiliki apa-apa kecuali mata dan mulut yang masih berfungsi, sebuah kedamaiman atas keimanan yang sempurnah. Dia hanya mencintai masjid, mencintai Al-Qur'an, mencintai Allah Sang Pemilik Raga.
Dik, jika Allah boleh memberi petunjuk kepada Robert Davilla, tentu dia boleh memberi petunjuk kepada siapa saja. Kadang ketika kita kehilangan sedikit kenikmatan kita akan bertanya kenapa Allah memberi cobaan seperti ini. Lihatlah Robert Davilla dik, jika kita merasa kasihan melihat penderitannya, jika ada orang yang boleh kemudian berkata bahwa dia tidak percaya Tuhan, maka orang itu pastilah Robert. Dia akan berkata "Aku tidak percaya Tuhan, jika Tuhan itu ada kenapa aku ada dalam keadaan begini" Tapi dia tidak begitu, dia sangat bersyukur dengan hidupnya sekarang dan Ustadz Nouman berkata dia belum pernah bertemu dengan orang yang lebih bercahaya selain dia. Yang sangat bersyukur dan Ustadz Nouman sudah menganggapnya guru baginya. Bahwa Robert memberi inspirasi baginya. Seorang idola yang kemudian balik mengidolakan fansnya. Bahkan dalam beberapa khutbah setelah itu Ustadz Nouman mengutip dari surah-surah yang dibacakan oleh Robert dan mereka sudah menjadi akrab dan berencana akan berkunjung pada setiap hari raya ke rumah penjagaan itu menemui Robert.
Jadi dik, petunjuk itu ada sekeliling kita. Tidak perlu risau tentang sesuatu yang tidak ada. Allah mengatur segalanya. Rezekimu, hidup dan matimu ada dalam genggamannya. Kau tahu apa yang terjadi dengan pemuda Kahfi? Pemuda beriman yang tidur di dalam gua, ketika matahari terbit dari timur Allah akan membalikkan tubuh mereka, dan jika terbenam Allah membalikkan lagi tubuh mereka hingga tidak diterpa sinarnya. Allah yang memandu kita ketika kita tidur dik, berdoalah. Jika ketika tidur saja Allah memandu kita apalagi saat kita bangun dik. Dan begitulah Allah memberi petunjuk bagi siapa saja yang dikehendakinya. Dan janganlah kau risau bagaimana cara mendapat petunjuk itu. Itu bukan perkerjaan kita, kerja kita hanya taat, kerja kita hanya ikhlas, jujur dan mendekatkan diri. Allah yang akan memberi kita teman, guru, ilmu untuk dekat kepadaNya. Allah akan beri jalan dik. Ingatlah ini dik, aku berdo'a padamu setelah pencarian jati dirimu bahwa sejatinya kita adalah hamba yang punya tugas untuk patuh padaNya. Selamat melakukan perjalanan kepadaNya sebab seberapa jauhpun kau melangkah, sampai ke puncak everest sekalipun jika hatimu masih membumi kau tidak dapat apa-apa. Buatlah hatimu melangit dan kau akan mendapatkan kasihNya.


True story..
Dikisahkan oleh Ustadz Nouman Ali Khan Hamza by Youtube (boleh disearching 'Kisah Robert Davilla')
Ditulis oleh Hasdaria
Makassar, 3 Nopember 2015