Minggu, 13 Desember 2015

Kira

“Kira.. Kira.. di mana kau sembunyi? Ayo keluarlah!” Wajah cemasnya menambah garis kelelahan seharian mencari kawan barunya itu.
“Belum ketemu juga?” Kali ini aku jadi ikut-ikutan celingak celinguk setelah tadi siang membiarkannya mencari sendiri. Bukannya tidak mau membantu, aku bahkan belum tahu jenis apa sekarang kawannya itu.
            Baiklah akan kuceritakan, dia adik bungsuku yang baru masuk Sekolah Dasar tahun lalu, sekarang dia sedang mencari teman mainnya yang entah bersembunyi di mana atau lebih tepatnya kabur ke mana. Dan teman barunya itu, bukanlah anak kecil seusianya yang imut atau boneka lucu pemberian ayah. Tidak salah lagi seekor binatang yang mungkin dia dapat di jalan sekembalinya dari sekolah dan membawanya ke rumah. Tapi aku bisa menebak, bukan kucing, anjing, kelinci, hamster, ikan, ayam, angsa, bebek dan segala jenis binatang yang pernah dia bawa sebab sedari tadi hanya bibir manyunnya yang tampak ketika kutanyakan soal buruannya ini. Pasti sesuatu yang berada di luar imajinasiku sekarang.
            Namanya Ica, umur kami memang terlampau jauh. Aku yang seorang Mahasiswi tahun kedua menjadi seorang kakak saat menginjak usia remaja. Saat kelahirannya kami sangat bahagia terutama aku yang akhirnya mendapat adik sekaligus ‘mainan’ baru, hehe. Tapi setahun ini hampir-hampir aku selalu dibuat kesal olehnya. Dia punya hobby baru yang menurutku sangat ekstrem. Bermain bersama binatang, maksudku itu mungkin wajar bagi semua orang tapi bagiku Ica berbeda. Dia suka bahkan sangat suka sehingga dia lebih banyak bermain dengan binatang itu dibanding denganku. Bukannya aku iri, hanya saja ini sudah keterlaluan bagiku.
            Pernah ketika masih TK kami sekeluarga berkunjung ke rumah Nenek di kampung. Sebenarnya, Ayah dan Ibu kami dari sana hanya setelah menikah mereka menetap di kota karena tuntutan pekerjaan. Dan di kampunglah hobby barunya itu dimulai. Saat pulang dari kebun bersama kakek, tiba-tiba saja ada anak ayam yang selalu mengikuti langkah kaki kecil Ica hingga sampai di rumah. Karena tidak tega dan merasa anak ayam itu lucu Ica pun memungutnya, yah setelah minta persetujuan kakek. Sejak saat itu dia mengklaim anak ayam itu sebagai miliknya. Memberinya makan, memandikannya pagi-pagi sehabis dia mandi, bahkan tidur bersamanya. Saat sore hari, tiba-tiba dia datang, matanya sembab habis menangis. Di tangannya anak ayamnya tergolek lemah. Apa yang terjadi? Seharian dia keluar bermain bersama anak tetangga tidak lupa membawa anak ayam yang dia beri nama Kira itu. Mereka bermain lompat tali. Kira dia simpan di kantong gamisnya dan saat gilirannya main, Kira jatuh dan tak sengaja Ica menginjakx. Untung saja cuma kakinya yang terluka, nenekpun mengobatinya dengan memberi obat merah. Setelah itu Kira Ica rawat dengan sungguh-sungguh, memaksanya makan dan minum. Pagi-pagi sekali Ica menangis meraung-raung. Kira Mati.
            Kami pun pulang sebab waktu libur sudah habis. Ica masih sedih atas perginya Kira, tapi tidak lama sebab sesampainya di rumah dia mendapatkan Kira yang baru. Seekor ikan yang Ibu belikan di pasar. Sama seperti anak ayam yang ada di rumah kakek, dia rawat sungguh-sungguh dan masih dia beri nama Kira. Tapi berselang waktu ikan mas pun mati. Bisa dibilang kami belum punya pengalaman memelihara ikan sebelumnya, jadi agak susah merawatnya. Setelah ikan, kelinci, hamster, burung, jangkrik, yang semuanya mati satu-satu.
Pernah sepulang sekolah dia membawa anak kucing, di sinilah dia mulai mencari sendiri binatang peliharaannya, tidak dibelikan ibu lagi. Satu anak kucing hari ini, besok anak kucing lagi, hingga hampir-hampir rumah penuh anak kucing. Aku jadi heran dari mana semua dia dapatkannya. Karena merasa terganggu aku minta ayah dan ibu mengatasi masalah ini, sebab aku tidak tahan, bulu kucing ada dimana-mana. Bahkan ‘poop’ dimana-mana. Akhirnya kucing-kucing itu kami lepas satu persatu hingga tinggal seekor, namanya masih Kira. Yah, semua Kira dari peliharaan pertama hingga sekarang ‘Kira’. Pernah kutanya  kenapa harus Kira, dia cuma bilang suka. Tidak puas dengan kucing, anak anjing dia bawa pulang. Tuhan, kali ini aku sempat marah sebab saat aku balik dari kampus dengan lelahnya si anak anjing menyerangku. Untung saja hanya ujung rokku yang dia gigit. Aku memarahi Kira dan menyuruhnya membawa anjing itu keluar padahal hujan mengguyur sangat deras. Keesokan harinya kami dapati anak anjing itu mati mengapung di selokan. Mungkin karena masih terlalu kecil jadi belum mahir berenang atau terlalu kedingian. Aku sempat menyesal dan merasa sedih melihat Ica tapi mengingat kejadian itu jengkelkupun masih ada.
“Terakhir main di mana?” Tanyaku semakin penasaran sambil menengok ke belakang sofa.
“Di kamar…” Jawabnya sekenanya dengan tangan yang sibuk menyibak tikar-tikar di ruang tamu.
Kali ini dengan melihat wajah seriusnya, aku juga mulai serius mencari, betul-betul mencari berkeliling rumah. Masuk keluar kamar, masuk keluar toilet, keluar pekarangan rumah. Itu sedikit membuat frustasi. Bagaimana tidak, binatang yang kucari tak terlintas di pikiranku seperti apa bentuknya. Dalam hati sudah kuazamkan jika aku mendapatkan seekor binatang apa saja akan aku bawa kepada Ica. Sudah hampir sejam kami sibuk mencari, hingga sepertinya aku kehilangan kesabaran dan hampir berhenti ketika tiba-tiba suara aneh mengagetkanku. Berasal entah dari mana menghentikan tanganku menyibak kain gorden ketika tiba-tiba sesuatu seperti melompat mengenai tepat di wajahku, seketika aku berteriak mengamuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Kejadian yang sangat cepat dan tak dapat kukontrol. Detik berikutnya aku menabrak meja, membuat vas bunga jatuh berhamburan, beling berserakan dimana-mana. Detik berikutnya aku merasakan sakit di tapak kakiku, pecahan beling menggoresnya dalam membuatku hilang keseimbangan. Terjatuh, terantuk ujung tangga, darah menetes deras di pelipis. Perih tak tertahankan membuat penglihatan semakin buram dan gelap. Terakhir aku ambruk tak sadarkan diri. Entahlah bagaimana nasib Ica dan peliharaannya itu.
Malam hari aku baru sadarkan diri. Sempat bingung sebab kukira aku terbaring di kamar ternyata di sebuah bangsal di Rumah Sakit terdekat. Tanganku sudah tersambung selang infus, pelipis dipasangi perban dan luka-luka di kaki sudah ditutupi. Kulihat ibu menggenggam tanganku seraya memasang senyum keibuannya seperti biasa. Mataku kemudian menangkap Ica yang bersembunyi sedikit menunduk sambil memegangi ujung belakang kemeja ayah. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan. Aku masih menatapnya sambil menunggu reaksinya. Dia balas menatapku, mencoba melangkah maju ke ujung tempat tidur, dia mulai bersuara.
“Kak Fizah, maafkan Ica” Sengaja aku seolah membuang muka menatap ke ibu.
“Itu salah kak Fizah” Suaranya mulai meninggi, tidak ada getaran, sangat jelas. Kembali kutatap wajahnya namun enggan bersuara. Ingin memprotesnya namun belum kuat bergerak.
“Kak Fizah tidak pernah mau buka kamar kalau Ica ketuk. Kak Fizah selalu sibuk dengan hape, dengan laptop, dengan tab. Sibuk dengan teman-teman kak Fizah yang datang ke rumah. Kak Fizah jarang di rumah dan selalu pulang telat pulang.” Dia masih menatapku dengan wajah menuduhnya mengingatkanku betapa sibuknya aku setelah kuliah. Benar kata Ica, apalagi mahasiswa jurusan Farmasi. Lab seabrek, tugas yang menumpuk, laporan yang menguras tenaga. Bahkan sesampainya di rumah aku masih mengurung diri di rumah membuat laporan. Tapi bukannya Ica yang lebih dulu sibuk dengan hewan peliharaannya?
“Padahal Ica kangen sama Kak Fizah, kangen main boneka bareng, kangen dibacakan dongeng-dongeng, cerita putri dan kancil. Makanya Ica lebih suka main sama Kira. Kira selalu main-main sama Ica. Ica lebih suka. Kak Fizah yang jahat.” Dia mulai menunduk kembali, tangan kecilnya memegangi besi ujung tempat tidur. Ingatanku kembali saat awal-awal perkuliahan, Ica dengan semangatnya membawa buku-buku ceritanya. Awalnya aku masih membacakannya, namun lama-lama tugas semakin menggunung. Membuatku mengurung diri di kamar, ketika Ica membuka pintu aku menyuruhnya keluar, selalu hingga aku menguncinya dari dalam, enggan membuka jika dia mengetuknya. Ya Allah padahal dia hanya ingin bermain denganku. Kutatap dia yang masih menunduk sedih, kucoba mendudukkan diriku. Ibu membantu. Ayah hanya terdiam sambil mengelus lembut kepala Ica.
“Ica, ayoo sini!” Ucapku kemudian sambil mengayunkan tangan berinfusku, kutahan rasa sakit sebab sakit di hati lebih besar kini. Sakit penyesalan telah mengabaikan Ica adik satu-satuku yang merindukan kakaknya. Membuatku menyesal tidak dapat memberi waktu barang sedikit untuk Ica hingga dia lebih memilih hewan-hewan itu dibanding aku. Mungkin awalnya dia hanya mencoba, lama-lama karena selalu kuabaikan dia malah menambah koleksi hewan yang juga akhirnya mati satu-satu.
Sambil menatap ayah, dia melangkah mendekatiku. Ayah mengangguk, ibupun. Setelah dekat kupeluk ia, kubisikkan padanya kata maafku, kukatakan jika aku sangat mencintainya lebih dari apapun. Tak terasa mutiara bening hangat membasahi pipiku. Adik kecilku yang berumur tujuh tahun, dia menyadarkanku betapa aku menghabiskan waktuku seorang diri untuk diriku saja. Diapun akhirnya menangis, awalnya hanya linangan air mata lama-lama ia menangis keras-keras hingga sesenggukan. Pelukanku semakin erat. Ayah dan ibu tersenyum puas sambil ikut memeluk kami. Malam itu Ica tinggal di Rumah Sakit menemanika beserta ayah dan ibu. Lelah menangis, dia akhirnya tertidur di sampingku. Kukecup keningnya sambil berjanji dalam hati akan menjadi kakak yang baik.
Keesokan harinya, dia terbangun dengan mata bengkak, sembab sama halnya denganku. Dia menertawakanku, akupun. Dia kemudian dengan semangatnya mengambil sesuatu dari dalam tas yang dia bawa dari rumah. Dia menyodorkannya padaku, membuatku kaget dan setengah berteriak. Makhluk berduri-duri, berkulit keras, berlidah panjang, berekor panjang. Jika tidak berfikir logis aku sudah menganggap makhluk itu Dinosaurus. Dia menyebutnya Kira.


End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar