Kamis, 03 Desember 2015

Kehilanganmu

Senja itu kami bertemu, ini bukan pertemuan pertama, kami sudah mengenal sejak kecil. Dia adalah sahabat masa kecilku namun hari ini ada yang berbeda darinya tidak seperti biasanya. Dia hanya menunduk memperhatikan ujung sepatunya. Tangannya sibuk memelintir ujung jilbabnya. Ini yang membuatku khawatir, sebab jika dia mulai bertingkah begitu biasanya dia sedang mencemaskan sesuatu. Tapi apa? Dia bahkan tidak bersuara sejak hampir tiga puluh menit yang yang lalu. Dia hanya menanggapi begitu saja pertanyaanku sambil menatap ke arah yang lain.
Yah, dia sangat berbeda. Mulai dari pakaian yang dia pakai. Ok kami memang belum pernah bertemu lagi sejak tiga tahun terakhir tapi bukankah itu bukanlah waktu yang lama hingga dia berubah sedrastis ini. Tapi lihatlah apa yang dia pakai, membuatku terbahak sejenak membuatku lepas kendali dan bertanya apakah dia memakai baju ayahnya yang punya berat badan 86 kilo dan jilbab apa yang dia pakai itu, hampir selebar bendera merah putih yang berkibar tiap senin di sekolah pada saat upacara bendera. Dia hanya tersenyum kecil mendengar celetukanku. Setelah itu dia hanya banyak menunduk atau melihat bougenville yang ada di taman yang ramai ini. Dia bahkan mengambil jarak yang sangat jauh dariku. Ini membuatku sedikit depresi, aku seperti kehilangan seseorang yang sangat aku kenal. Kemana perginya Nagisa yang ceria, cerewet minta ampun, yang selalu menjambak rambutku atau meninju lenganku jika aku mengusilinya, yang menghambur kepadaku jika lama tidak bertemu memelukku erat. Kemana perginya Nagisa yang memulai pembicaraan menanyakan ini itu, menceritakan ini itu, mengajak makan ini itu, membuat kejahilan, kebodohan dan kegilaan yang bahkan tidak sampai di nalarku. Kemana dia pergi, apa yang dia lakukan selama tiga tahun ini selama aku pergi.
                Dia masih diam, kali ini dia memperhatikan lekukan ukiran kursi kayu panjang yang memisahkan kami. Aku akhirnnya memberanikan diri bertanya tentang sikapnya ini. Dia hanya menjawab bahwa dia tidak apa-apa. Ini semakin membuatku bingung dan bersumpah akan mendatangi rumahnya dan menanyakannya kepada paman gendut bagaimana Nagisa bisa berubah seperti ini. Yah, kuakui ini perubahan yang baik tapi aku seakan tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar merindukan Nagisa yang dulu kukenal. Ingatanku tiba-tiba seperti menjelajah pada 15 tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu, hari itu kami masih di bangku Sekolah Dasar, Nagisa adalah anak pindahan yang datang dari Timur. Pada saat dia memasuki kelas kami, serentak kelas menjadi tenang. Semua siswa terheran-heran. Semua siswa bertanya-tanya betulkah dia masih anak Sekolah Dasar seperti kami. Dia memiliki postur tubuh yang bongsor, tingginya bahkan melebihi anak laki-laki lainnya. Hingga saat istirahat tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya. Padahal selama ini jika ada anak baru kami akan mengusilinya. Karena tidak ada yang berani, aku dan teman sebangkuku si Marlo yang berkacamata tebal memberanikan diri menghampirinya. Kamipun memberikannya tantangan tapi dia malah acuh tak acuh, dia meningggalkan kami begitu saja. Begitu seterusnya hingga suatu hari pada pelajaran olahraga kami menantangnya lari cepat. Alhasil kami kalah. Pada kesempatan lain kami adu panco, tidak ada harapan. Lempar lembing, main bola, krambol, lompat tali. Kami masih di bawahnya. Bahkan ketika usai sekolah kami masih melakukan tantangan-tantangan yang selalu dimenangkan olehnya.
                Kami kehabisan akal dan kehabisan tenaga melawannya. Tapi tidak menyurutkan langkah kami. Pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia, kompleks tempat tinggal kami mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak. Ini kesempatan kami mengalahkannya. Dan yang kami tunggu-tunggu adalah adu kekuatan semacam sumo di Jepang. Hadiahnya lumayan menggiurkan, sebuah piala besar dan sejumlah uang cukup untuk jajan sebulan. Semua anak-anak antusias mengikutinya bahkan beberapa anak dari kompleks sebelah juga datang. Nagisa awalnya cuek dan tidak mau mengikuti pertandingan ini jika kami tidak mengatainya pecundang. Mungkin karena sudah capek selalu kami ganggu seharian itu akhirnya dia memenuhi keinginan kami. Ada seorang anak laki-laki dari kompleks sebelah yang mempunyai tubuh yang besar juga mengikutinya. Dia adalah pemenang tahun lalu untuk kategori anak SD. Kami memastikan dialah pemenangnya. Nagisa pasti kalah. Tapi bukan itu tujuan kami, kami ingin kamilah yang mengalahkan Nagisa bagaimanapun Nagisa belum pernah mengikuti lomba ini, kami lebih berpengalaman. Lomba dimulai, Marlo berhasil mengalahkan satu anak, dia kini melawan Nagisa. Nagisa seorang anak perempuan membuat sejarahnya sendiri. Dia mengalahkan Marlo, beberapa anak-anak juga dikalahkannya. Dia seperti tidak kehilangan tenaga, dia bahkan mengalahkanku dengan satu dorongan. Itu adalah hari yang memalukan, bahkan kakak perempuanku mengambil gambar saat aku harus mencium tanah basah saat dikalahkan Nagisa dan selalu menertawaiku ketika melihat foto itu.
                Nagisa keluar sebagai juara pertama mengalahkan si anak gede dari kompleks sebelah, dia membawa piala dan uang. Dia kemudian pulang tanpa ekspresi. Dia selalu begitu, seakan tidak menganggap setiap tantagan yang kami berikan. Di tengah jalan beberapa anak laki-laki mendatanginya yang tidak menerima kekalahannya. Mereka menyerang Nagisa. Nagisa sudah terjatuh saat kami kebetulan melihat adegan itu. Kami kemudian dengan jiwa kelaki-lakian berusaha menolong Nagisa yang cuma terduduk, terdiam melihat ke arah kami yang mati-matian berkelahi. Ini memang area laki-laki, perempuan sekuat apapun tidak mahir dalam hal ini. Setelah beberapa saat berkelahi kami kelelahan dan akhirnya berhenti, anak-anak itu akhirnya pulang. Aku dan Marlo jatuh ke tanah sambil membentangkan tangan kecapekan sambil mengatur nafas, bagaimanapun kami hanya berdua melawan beberapa anak-anak. Nagisa kemudian berdiri di samping kami sambil memegang pialanya yang sudah patah ujungnya. Kami memprotesnya karena hanya diam saja melihat kami dikeroyoki. Dia tidak menjawab malah menangis keras-keras membuat kami kaget dan langsung terduduk dan saling menatap. Dia masih menangis bahkan makin keras saat kami berusaha menenangkannya. Setelah itu kami mengantarnya pulang dan ibunya yang ramah menyuruh kami masuk rumahnya dan memakan beberapa kue buatannya beserta sirup jeruk. Kami pun mengiyakan saja, lagian kami sudah kecapekan sehabis berkelahi dan mengantar Nagisa. Selagi Nagisa membersihkan diri, ayah Nagisa yang bertubuh gempal mendatangi kami, menepuk-nepuk punggung kami. Kami kemudian meminta maaf karena selama ini mengusili Nagisa. Ayahnya malah tertawa terbahak-bahak. Dia bercerita, Nagisa sudah menceritakan tentang kami kepadanya. Dan ayahnya mengatakan jadi kamilah laki-laki pecundang yang belum pernah menang melawan Nagisa selama ini. Diapun menjelaskan kenapa Nagisa bisa menangis seajdi-jadinya tadi. Paman gendut berkata Nagisa bukannya sedih, dia menangis bahagia akhirnya ada juga orang yang berdiri di sampingnya, menolongnya. Selama ini Nagisa selalu menjadi bahan ejekan anak-anak di tempat asalnya sebab tubuhnya yang bongsor dan tak ada yang mau berteman dengannya dan tak ada yang membelanya saat dipukuli anak-anak laki-laki. Nagisa adalah anak satu-satunya di keluarga ini.
                Begitulah kami akhirnya memulai persahabatan kami bertiga. Kemana-mana kami selalu bersama, hingga naik tingkat sekolah. Kami saling membantu, melakukan hal-hal konyol bersama. Tentunya saling melindungi. Saat SMP tubuh kami makin bertambah tinggi dan melampaui Nagisa. Secara, walau bagaimanapun laki-laki akan lebih pesat pertumbuhannya apalagi saat memasuki masa pubertas. Nagisa beberapa kali protes, itu membuat kami seakan memenangkan pertandingan bertahun-tahun ini. Sebab setelah persahabatan kami terjalin, kami masih melakukan berbagai tantangan-tantangan. Dia makin cerewet, makin gesit dan makin jahil. Setiap kami pergi jauh ke suatu tempat, berpisah sementara dia akan berkirim surat. Atau menghabiskan waktu berjam-jam di telpon untuk menanyakan ini itu, menceritakan ini itu dan saat bertemu lagi dia akan menghambur memeluk kami erat-erat. Begitu juga jika dia kembali ke Timur, kami akan sangat merindukannya. Dan setamat SMA kami mengambil jurusan yang berbeda. Saya dan Marlo di kampus yang sama di Jawa, sedangkan Nagisa masih bertahan di sini.

                Setelah tiga tahun kami baru kembali lagi di tempat favorit kami di taman kota. Melihat perubahan Nagisa yang seperti ini, kami seolah tidak bisa menerima. Terutama aku yang sudah menganggapnya saudariku sendiri. Mengapa dia mengambil jarak, mengapa dia tidak memandang wajahku, mengapa dia tidak menjabat tanganku, mengapa dia sependiam ini. Aku juga mulai bertanya mengapa dua tahun terakhir ini dia sangat jarang menghubungi kami. Kami berfikir mungkin dia sangat sibuk mengerjakan tugas kuliahnya atau tugas-tugas yang lain. Ada apa? Dan langit senja semakin memudar. Petang akan datang, dia pun berpamitan meninggalkanku dalam kebingungan yang luar biasa. Dalam hati aku sangat kehilangannya. Aku kehilanganmu Nagisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar