Senja itu kami
bertemu, ini bukan pertemuan pertama, kami sudah mengenal sejak kecil. Dia adalah
sahabat masa kecilku namun hari ini ada yang berbeda darinya tidak seperti
biasanya. Dia hanya menunduk memperhatikan ujung sepatunya. Tangannya sibuk
memelintir ujung jilbabnya. Ini yang membuatku khawatir, sebab jika dia mulai
bertingkah begitu biasanya dia sedang mencemaskan sesuatu. Tapi apa? Dia bahkan
tidak bersuara sejak hampir tiga puluh menit yang yang lalu. Dia hanya
menanggapi begitu saja pertanyaanku sambil menatap ke arah yang lain.
Yah, dia sangat
berbeda. Mulai dari pakaian yang dia pakai. Ok kami memang belum pernah bertemu
lagi sejak tiga tahun terakhir tapi bukankah itu bukanlah waktu yang lama
hingga dia berubah sedrastis ini. Tapi lihatlah apa yang dia pakai, membuatku terbahak sejenak membuatku lepas kendali dan bertanya apakah dia memakai baju
ayahnya yang punya berat badan 86 kilo dan jilbab apa yang dia pakai itu,
hampir selebar bendera merah putih yang berkibar tiap senin di sekolah pada saat upacara bendera. Dia hanya tersenyum kecil mendengar celetukanku. Setelah itu dia hanya
banyak menunduk atau melihat bougenville yang ada di taman yang
ramai ini. Dia bahkan mengambil jarak yang sangat jauh dariku. Ini membuatku
sedikit depresi, aku seperti kehilangan seseorang yang sangat aku kenal. Kemana
perginya Nagisa yang ceria, cerewet minta ampun, yang selalu menjambak rambutku
atau meninju lenganku jika aku mengusilinya, yang menghambur kepadaku jika lama
tidak bertemu memelukku erat. Kemana perginya Nagisa yang memulai pembicaraan
menanyakan ini itu, menceritakan ini itu, mengajak makan ini itu, membuat
kejahilan, kebodohan dan kegilaan yang bahkan tidak sampai di nalarku. Kemana
dia pergi, apa yang dia lakukan selama tiga tahun ini selama aku pergi.
Dia
masih diam, kali ini dia memperhatikan lekukan ukiran kursi kayu panjang yang
memisahkan kami. Aku akhirnnya memberanikan diri bertanya tentang sikapnya ini.
Dia hanya menjawab bahwa dia tidak apa-apa. Ini semakin membuatku bingung dan
bersumpah akan mendatangi rumahnya dan menanyakannya kepada paman gendut
bagaimana Nagisa bisa berubah seperti ini. Yah, kuakui ini perubahan yang baik
tapi aku seakan tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar merindukan Nagisa yang
dulu kukenal. Ingatanku tiba-tiba seperti menjelajah pada 15 tahun yang lalu
saat kami pertama kali bertemu, hari itu kami masih di bangku Sekolah Dasar, Nagisa adalah anak pindahan yang datang dari Timur. Pada saat dia memasuki kelas
kami, serentak kelas menjadi tenang. Semua siswa terheran-heran. Semua siswa
bertanya-tanya betulkah dia masih anak Sekolah Dasar seperti kami. Dia memiliki
postur tubuh yang bongsor, tingginya bahkan melebihi anak laki-laki lainnya.
Hingga saat istirahat tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya. Padahal
selama ini jika ada anak baru kami akan mengusilinya. Karena tidak ada yang
berani, aku dan teman sebangkuku si Marlo yang berkacamata tebal memberanikan
diri menghampirinya. Kamipun memberikannya tantangan tapi dia malah acuh tak
acuh, dia meningggalkan kami begitu saja. Begitu seterusnya hingga suatu hari
pada pelajaran olahraga kami menantangnya lari cepat. Alhasil kami kalah. Pada
kesempatan lain kami adu panco, tidak ada harapan. Lempar lembing, main bola,
krambol, lompat tali. Kami masih di bawahnya. Bahkan ketika usai sekolah kami
masih melakukan tantangan-tantangan yang selalu dimenangkan olehnya.
Kami
kehabisan akal dan kehabisan tenaga melawannya. Tapi tidak menyurutkan langkah
kami. Pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia, kompleks tempat tinggal kami
mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak. Ini kesempatan kami mengalahkannya.
Dan yang kami tunggu-tunggu adalah adu kekuatan semacam sumo di Jepang.
Hadiahnya lumayan menggiurkan, sebuah piala besar dan sejumlah uang cukup untuk
jajan sebulan. Semua anak-anak antusias mengikutinya bahkan beberapa anak dari
kompleks sebelah juga datang. Nagisa awalnya cuek dan tidak mau mengikuti
pertandingan ini jika kami tidak mengatainya pecundang. Mungkin karena sudah
capek selalu kami ganggu seharian itu akhirnya dia memenuhi keinginan kami. Ada
seorang anak laki-laki dari kompleks sebelah yang mempunyai tubuh yang besar
juga mengikutinya. Dia adalah pemenang tahun lalu untuk kategori anak SD. Kami
memastikan dialah pemenangnya. Nagisa pasti kalah. Tapi bukan itu tujuan kami,
kami ingin kamilah yang mengalahkan Nagisa bagaimanapun Nagisa belum pernah
mengikuti lomba ini, kami lebih berpengalaman. Lomba dimulai, Marlo berhasil
mengalahkan satu anak, dia kini melawan Nagisa. Nagisa seorang anak perempuan
membuat sejarahnya sendiri. Dia mengalahkan Marlo, beberapa anak-anak juga
dikalahkannya. Dia seperti tidak kehilangan tenaga, dia bahkan mengalahkanku
dengan satu dorongan. Itu adalah hari yang memalukan, bahkan kakak perempuanku
mengambil gambar saat aku harus mencium tanah basah saat dikalahkan Nagisa dan
selalu menertawaiku ketika melihat foto itu.
Nagisa
keluar sebagai juara pertama mengalahkan si anak gede dari kompleks sebelah,
dia membawa piala dan uang. Dia kemudian pulang tanpa ekspresi. Dia selalu
begitu, seakan tidak menganggap setiap tantagan yang kami berikan. Di tengah
jalan beberapa anak laki-laki mendatanginya yang tidak menerima kekalahannya.
Mereka menyerang Nagisa. Nagisa sudah terjatuh saat kami kebetulan melihat
adegan itu. Kami kemudian dengan jiwa kelaki-lakian berusaha menolong Nagisa
yang cuma terduduk, terdiam melihat ke arah kami yang mati-matian berkelahi.
Ini memang area laki-laki, perempuan sekuat apapun tidak mahir dalam hal ini.
Setelah beberapa saat berkelahi kami kelelahan dan akhirnya berhenti, anak-anak
itu akhirnya pulang. Aku dan Marlo jatuh ke tanah sambil membentangkan tangan
kecapekan sambil mengatur nafas, bagaimanapun kami hanya berdua melawan
beberapa anak-anak. Nagisa kemudian berdiri di samping kami sambil memegang
pialanya yang sudah patah ujungnya. Kami memprotesnya karena hanya diam saja
melihat kami dikeroyoki. Dia tidak menjawab malah menangis keras-keras membuat
kami kaget dan langsung terduduk dan saling menatap. Dia masih menangis bahkan makin
keras saat kami berusaha menenangkannya. Setelah itu kami mengantarnya pulang
dan ibunya yang ramah menyuruh kami masuk rumahnya dan memakan beberapa kue
buatannya beserta sirup jeruk. Kami pun mengiyakan saja, lagian kami sudah
kecapekan sehabis berkelahi dan mengantar Nagisa. Selagi Nagisa membersihkan
diri, ayah Nagisa yang bertubuh gempal mendatangi kami, menepuk-nepuk punggung
kami. Kami kemudian meminta maaf karena selama ini mengusili Nagisa. Ayahnya
malah tertawa terbahak-bahak. Dia bercerita, Nagisa sudah menceritakan tentang
kami kepadanya. Dan ayahnya mengatakan jadi kamilah laki-laki pecundang yang
belum pernah menang melawan Nagisa selama ini. Diapun menjelaskan kenapa Nagisa
bisa menangis seajdi-jadinya tadi. Paman gendut berkata Nagisa bukannya sedih,
dia menangis bahagia akhirnya ada juga orang yang berdiri di sampingnya,
menolongnya. Selama ini Nagisa selalu menjadi bahan ejekan anak-anak di tempat
asalnya sebab tubuhnya yang bongsor dan tak ada yang mau berteman dengannya dan
tak ada yang membelanya saat dipukuli anak-anak laki-laki. Nagisa adalah anak
satu-satunya di keluarga ini.
Begitulah
kami akhirnya memulai persahabatan kami bertiga. Kemana-mana kami selalu
bersama, hingga naik tingkat sekolah. Kami saling membantu, melakukan hal-hal
konyol bersama. Tentunya saling melindungi. Saat SMP tubuh kami makin bertambah
tinggi dan melampaui Nagisa. Secara, walau bagaimanapun laki-laki akan lebih
pesat pertumbuhannya apalagi saat memasuki masa pubertas. Nagisa beberapa kali
protes, itu membuat kami seakan memenangkan pertandingan bertahun-tahun ini.
Sebab setelah persahabatan kami terjalin, kami masih melakukan berbagai
tantangan-tantangan. Dia makin cerewet, makin gesit dan makin jahil. Setiap kami
pergi jauh ke suatu tempat, berpisah sementara dia akan berkirim surat. Atau
menghabiskan waktu berjam-jam di telpon untuk menanyakan ini itu, menceritakan
ini itu dan saat bertemu lagi dia akan menghambur memeluk kami erat-erat.
Begitu juga jika dia kembali ke Timur, kami akan sangat merindukannya. Dan
setamat SMA kami mengambil jurusan yang berbeda. Saya dan Marlo di kampus yang
sama di Jawa, sedangkan Nagisa masih bertahan di sini.
Setelah
tiga tahun kami baru kembali lagi di tempat favorit kami di taman kota. Melihat
perubahan Nagisa yang seperti ini, kami seolah tidak bisa menerima. Terutama
aku yang sudah menganggapnya saudariku sendiri. Mengapa dia mengambil jarak,
mengapa dia tidak memandang wajahku, mengapa dia tidak menjabat tanganku,
mengapa dia sependiam ini. Aku juga mulai bertanya mengapa dua tahun terakhir
ini dia sangat jarang menghubungi kami. Kami berfikir mungkin dia sangat sibuk
mengerjakan tugas kuliahnya atau tugas-tugas yang lain. Ada apa? Dan langit
senja semakin memudar. Petang akan datang, dia pun berpamitan meninggalkanku
dalam kebingungan yang luar biasa. Dalam hati aku sangat kehilangannya. Aku kehilanganmu Nagisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar