Ada gelap di luar sana. Pun hujan rintik tak berhenti sedari tadi. Apa yang kupikir sekarang katamu? Aku terlampau pencemburu. Entahlah. Bahkan aku tak tahu jelas apa yang kucemburui. Apakah pada daun yang jatuh di sampingmu yang kau bisikkan kata rindu. Ataukah pada bintang di angkasa yang kau puja kecantikannya. Apakah pada hujan di luar sana yang membuat gerahmu hilang.
Aku bahkan tak pernah mengerti sejak kapan aku cemburu pada apa yang kau lihat, kau rasa, kau dengar, kau raba. Apa aku terlalu menaruh harap pada janji yang kubuat sendiri? Apa aku terlalu jatuh terlalu dalam pada rasa yang tak sepantasnya? Jika demikian ajari aku memendamnya sekalian mengacuhkannya.
Ada yang luka ketika kutatap wajahmu. Sebab tak dapat kubaca apa yang tereja di sana. Apa yang sedang kau rasa. Apa yang sedang kau pikir. Apakah kau bahagia ataukah bersedih. Lalu apakah...apakah pernah sekali aku hadir di pikiranmu? Apakah...apakah pernah sekali aku ada di hatimu meski ruangnya sedikit saja? Kapan aku dapat mengetahui semua jawaban tanyaku ini? Ataukah adakah waktu untuk aku dapat mengetahui jawaban atas semua rasa gelisah ini?
Jika memang semua harus kupendam sendiri. Kuredam sendiri. Maka ajarilah aku. Ajari aku tuk tak memikirkanmu. Tuk tak khawatir tanpa sebab padamu. Tuk tak cemburu pada apa yang ada di dekatmu. Ajari aku. Biar hati ini tenang. Kauuuu..aku rindu.
Minggu, 19 Februari 2017
Bersetia
Ternyata aku tak setega itu mengusir bayang gelap yang sebaris lagi akan lenyap.
Atau tak pernah tega menutup pintu dan jendela untuk menghalangi seberkas cahaya menyeruak.
Karena kehilangan cahaya juga berarti kehilangan sepekat bayang.
Maka, tetaplah seperti itu, meski aku tak pernah yakin di antara kita mana cahaya dan mana bayang.
Tapi yang kutahu mereka tak pernah bisa dipisah bukan??
Atau tak pernah tega menutup pintu dan jendela untuk menghalangi seberkas cahaya menyeruak.
Karena kehilangan cahaya juga berarti kehilangan sepekat bayang.
Maka, tetaplah seperti itu, meski aku tak pernah yakin di antara kita mana cahaya dan mana bayang.
Tapi yang kutahu mereka tak pernah bisa dipisah bukan??
Pertarungan Takalar
Tanggal 15 kemarin memang akan menjadi sejarah suatu hari nanti. Selayaknya sejarah, tentu akan menjadi kisah di masa mendatang. Selayaknya sejarah, jika tak diceritakan dan dituliskan mungkin hanya akan jadi kenangan. Maka, biarlah saya kisahkan satu kisah pertarungan dari 101 pertarungan Pemilu di Indonesia kemarin.
Takalar...
Alhamdulillah, diberi kesempatan menjadi saksi sejarah pertarungan yang luar biasa di sini. Bahagia mungkin dikasih kesempatan mengawal istri calon bupati ust Syamsari Kitta, ibu Irma.
Alhamdulillah, diberi kesempatan menjadi saksi sejarah pertarungan yang luar biasa di sini. Bahagia mungkin dikasih kesempatan mengawal istri calon bupati ust Syamsari Kitta, ibu Irma.
Pukul 12 tanggal 14 sehari sebelum pemungutan suara berlangsung. Saya beserta ibu dan supir pribadinya akhirnya berangkat dari Makassar ke Takalar. Setelah sebelumnya sibuk sana sini mengurus beberapa hal yang perlu diurus di Makassar. Agak lama, sehingga kami baru tiba di Takalar pukul 2. Sesampainya di sana, euforia masyarakat Takalar luar biasa. Kami memulai agenda sore itu dengan do'a bersama mengetuk pintu langit untuk kemenangan esok hari. Dimulai dengan melantunkan ayat-ayat kemenangan Al Anfal dan At Taubah, dilanjut dzikir dan do'a penutup yang syahdu membuat ibu-ibu yang memenuhi mesjid ini sesenggukan bersahutan dan diakhiri dengan do'a Robitha yang dipimpin sendiri oleh ibu Irma. Setelah agenda yang dihadiri ratusan jamaah ibu-ibu ini, saya yang bertugas mengcover ibu sedikit kewalahan atas banyaknya permintaan foto bareng di dalam masjid sebab di luar sedang turun hujan. Sesekali saya harus mengambil jarak yang jauh dari ibu untuk memberi ruang pada ibu-ibu yang berebut foto berdua, foto berkelompok, foto selfie dan beberapa kali harus jadi fotografer dadakan juga. Agenda ditutup dengan santunan anak yatim. MaasyaaAllah, tulisan ini tidak bermaksud riya', hanya ingin menyampaikan kebenaran untuk kemudian bisa dipelajari di kemudian hari, terkhusus diri pribadi.
Hingga maghrib menjelang, barulah suasana menjadi sedikit tenang. Di rumah salah satu timses kami beristirahat. Ibu yang saya ikuti bagaikan ekornya kesana kemari itu selalu melantunkan do'a "Semoga kita besok menang yah..semoga kita menang"
"Aduh ria,,kalau bisa saja, tapi ibu gag berani juga, mau ibu tiru do'a Rosulullah di perang badar yang begini 'Yaa Allah jika tidak Engkau menangkan kami di perang ini, maka jangan harap akan ada yang menyembahMu' tapi ibu agak gimana gitu.. Yah kita sudah berikhtiar semaksimal mungkin tinggal mengetuk pintu langit ini. Jangan lupa nanti Tahajjud yah"
"Aduh ria,,kalau bisa saja, tapi ibu gag berani juga, mau ibu tiru do'a Rosulullah di perang badar yang begini 'Yaa Allah jika tidak Engkau menangkan kami di perang ini, maka jangan harap akan ada yang menyembahMu' tapi ibu agak gimana gitu.. Yah kita sudah berikhtiar semaksimal mungkin tinggal mengetuk pintu langit ini. Jangan lupa nanti Tahajjud yah"
Iyyah, ikhtiar yang maksimal, saya langsung ingat agenda Direct Selling. Agenda meyakinkan warga untuk memilih SKHD (Syamsari Kitta Haji Dede). Banyak kisah yang tak habis jika diceritakan semuanya. Yang mengesankan adalah agenda dor to dor ini tak sedikit dihadiri ibu-ibu. Ibu muda yang baru satu dua ekornya. Yang anaknya masih merah digendong kesana kemari. Yang punya anak sampai 3,4,5 maasyaaAllah...Luar biasa mereka mengajarkan perjuangan sedari kecil pada anak-anaknya. Tentang dakwah yang jalannya terjal, berkerikil, tidak mudah. Di sana segala peluh, air mata bahkan darah menjadi saksi atas setiap perjuangannya.
Pagi hari yang ditunggu-tunggu datang. Hari pencoblosan. Ustad dan istri siap-siap ke TPS. Pagi yang haru biru. Setelah menghabiskan malam dengan bermunajat, calon bupati ini juga pagi-pagi masih berkutat dengan Qur'an, melantunkannya dengan syahdu. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tengah, si ibu yang saya tunggu dari kamar akhirnya muncul juga yang dibantu ustad membawakan barang-barangnya. Matanya sedikit sembab, entah apa yang terjadi saat kami menunggu pasangan suami istri ini keluar. Dan matanya semakin sembab saat acara pamit-pamitan sama orang tua. Ustad dan istri sungkeman kepada ibu, mencium tangannya, memohonkan do'a kebaikan membawa kemenangan untuk rakyat Takalar.
Sekitar pukul 08.30 kami tiba di TPS ustad dan istri mencoblos. Hari itu, ditemani juga dengan anak pertama mereka yang bernama Safira. Sesampai di sana TPS tiba-tiba riuh dan kembali acara foto-foto berlangsung. Ustad yang tak pernah lepas senyum dari wajahnya inipun tak pernah bosan dan lelah meladeni acara foto bersama para pendukungnya. Ternyata awak mediapun tak ketinggalan, sudah menunggu di TPS ini, membuat ustad kemudian mencandai warga bahwa nama kampung mereka sudah sampai di Jakarta. Warga kembali riuh. Hujan deras tiba-tiba turun, kami yang tadinya berada di luar ruang tempat mencoblos yang hanya beratap terpal yang bocor pun akhirnya masuk ke ruang pencoblosan. Nama ustad dan ibu dipanggil, juga Safira. Segalanya terabadikan di kamera media, pengambilan kertas suara, masuk bilik, memasukkan kertas suara di kotak suara hingga kelingking yang menjadi ungu. Terakhir interview. Saya bayangkan, betapa lelahnya semua yang dilakukan untuk ini. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa guna-gunanya ikut pesta demokrasi, habiskan uang dan tenaga. Ah, yang berkelakar seperti itu hanya tak tahu saja nikmatnya berjuang. Lihatlah bapak ibu ini, tak pernah mengeluh. Demi apa? Jika ada yang berkata untuk uang, maka bisa saya jaminkan keluarga ini sudah cukup sejahtera soal itu. Maka, ini tentang mensejahterakan orang lain yang tak bukan adalah rakyat, tentang menegakkan keadilan, tentang memakmurkan kehidupan mereka. Soal ini, banyak yang lebih mengerti dibanding saya yang hanya bertugas mengawal.
Selesai mencoblos, singgah sebentar di rumah orang tuanya ustadz. Lanjut ke rumah timses. Di sana agak lama. Banyak cerita perjuangan di sana. Sayangnya saya bukan orang yang tahu bahasa Makassar. Sedikit-sedikit mengerti setelah ada yang bantu jelaskan. Bahwa sudah beberapa malam, warga di sana jarang ada yang tidur malam hari. Mereka menjaga basis agar tidak dimasuki pihak tak bertanggung jawab. Ada ibu-ibu yang semangat sekali menceritakan kepada saya bahwa sudah beberapa kedapatan datang membagi-bagikan amplop, maka warga di sana menginisiasi untuk menjaga basis pemenangan dengan bergantian keliling malam-malam. Bahkan si ibu ini juga ikut-ikut tidak tidur. Ada bapak-bapak juga bercerita berapi-api, sayangnya pakai bahasa Makassar, saya selalu merasa sedih jika tidak mampu mengerti apa-apa. Maka jadilah saya seperti pengawal yang mematung di samping ibu.
Mendekati waktu sholat dhuhur, rombongan 3 mobil berangkat ke DPD PKS Takalar untuk melihat proses Quick Count dan real Count. Semua sudah pada penasaran. Yang membuat haru tiba-tiba adalah sepanjang perjalanan ke DPD supir harus membuka kaca jendela mobil oleh banyaknya pendukung SKHD di jalan yang menyapa sambil teriak "Berua Baji" jargon pemenangan. Dan tak sedikit ibu-ibu dan bapak-bapak yang menangis, mereka seakan melihat masa depan kebaikan di wajah Ustad. Ustad menyalaminya satu-satu. Bapak supir yang juga warga Takalar ikut tersedu. Duh, saya yang duduk di samping Pak supir hampir-hampir ikut berderai kalau tidak ingat sedang bertugas. Saya menoleh ke belakang, Ibu Irmapun tak ketinggalan. Hanya ustad yang selalu memasang wajah senyum wibawanya. Sepertinya memang warga sudah sangat merindukan sosok baru yang bisa melegakan setiap harap. Melepaskan setiap kezaliman. Mengangkat setiap angan-angan kesejahteraan rakyat.
Perjalanan ke DPD ternyata lumayan jauh. Takalar indah, samping kiri kanan sedang berhijauan padi yang tertanam. Di kaki langit ada awan hitam menggantung,siap-siap memuntahkan air hujan. Curahnyalah yang menggenangi tiap petak sawah. Pukul 12.30 kami sampai di lokasi. Saya, ibu dan Safira berpisah dengan rombongan bapak-bapak. Kami menuju rumah salah seorang kader pas di samping DPD. Di sana agak surprise, akhwat-akhwat dari Makassar memenuhi rumah. Mereka mendapat amanah jadi koki buat semua timses, pengelola data quick count dan real count dan tamu-tamu lainnya di sekitar DPD. Dan selalu merasa nyaman berada di kumpulan orang-orang ini. Wajah-wajah teduh yang selalu penuh keikhlasan berjuang, wajah yang lelahnya tiada nampak oleh keceriaan melakoni peran dakwah. Dan selalu yang bikin merinding adalah bu ibu yang membawa jundi-jundi kecilnya kemana-mana. Sekali lagi, bukan 1, 2 yang mengekori mereka. Tiga, empat, lima anak yang jarak usia mereka tak berjauhan. Dan saya akan selalu speachless mendapati yang seperti ini. Mana ada bayi lagi.. Untungnya banyak akhwat-akhwat jomblowati yang gemas melihat anak-anak kecil yang akhirnya berebutan menggendong anak-anak ini hehe.
Hari semakin beranjak. Satu dua laporan dari saksi TPS tentang hasil perhitungan cepat. Maka, tiap TPS yang memenangkan SKHD, seruan takbir menggema. Mata berkaca-kaca, mulut bersahutan, semoga dakwah ini menang, semoga dakwah ini menang, tidak ada yang sia-sia, kita sudah berjuang. Laporan-laporan terus masuk, telpon berbunyi, pesan grup WA memenuhi tentang hasil perhitungan. Wajah-wajah penasaran ingin tahu, yang sebenarnya gedung di sebelahlah yang lebih tahu. Maka akhwat-akhwat dan ummahat-ummahat ini hanya update melalui ponsel. Aura-aura optimis tetap disunggingkan. Hingga sore hari tiba-tiba ada konvoi bersahutan dari pihak lawan. Memang saat itu, ada laporan dari sebelah hasilnya beda tipis, hanya beda nol koma persen. Jangan panik dulu, tetap tenang, jangan terbawa suasana, tetap tenang, data yang masuk belum 100 persen, masih ada harapan.
Dalam situasi seperti ini, saya yang kebiasaan kalau ketemu akhwat-akhwat kadang lupa tugas. Dan sempat kehilangan wajah ibu yang saya kawal. Maka mulai panik, kemana? saya cari ke dapur, ke ruang tengah, ke atas lantai 2, turun lagi, ternyata ibunya lagi di kamar sedang sholat. Eh, bukannya tadi sudah dijamak yah sholatnya? Ternyata ibu sedang sholat memohon pertolongan. Bukannya di surah Al-Baqoroh 45 mengatakan "mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat". Sedari tadi memang wajah ibu tidak tenang dengan keadaan beda tipis ini, maka mahfumlah saya bahwa kemudian ibu langsung ambil wudhu dan sholat meminta pertolongan kepada Allah. Bukankah do'a adalah senjata terbaik kita? Grup-grup WA mulai penuh seruan memanjatkan doa, tilawah yang banyak untuk kabar gembira kita bersama.
Hingga sehabis isya, dari gedung sebelah sesekali terdengar takbir, atau tepuk tangan. Yang kepo di tempat kami pada ingin tahu ada apa, ada apa? Si ibu masih bermunajat, dia bilang tetap tenang sampai hasil final. Sekitar pukul 20.10 di grup WA info dari sebelah kita sudah menang, sudah mulai konferensi pers. Saya tanya ibu, "Gag mau ke sebelah bu, sudah konferensi pers katanya?"
"Tunggu sampai ada kejelasan.." Ibu sabar benar..
Semakin besarlah teriakan takbir dari samping makin kepolah kami yang tinggal beberapa orang, sebab beberapa teman akhwat sudah pada balik ke Makassar sore harinya. Dan sekitar pukul 21.30 ibu panggil-panggil saya..
"Ayo ke sebelah, mau kasih congrats buat Pak syamsari"
"Tunggu sampai ada kejelasan.." Ibu sabar benar..
Semakin besarlah teriakan takbir dari samping makin kepolah kami yang tinggal beberapa orang, sebab beberapa teman akhwat sudah pada balik ke Makassar sore harinya. Dan sekitar pukul 21.30 ibu panggil-panggil saya..
"Ayo ke sebelah, mau kasih congrats buat Pak syamsari"
Sesampainya di sebelah pada riuh mengucapkan selamat kepada ibu. Setelah masuk ruangan ibu menyalami Pak Syamsari mengucap selamat. Di sana wajah bahagia terukir, pun wajah waspada untuk tugas selanjutnya. Mengawal suara hingga akhir..
Hanya yang berjuang yang bisa merasakan nikmat kemenangan..
Hanya yang berpeluh yang bisa merasakan nikmat pertarungan..
Hanya yang berpeluh yang bisa merasakan nikmat pertarungan..
Barokallahu buat Pak Syamsari Kitta .. Semoga amanah..
Kemenangan ini adalah kemenangan Rakyat Takalar..
Ikut teriakan para konvoiers "LANTIKMI...."
Kemenangan ini adalah kemenangan Rakyat Takalar..
Ikut teriakan para konvoiers "LANTIKMI...."
_Makassar, 16 februari 2017
Deras Hujan
Tiga orang anak perempuan. Umur berkisar 4 dan 5 tahun. Sore ini, hujan deras di Makassar, ketiga anak ini dari tadi melengkingkan suara tawa keceriaan. Nasib mereka tak jauh beda denganku. Kuyup. Hanya saja kuyup mereka, mereka nikmati. Mana tidak, lantai keramik depan sebuah bangunan yang kujadikan tempat berteduh tergenang air, ketiga bocah ini menjadikannya tempat seluncuran dari ujung ke ujung. Kelihatan sangat bahagia, tawa mereka melengking, kadang membalikkan wajah padaku penuh senyuman. Aku membalasnya, apalagi ketika salah satunya melakukan atraksi aneh. Aku ikut tertawa yang sudah menggigil kedinginan. Toh, kecilku dulu sepersis mereka. Bahagia saat deras hujan. Lari kesana kemari mencari genangan, bahagia ketika mendapati air meluncur deras dari pancuran atap rumah warga di kampung..
Yah, di balik kekesalan sebagian orang pada hujan yang tiba-tiba menderas. Ketahuilah ada keceriaan anak-anak di sana.
Menerka
Di balik waktu aku berlindung pada khianatnya jiwa yang membeku.
Di balik dinding yang kokoh, ada kata yang tak pernah terbaca oleh hati.
Tak mampu menebak dan tak berani menyimpulkan.
Maka, biar saja jadi teka-teki, sampai waktu membuka dan meruntuhkan.
Dan akhir dari segalanya adalah jiwa yang tenang mengeja setiap apapun yang tersembunyi di sana.
Di balik dinding yang kokoh, ada kata yang tak pernah terbaca oleh hati.
Tak mampu menebak dan tak berani menyimpulkan.
Maka, biar saja jadi teka-teki, sampai waktu membuka dan meruntuhkan.
Dan akhir dari segalanya adalah jiwa yang tenang mengeja setiap apapun yang tersembunyi di sana.
Nama Laki-laki
Belakangan pas mulai tanam menanam di halaman depan rumah entah sayur atau bunga, ada aja bu ibu yang singgah buat nanya boleh berbagi dek??
Alhamdulillah daun kelor dari dulu emang selalu subur ditambah hujan makin subur dan kangkung yang makin menjalar. Dan bunga-bungaan yang bijinya saya bawa dari kampung Alhamdulillah juga sudah mulai mekar semua.
Maka, bu ibu tetangga mulai melirik halaman yang dulunya penuh rumput wkwkwk. Mungkin merasa heran atas perubahan halaman, halahhhh..
Dan kemarin ada seorang ibu yang sering ketemu di toko sebelah menyempatkan diri mengambil beberapa pohon bunga yang sebenarnya sudah saya tata baik-baik tapi tak apalah namanya juga bertetangga #eh..
Dan mulailah selalu bu ibu yang datang nanyain "sama siapa?" saya jawab sendiri saja..
Dan bu ibunya mulai kasih beberapa tips selain memang bu ibunya sudah mendengar desas desus tentang beberapa bulan yang lalu rumahku kemasukan maling. Apalagi pas liat saya yang masih single wkwkwkwk. Maka di penghujung nasihatnya bu ibu ini bilang gini "kamu kalau mau tidur, sebelum matikan lampu, kamu sebut saja satu nama laki-laki. Biar seolah-olah ada orang yang kau temani"
Alhamdulillah daun kelor dari dulu emang selalu subur ditambah hujan makin subur dan kangkung yang makin menjalar. Dan bunga-bungaan yang bijinya saya bawa dari kampung Alhamdulillah juga sudah mulai mekar semua.
Maka, bu ibu tetangga mulai melirik halaman yang dulunya penuh rumput wkwkwk. Mungkin merasa heran atas perubahan halaman, halahhhh..
Dan kemarin ada seorang ibu yang sering ketemu di toko sebelah menyempatkan diri mengambil beberapa pohon bunga yang sebenarnya sudah saya tata baik-baik tapi tak apalah namanya juga bertetangga #eh..
Dan mulailah selalu bu ibu yang datang nanyain "sama siapa?" saya jawab sendiri saja..
Dan bu ibunya mulai kasih beberapa tips selain memang bu ibunya sudah mendengar desas desus tentang beberapa bulan yang lalu rumahku kemasukan maling. Apalagi pas liat saya yang masih single wkwkwkwk. Maka di penghujung nasihatnya bu ibu ini bilang gini "kamu kalau mau tidur, sebelum matikan lampu, kamu sebut saja satu nama laki-laki. Biar seolah-olah ada orang yang kau temani"
Saya yang lagi memperhatikan kupu-kupu yang lewat hanya bisa nyengir dan hanya bisa iyyah iyyah saja, tapi dalam hati "jadi siapami nama ini saya sebut sebelum tidur??"
😄
😄
😄
Kerinduan Pelangi Kepada Hujan
Mungkin pelangi kadang bersedih mengapa ia tak pernah bertemu hujan meski sama-sama berasal dari langit.
Maka ia akhirnya hanya mampu melipat segala rasa rindu yang pernah terurai untuk bisa menerima sebab hujan yang tak pernah menemuinya.
Dan hanya saja pelangi tak pernah tahu bahwa hujanlah yang melukis indah warnanya bukan??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan?
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat kau gemas melihat sisa rintik hujan pada kaca jendela mobil??
Ataukah gemas ingin meninggalkan jejak luka pada tiap lintasan jarak??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah soal lidah yang akhirnya mengecap banyak rasa??
Ataukah karena akhirnya kau dapat mengobati hati yang pernah mengecap rasa perih ??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah ketika matamu menangkap kelap-kelip lampu taman kota??
Ataukah ketika kelap-kelip kenangan di kotak memorymu melompat seiring kau menjejak di atas tanah yang pernah kau tapaki sebelumnya??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat kau menyaksikan ombak putih berkejaran di bibir pantai??
Ataukah saat ombak keragu-raguanmu berhenti menerjang karang keyakinan dalam hatimu??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah oleh luasnya hamparan alam semesta yang siap kau eja satu-satu??
Ataukah saat alam semesta akhirnya mengajarimu arti menerima dan melepaskan di satu titik waktu yang sama??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat angin menyentuh lembut wajahmu??
Ataukah saat kau bisa menyentuh sebuah hati yang sedang mekar??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan?
Apakah saat kau mampu menerjemahkan alur peta menemukan keelokan pesona alam?
Ataukah saat kau biarkan hatimu menuntunmu menemukan jalan bahagiamu??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat begitu banyak rupa yang kau temui dan akhirnya menginspirasimu tuk menjadi pribadi yang lebih bijak??
Ataukah saat kau temukan sebuah hati yang sedang merintih tobat??
Dan apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat lelahmu menguap seiring tahmidmu berkejaran sebab kau telah diperjalankan??
Ataukah saat perjalanan yang panjang itu akhirnya menyadarkanmu tentang rindu??
Lalu apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat kau tak mampu mengungkapkan keelokan lukisan alam yang terlalu indah??
Ataukah saat lukisan hatimu berada pada nada yang memesona??
Dan kau bertanya apa yang kusuka dari sebuah perjalanan??
"Saat aku berada pada titik koordinat yang disebut PULANG".
Trip Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Bulukumba-Sinjai-Bone-Sengkang-Soppeng-Barru-Maros-Makassar
Apakah saat kau gemas melihat sisa rintik hujan pada kaca jendela mobil??
Ataukah gemas ingin meninggalkan jejak luka pada tiap lintasan jarak??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah soal lidah yang akhirnya mengecap banyak rasa??
Ataukah karena akhirnya kau dapat mengobati hati yang pernah mengecap rasa perih ??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah ketika matamu menangkap kelap-kelip lampu taman kota??
Ataukah ketika kelap-kelip kenangan di kotak memorymu melompat seiring kau menjejak di atas tanah yang pernah kau tapaki sebelumnya??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat kau menyaksikan ombak putih berkejaran di bibir pantai??
Ataukah saat ombak keragu-raguanmu berhenti menerjang karang keyakinan dalam hatimu??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah oleh luasnya hamparan alam semesta yang siap kau eja satu-satu??
Ataukah saat alam semesta akhirnya mengajarimu arti menerima dan melepaskan di satu titik waktu yang sama??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat angin menyentuh lembut wajahmu??
Ataukah saat kau bisa menyentuh sebuah hati yang sedang mekar??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan?
Apakah saat kau mampu menerjemahkan alur peta menemukan keelokan pesona alam?
Ataukah saat kau biarkan hatimu menuntunmu menemukan jalan bahagiamu??
Apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat begitu banyak rupa yang kau temui dan akhirnya menginspirasimu tuk menjadi pribadi yang lebih bijak??
Ataukah saat kau temukan sebuah hati yang sedang merintih tobat??
Dan apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat lelahmu menguap seiring tahmidmu berkejaran sebab kau telah diperjalankan??
Ataukah saat perjalanan yang panjang itu akhirnya menyadarkanmu tentang rindu??
Lalu apa yang kau suka dari sebuah perjalanan??
Apakah saat kau tak mampu mengungkapkan keelokan lukisan alam yang terlalu indah??
Ataukah saat lukisan hatimu berada pada nada yang memesona??
Dan kau bertanya apa yang kusuka dari sebuah perjalanan??
"Saat aku berada pada titik koordinat yang disebut PULANG".
Trip Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Bulukumba-Sinjai-Bone-Sengkang-Soppeng-Barru-Maros-Makassar
Apa Ia?
Apa ia itu bisa disebut rindu jika embun akhirnya menghilang seiring mentari hadir?
Apa ia itu bisa disebut ikhlas jika senja masih mendamba bertemu bintang?
Apa ia itu bisa disebut cinta jika mekar bunga tak lagi indah dipandng mata?
Apa ia itu kamu jika kepastian tak mengiringi tegap langkahmu?
Apa ia itu bisa disebut ikhlas jika senja masih mendamba bertemu bintang?
Apa ia itu bisa disebut cinta jika mekar bunga tak lagi indah dipandng mata?
Apa ia itu kamu jika kepastian tak mengiringi tegap langkahmu?
Tentang Do'a
Tentang doa.
Memanglah ia tak selayak dan seharus diketahui yang terucap namanya dalam barisan doa-doa kita.
Bukankah malaikat akan mengaamiin sepersis apapun kebaikan yang dilangitkan bagi siapapun dia.
Memanglah ia tak selayak dan seharus diketahui yang terucap namanya dalam barisan doa-doa kita.
Bukankah malaikat akan mengaamiin sepersis apapun kebaikan yang dilangitkan bagi siapapun dia.
Hanyasanya bagimu, mungkin sekali dua kali namamu mengangkasa menembus lapisan langit yang Maha Luas.
Pada tiap waktu mustajab dan ketika hujan menderas seperti malam ini.
Hanya mengharap selalu berberkah hari-harimu.
Sesederhana itu, sebab kadang yang sederhana menghadirkan barokah.
Pada tiap waktu mustajab dan ketika hujan menderas seperti malam ini.
Hanya mengharap selalu berberkah hari-harimu.
Sesederhana itu, sebab kadang yang sederhana menghadirkan barokah.
Dan pada saudara yang tak teraba wajahnya seperti apa.
Pada mereka yang perjuangannya mengharu birukan hati.
Pada mereka yang ujiannya lebih kuat dan lebih agung.
Pada mereka yang tiap saat jeritannya senada bombardir dari mereka yg tak berhati.
Mungkin doa ini malu-malu menghadap Allah,,
Ahhh siapalah diri ini.
Hanya bisa melantunkan sepenggal doa pada satu dua sujud malam.
Yang tak menjamin mustajab dan terkabul.
Pada mereka yang perjuangannya mengharu birukan hati.
Pada mereka yang ujiannya lebih kuat dan lebih agung.
Pada mereka yang tiap saat jeritannya senada bombardir dari mereka yg tak berhati.
Mungkin doa ini malu-malu menghadap Allah,,
Ahhh siapalah diri ini.
Hanya bisa melantunkan sepenggal doa pada satu dua sujud malam.
Yang tak menjamin mustajab dan terkabul.
Tapi biarlah bibir keluh berucap, beriringan dengan linang air mata.
Yang derasnya tentu tak sederas air mata seorang ibu di Palestina.
Tak sederas air mata seorang anak kelaparan di Suriah
Tak sederas air mata seorang ayah pelindung dalam keluarganya di Rohingya
Yang derasnya tentu tak sederas air mata seorang ibu di Palestina.
Tak sederas air mata seorang anak kelaparan di Suriah
Tak sederas air mata seorang ayah pelindung dalam keluarganya di Rohingya
Yakin, Allah Maha Tahu, Tahu segala apa yang terjadi dan terbaik.
Hanya saja, biarkanlah doa doa kita menguntai indah menerjang lapisan langit.
Harap-harap menggetarkan arsy..
Oh yah, akankah?? Berdoa saja..berdoa saja..
Hanya saja, biarkanlah doa doa kita menguntai indah menerjang lapisan langit.
Harap-harap menggetarkan arsy..
Oh yah, akankah?? Berdoa saja..berdoa saja..
Berserah
Jikapun takdir masa depan tidak jatuh pada yang tersebut dalam do'a, maka tugas hati untuk ikhlas menerima..
Jikapun takdir kebahagiaan tidak bersejajar dengan yang tersebut dalam do'a, maka bisa jadi diganti dengan kebahagiaan yang lebih elegan..
Allah,,sesuai prasangka hambaNya...
Maka,,sangkaan pada tiap takdir haruslah mardhotillah, yang diridhoiNya..dan harap selalu yang diridhoiNya.
Maka,,sangkaan pada tiap takdir haruslah mardhotillah, yang diridhoiNya..dan harap selalu yang diridhoiNya.
Hingga pada ujung menutup mata untuk dunia ini, hanya satu pengharapan...mardhotillah
RidhoMu yaa Allah,,hamba mohonkan dalam tiap nafas hingga nafas terakhirku..
Tenggelam
Bagaikan tenggelam, maka betapa eloklah ia yang tenggelam dalam air mata pertaubatan atas dosa-dosa..
Bagaikan tenggelam, maka betapa merugilah ia yang tenggelam dalam lumpur kehinaan atas dosa-dosa..
Tenggelamlah dalam air mata yang bergelinangan oleh sebab pengharapan ampunan kepada Sang GhofururRahim..
Bersenggukanlah mengharap dihapusnya dosa-dosa oleh sebab betapa tinggi cita-cita dalam dekapan surgaNya...
Syukur
Apa yang membuatmu kehilangan senyum ketika ada Allah yang menjamin senyummu tetap indah setiap hari??
Apa yang membuatmu kehilangan nyanyian yang sendu ketika tiap hari disenandungkan nyanyian bahagia dalam hatimu??
Apa yang membuatmu kehilangan nyanyian yang sendu ketika tiap hari disenandungkan nyanyian bahagia dalam hatimu??
Bersyukur menambah nikmat..
Bersyukur menambah bahagia..
Bersyukur menambah bahagia..
__Alhamdulillah for everything
Hari Bahagiamu (2)
Saat doa dan takdir bertemu dalam satu garis lurus
Percayalah bahwa semuanya belum berada dalam sebuah akhir cerita
Percayalah bahwa semuanya belum berada dalam sebuah akhir cerita
Dan kini, saat namamu dan namanya yang tercatat di lauhul mahfudz telah mencapai bab penyatuannya, saat bunga-bunga cinta sedang bermekaran
Berjanjilah untuk saling menjaga dengan baik, meski mungkin bunga-bunga di hati kalian suatu saat teruji, mungkin tak bermekaran dengan indah serta tak mewangi semerbak lagi
Berjanjilah untuk saling menjaga dengan baik, meski mungkin bunga-bunga di hati kalian suatu saat teruji, mungkin tak bermekaran dengan indah serta tak mewangi semerbak lagi
Percayalah ukhti,
Dunia ini hanya setetes air pada maha luasnya samudera
Layaknya sebutir debu pada akbarnya hamparan padang pasir sahara
Dunia ini hanya setetes air pada maha luasnya samudera
Layaknya sebutir debu pada akbarnya hamparan padang pasir sahara
Maka kelak,
Apapun yang menjadi kekurangannya dan kekuranganmu,
Tak seharusnya membuat niat suci kalian untuk berdampingan, untuk saling membimbing menuju surgaNya menyusut dan mengerucut oleh sebuah kecewa
Apapun yang menjadi kekurangannya dan kekuranganmu,
Tak seharusnya membuat niat suci kalian untuk berdampingan, untuk saling membimbing menuju surgaNya menyusut dan mengerucut oleh sebuah kecewa
Percayalah ukhti,
Bertahun-tahun sudah engkau mencoba mendidik diri menjadi manusia yang percaya pada janji Allah
Tak mudah memang
Aku tahu, banyak ujian yang hampir membuatmu menyerah
Banyak jalanan terjal yang hampir membuatmu tak yakin
Bertahun-tahun sudah engkau mencoba mendidik diri menjadi manusia yang percaya pada janji Allah
Tak mudah memang
Aku tahu, banyak ujian yang hampir membuatmu menyerah
Banyak jalanan terjal yang hampir membuatmu tak yakin
Tapi di sini,
Aku selalu melihatmu tegak berdiri penuh senyum,
Meski mungkin hampir oleng terpapar garangnya jerat jaring-jaring dunia
Aku selalu melihatmu tegak berdiri penuh senyum,
Meski mungkin hampir oleng terpapar garangnya jerat jaring-jaring dunia
Dan kini, saat penyatuanmu dengannya tiba,
Pada hari dimana ia menggetarkan langitNya, saat akad telah terucap sah
Pada hari dimana ia menggetarkan langitNya, saat akad telah terucap sah
Maka saat itu kuucap doa penuh takzim,
Semoga kau selalu bahagia
Bersama dengannya menuai sakinah
Bersama dengannya merasakan mawaddah wa rohmah
Hingga nanti, hingga sampai di firdausNya yang abadi seabadi kisah kasih kalian
Semoga kau selalu bahagia
Bersama dengannya menuai sakinah
Bersama dengannya merasakan mawaddah wa rohmah
Hingga nanti, hingga sampai di firdausNya yang abadi seabadi kisah kasih kalian
Sekali lagi, selamat merayakan cinta ukhtyku sayang...
Dari saudarimu yang berharap tak kau lupakan saat si dia memenuhi hari-hari barumu.. Haha
Kara No Kokoro
Apakah hal yang menyinari hati yang hampa?
Aku terus berteriak hingga cahaya dapat meraihku.
Aku terus berteriak hingga cahaya dapat meraihku.
Terjatuh melalui retakan, kita masuk ke dalam kegelapan.
Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.
Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.
Ceritakan padaku kisah hidupmu, kita masih dalam perjalanan.
Aku tidak akan menyerah padamu begitu saja.
Aku tidak akan menyerah padamu begitu saja.
Debaran yang tiada henti, hari-hari biasa itu adalah cinta.
Ketika aku berbalik pada angin nostalgia, aku selalu mendengar suaramu.
Ketika aku berbalik pada angin nostalgia, aku selalu mendengar suaramu.
Underdog selalu berkelana, memilih jalan memutar dan takkan melarikan diri.
Jika tak percaya pada dirimu sendiri, maka siapa yang akan percaya padamu?
Jika tak percaya pada dirimu sendiri, maka siapa yang akan percaya padamu?
Gapaikanlah tanganmu pada cahaya itu...
Bersinar melalui awan-awan, kita masuk ke dalam kegelapan.
Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.
Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.
Katakan padaku apa yang kau pikirkan, mimpi yang tak berujung.
Kita akan mengejarnya tanpa pernah menyerah.
Kita akan mengejarnya tanpa pernah menyerah.
Saat menghadapi hidup tanpa jawaban dan membuatmu putus asa.
Jangan menyerah! Terus berjuang! Buat keadaan menjadi berbalik!
Jangan menyerah! Terus berjuang! Buat keadaan menjadi berbalik!
Hati kita akan selalu terhubung, meskipun kita terpisah jauh.
Mari hidup, mari hidup bersama-sama.
Mari hidup, mari hidup bersama-sama.
__Kara No Kokoro
^_^ Sweet Song as Naruto's Ost...
Hari Bahagiamu (1)
Ada bunga bermekaran di matamu, disaksikan para malaikat yang membawa kuntum bunga surga di tangannya.
Ada degup berirama senandung kencang di dadamu, didengar olehmu yang buncah bahagia tak kuasa menahan betapa sakralnya.
Ada do'a berlantun mengalir deras dari bibirmu, diaamiinkan setiap insan saat pintu langit terbuka, arsy terguncang oleh sebuah kalimat akad yang agung.
Ada degup berirama senandung kencang di dadamu, didengar olehmu yang buncah bahagia tak kuasa menahan betapa sakralnya.
Ada do'a berlantun mengalir deras dari bibirmu, diaamiinkan setiap insan saat pintu langit terbuka, arsy terguncang oleh sebuah kalimat akad yang agung.
Haruku tak terbendung melihat matamu berbinar, mendengar irama degup bahagiamu, mengaamiinkan doa kebaikanmu.
Barokallah ukhtyku sayang. Ukhty marha, ahhh.. Kamu udah jadi seorang istri hari ini. Pokokx aku speechless. Kalau aku mau jujur, betapa beruntungnya dia yang berdamping seia sekata dgnmu.
Selamat merayakan cinta ukhty sayang..
Sakinah mawaddah warohmah.
Selamat merayakan cinta ukhty sayang..
Sakinah mawaddah warohmah.
Bone-bone, 14 Januari 2017
Bumi dan Langit
Pada bumi, langit menumpahkan segala rasa. Gerah hingga sejuk.
Walau, jarak mereka begitu jauh.
Meski bumi tak pernah perduli, langit tetap setia.
Walau, jarak mereka begitu jauh.
Meski bumi tak pernah perduli, langit tetap setia.
Pertemuan Dua Tetes Air
Bayangkan ada dua tetes air yang saling berdekatan. Kemudian dua tetes air tersebut menyatu menjadi satu tetes air yang lebih besar. Kalau kita liat slow motionnya mungkin kayak gini. Pertama-tama air yang satu akan mencoba mendekati tetes yang lain. Nah, apakah tetes air itu bisa menyatu jika tidak sama molekulnya? Tentu tidak, akan berbalik arah. Jika yang ia dekati adalah minyak, sudah pasti tidak akan menyatu, yah kan?
Begitu sudah saling bersentuhan dan merasakan kesamaan kedua zatnya maka keduanya mengait-ngaitkan antarmolekul di dalamnya. Terjadilah tarik-menarik untuk memperkuat diri. Setelah menyatu, barulah mereka menjadi satu bagian yang tidak terpisah. Dua tetes menjadi satu tetes. Keduanya sama. Hanya saja sekarang keadaanya menjadi lebih besar.
Maka, begitulah UKHUWAH,,begitulah prosesnya. Menyatu oleh rasa yang sama. Sama-sama mencintai karena Allah.
Lalu apa yang terjadi pada aksi 212? Bukan 2 tetes air yang menyatu, tapi jutaan tetes air yang menyatu, menghimpun kekuatan. Menjadi satu 'bahasa, pikiran, perbuatan, dan tindakan' yang berdasar cinta..
Jika air ini menjadi arus, maka luar biasa arusnya. Bisa menghanyutkan, bisa menerjang apa saja yang ada di hadapannya. Maka, Umat Islam harus optimis,,bahwa ialah Umat yang dijanjikan berada pada masa depan yang akan membangun peradaban kemanusiaan yang paripurna. Mencipta kedamaian, menjadi sebenar-benar robtul'am..
Karena Umat Islam memiliki kekuatan yang sangat besar, taring yang tajam dan ditakuti oleh musuh Allah. Ingat kemarin, aksi anak Ciamis yang berjalan kaki, maka ada beberapa pembenci yang menjadi ciut hanya karena takut melihat arus yang luar biasa dahsyat ini. Maka ini adalah momentum, tinggal menunggu saja Janji Allah atas Umat ini.
Langganan:
Komentar (Atom)
