“Kira..
Kira.. di mana kau sembunyi? Ayo keluarlah!” Wajah cemasnya menambah garis
kelelahan seharian mencari kawan barunya itu.
“Belum
ketemu juga?” Kali ini aku jadi ikut-ikutan celingak celinguk setelah tadi
siang membiarkannya mencari sendiri. Bukannya tidak mau membantu, aku bahkan
belum tahu jenis apa sekarang kawannya itu.
Baiklah akan kuceritakan, dia adik
bungsuku yang baru masuk Sekolah Dasar tahun lalu, sekarang dia sedang mencari
teman mainnya yang entah bersembunyi di mana atau lebih tepatnya kabur ke mana.
Dan teman barunya itu, bukanlah anak kecil seusianya yang imut atau boneka lucu
pemberian ayah. Tidak salah lagi seekor binatang yang mungkin dia dapat di
jalan sekembalinya dari sekolah dan membawanya ke rumah. Tapi aku bisa menebak,
bukan kucing, anjing, kelinci, hamster, ikan, ayam, angsa, bebek dan segala
jenis binatang yang pernah dia bawa sebab sedari tadi hanya bibir manyunnya
yang tampak ketika kutanyakan soal buruannya ini. Pasti sesuatu yang berada di
luar imajinasiku sekarang.
Namanya Ica, umur kami memang
terlampau jauh. Aku yang seorang Mahasiswi tahun kedua menjadi seorang kakak saat
menginjak usia remaja. Saat kelahirannya kami sangat bahagia terutama aku yang
akhirnya mendapat adik sekaligus ‘mainan’ baru, hehe. Tapi setahun ini
hampir-hampir aku selalu dibuat kesal olehnya. Dia punya hobby baru yang
menurutku sangat ekstrem. Bermain bersama binatang, maksudku itu mungkin wajar
bagi semua orang tapi bagiku Ica berbeda. Dia suka bahkan sangat suka sehingga
dia lebih banyak bermain dengan binatang itu dibanding denganku. Bukannya aku
iri, hanya saja ini sudah keterlaluan bagiku.
Pernah ketika masih TK kami
sekeluarga berkunjung ke rumah Nenek di kampung. Sebenarnya, Ayah dan Ibu kami
dari sana hanya setelah menikah mereka menetap di kota karena tuntutan
pekerjaan. Dan di kampunglah hobby barunya itu dimulai. Saat pulang dari kebun
bersama kakek, tiba-tiba saja ada anak ayam yang selalu mengikuti langkah kaki
kecil Ica hingga sampai di rumah. Karena tidak tega dan merasa anak ayam itu
lucu Ica pun memungutnya, yah setelah minta persetujuan kakek. Sejak saat itu
dia mengklaim anak ayam itu sebagai miliknya. Memberinya makan, memandikannya
pagi-pagi sehabis dia mandi, bahkan tidur bersamanya. Saat sore hari, tiba-tiba
dia datang, matanya sembab habis menangis. Di tangannya anak ayamnya tergolek
lemah. Apa yang terjadi? Seharian dia keluar bermain bersama anak tetangga
tidak lupa membawa anak ayam yang dia beri nama Kira itu. Mereka bermain lompat
tali. Kira dia simpan di kantong gamisnya dan saat gilirannya main, Kira jatuh
dan tak sengaja Ica menginjakx. Untung saja cuma kakinya yang terluka, nenekpun
mengobatinya dengan memberi obat merah. Setelah itu Kira Ica rawat dengan
sungguh-sungguh, memaksanya makan dan minum. Pagi-pagi sekali Ica menangis
meraung-raung. Kira Mati.
Kami pun pulang sebab waktu libur
sudah habis. Ica masih sedih atas perginya Kira, tapi tidak lama sebab
sesampainya di rumah dia mendapatkan Kira yang baru. Seekor ikan yang Ibu
belikan di pasar. Sama seperti anak ayam yang ada di rumah kakek, dia rawat
sungguh-sungguh dan masih dia beri nama Kira. Tapi berselang waktu ikan mas pun
mati. Bisa dibilang kami belum punya pengalaman memelihara ikan sebelumnya,
jadi agak susah merawatnya. Setelah ikan, kelinci, hamster, burung, jangkrik, yang
semuanya mati satu-satu.
Pernah
sepulang sekolah dia membawa anak kucing, di sinilah dia mulai mencari sendiri
binatang peliharaannya, tidak dibelikan ibu lagi. Satu anak kucing hari ini,
besok anak kucing lagi, hingga hampir-hampir rumah penuh anak kucing. Aku jadi
heran dari mana semua dia dapatkannya. Karena merasa terganggu aku minta ayah
dan ibu mengatasi masalah ini, sebab aku tidak tahan, bulu kucing ada
dimana-mana. Bahkan ‘poop’ dimana-mana. Akhirnya kucing-kucing itu kami lepas
satu persatu hingga tinggal seekor, namanya masih Kira. Yah, semua Kira dari
peliharaan pertama hingga sekarang ‘Kira’. Pernah kutanya kenapa harus Kira, dia cuma bilang suka.
Tidak puas dengan kucing, anak anjing dia bawa pulang. Tuhan, kali ini aku
sempat marah sebab saat aku balik dari kampus dengan lelahnya si anak anjing
menyerangku. Untung saja hanya ujung rokku yang dia gigit. Aku memarahi Kira
dan menyuruhnya membawa anjing itu keluar padahal hujan mengguyur sangat deras.
Keesokan harinya kami dapati anak anjing itu mati mengapung di selokan. Mungkin
karena masih terlalu kecil jadi belum mahir berenang atau terlalu kedingian.
Aku sempat menyesal dan merasa sedih melihat Ica tapi mengingat kejadian itu jengkelkupun
masih ada.
“Terakhir
main di mana?” Tanyaku semakin penasaran sambil menengok ke belakang sofa.
“Di
kamar…” Jawabnya sekenanya dengan tangan yang sibuk menyibak tikar-tikar di
ruang tamu.
Kali
ini dengan melihat wajah seriusnya, aku juga mulai serius mencari, betul-betul
mencari berkeliling rumah. Masuk keluar kamar, masuk keluar toilet, keluar
pekarangan rumah. Itu sedikit membuat frustasi. Bagaimana tidak, binatang yang
kucari tak terlintas di pikiranku seperti apa bentuknya. Dalam hati sudah
kuazamkan jika aku mendapatkan seekor binatang apa saja akan aku bawa kepada
Ica. Sudah hampir sejam kami sibuk mencari, hingga sepertinya aku kehilangan
kesabaran dan hampir berhenti ketika tiba-tiba suara aneh mengagetkanku.
Berasal entah dari mana menghentikan tanganku menyibak kain gorden ketika
tiba-tiba sesuatu seperti melompat mengenai tepat di wajahku, seketika aku
berteriak mengamuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Kejadian yang sangat cepat
dan tak dapat kukontrol. Detik berikutnya aku menabrak meja, membuat vas bunga
jatuh berhamburan, beling berserakan dimana-mana. Detik berikutnya aku
merasakan sakit di tapak kakiku, pecahan beling menggoresnya dalam membuatku
hilang keseimbangan. Terjatuh, terantuk ujung tangga, darah menetes deras di
pelipis. Perih tak tertahankan membuat penglihatan semakin buram dan gelap.
Terakhir aku ambruk tak sadarkan diri. Entahlah bagaimana nasib Ica dan
peliharaannya itu.
Malam
hari aku baru sadarkan diri. Sempat bingung sebab kukira aku terbaring di kamar
ternyata di sebuah bangsal di Rumah Sakit terdekat. Tanganku sudah tersambung
selang infus, pelipis dipasangi perban dan luka-luka di kaki sudah ditutupi.
Kulihat ibu menggenggam tanganku seraya memasang senyum keibuannya seperti
biasa. Mataku kemudian menangkap Ica yang bersembunyi sedikit menunduk sambil
memegangi ujung belakang kemeja ayah. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan.
Aku masih menatapnya sambil menunggu reaksinya. Dia balas menatapku, mencoba
melangkah maju ke ujung tempat tidur, dia mulai bersuara.
“Kak
Fizah, maafkan Ica” Sengaja aku seolah membuang muka menatap ke ibu.
“Itu
salah kak Fizah” Suaranya mulai meninggi, tidak ada getaran, sangat jelas.
Kembali kutatap wajahnya namun enggan bersuara. Ingin memprotesnya namun belum
kuat bergerak.
“Kak
Fizah tidak pernah mau buka kamar kalau Ica ketuk. Kak Fizah selalu sibuk
dengan hape, dengan laptop, dengan tab. Sibuk dengan teman-teman kak Fizah yang
datang ke rumah. Kak Fizah jarang di rumah dan selalu pulang telat pulang.” Dia
masih menatapku dengan wajah menuduhnya mengingatkanku betapa sibuknya aku
setelah kuliah. Benar kata Ica, apalagi mahasiswa jurusan Farmasi. Lab seabrek,
tugas yang menumpuk, laporan yang menguras tenaga. Bahkan sesampainya di rumah
aku masih mengurung diri di rumah membuat laporan. Tapi bukannya Ica yang lebih
dulu sibuk dengan hewan peliharaannya?
“Padahal
Ica kangen sama Kak Fizah, kangen main boneka bareng, kangen dibacakan
dongeng-dongeng, cerita putri dan kancil. Makanya Ica lebih suka main sama
Kira. Kira selalu main-main sama Ica. Ica lebih suka. Kak Fizah yang jahat.”
Dia mulai menunduk kembali, tangan kecilnya memegangi besi ujung tempat tidur.
Ingatanku kembali saat awal-awal perkuliahan, Ica dengan semangatnya membawa
buku-buku ceritanya. Awalnya aku masih membacakannya, namun lama-lama tugas
semakin menggunung. Membuatku mengurung diri di kamar, ketika Ica membuka pintu
aku menyuruhnya keluar, selalu hingga aku menguncinya dari dalam, enggan
membuka jika dia mengetuknya. Ya Allah padahal dia hanya ingin bermain
denganku. Kutatap dia yang masih menunduk sedih, kucoba mendudukkan diriku. Ibu
membantu. Ayah hanya terdiam sambil mengelus lembut kepala Ica.
“Ica,
ayoo sini!” Ucapku kemudian sambil mengayunkan tangan berinfusku, kutahan rasa
sakit sebab sakit di hati lebih besar kini. Sakit penyesalan telah mengabaikan
Ica adik satu-satuku yang merindukan kakaknya. Membuatku menyesal tidak dapat
memberi waktu barang sedikit untuk Ica hingga dia lebih memilih hewan-hewan itu
dibanding aku. Mungkin awalnya dia hanya mencoba, lama-lama karena selalu
kuabaikan dia malah menambah koleksi hewan yang juga akhirnya mati satu-satu.
Sambil
menatap ayah, dia melangkah mendekatiku. Ayah mengangguk, ibupun. Setelah dekat
kupeluk ia, kubisikkan padanya kata maafku, kukatakan jika aku sangat
mencintainya lebih dari apapun. Tak terasa mutiara bening hangat membasahi pipiku.
Adik kecilku yang berumur tujuh tahun, dia menyadarkanku betapa aku
menghabiskan waktuku seorang diri untuk diriku saja. Diapun akhirnya menangis,
awalnya hanya linangan air mata lama-lama ia menangis keras-keras hingga
sesenggukan. Pelukanku semakin erat. Ayah dan ibu tersenyum puas sambil ikut
memeluk kami. Malam itu Ica tinggal di Rumah Sakit menemanika beserta ayah dan
ibu. Lelah menangis, dia akhirnya tertidur di sampingku. Kukecup keningnya
sambil berjanji dalam hati akan menjadi kakak yang baik.
Keesokan
harinya, dia terbangun dengan mata bengkak, sembab sama halnya denganku. Dia
menertawakanku, akupun. Dia kemudian dengan semangatnya mengambil sesuatu dari
dalam tas yang dia bawa dari rumah. Dia menyodorkannya padaku, membuatku kaget
dan setengah berteriak. Makhluk berduri-duri, berkulit keras, berlidah panjang,
berekor panjang. Jika tidak berfikir logis aku sudah menganggap makhluk itu
Dinosaurus. Dia menyebutnya Kira.
End

.jpg)

