Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya.
Ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf untuknya
Minggu, 30 Oktober 2016
Seperti
Seperti sepi, tunggal
Seperti sunyi, kesendirian
Seperti tenang, di sesubuhan
Seperti rindu, pertemuan
Seperti do'a, di pertiga malam
Seperti kau, keteduhan
Seperti aku, b(utuh)
Seperti sunyi, kesendirian
Seperti tenang, di sesubuhan
Seperti rindu, pertemuan
Seperti do'a, di pertiga malam
Seperti kau, keteduhan
Seperti aku, b(utuh)
Setangguh Krisan
Dengan ribuan detik berkawan ribuan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.
Kemarau berganti derasnya hujan.
Hingga tandus yang menjadi rindang.
Ketahuilah bahwa di tiap rinai hujan telah kutitipkan doa agar kau selalu baik baik saja.
Dengan ribuan jejak tapak kaki, ribuan harapan, ribuan janji.
Hingga tangis berubah jadi tawa.
Ketahuilah, aku masih di sini.
Tak usah sulit kau cari.
Mintalah padaNya penunjuk arah padaku.
Dengan ribuan daun kering yang gugur di kemarau, ribuan daun muda yang kuncup bersama turunnya hujan.
Hingga sepi berganti riuh.
Ketahuilah, yakinku sebesar tekadku tuk jemput asamu.
Aku, setangkai krisan yang tangguh di tiap musim...
Kemarau berganti derasnya hujan.
Hingga tandus yang menjadi rindang.
Ketahuilah bahwa di tiap rinai hujan telah kutitipkan doa agar kau selalu baik baik saja.
Dengan ribuan jejak tapak kaki, ribuan harapan, ribuan janji.
Hingga tangis berubah jadi tawa.
Ketahuilah, aku masih di sini.
Tak usah sulit kau cari.
Mintalah padaNya penunjuk arah padaku.
Dengan ribuan daun kering yang gugur di kemarau, ribuan daun muda yang kuncup bersama turunnya hujan.
Hingga sepi berganti riuh.
Ketahuilah, yakinku sebesar tekadku tuk jemput asamu.
Aku, setangkai krisan yang tangguh di tiap musim...
Aku Dengar, Aku Lihat
Aku mendengar dentuman yang keras.
Ternyata itu adalah suara detak jantungku yang sedang berdebar...
Aku melihat bekas tapak berjejalan.
Ternyata itu adalah jejak yang sedang kutinggalkan...
Aku mendengar teriakan yang keras.
Ternyata itu adalah rintihan hati yang sedang menjerit sepi...
Aku melihat bayangan gelap membesar.
Ternyata itu adalah dosa yang sedang meronta tobat...
Mereka berkata,
syukurlah aku masih berdebar,
syukurlah aku masih menjejak,
pintalah untuk kasih Yang Maha,
pintalah untuk sucikan yang nista..
Ternyata itu adalah suara detak jantungku yang sedang berdebar...
Aku melihat bekas tapak berjejalan.
Ternyata itu adalah jejak yang sedang kutinggalkan...
Aku mendengar teriakan yang keras.
Ternyata itu adalah rintihan hati yang sedang menjerit sepi...
Aku melihat bayangan gelap membesar.
Ternyata itu adalah dosa yang sedang meronta tobat...
Mereka berkata,
syukurlah aku masih berdebar,
syukurlah aku masih menjejak,
pintalah untuk kasih Yang Maha,
pintalah untuk sucikan yang nista..
Papa, Aku Rindu
Kutergugu di sudut ruangan yang sepi.
Kumendengar isak tangisku yang telah mengering dulu.
Pikiranku sibuk meneliti setiap kenangan yang melibatkan kau dan aku.
Kumendengar isak tangisku yang telah mengering dulu.
Pikiranku sibuk meneliti setiap kenangan yang melibatkan kau dan aku.
Ada serpihan sedih, lebih banyak serpihan tawa di sana.
Kau selalu berhasil membuatku tertawa walau dalam sengitnya perdebatan kita.
Aku melakukan banyak hal yang berharap buatmu bahagia, namun tak sedikit kau malah sedih dan terbebani.
Kumenyukai gelak tawamu yang renyah dan sangat kau nikmati.
Bahkan di tengah sakitmu, kau tergelak, atau mencoba tergelak menimpali leluconku yang kuusahakan lucu.
Kau selalu berhasil membuatku nyaman hanya sekedar duduk berdua walau kita terdiam tak berkata.
Dan lebih bahagia ketika kau mulai menceritakan banyak hal terutama tentang kisah perjalanan hidupmu.
Kini meski tak lagi akan kudengar dari lisanmu langsung, masih bisa kudengar dari seseorang yang sangat mencintaimu.
Kau tahu, dia, setiap membicarakan hal tentangmu selalu penuh semangat yang dibarengi tawa, tapi kadang lebih banyak dengan air mata.
Aku selalu merasa yang paling luka atas kepergianmu, namun wanita ini yang setengah mati mencintaimu berpuluh-puluh tahun kutau dialah yang paling terluka.
Kutengadah di tiap doa, mendoa semoga tiap doa untukmu sampai padamu.
Moga meringankan siksa, berharap menambah nikmatmu di sana.
Papa, lelaki pertamaku. Sungguh, putrimu ini sangat merindukanmu. Sangat dengan sungguh, di tiap detik di tiap helaan nafas, lebih lebih di tiap rinai air mata.
Dan di hujan sore ini, di tiap tetes yang dibawa para Malaikat, kutitip doa untukmu. Semoga kita kelak bertemu di surga..
Kau selalu berhasil membuatku tertawa walau dalam sengitnya perdebatan kita.
Aku melakukan banyak hal yang berharap buatmu bahagia, namun tak sedikit kau malah sedih dan terbebani.
Kumenyukai gelak tawamu yang renyah dan sangat kau nikmati.
Bahkan di tengah sakitmu, kau tergelak, atau mencoba tergelak menimpali leluconku yang kuusahakan lucu.
Kau selalu berhasil membuatku nyaman hanya sekedar duduk berdua walau kita terdiam tak berkata.
Dan lebih bahagia ketika kau mulai menceritakan banyak hal terutama tentang kisah perjalanan hidupmu.
Kini meski tak lagi akan kudengar dari lisanmu langsung, masih bisa kudengar dari seseorang yang sangat mencintaimu.
Kau tahu, dia, setiap membicarakan hal tentangmu selalu penuh semangat yang dibarengi tawa, tapi kadang lebih banyak dengan air mata.
Aku selalu merasa yang paling luka atas kepergianmu, namun wanita ini yang setengah mati mencintaimu berpuluh-puluh tahun kutau dialah yang paling terluka.
Kutengadah di tiap doa, mendoa semoga tiap doa untukmu sampai padamu.
Moga meringankan siksa, berharap menambah nikmatmu di sana.
Papa, lelaki pertamaku. Sungguh, putrimu ini sangat merindukanmu. Sangat dengan sungguh, di tiap detik di tiap helaan nafas, lebih lebih di tiap rinai air mata.
Dan di hujan sore ini, di tiap tetes yang dibawa para Malaikat, kutitip doa untukmu. Semoga kita kelak bertemu di surga..
Tentang Menunggu
Seperti mungkin ada yang suka mengungkapkan "aku ingin segera melewati hari ini, bulan ini, setahun ini, dua tahun ini. Segera"
Namun kemudian waktu seolah menjelma penipu ulung. Semenit serasa sejam, sejam serasa seharian, seharian serasa sebulan, sebulan serasa bertahunan tahun.
Menunggu menjadi sebuah misteri waktu yang menyadarkan bahwa setiap peristiwa adalah titik takdir yang kita pilih. Bahwa masa depan agaknya ditentukan oleh sikap kita dalam menentukan setiap keputusan dengan sebuah kepastian, bukan??
Menunggu akhirnya mencipta ruang debar, cemas sekaligus bahagia.
Seperti debar hati seorang pria dengan cemas menunggu istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak turunannya. Ia cemas, apakah ia beberapa detik kemudian pasti akan dipanggil ayah atau tidak. Namun debar cemasnya terkalahkan oleh debar bahagia bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
Seorang ibu yang cemas dan debar menunggu buah hatinya yang pagi pagi ke sekolah dan kemudian bahagia ketika sang buah hati datang dan berhamburan masuk dalam pelukannya dan memanggilnya "mama".
Dan seorang gadis yang debar dan cemas menunggu jika jika Allah mengirim makhluk pelindung untuknya suatu hari nanti. Ada debar kecemasan apakah si pelindung akhirnya datang atau tidak. Debar bahagia kemudian muncul dan menyingkirkan debar cemas, ketika Allah Sang penggenggam hati meyakinkan hatinya bahwa si pelindung itu akan datang tepat di waktu yang baik.
Maka, ia menunggu dalam senyap, tidak ingin mengganggu siapapun. Takut takut jika sikap yang diambilnya berbuah dosa dan nista. Sengaja mengambil jarak, walau kemudian jarak selalu ditakdirkan untuk menebalkan rindu. Sembari ia berdoa, ia berkata dengan yakin dan sungguh "Tuhan tak pernah terlambat, Dia tidak akan terlambat mengirimkanmu untukku."
Dan pada akhirnya waktu tetap menjadi misteri yang mencipta ruang tunggu bagi bani adam untuk saling menemukan, bukan??
Namun kemudian waktu seolah menjelma penipu ulung. Semenit serasa sejam, sejam serasa seharian, seharian serasa sebulan, sebulan serasa bertahunan tahun.
Menunggu menjadi sebuah misteri waktu yang menyadarkan bahwa setiap peristiwa adalah titik takdir yang kita pilih. Bahwa masa depan agaknya ditentukan oleh sikap kita dalam menentukan setiap keputusan dengan sebuah kepastian, bukan??
Menunggu akhirnya mencipta ruang debar, cemas sekaligus bahagia.
Seperti debar hati seorang pria dengan cemas menunggu istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak turunannya. Ia cemas, apakah ia beberapa detik kemudian pasti akan dipanggil ayah atau tidak. Namun debar cemasnya terkalahkan oleh debar bahagia bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
Seorang ibu yang cemas dan debar menunggu buah hatinya yang pagi pagi ke sekolah dan kemudian bahagia ketika sang buah hati datang dan berhamburan masuk dalam pelukannya dan memanggilnya "mama".
Dan seorang gadis yang debar dan cemas menunggu jika jika Allah mengirim makhluk pelindung untuknya suatu hari nanti. Ada debar kecemasan apakah si pelindung akhirnya datang atau tidak. Debar bahagia kemudian muncul dan menyingkirkan debar cemas, ketika Allah Sang penggenggam hati meyakinkan hatinya bahwa si pelindung itu akan datang tepat di waktu yang baik.
Maka, ia menunggu dalam senyap, tidak ingin mengganggu siapapun. Takut takut jika sikap yang diambilnya berbuah dosa dan nista. Sengaja mengambil jarak, walau kemudian jarak selalu ditakdirkan untuk menebalkan rindu. Sembari ia berdoa, ia berkata dengan yakin dan sungguh "Tuhan tak pernah terlambat, Dia tidak akan terlambat mengirimkanmu untukku."
Dan pada akhirnya waktu tetap menjadi misteri yang mencipta ruang tunggu bagi bani adam untuk saling menemukan, bukan??
Jumat, 07 Oktober 2016
Polosmu
Kita adalah sahabat yang sangat dekat. Itu menurutku, entah kau. Dan suatu ketika tanpa kutahu salahku kau menjauh, mendiamkanku setiap kita bertemu. Apa salahku? Kau tak pernah bilang. Pernah saat lonceng tanda masuk kelas berbunyi dan saat aku sudah siap di bangkuku yang paling depan, saat itu aku masih memegang donat sisa makan siangku, kau masuk. Kita memang sekelas, selalu satu kelas dari kelas 1 hingga tamat. Kau berhenti sejenak di depanku, aku siap ingin mendengar jika-jika kau ingin mengatakan sesuatu, nyatanya tidak. Kau kemudian melongos, melewati bangkuku menuju bangkumu di samping bangkuku tapi di urutan kedua. Ketika teman sebangkuku masuk, dia tiba-tiba mengingatkan jika ada sisa ceres donat nempel di hidungku. Aku sadar, sedari tadi kau ingin menegur itu, meses ceres yang ada di hidungku, tapi kemudian kau urung. Aku kemudian sedih memikirkannya.
Pernah juga, saat aku habis jatuh dari sepeda, itu dibonceng sama adik laki-lakiku. Lututku berdarah dan beberapa hari kemudian, kau tahu aku akan terpincang-pincang jika berjalan. Hari itu, ada pelajaran olahraga dan lari. Aku absen, tepatnya izin untuk tidak ikut. Aku akhirnya berdiam diri di dalam kelas sambil tidur-tiduran sesekali meringis akibat sakit dilututku jika kuluruskan. Kau tiba-tiba masuk di kelas. Seperti ketika kejadian meses ceres, kau berhenti tepat di depan bangkuku, hanya menatapku, aku menatapmu, bersedia kau ajak bicara. Tapi akhirnya kau lagi-lagi hanya melewatiku dan menuju bangkumu. Mengambil sesuatu dari tasmu dan sudah itu pergi. Kita tak pernah berhasil bersapa seperti dulu. Sudah tidak bisa dekat seperti dulu. Walau kucoba mendekat, kau seolah menghindar. Sangat menghindar.
Hingga suatu hari sahabatku yang juga sahabatmu berbisik bahwa kau mengirim salam padaku. Aku hanya melongo sebentar sudah itu merasa malu sendiri. Dan sejak saat itu, jangankan bersiap kau ajak bicara, menatappun akhirnya aku tidak bisa. Entah mengapa, mungkin terlalu malu. Mengingat usia kita baru meninggalkan angka 10. Kau? Jelas sedari awal selalu berhasil menghindariku. Dan mulailah bisik-bisik tentang kita bersahutan. Katanya, kau dan aku pacaran. Ah, yang benar? Padahal kita tak sekalipun bersapa. Sekali lagi terlalu malu. Awalnya, aku biasa saja, toh kita dulu pernah dekat, sangat dekat malah sebagai teman sekelas. Namun, serasa jauh dan semakin jauh dengan semakin beredarnya kabar tentang kita.
Dan saat porseni (Pekan Olahraga dan Seni), hari paling memalukan yang aku rasa. Tiba-tiba teman-teman kita kompak mengerjai kita. Mereka mengunci kita dalam satu ruangan. Cuma ada aku dan kau. Aku sudah lupa bagaimana bisa terjadi. Aku akhirnya berdiri di depan pintu sambil meneriaki teman-teman di luar untuk membuka pintu. Kau akhirnya kikuk, dan sejurus kemudian sudah hilang melompati jendela kelas. Aku yang melihatmu seketika tertawa kecil dan teman-teman kita akhirnya menyadari kau sudah tidak ada dan akhirnya membukakanku pintu kelas.
Kita masih tetap tak saling bicara hingga ujian akhir sekolah datang, pun hingga acara perpisahan. Acara perpisahan kita diadakan di aula yang sebenarnya adalah 3 kelas yang tersambung dengan 2 kelas lainnya terbuka dinding belakang dan dinding depannya. Para guru di kelas tengah, siswi di kelas sebelah kiri, siswa di sebelah kanan. Posisinya saling berhadapan dengan para guru di tengah. Kata sahabatku yang juga sahabatmu yang ada di sebelahku bahwa sedari tadi pandanganmu tak pernah lepas dari wajahku. Sambil membisikiku untuk tak segera melirik ke arahmu dan menunggu barang sebentar. Akhirnya, setelah kutunggu semenit aku memberanikan diri menoleh ke arah dudukmu. Sebentar kemudian, tatapan kita bertemu, namun cepat-cepat kau alihkan. Aku hanya bingung kemudian.
Itu adalah masa-masa kepolosan kita. Masa polosmu. Dan melihatmu yang sekarang. Seolah tak percaya kau pernah sepolos itu dulu. Sekarang kau berbeda. Meski akhirnya akupun tak pernah rindu denganmu. Aku suka mengingat-ingat masa-masa itu. Masa polos kita, masa penuh kelucuan dan keculunan di Sekolah Menengah Pertama.
Pernah juga, saat aku habis jatuh dari sepeda, itu dibonceng sama adik laki-lakiku. Lututku berdarah dan beberapa hari kemudian, kau tahu aku akan terpincang-pincang jika berjalan. Hari itu, ada pelajaran olahraga dan lari. Aku absen, tepatnya izin untuk tidak ikut. Aku akhirnya berdiam diri di dalam kelas sambil tidur-tiduran sesekali meringis akibat sakit dilututku jika kuluruskan. Kau tiba-tiba masuk di kelas. Seperti ketika kejadian meses ceres, kau berhenti tepat di depan bangkuku, hanya menatapku, aku menatapmu, bersedia kau ajak bicara. Tapi akhirnya kau lagi-lagi hanya melewatiku dan menuju bangkumu. Mengambil sesuatu dari tasmu dan sudah itu pergi. Kita tak pernah berhasil bersapa seperti dulu. Sudah tidak bisa dekat seperti dulu. Walau kucoba mendekat, kau seolah menghindar. Sangat menghindar.
Hingga suatu hari sahabatku yang juga sahabatmu berbisik bahwa kau mengirim salam padaku. Aku hanya melongo sebentar sudah itu merasa malu sendiri. Dan sejak saat itu, jangankan bersiap kau ajak bicara, menatappun akhirnya aku tidak bisa. Entah mengapa, mungkin terlalu malu. Mengingat usia kita baru meninggalkan angka 10. Kau? Jelas sedari awal selalu berhasil menghindariku. Dan mulailah bisik-bisik tentang kita bersahutan. Katanya, kau dan aku pacaran. Ah, yang benar? Padahal kita tak sekalipun bersapa. Sekali lagi terlalu malu. Awalnya, aku biasa saja, toh kita dulu pernah dekat, sangat dekat malah sebagai teman sekelas. Namun, serasa jauh dan semakin jauh dengan semakin beredarnya kabar tentang kita.
Dan saat porseni (Pekan Olahraga dan Seni), hari paling memalukan yang aku rasa. Tiba-tiba teman-teman kita kompak mengerjai kita. Mereka mengunci kita dalam satu ruangan. Cuma ada aku dan kau. Aku sudah lupa bagaimana bisa terjadi. Aku akhirnya berdiri di depan pintu sambil meneriaki teman-teman di luar untuk membuka pintu. Kau akhirnya kikuk, dan sejurus kemudian sudah hilang melompati jendela kelas. Aku yang melihatmu seketika tertawa kecil dan teman-teman kita akhirnya menyadari kau sudah tidak ada dan akhirnya membukakanku pintu kelas.
Kita masih tetap tak saling bicara hingga ujian akhir sekolah datang, pun hingga acara perpisahan. Acara perpisahan kita diadakan di aula yang sebenarnya adalah 3 kelas yang tersambung dengan 2 kelas lainnya terbuka dinding belakang dan dinding depannya. Para guru di kelas tengah, siswi di kelas sebelah kiri, siswa di sebelah kanan. Posisinya saling berhadapan dengan para guru di tengah. Kata sahabatku yang juga sahabatmu yang ada di sebelahku bahwa sedari tadi pandanganmu tak pernah lepas dari wajahku. Sambil membisikiku untuk tak segera melirik ke arahmu dan menunggu barang sebentar. Akhirnya, setelah kutunggu semenit aku memberanikan diri menoleh ke arah dudukmu. Sebentar kemudian, tatapan kita bertemu, namun cepat-cepat kau alihkan. Aku hanya bingung kemudian.
Itu adalah masa-masa kepolosan kita. Masa polosmu. Dan melihatmu yang sekarang. Seolah tak percaya kau pernah sepolos itu dulu. Sekarang kau berbeda. Meski akhirnya akupun tak pernah rindu denganmu. Aku suka mengingat-ingat masa-masa itu. Masa polos kita, masa penuh kelucuan dan keculunan di Sekolah Menengah Pertama.
Selasa, 04 Oktober 2016
Pertemuan Manusia 1/4 Abad
Setelah beberapa tahun tak saling bertatap, Allah memberikan waktu untuk qt bunuh di 1/4 siang tadi. Walau sebenarnya kita berjanji bertemu di tengah terik mentari. Berjam-jam kumenunggu, hpmupun tak dapat kuhubungi di jam ke 2 setelah waktu yang semestinya kita bertemu. Aku hampir saja menyerah menunggumu, hingga suara adzan ashar terdengar, dering hpku pun berbunyi. Itu kau.
"Maaf" katamu, "sudah buatmu menunggu."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa menunggu. Hehe"
Masih dengan nada menyesal kau menyuruhku menunggu barang sebentar untuk kau jemput. Selepas ashar, kembali aku harus berkutat dengan bukuku, bermaksud membunuh waktu. Ternyata aku harus menunggumu hingga 60 menit kemudian. Kesal? Tidak juga. Tadi kan sudah kubilang aku sudah terbiasa menunggu. Hingga saat sedang asyik-asyiknya kulafalkan kata-kata pada halaman 201 pada buku yang kubaca, buku yang baru siang tadi kupinjam dari seorang teman, hpku berdering. Jelas itu kau, telah sampai di parkiran mesjid kampus.
Kita saling lempar senyum, kusalami tanganmu yg kurasa masih sama teksturnya sejak terakhir bertemu. Tangan yang terbiasa kugenggam saat masih duduk di bangku sma. Kau menyodorkan helm.
"Mau kemana?" tanyamu.
"Kemana saja boleh" jawabku kemudian. Kau tidak terima jawabanku dan memaksaku memilih salah satu tempat.
"Losari?"
"Boleh".
Motor melaju melewati lampu merah pintu 1 unhas saat kau ambil tanganku menyuruhkan pegangan.
"Kenapa kau kurus sekali?" tanyamu heran.
"Kau tidak datang di hari operasiku."
"Oh iya yah. Maaf, aku melewatkan banyak peristiwa penting."
Angin sore menerpa wajah kita.
"Jadi kapan ada undangan?"
"Belum, abisnya yang dikasih kode gag peka sih, mau kayaknya ditabok"
"hahaha" gelak tawa kita pecah.
"Aku malah tunggu undanganmu"
"Aih, belum. Dia itu kayak jarum di antara jerami."
"hahaha" gelak tawa kita yang kedua.
"Maaf" katamu, "sudah buatmu menunggu."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa menunggu. Hehe"
Masih dengan nada menyesal kau menyuruhku menunggu barang sebentar untuk kau jemput. Selepas ashar, kembali aku harus berkutat dengan bukuku, bermaksud membunuh waktu. Ternyata aku harus menunggumu hingga 60 menit kemudian. Kesal? Tidak juga. Tadi kan sudah kubilang aku sudah terbiasa menunggu. Hingga saat sedang asyik-asyiknya kulafalkan kata-kata pada halaman 201 pada buku yang kubaca, buku yang baru siang tadi kupinjam dari seorang teman, hpku berdering. Jelas itu kau, telah sampai di parkiran mesjid kampus.
Kita saling lempar senyum, kusalami tanganmu yg kurasa masih sama teksturnya sejak terakhir bertemu. Tangan yang terbiasa kugenggam saat masih duduk di bangku sma. Kau menyodorkan helm.
"Mau kemana?" tanyamu.
"Kemana saja boleh" jawabku kemudian. Kau tidak terima jawabanku dan memaksaku memilih salah satu tempat.
"Losari?"
"Boleh".
Motor melaju melewati lampu merah pintu 1 unhas saat kau ambil tanganku menyuruhkan pegangan.
"Kenapa kau kurus sekali?" tanyamu heran.
"Kau tidak datang di hari operasiku."
"Oh iya yah. Maaf, aku melewatkan banyak peristiwa penting."
Angin sore menerpa wajah kita.
"Jadi kapan ada undangan?"
"Belum, abisnya yang dikasih kode gag peka sih, mau kayaknya ditabok"
"hahaha" gelak tawa kita pecah.
"Aku malah tunggu undanganmu"
"Aih, belum. Dia itu kayak jarum di antara jerami."
"hahaha" gelak tawa kita yang kedua.
Dan akhirnya kita malah banyak membicarakan permasalahan manusia 1/4 abad di romantisnya sunset penghujung senja.
Rindu
Rindu,,,seperti ketika bias cahaya bertemu air sisa hujan, mencipta indah pelangi.
Rindu,,,seperti ketika air bertemu tanah, menumbuhkan dan memekarkan bunga-bunga..
Rindu,,,seperti ketika air bertemu tanah, menumbuhkan dan memekarkan bunga-bunga..
Ponakan Solehah
Ponakan solehahku,,
Suka panggil "Tanta ia cayangkuuu (Tante Ria sayangku...)
Suka panggil "Tanta ia cayangkuuu (Tante Ria sayangku...)
Atau kalau abis cebok ama bundanya, maybe takut lantai licin maka dengan suara nyaring nyelengking akan teriak2 "tanta iaa tanta iaa" gag berenti kalau tantenya ini gag segera jemput dirinya, entah kenapa juga gag mau dipegangin sama bundanya..abis itu kalau udah disamperin gag tau kenapa suka geleng2 kepala perlahan2.. Duh, kangennya,
Paling bahagia kalau diajak pergi jalan, maka dia akan sibuk cari jaket dan jilbabnya sambil bilang bilang "pigikan jalan,,ama bunda, ama ayah, ama tanta ia, ama tanta ika, ama mama, ama om ming" semua orang disebutin. Kalau udah jalan,,duh bahagia lari sana sini, gag mau dipegangin padahal kitanya yang liat geregetan, apalagi kalau di pinggir jalan raya banyak mobil, pengennya pegangin tangannya atau gendong malah nolak, gag mau digendong, tangannya disembunyiin di belakang. Duh, kangennya..
Kalau waktu sholat tiba, apalagi maghrib maunya juga ikut, sambil tunjuk mukenahnya yang digantung. Awal2nya dianya cuma sampai takbiratul ihram abis itu dia buka jilbabnya dan gulung2 sambil dia peluk2in,, dia keluar dari shaff, tunggu kitanya sujud langsung ke belakang sambil tepuk2 dia bilang "panta' panta' (pantat, pantat). Kalau gag khusyuk dan gag kuat imannya pas lagi sholat, tunggu aja bakalan ketawa, ngulang deh sholatnya.. Tapi pas lama2 dianya udah bisa ikutin sampai salam...horeeee.. Duh, kangennya,,
Ada istilah yang sangat suka dia bilang kalau lagi marah, lagi bete, lagi jengkel ma seseorang. Dia pasti bilang "battak (nakal, bahasa duri enrekang)". Misalnya kalau saya gangguin pasti dia bilang "tanta ia battak.." sambil pasang muka jelek, atau kalau jengkel sekali, udah melayang tuh tangan, kalau gag kena kepala muka jadi sasaran. Walau tangannya sekecil itu, kadang sakit juga kalau kena apalagi pas wajah. Atau kalau udah marah sekali dia bakalan melapor ke semua orang. Cari bunda, ayah, mama (neneknya sebenarx, cuma sering dengr orang panggil mama, jadinya panggil mama juga hehe). Siapa aja yang dia dapat, dia bakal ngelapor,,"bunda,,tanta ia battak, ayah tanta ia battak, mama tanta ia battak".. Duh, kangennya,,
__Afifaku sayang, tanta ia kangenn
Gadis Mawar Berduri
Kau, seperti gadis kecil yang kegirangan melompat-lompat di antara bunga-bunga mawar dan kau lupa bahwa ada tangkai yang berduri telah patah dan sesaat kemudian tanpa kau sadari telah melompat tepat di tangkai berduri itu.
Kau,, bahagia luar biasa di satu sisi namun di sisi lain kau sakit luar biasa..
Kau,, bahagia luar biasa di satu sisi namun di sisi lain kau sakit luar biasa..
Dan kini, entah mengapa tangismu membangunkanku bahwa kuharus menyingkirkan tangkai berduri itu tanpa kau sadari jika duri itu telah dulu melukai diriku terlalu dalam...
Kejutan
Kejutan,, sesuatu yang membuat jantung berdetak lebih kencang dan darah mengalir lebih lancar..
Sepagi
Sepagi ini, akulah mungkin satu satunya manusia yg bingung mau ngapain hari ini. Setelah menjemur pakaian seember, setelah menyapu rumah dan halaman dan setelah menyirami bunga. Aku bahkan merasa malu hanya sekedar menyapa ibu-ibu di depan, rumahnya hanya dijaraki lapangan sepak bola yg tidak luas dari rumahku. Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku ingin menyapanya sebagai tiket untuk bisa meminta bibit bunga yg indah tertanam di depan rumahnya. Aku pernah ke rumahnya, mungkin dua tahun yg lalu, itupun aku memperkenalkan diriku sebagai tenaga survey sebuah penelitian. Lupa mengatakan kalau aku tetangganya.
Atau terlalu malu menegur kakek tua yg rumahnya pas di samping rumah ibu pemilik bunga, istri si kakek baru meninggal dua hari yg lalu, itu menambah kecanggunganku..
Dan di sinilah aku, hanya melipat lutut yg hampir kesemutan memperhatikan banyak orang. Supir angkot yg sedari subuh sudah mencari penumpang. Semoga tak lupa sholat subuh dulu. Atau bapak2,ibu2 yg mengantarkan anakx ke sekolah dengan sepeda motor. Atau ibu tukang sayur yang mendorong gerobak sayurnya sambil teriak "sayur sayur". Yang kutahu ujung tujuanx adalah pasar lorong kecil di blok C. Si ibu udah hapal wajahku. Hingga jika aku lewat di depannya, dia langsung suruh aku pilih sayurx. Gag nax dulu beli apa tidak, langsung pilih. Maksa kadang2, tp aku suka beli, sayurx pada segar2, tomat dan lombokx pada besar2.
Dan sepagi ini aku yakin. Gag cuma org2 yg lewat di depanku ini yg lagi nyari kehidupan baik yg dijanjikan Allah. Tapi jutaan org di luar sana.
Aku? Kan udah blg dr td kalau masih bingung mau ngapain. Semoga aja gag bnyak yg kyk aku. Tapi,,tetap kudu bersyukur gag bingung gimana caranya bernafas sepagi ini.
Perjanjian
Dan perjanjian dua insan manusia telah dimulai hari ini. Biarlah ini menjadi kenangan sekaligus pengingat jika waktunya tiba.
__Allah...saksikan!!!
17 September 2016
Tempat yang Penuh Rahasia
Tempat yang penuh rahasia adalah daerah air mata.
Di sana bisa didapati pedih yang tertumpah ruah.
Di sana bisa didapati bahagia yang menyeruak.
Atau kadang kadang pedih dan bahagia terpercik bersamaan.
Di sana bisa didapati pedih yang tertumpah ruah.
Di sana bisa didapati bahagia yang menyeruak.
Atau kadang kadang pedih dan bahagia terpercik bersamaan.
Dan aku selalu menyukai daerah itu.
Mungkin bisa mengeluarkan sesak yang sempat tertahan di dada, kemudian terbang dan hilang melebur bersama bintang di angkasa.
Perempuan
Padahal udah ngapalin beribu ribu kata, berbaris baris kalimat dalam hati. Eh, pas ditanya "kenapa?", jawabnya "gag kenapa kenapa"
PEREMPUAN
Laki-laki Konyol
Katanya. Ketika Tuhan menciptakan laki laki konyol di dunia ini. Maka, Tuhan juga menciptakan perempuan bodoh yg siap menertawakan kekonyolan laki laki konyol itu setiap hari.
Pertemuan
Dan pertemuan sebenar adalah saat memulai penantian.
Ujungx tak mungkin meragu.
Sebab, jikapun hadirmu hanya semu. Nantiku tetap nyata berkawan waktu.
Ujungx tak mungkin meragu.
Sebab, jikapun hadirmu hanya semu. Nantiku tetap nyata berkawan waktu.
Aksi
Sore tadi mungkin bisa dibilang lagi diberi kesempatan bernostalgia masa masa beberapa tahun lalu saat masih berstatus mahasiswa. Pintu satu unhas,,,beberapa anak muda dengan semangat, mereka tidak bermaksud untuk mengganggu pengguna jalan. Sama sekali tidak, hanya ingin memberi kesempatan untuk beramal. Iyyah, amal yang semoga Allah balas dengan pahala yang luar biasa.
Aksi solidaritas untuk saudara kita yang ada di Garut. Dan terwarnailah soreku dengan ikut nimbrung yang sebenarnya jelas tidak ngapa-ngapain. Cuma berdiri di pinggir jalan memperhatikan adik-adik yang terlampau muda dariku. Beda 4 5 angkatan. Jelas saja hanya seorang yang kukenali wajahnya.
Dalam hiruk pikuknya kendaraan yang lalu lalang, sehiruk pikuk juga adik-adik akhwat ini menawarkan untuk membantau saudara-saudara yang terkena banjir bandang beberapa waktu yang lalu. Semangat membantu lebih besar dibanding rasa takut kalau kalau ada kendaraan yang tiba-tiba nyerempet. Beberapa kali merasa ngeri melihat adegan jika lampu merah berubah jadi ijo.
Ah, semoga mudaku dulu (merasa tua) pernah juga sesemangat mereka. Nostalgia yang indah di penghujung sore. Terimakasih adik-adik KAMMI--->KAMMSAT.
Hingga, pulangku berpikir dan mengingat ingat. Ketika jadi anak KAMMSAT, berpikir anak KAMMDA itu keren, saat di KAMMDA berpikir anak KAMMWIL itu keren. Dan saat di KAMMWIL berpikir dan meyakini sepenuh hati,,anak KAMMSAT memang yang paling hebat..
Bangkit
Ada hari-hari saat aku ingin menangis dan melolong,
Ingin menyerah sepenuhnya, mengaku kalah,
Tapi aku mengangkat kepalaku dan maju menyeruak,
Aku punya banyak untuk diberikan dan dilakukan.
Ingin menyerah sepenuhnya, mengaku kalah,
Tapi aku mengangkat kepalaku dan maju menyeruak,
Aku punya banyak untuk diberikan dan dilakukan.
Dan aku bersumpah bahwa, meskipun hidup ini sulit,
Aku akan maju sambil tersenyum dan memainkan setiap kartu ini.
Aku memberi semampuku, membantu sesama dan mencintai.
Apa pun yang terjadi, kehidupan akan mekar kembali,
Dan kekuatan yang tak kumiliki akan datang dari Atas.
Aku akan maju sambil tersenyum dan memainkan setiap kartu ini.
Aku memberi semampuku, membantu sesama dan mencintai.
Apa pun yang terjadi, kehidupan akan mekar kembali,
Dan kekuatan yang tak kumiliki akan datang dari Atas.
Maka kemarilah, raih tanganku dan kita berlayar menembus kegelapan.
Kau siap???
Kau siap???
Jedah
Berhenti sejenak, mengambil jedah.
Capek?? Tidak juga.
Hanya ingin mengumpulkan kekuatan.
Untuk bisa berlari kencang suatu saat.
Jika takdir mengizinkan.
Kan kutinggalkan masa kini yang nanti hanya akan menjadi masa lalu.
Ini keputusan sudah membulat.
Tak akan kusesali.
Sesalku, jika tidak kukatakan sekarang.
Maka, maaf atas kejujuran yang terlampau gamblang.
Semoga tak menjadi beban, terutama untukku sendiri.
Jikapun ia, akan kunikmati.
Tenang, aku jago soal itu.
Sekali ingin menyejukkan, namun ada kala malah menggerahkan.
Sekali lagi maaf.
Capek?? Tidak juga.
Hanya ingin mengumpulkan kekuatan.
Untuk bisa berlari kencang suatu saat.
Jika takdir mengizinkan.
Kan kutinggalkan masa kini yang nanti hanya akan menjadi masa lalu.
Ini keputusan sudah membulat.
Tak akan kusesali.
Sesalku, jika tidak kukatakan sekarang.
Maka, maaf atas kejujuran yang terlampau gamblang.
Semoga tak menjadi beban, terutama untukku sendiri.
Jikapun ia, akan kunikmati.
Tenang, aku jago soal itu.
Sekali ingin menyejukkan, namun ada kala malah menggerahkan.
Sekali lagi maaf.
Aku, angin musim kemarau yang terlupakan saat penghujan telah datang...
Langganan:
Komentar (Atom)