Seperti mungkin ada yang suka mengungkapkan "aku ingin segera melewati hari ini, bulan ini, setahun ini, dua tahun ini. Segera"
Namun kemudian waktu seolah menjelma penipu ulung. Semenit serasa
sejam, sejam serasa seharian, seharian serasa sebulan, sebulan serasa
bertahunan tahun.
Menunggu menjadi sebuah misteri waktu yang
menyadarkan bahwa setiap peristiwa adalah titik takdir yang kita pilih.
Bahwa masa depan agaknya ditentukan oleh sikap kita dalam menentukan
setiap keputusan dengan sebuah kepastian, bukan??
Menunggu akhirnya mencipta ruang debar, cemas sekaligus bahagia.
Seperti debar hati seorang pria dengan cemas menunggu istrinya yang
sedang berjuang melahirkan anak turunannya. Ia cemas, apakah ia beberapa
detik kemudian pasti akan dipanggil ayah atau tidak. Namun debar
cemasnya terkalahkan oleh debar bahagia bahwa sebentar lagi ia akan
menjadi seorang ayah.
Seorang ibu yang cemas dan debar menunggu
buah hatinya yang pagi pagi ke sekolah dan kemudian bahagia ketika sang
buah hati datang dan berhamburan masuk dalam pelukannya dan memanggilnya
"mama".
Dan seorang gadis yang debar dan cemas menunggu jika
jika Allah mengirim makhluk pelindung untuknya suatu hari nanti. Ada
debar kecemasan apakah si pelindung akhirnya datang atau tidak. Debar
bahagia kemudian muncul dan menyingkirkan debar cemas, ketika Allah Sang
penggenggam hati meyakinkan hatinya bahwa si pelindung itu akan datang
tepat di waktu yang baik.
Maka, ia menunggu dalam senyap, tidak
ingin mengganggu siapapun. Takut takut jika sikap yang diambilnya
berbuah dosa dan nista. Sengaja mengambil jarak, walau kemudian jarak
selalu ditakdirkan untuk menebalkan rindu. Sembari ia berdoa, ia berkata
dengan yakin dan sungguh "Tuhan tak pernah terlambat, Dia tidak akan
terlambat mengirimkanmu untukku."
Dan pada akhirnya waktu tetap menjadi misteri yang mencipta ruang tunggu bagi bani adam untuk saling menemukan, bukan??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar