Minggu, 30 Oktober 2016

Tentang Menunggu

Seperti mungkin ada yang suka mengungkapkan "aku ingin segera melewati hari ini, bulan ini, setahun ini, dua tahun ini. Segera"

Namun kemudian waktu seolah menjelma penipu ulung. Semenit serasa sejam, sejam serasa seharian, seharian serasa sebulan, sebulan serasa bertahunan tahun. 

Menunggu menjadi sebuah misteri waktu yang menyadarkan bahwa setiap peristiwa adalah titik takdir yang kita pilih. Bahwa masa depan agaknya ditentukan oleh sikap kita dalam menentukan setiap keputusan dengan sebuah kepastian, bukan??

Menunggu akhirnya mencipta ruang debar, cemas sekaligus bahagia.

Seperti debar hati seorang pria dengan cemas menunggu istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak turunannya. Ia cemas, apakah ia beberapa detik kemudian pasti akan dipanggil ayah atau tidak. Namun debar cemasnya terkalahkan oleh debar bahagia bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.

Seorang ibu yang cemas dan debar menunggu buah hatinya yang pagi pagi ke sekolah dan kemudian bahagia ketika sang buah hati datang dan berhamburan masuk dalam pelukannya dan memanggilnya "mama". 

Dan seorang gadis yang debar dan cemas menunggu jika jika Allah mengirim makhluk pelindung untuknya suatu hari nanti. Ada debar kecemasan apakah si pelindung akhirnya datang atau tidak. Debar bahagia kemudian muncul dan menyingkirkan debar cemas, ketika Allah Sang penggenggam hati meyakinkan hatinya bahwa si pelindung itu akan datang tepat di waktu yang baik. 

Maka, ia menunggu dalam senyap, tidak ingin mengganggu siapapun. Takut takut jika sikap yang diambilnya berbuah dosa dan nista. Sengaja mengambil jarak, walau kemudian jarak selalu ditakdirkan untuk menebalkan rindu. Sembari ia berdoa, ia berkata dengan yakin dan sungguh "Tuhan tak pernah terlambat, Dia tidak akan terlambat mengirimkanmu untukku."

Dan pada akhirnya waktu tetap menjadi misteri yang mencipta ruang tunggu bagi bani adam untuk saling menemukan, bukan??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar