Selasa, 04 Oktober 2016

Pertemuan Manusia 1/4 Abad

Setelah beberapa tahun tak saling bertatap, Allah memberikan waktu untuk qt bunuh di 1/4 siang tadi. Walau sebenarnya kita berjanji bertemu di tengah terik mentari. Berjam-jam kumenunggu, hpmupun tak dapat kuhubungi di jam ke 2 setelah waktu yang semestinya kita bertemu. Aku hampir saja menyerah menunggumu, hingga suara adzan ashar terdengar, dering hpku pun berbunyi. Itu kau.
"Maaf" katamu, "sudah buatmu menunggu."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa menunggu. Hehe"
Masih dengan nada menyesal kau menyuruhku menunggu barang sebentar untuk kau jemput. Selepas ashar, kembali aku harus berkutat dengan bukuku, bermaksud membunuh waktu. Ternyata aku harus menunggumu hingga 60 menit kemudian. Kesal? Tidak juga. Tadi kan sudah kubilang aku sudah terbiasa menunggu. Hingga saat sedang asyik-asyiknya kulafalkan kata-kata pada halaman 201 pada buku yang kubaca, buku yang baru siang tadi kupinjam dari seorang teman, hpku berdering. Jelas itu kau, telah sampai di parkiran mesjid kampus.
Kita saling lempar senyum, kusalami tanganmu yg kurasa masih sama teksturnya sejak terakhir bertemu. Tangan yang terbiasa kugenggam saat masih duduk di bangku sma. Kau menyodorkan helm.
"Mau kemana?" tanyamu.
"Kemana saja boleh" jawabku kemudian. Kau tidak terima jawabanku dan memaksaku memilih salah satu tempat.
"Losari?"
"Boleh".
Motor melaju melewati lampu merah pintu 1 unhas saat kau ambil tanganku menyuruhkan pegangan.
"Kenapa kau kurus sekali?" tanyamu heran.
"Kau tidak datang di hari operasiku."
"Oh iya yah. Maaf, aku melewatkan banyak peristiwa penting."
Angin sore menerpa wajah kita.
"Jadi kapan ada undangan?"
"Belum, abisnya yang dikasih kode gag peka sih, mau kayaknya ditabok"
"hahaha" gelak tawa kita pecah.
"Aku malah tunggu undanganmu"
"Aih, belum. Dia itu kayak jarum di antara jerami."
"hahaha" gelak tawa kita yang kedua.
Dan akhirnya kita malah banyak membicarakan permasalahan manusia 1/4 abad di romantisnya sunset penghujung senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar