Kita adalah sahabat yang sangat dekat. Itu menurutku, entah kau. Dan suatu ketika tanpa kutahu salahku kau menjauh, mendiamkanku setiap kita bertemu. Apa salahku? Kau tak pernah bilang. Pernah saat lonceng tanda masuk kelas berbunyi dan saat aku sudah siap di bangkuku yang paling depan, saat itu aku masih memegang donat sisa makan siangku, kau masuk. Kita memang sekelas, selalu satu kelas dari kelas 1 hingga tamat. Kau berhenti sejenak di depanku, aku siap ingin mendengar jika-jika kau ingin mengatakan sesuatu, nyatanya tidak. Kau kemudian melongos, melewati bangkuku menuju bangkumu di samping bangkuku tapi di urutan kedua. Ketika teman sebangkuku masuk, dia tiba-tiba mengingatkan jika ada sisa ceres donat nempel di hidungku. Aku sadar, sedari tadi kau ingin menegur itu, meses ceres yang ada di hidungku, tapi kemudian kau urung. Aku kemudian sedih memikirkannya.
Pernah juga, saat aku habis jatuh dari sepeda, itu dibonceng sama adik laki-lakiku. Lututku berdarah dan beberapa hari kemudian, kau tahu aku akan terpincang-pincang jika berjalan. Hari itu, ada pelajaran olahraga dan lari. Aku absen, tepatnya izin untuk tidak ikut. Aku akhirnya berdiam diri di dalam kelas sambil tidur-tiduran sesekali meringis akibat sakit dilututku jika kuluruskan. Kau tiba-tiba masuk di kelas. Seperti ketika kejadian meses ceres, kau berhenti tepat di depan bangkuku, hanya menatapku, aku menatapmu, bersedia kau ajak bicara. Tapi akhirnya kau lagi-lagi hanya melewatiku dan menuju bangkumu. Mengambil sesuatu dari tasmu dan sudah itu pergi. Kita tak pernah berhasil bersapa seperti dulu. Sudah tidak bisa dekat seperti dulu. Walau kucoba mendekat, kau seolah menghindar. Sangat menghindar.
Hingga suatu hari sahabatku yang juga sahabatmu berbisik bahwa kau mengirim salam padaku. Aku hanya melongo sebentar sudah itu merasa malu sendiri. Dan sejak saat itu, jangankan bersiap kau ajak bicara, menatappun akhirnya aku tidak bisa. Entah mengapa, mungkin terlalu malu. Mengingat usia kita baru meninggalkan angka 10. Kau? Jelas sedari awal selalu berhasil menghindariku. Dan mulailah bisik-bisik tentang kita bersahutan. Katanya, kau dan aku pacaran. Ah, yang benar? Padahal kita tak sekalipun bersapa. Sekali lagi terlalu malu. Awalnya, aku biasa saja, toh kita dulu pernah dekat, sangat dekat malah sebagai teman sekelas. Namun, serasa jauh dan semakin jauh dengan semakin beredarnya kabar tentang kita.
Dan saat porseni (Pekan Olahraga dan Seni), hari paling memalukan yang aku rasa. Tiba-tiba teman-teman kita kompak mengerjai kita. Mereka mengunci kita dalam satu ruangan. Cuma ada aku dan kau. Aku sudah lupa bagaimana bisa terjadi. Aku akhirnya berdiri di depan pintu sambil meneriaki teman-teman di luar untuk membuka pintu. Kau akhirnya kikuk, dan sejurus kemudian sudah hilang melompati jendela kelas. Aku yang melihatmu seketika tertawa kecil dan teman-teman kita akhirnya menyadari kau sudah tidak ada dan akhirnya membukakanku pintu kelas.
Kita masih tetap tak saling bicara hingga ujian akhir sekolah datang, pun hingga acara perpisahan. Acara perpisahan kita diadakan di aula yang sebenarnya adalah 3 kelas yang tersambung dengan 2 kelas lainnya terbuka dinding belakang dan dinding depannya. Para guru di kelas tengah, siswi di kelas sebelah kiri, siswa di sebelah kanan. Posisinya saling berhadapan dengan para guru di tengah. Kata sahabatku yang juga sahabatmu yang ada di sebelahku bahwa sedari tadi pandanganmu tak pernah lepas dari wajahku. Sambil membisikiku untuk tak segera melirik ke arahmu dan menunggu barang sebentar. Akhirnya, setelah kutunggu semenit aku memberanikan diri menoleh ke arah dudukmu. Sebentar kemudian, tatapan kita bertemu, namun cepat-cepat kau alihkan. Aku hanya bingung kemudian.
Itu adalah masa-masa kepolosan kita. Masa polosmu. Dan melihatmu yang sekarang. Seolah tak percaya kau pernah sepolos itu dulu. Sekarang kau berbeda. Meski akhirnya akupun tak pernah rindu denganmu. Aku suka mengingat-ingat masa-masa itu. Masa polos kita, masa penuh kelucuan dan keculunan di Sekolah Menengah Pertama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar