Kumendengar isak tangisku yang telah mengering dulu.
Pikiranku sibuk meneliti setiap kenangan yang melibatkan kau dan aku.
Ada serpihan sedih, lebih banyak serpihan tawa di sana.
Kau selalu berhasil membuatku tertawa walau dalam sengitnya perdebatan kita.
Aku melakukan banyak hal yang berharap buatmu bahagia, namun tak sedikit kau malah sedih dan terbebani.
Kumenyukai gelak tawamu yang renyah dan sangat kau nikmati.
Bahkan di tengah sakitmu, kau tergelak, atau mencoba tergelak menimpali leluconku yang kuusahakan lucu.
Kau selalu berhasil membuatku nyaman hanya sekedar duduk berdua walau kita terdiam tak berkata.
Dan lebih bahagia ketika kau mulai menceritakan banyak hal terutama tentang kisah perjalanan hidupmu.
Kini meski tak lagi akan kudengar dari lisanmu langsung, masih bisa kudengar dari seseorang yang sangat mencintaimu.
Kau tahu, dia, setiap membicarakan hal tentangmu selalu penuh semangat yang dibarengi tawa, tapi kadang lebih banyak dengan air mata.
Aku selalu merasa yang paling luka atas kepergianmu, namun wanita ini yang setengah mati mencintaimu berpuluh-puluh tahun kutau dialah yang paling terluka.
Kutengadah di tiap doa, mendoa semoga tiap doa untukmu sampai padamu.
Moga meringankan siksa, berharap menambah nikmatmu di sana.
Papa, lelaki pertamaku. Sungguh, putrimu ini sangat merindukanmu. Sangat dengan sungguh, di tiap detik di tiap helaan nafas, lebih lebih di tiap rinai air mata.
Dan di hujan sore ini, di tiap tetes yang dibawa para Malaikat, kutitip doa untukmu. Semoga kita kelak bertemu di surga..
Kau selalu berhasil membuatku tertawa walau dalam sengitnya perdebatan kita.
Aku melakukan banyak hal yang berharap buatmu bahagia, namun tak sedikit kau malah sedih dan terbebani.
Kumenyukai gelak tawamu yang renyah dan sangat kau nikmati.
Bahkan di tengah sakitmu, kau tergelak, atau mencoba tergelak menimpali leluconku yang kuusahakan lucu.
Kau selalu berhasil membuatku nyaman hanya sekedar duduk berdua walau kita terdiam tak berkata.
Dan lebih bahagia ketika kau mulai menceritakan banyak hal terutama tentang kisah perjalanan hidupmu.
Kini meski tak lagi akan kudengar dari lisanmu langsung, masih bisa kudengar dari seseorang yang sangat mencintaimu.
Kau tahu, dia, setiap membicarakan hal tentangmu selalu penuh semangat yang dibarengi tawa, tapi kadang lebih banyak dengan air mata.
Aku selalu merasa yang paling luka atas kepergianmu, namun wanita ini yang setengah mati mencintaimu berpuluh-puluh tahun kutau dialah yang paling terluka.
Kutengadah di tiap doa, mendoa semoga tiap doa untukmu sampai padamu.
Moga meringankan siksa, berharap menambah nikmatmu di sana.
Papa, lelaki pertamaku. Sungguh, putrimu ini sangat merindukanmu. Sangat dengan sungguh, di tiap detik di tiap helaan nafas, lebih lebih di tiap rinai air mata.
Dan di hujan sore ini, di tiap tetes yang dibawa para Malaikat, kutitip doa untukmu. Semoga kita kelak bertemu di surga..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar