Selasa, 21 Maret 2017

Kenapa Rindu Diciptakan Tuhan?

Kau, adalah lelaki pertama yang menatap mataku dengan binar keteduhan. Bahu dan dadamu tempat ternyaman menumpah rindu. Juga, di tiap langkah kesungguhanmu ada aku yang terus menerus kau perjuangkan baik masa depanku. Apa aku telah menjadi anak gadis kebangganmu? Tanyaku suatu saat, tanya yang tak benar-benar kuutarakan dengan lisanku. Hanya, hati kita telah terpaut tanya dan jawab lewat pandangan mata yang beradu pada setiap pisah yang melebarkan jarak. Maafkan aku yang lebih lama hidup menjauh di rantau, sesekali saja menelepon menanyakan kabar di lelahnya hatimu yang selalu memikirkanku. Aku, anak kesayanganmu kata orang-orang. Itu, aku begitu bahagia mendengarnya. Tapi, yang sebenarnya adalah kami semua adalah kesayanganmu bukan? Hanya saja, mungkin akulah yang betul-betul menampakkan kemanjaanku setiap saat. Kemanjaan untuk kau dengarkan ceritaku, untuk kau hapus air mata yang menetes membasahi pipiku, kau cipta tawa selepas raunganku, kau dekap hangat dalam pelukmu. Juga, kau lebih suka berlama-lama duduk di dekatku sekedar berbagi kisah tentang malaikat putih yang telah menunggumu.
Kenapa rindu diciptakan Tuhan? Aku kali ini sungguh menanyakan itu. Sebab, tiap gerak yang kau buat kini hadir menjelma bayang-bayang di tiap dinding kamar tidurku. Memaksaku mengeja satu persatu kenangan tentang kau yang selalu menjagaku, tentang kau yang tanpa letih menghujaniku ribuan perhatian. Kini, tiada lagi sosok sepersismu yang memperlakukanku demikian sempurnanya bentuk kasih sayang.
Suatu malam yang dingin, di tengah sepi yang paling sepi. Ada rintih yang tak kusengaja, itu tercipta oleh mimpi yang ada kau di dalamnya. Menyisakan air mata di sudut mata, membuatku bingung sejenak ketika kusadar. Dan semenit kemudian aku hanya memeluk lututku, membenamkan kepalaku di sana seraya sesenggukan oleh ingatan mimpi yang baru saja dianugerahkan Tuhan. Hari-hari kemarin memang hari yang panjang yang sesak oleh beban yang berat. Membuat lengan malam ikut menyaksikan kedip mata berkali-kali untuk meloloskan bulir-bulir hangat pada tiap lafaz dzikrullah. Bulir-bulir yang akhirnya terpaksa berhenti membasahi alas tidurku karena kantuk yang sekalian membuat tidurku tak nyenyak. Hingga, kutemukan dirimu di dalam mimpiku. Di sini, aku selalu yakin kau selalu memperhatikaku dari sana. Dan demi melihat hatiku yang sedang terluka, kau menghadap dan memohon kepada Tuhan untuk sekali lagi datang menenangkanku. Meski hanya dalam mimpi kau sekali lagi melakonkan peranmu selaku ayah dengan sangat baik. Menenangkan bahuku yang sedang terguncang oleh tangis yang tertahan, membenamkan kepalaku di dadamu yang kokoh seraya membisikkan kata bahwa semua akan baik-baik saja karena ada kau di sisiku. Maka, kubalas memeluk erat tubuhmu seperti saat terakhir kupeluk tubuhmu yang telah kaku, yang telah membeku membuat tangan-tangan kecilku ikut kedinginan. Mengacuhkan mata orang-orang yang ingin melihatmu terakhir kali, kuambil posisi berbaring di samping tubuhmu dan dengan suara parauku, kupanggil namamu yang jelas tak akan pernah lagi bisa kau tanggapi meski sekedar sebuah angguk.
Kenapa rindu diciptakan Tuhan? Adakah agar aku tak lupa padamu? Adakah agar aku akan selalu mengenang sosok hangatmu? Adakah agar dadaku penuh sesak di kesepian dan kesunyian yang paling pedih ketika kuingin menumpahkan gejolak rasa ingin melihatmu? Apakah rindu diciptakan seperti itu? Jika ia, maka biarlah rinduku padamu sekalian tenggelam pada malam-malam sunyi, terbang menyesak langit-langit kota, menepi di tempat paling sepi di tengah belantara, mengiris-iris nadiku hingga aku sadar tiada yang lebih kurindui selainmu.
Papa, baik-baiklah di sana. Aku telah meminta Tuhan kita agar menjagamu dan menyayangimu. Tenang saja, Dia Ar Rohman Ar Rohim Allahu Karim. Papa, aku rindu, rindu yang paling rindu padamu.

Jumat, 17 Maret 2017

Masih Yakin

Masih dengan sebuah yakin yang tak lepas dari ujian.
Menyudahi tangis dengan ribuan senyuman.
Pun mengekang ragu dengan banyak harap.
Karena di sana, jauh jarak berkawan lamanya detak waktu,
Ada asa yang tetap terjaga dari amukan badai ketakpercayaan.
Meski akhirnya takpun ada kehadiran, tapi keakrabanku dengan sekata bersetia masih hidup.
Maka, apa di kejauhan ruang yang tak teraba oleh rasa.
Masih menahan untuk tak goyah pada permainan dunia.
Masih kuat mengejar indah hidup setelah mati.
Jika tidak? Ingatlah di depan terbuka lebar pintu pertaubatan.
Obatilah hati sakitmu dengan membukanya.
Rebahanlah di dalamnya sambil mengingat berbagai macam buruk diri yang siap diubah.
Ayolah, aku menunggu melihatmu bercahaya seperti dulu lagi.
Melihat indahmu yang berpenuh iman pada tiap nafasmu.
Kabari aku jika kau telah kembali, aku akan bahagia untukmu, selalu.

Ceroboh

Ceroboh...
Mama selalu melekatkan kata-kata itu padaku setiap sesuatu yang saya genggam tiba-tiba menghilang. Dan di sini, sepertinya Allah tengah mengajarkan untuk tidak seperti itu (lagi). Meski, selama hampir seminggu ini, ada saja tangan jahil yang berusaha merecoki tiap apa-apa yang tersimpan di kamar. Sungguh heran tapi begitulah, setiap hari harus berusaha berlapang dada ketika kembali ke kamar dari seharian meninggalkan mess dan, ada saja (lagi) yang raib entah kemana. Walaupun tergolong benda tak mahal, tapi tetap saja merasa kecolongan. Jangan tanya ini itu di mana. Tidak akan saya jawab. Yang jelasnya, mengambil banyak pelajaran saja bahwa jangan selalu merasa aman meski berada di lingkungan aman sekalipun. Selalu waspada, memang benar pesan yang disampaikan oleh pembawa berita kriminal di sebuah stasiun televisi "Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah, waspadalah!!!"

Ada Cinta dalam Penjara Suci

Selalu pada satu waktu ketika aku mencurigai diriku yang terlalu mudah jatuh cinta. Belum sehari saat badanku gemetar oleh amarah tak tertahan. Dan hari ini. Oh, Allah..demi melihat wajah polos mereka, wajah manja mereka, wajah yang amat sangat butuh kasih sayang. Demi melihat itu semua hampir-hampir air mata meleleh jika tak segera sadar bahwa posisiku sekarang tak boleh terlihat cengeng. Baiklah adik-adikku yang meski kita bukan saudara biologis tapi insyaaAllah kita akan menjadi adik kakak ideologis. Terimakasih telah mengajari banyak hal selama seminggu ini. Hanya seminggu dan berbagai macam emosi telah menghuni hati yang masih berusaha bermetamorfosis dengan sempurna. Untuk minggu-minggu berikutnya, biarlah waktu yang akhirnya membuka. Apakah kita akan saling jatuh cinta di dalam ruang yang bernama rindu.
_Terekam jejak dalam penjara yang kalian sebut penjara suci.

Sabtu, 11 Maret 2017

Pohon Menangis

Pernahkah kau melihat pohon yang menangis?

Sebuah perangai yang indah, hanya bisa dilihat oleh hati-hati yang indah. Sebuah akhlak yang bersahaja, hanya bisa dirasa oleh iman-iman yang begitu elegan.
Pada diri Rosulullah apa yang tidak indah? Apa yang tak bersahaja? Maka, berbahagilah yang bisa melihatnya. Bergembiralah yang bisa merasakannya. Dan dari segala elemen alam semesta, pada dirinya yang bersarang iman, maka bashirohnya akan dapat menangkap kelembutan kasih sayang Baginda SAW. Tak terkecuali pada binatang-binatang, pohon-pohon, segala jenis tanaman yang Allah telah ciptakan di muka bumi ini.
Suatu hari, seorang sahabat sedang berjalan dan mendapati sebuah pohon yang di dahannya tengah bersarang seekor induk burung yang menjaga anaknya. Sahabat ini kemudian mangambil anak burung yang kemudian hanya mampu menciat-ciat mencoba melepaskan diri. Melihat itu, sang induk tak berdiam diri, dia mengitari kepala sang sahabat, namun sayang sahabat ini menangkapnya dan memasukkan anak dan induk burung ini ke dalam lengan bajunya. Di tengah jalan sahabat ini bertemu Rosulullah SAW.
"Apa yang ada di dalam lenganmu itu?" Yang ditanya pun mengeluarkan tangannya dan membukanya. Apa yang biasanya terjadi jika ada seekor burung di dalam genggaman dan kita membuka genggaman kita? Burung itu akan langsung terbang bukan? Tapi burung yang ada di tangan sahabat ini tidak bergeming. Dia tahu, ada Baginda Rosulullah SAW di depannya. Seorang yang di hadapannya, keadilan apapun pasti akan terjamin. Burung itu mengadu kepada Rosulullah SAW.
"Pergilah dan tempatkan anak burung dan induknya ini pada tempatnya semula." MaasyaaAllah. Seekor binatang saja, mampu melihat keindahan akhlak Rosulullah, maka bagaimanalah yang mengaku berpenuh iman di dalam hatinya?
Pada saat umur Rosulullah berada pada angka 63 tahun, pada saat sedang melakukan haji, Rosulullah SAW kemudian mengurbankan unta sebanyak 63 ekor. Dari para periwayat dikisahkan unta-unta itu disembelih lima ekor demi lima ekor sekali.
"Aku bersumpah demi Allah, aku melihat seakan-akan unta-unta itu berebut, berlomba-lomba ingin segera dikurbankan di tangan baginda Rosulullah SAW." Mereka mengerti kebajikan dalam hati Rosulullah, mereka dapat melihatnya, dapat mengetahui kebaikan-kebaikan Rosulullah.
Suatu hari di Madinah, Rosulullah berkhutbah di hari jumat. Dia akan selalu bersandar pada sebuah batang pohon. Kemudian seorang wanita datang padanya dan mengajukan pendapat.
"Yaa Rosulullah, aku mempunyai seorang budak yang ia adalah seorang tukang kayu yang handal, jika engkau mau, aku bisa memintanya membuatkan sebuah mimbar untukmu." Rosulullah pun setuju. Maka, pada jumat berikutnya, mimbar itupun jadi dan Rosulullah menaikinya. Apa yang terjadi selanjutnya? Dalam sebuah riwayat tawatur (yang dapat diterima), sebab banyak sahabat yang berkumpul di sana saat itu, setiap mereka meriwayatkan apa yang dilihatnya.
"Ketika Rosulullah menaiki mimbarnya, batang pohon itu mulai gemetar bagaikan ingin meledak."
"Batang pohon itu seperti unta betina yang anaknya telah direnggut darinya."
"Ia seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya"
Bahkan periwayat lain menyebutkan bahwa batang pohon itu menangis dan berteriak seperti induk unta yang sedang melahirkan.
Maka, Rosulullah turun dari mimbarnya dan segera memeluk batang pohon tersebut dan tangisannya perlahan mulai berhenti.
Sebatang pohon yang sangat mencintai Rosulullah inipun akhirnya mendapat kesempatan yang luar biasa yaitu menjadi pohon di Surga di mana para aulia dan salahah makan dari buahnya.
Hasan Al Basri RA mengatakan "Jika ini adalah cinta dari sebuah pohon kepada Rosulullah SAW, maka bagaimanalah seharusnya bentuk cinta orang-orang yang beriman kepada Rosulullah SAW?" Tanyakan pada iman-iman kita, sudah seberapa cinta kita kepadanya? Cinta yang membuat Umar RA seringkali menangis sepeninggal Rosulullah. Dia selalu menangis dan saat ditanya beliau berkata "Tidakkah aku boleh menangis? Tidakkah bahkan sebuah pohon menangis saat kepergian Rosulullah, Mengapa aku tidak boleh menangis? Bukankah seharusnya aku memang menangisi kepergian Rosulullah atas iman yang kumiliki?"
Apa yang membuat iman kita kalah oleh iman pepohonan, binatang-binatang? Apa yang membuat cinta kita dikalahkan oleh segenap semesta kepada Baginda SAW? Apa? Wahai diri, tanyakanlah bentuk imanmu, tanyakan bentuk cintamu. Astaghfirullah, belum ada apa-apanya. Sungguh, belum ada apa-apanya? :'( :'(
Wallahu'alam bisshowwab.

Jumat, 10 Maret 2017

Siapakah Lelaki Terkuat?

Rukana. Kau pernah mendengar nama laki-laki ini? Dia adalah seorang pegulat yang selama hidupnya tak pernah terkalahkan. Bangsa Arab dahulu memiliki cara yang unik untuk mengukur sebuah kekuatan. Sedikit ngeri, tapi inilah yang diriwayatkan para penyair waktu itu. Jika mereka ingin menguji kekuatan mereka, maka mereka akan mengikatkan tubuh mereka pada seekor kuda yang siap berlari. Sedang tangannya menggenggam erat batang sebuah pohon. Ketika kuda mendapat pukulan, serta merta berlari kencanglah dan engkau tahu, Rukana adalah lelaki yang kuat, hampir tak pernah tangannya terlepas menggenggam batang pokok sebuah pohon sedang tubuhnya diseret oleh kuda yang mencoba berlari kencang.
Dan suatu hari, saat dakwah Rosulullah semakin gencar. Rukana menghampiri sang Nabi.
"Hai Muhammad, mengapa engkau tidak mengalahkanku dalam bergulat dan aku akan masuk ke dalam Islam.?" Katanya menantang dengan sepenuh yakin demi melihat wajah teduh Rosulullah. Wajah yang dia pikir tidak menyimpan sedikitpun kekuatan di baliknya. Dia mendengar suara Rosulullah yang indah dan lembut dan sekali lagi tidak berpikir akan menyimpan kekuatan di baliknya.
"Baiklah, silahkan." Ucap Rosulullah dengan penuh ketenangan, tidak mundur sedikitpun yang sudah mendengar citra dan prestasi gulat lelaki di depannya.
Kemudian merekapun bergulat dan apa hasilnya? Rosulullah SAW mengangkatnya dan membantingnya ke tanah sekali ayun. Rukana bangkit seraya menyela "Belum, belum, tadi aku terpeleset." Lihatlah, dia beralasan sebab dia tidak percaya sedikitpun Rosulullah mengalahkannya begitu saja.
"Ayo mulai.." Katanya penuh ancang-ancang. Pergulatan yang kedua kali. Lalu apa yang terjadi sekarang? Sekali lagi dengan sekali maju, Rukana terangkat dan terbanting ke tanah. Kalah telak. Dia tak mampu mengalahkan kekuatan Rosulullah. Gelar pegulat yang tak pernah terkalahkan sepanjang hidupnya seakan runtuh seketika, ia bahkan tak berkutik di hadapan baginda SAW. Inilah kekuatan Rosulullah SAW. Betapa perkasa dan hebatnya beliau.
Maka, siapakah lelaki terkuat itu?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa ali Muhammad.
Wallahu'alam bishshowwab..

Kamis, 09 Maret 2017

Kau tahu apa itu cinta?

Kau tahu apa itu cinta?
Cinta itu, ketika seorang Thouban RA, seorang budak yang dibebaskan oleh Rasulullah SAW suatu hari terlihat sangat sedih. Raut wajahnya begitu berbeda ketika dia berada di dekat Rasulullah. Ketika ia memandangi wajah Rasulullah, wajahnya akan selalu cerah, penuh senyum kebahagiaan. Dia selalu mencoba melihat wajah Rosulullah beberapa kali dalam sehari, keimanannya akan bertambah, bahkan ia dapat melupakan segala kesulitan dan masalah hidupnya. Dan hari itu, dia sangat murung sebab orang yang sangat dia cintai tidak ia dapati dalam setiap pandangannya.
Maka, ketika Rasulullah menemuinya, Rasulullah menanyakan perihal wajahnya yang begitu sedih. Apa jawabannya? MaasyaaAllah,,bikin terharu :'(
"Yaa Rosulullah, apakah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu?" Ucapnya kemudian dengan lembut.
"Aku perlu melihatmu setiap hari. Ketika aku melihatmu, aku begitu merasa senang. Aku harus melihatmu setiap hari, tidakkah kau tahu perasaan hatiku?" Air matanya bahkan mulai menetes membasahi pipinya.
"Ya Rosulullah aku begitu bahagia melihatmu sekarang, tetapi ketika aku tidak melihatmu, aku memikirkan kematian dan akhirat. Dan aku berpikir, ketika engkau dipanggil oleh Allah, bagaimana aku dapat melihatmu lagi. Dan saat kita berada di akhirat kelak maka kau akan pergi ke tempat yang paling tinggi di surga. Kau akan bersama para anbiya AS, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang soleh. Dan aku, aku tidak akan melihatmu lagi sebab jikapun aku masuk surga aku akan berada di surga pada tingkat yang paling rendah. Dan apa yang terjadi padaku? Bahkan kemungkinan aku tidak akan masuk ke surga. Dan jika itu terjadi, maka aku tidak akan melihatmu lagi ya Rosulullah, aku tidak dapat melihatmu lagi." Kini, matanya semakin memerah, dadanya sesak.
Demi Allah, tepat ketika dia berkata seperti itu, maka turunlah Jibril AS dan mewahyukan Firman Allah pada surah An-Nisa ayat 69
"Dan barang siapa mentaati Allah dan Rosul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang soleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
Dan ketika Thouban mendengar ini, maasyaaAllah. Senyumnya mulai merekah, wajahnya kembali ceria. Dan dia sering mengatakan kepada sesiapapun yang ia dapati dengan bahagia. "Apakah kau tahu bahwa ayat ini turun karena diriku? Apakah kau tahu bahwa sebab cintaku kepada Nabi Muhammad begitu besar dan aku takut tidak dapat melihat wajahnya kelak di surga. Maka Jibril AS turun untuk mengabarkan bahwa tak perlu khawatir, jika ingin bersama Rosulullah, ingin melihat wajahnya setiap saat. Maka kau hanya perlu mencintainya sepenuh hatimu. Cinta yang membuatmu menuruti segala petunjuknya, sunnah-sunnahnya dan menjauhi keburukan yang dilarangnya. Maka, serta merta kau akan menggapai derajat itu."
MaasyaaAllah, maka tanyakanlah pada hati-hati kita, sudah seberapa besar kecintaan kita kepada sang Nabi. Sudah seberapa taatnya kita pada ajaran beliau. Sudah seberapa patuh kita menjauhi yang dilarangnya. Seberapa keras kita mengikuti jejaknya. Sudah seberapa khawatirnya kita ketika kita tidak bertemu dengannya kelak, minum di Al-kautsarnya, duduk di dekatnya, seberapa takut dan sedihnya hati-hati kita ketika kelak kita bahkan tak dapat melihat wajahnya barang sebentar saja. Sudah seberapa wahai jiwa-jiwa perindu surga, sudah seberapa?? :'( 

Rabu, 08 Maret 2017

Maaf, Aku Berhenti

Setelah sekian lama merasa yakin, aku akhirnya harus rela melepasmu. Apa yang telah terjadi padamu? Kemarin aku menangis. Bukan karena keputusanku untuk melepasmu. Sekali lagi bukan. Aku menangisi dirimu yang telah berubah sedemikian rupa. Aku merasa kehilangan yang sangat sempurna. Di mana dirimu yang dulu selalu menjadi cahaya penerang jalan gelap sepiku? Di mana dirimu yang dulu selalu bisa membuatku bergumam kagum pada sosokmu?

Pada sebuah jalan, tiba-tiba saja aku mendapatimu sedang menyiksa dirimu sendiri. Aku bahkan hanya gagu tak bisa menanyakan apa yang sedang kau lakukan itu. Aku hanya sedang berusaha membunuh rasa, membakar cinta yang terlanjur membara, coba menghanguskannya, kemudian menghanyutkannya ke aliran sungai yang deras.

Jujur, aku masih menangis. Bukan karena hati yang tiba-tiba sepi. Bukan karena mekarnya yang tiba-tiba layu. Tapi karena kulihat kau sedang memenggal akhlak indahmu, kau membuatnya buruk, sangat buruk di mata hatiku. Manusia memang tak layak menilai, tapi Tuhan punya cara membuka setiap tabir. Tapi kenapa kau berubah? Apa yang membuatmu berubah? Aku masih merasa tak percaya dengan mata lahirku.

Maka, maafkan aku yang tiba-tiba berhenti jatuh cinta padamu. Aku memang selalu berhasil jatuh cinta padamu berkali-kali. Tapi tidak kali ini. Aku akan mengubur dalam-dalam seluruh rasa, memenjara binar mata dan mencoba kuat mengacuhkan rasa.

Maafkan aku jika akhirnya ingkar pada janji yang kubuat sendiri. Janji pada diriku sendiri untuk menantimu sampai ujung waktu. Aku telah berhenti membuat jejak penantian padamu itu. Sekarang izinkan aku melanjutkan hidupku, tanpa menoleh sedikitpun padamu. Selamat tinggal cinta. Selamat jalan kenangan. Jangan khawatir, aku tetap memohon do'a yang indah padamu. Berharap kau kembali seperti dahulu. Bukan untuk kembali kucintai, tapi kembali pada indah akhlak dirimu.

Minggu, 05 Maret 2017

Kau Tak Pernah Tahu

Ada yang berbisik dalam sepi "Jangan terlalu akrab dengan pedih nona, kaupun berhak bahagia"
Dia hanya tak pernah melihat debar bahagiaku tiap detik. Jangan mendikteku soal patah hati tuan, itu tak layak dikecap oleh hati yang syukur. Meski mungkin pernah luka, ia tak sampai berdarah-darah sedemikian rupa. Apa memang hakikat hidup? Bukan melulu soal patah hati dan terbahagiakan kan? Cukup mencintai yang kau miliki. Kemudian mensyukuri yang kau miliki itu. Ketahuilah tuan, aku selalu bahagia di sini. Meski mungkin kau tak pernah tahu.

Sabtu, 04 Maret 2017

Thanks Bro

Rasa-rasanya baru kemarin kita berlarian bertelanjang kaki pada petak-petak sawah berlumpur, menghabiskan waktu mencari keong di antara petani padi yang sedang menanam benih. Kemudian banyak waktu kita gunakan memainkan permainan yang kebanyakan adalah keahlian kaummu, para lelaki. Walau akhirnya entah kau atau aku yang menangis atas kekalahan. Akukah yang menghabiskan kelerengmu atau kau yang mengalahkanku dengan telak, meludeskan "wayang-wayangku", mengalahkanmu bermain krambol, bermain bola, pedang-pedangan, menghabiskan malam tendang-tendangan di kamar yang akhirnya menghasilkan tangisan salah satu atau dua-duanya. Dan usia kita yang berselang 1,5 tahun saja membuat kita begitu dekat, saling mengejek dengan sebutan yang melekat hingga besar. Awalnya aku lebih tinggi darimu, maka saat main karate-karatean atau berkelahi betulan, aku yang selalu menang. Dan entah mengapa beberapa tahun kemudian, kau tiba-tiba lebih besar dariku, membuatku menangis di pojokan tempat tidur saat kalah berkelahi. Kita memang suka sekali berkelahi, hingga aku akan sangat senang mengganggumu jika aku pulang kampung sekarang di usia yang jauh dari kanak-kanak. Meninju lenganmu yang kau buat sangat keras, membuat aku yang kesakitan. Memencet pipimu pagi-pagi kalau kau belum bangun atau menarik-narik daun telingamu, sebab jika kupukul sampai babak belur, semenit kemudian maka akulah yang akan babak belur. Kau selalu seperti tak melihat aku sebagai anak perempuan. Selalu membalasku dengan keras. Bahkan dulu saat pertama pulang kampung, kau menertawaiku yang kemana-mana selalau memakai rok. Padahal kan aku setiap hari dulu ke sekolah juga pakai rok, kan?
Waktu berlalu begitu cepat, banyak yang kita lakukan yang sampai sekarang masih terekam jelas di kotak memoryku. Waktu SMP, masih ingatkah? Aku kelas 2 dan kau kelas 1. Kita ke sekolah menaiki sepedamu, karena tidak punya tempat boncengan di belakang dan aku takut berdiri di belakang menaiki baut roda rantai sepeda seperti posisinya jika teman laki-lakimu kau bonceng maka aku memilih duduk di depan diapit lengan-lenganmu memegang stir sepeda. Walau pada akhirnya aku akan teriak kencang-kencang karena sedikit ngeri melihat kau melajukan sepeda dengan kecepatan yang luar biasa kencangnya, kau hanya terkekeh. Dan karena aku malu dibonceng dengan posisi seperti itu, maka aku akan selalu berteriak "stop" sebelum jembatan, kira-kira 100 meter dari sekolah kita. Aku memilih jalan kaki. Dan suatu hari, kita pulang ke rumah, aku memberanikan diri berdiri di belakang hanya bertumpu pada baut-baut roda rantai sepeda. Meski kau tidak sekencang saat aku duduk di depan, aku tetap merasa sangat ngeri. Ku pegang erat-erat bahumu. Dan saat kita dapat turunan yang agak berantakan, di situlah kejadian berkesan kita terjadi. Karena takut dan memang tempatku berpijak sedikit mengkhawatirkan, maka aku serta merta melompat padahal saat itu sepeda berada pada mode cepat dan hasilnya, aku terseret di antara bebatuan yang sedikit tajam. Lututku berdarah. Walaupun tak seorangpun yang melihat kita, aku tetap merasa malu telah terjungkal sedemikian rupa. Maka cepat-cepat aku berdiri kemudian berlari sampai di rumah. Kau mengikutiku di belakang dengan tatapan entah bermakna apa. Dan sesampainya di rumah kau berusaha mengobati lukaku dengan obat merah dan beberapa kapas untuk menutupinya. Berkat aksi jatuh itu, akupun kapok, tidak mau lagi dibonceng olehmu. Lebih memilih naik angkot atau jalan kaki.
Selama beberapa tahun berikutnya aku akan sangat merasa kehilanganmu. Bagaimana tidak? Kau lebih memilih hidup di luar, mencari kesenangan sekaligus merasakan kepahitan yang bersamaan. Kau jarang pulang ke rumah. Aku mulai benci anak laki-laki yang nakal. Saat itu, aku menamaimu anak nakal. Suka buat mama menangis, papa emosi, kakak-kakak yang lainpun merasa hal yang sama. Hingga entah bagaimana kau kembali ke rumah. Meski agak kikuk karena sedemikian lamanya waktu tak mempertemukan kita, aku merasa lega dan senang. Kita sudah berusia remaja yang sebentar lagi akan dewasa. Maka, tidak mungkin kita bermain seperti dulu lagi. Kau malah akan lebih sering menceritakan kisah asmaramu dari A sampai Z. Membuatku akan selalu melotot tidak jelas atau ber 'oh', ber 'wow' mendengarnya. Dan kadang-kadang membuatku depresi dengan sebegitu mudahnya kamu bermain-main perasaan dengan beberapa anak gadis. Itu dulu, entah sekarang. Sepertinya kita akan sepakat tentang bahwa pacaran itu adalah hubungan yang tidak sehat. Kau pernah mengancam adik bungsu kita yang telah duduk di bangku SMP. Ketika aku mengganggunya, mencoba mengorek apa dia telah juga ikut arus hubungan tidak jelas itu, kau kemudian bilang "Pacaranko ika? Awasko, mauko ku lomboki?" Haha.
Saat kita besar maka aku akan jarang sekali melihatmu menangis. Sudah tidak bisa kubuat menangis seperti dulu waktu kita masih bocah ingusan. Terakhir aku melihatmu menangis dengan sangat setahun yang lalu saat papa meninggal. Rasa kehilangan yang luar biasa bukan? Kau masih kadang mengchat bahwa kesedihanmu belum sembuh. Dan kau sedang menangis. Dan apa aku bilang, bro, kau kelihatan sangat jelek kalau menangis (pasang emot ngakak). Kita masih punya satu surga kan, jaga baik-baik itu. Mama.
Hey, bro. Aku cuma mau bilang terimakasih sudah tinggal di rumah dan jaga mama, adik, nenek di sana. Meski kau sepertinya masih agak nakal, haha. Tapi kami yang tinggal jauh dari mereka telah menitipkan mereka padamu. Satu-satunya lelaki di rumah. Berhentilah bermain-main perasaan dengan banyak anak perempuan, atau sudah setia dengan satu? Kata mama, menabung sekarang biar bisa nikah cepat, hehe.
Ah, entah kenapa siang ini, aku malah mengingatmu dan membuat jari jemariku menulis status tentangmu. Masih banyak yang tak bisa kurangkum semua di sini, biar tersimpan jadi kenangan di dalam kotak memory hati.
bro, ke cekong ajak-ajak dong

Kumaafkan Matamu

Dan meski kau masih saja menjadi penyebab ada air yang mengapung di muara mata. Tapi tetap saja kumaafkan matamu yang tak pernah singgah menanyakan kabar di mataku..

Negeriku Menangis

Apakah dosamu wahai diri?
Negeri tempatmu lahir dan dibesarkan sedang menangis pilu oleh kekejaman manusia-manusia pendosa yang tak mengira berdosa.
Apakah yang telah kau lakukan wahai diri?
Lihatlah para pembawa risalah keagungan, para ulama. Di negerimu, mereka dihempas, dilindas para pembawa koper bermilyar-milyar, didiskriminasi bahkan oleh para umara yang sejatinya membawa perlindungan.
Apa yang turut kau renungkan wahai diri?
Banyak yang mengaku cinta tanah air di negeri yang kau kasihi, malah menggadaikan tanah air demi menggemukkan rekening-rekening mereka. Lupa, di negeri akhirat tanah air akan menjadi saksi kerakusan-kerakusan mereka kelak.
Dan kau mengaku wahai diri bahwa kau pendosa yang hebat hanya saja Yang Azis sedang menutupnya dari pandangan manusia.
Dan kau mengaku wahai diri bahwa kau tidak melakukan apapun pada akuanmu jika kau mencintai para Ulama.
Dan kau mengaku wahai diri bahwa tak sekalipun kau renungkan betapa kacau negerimu, betapa terisaknya ia oleh ketidak adilan yang tak ada habisnya.
Maka, wahai diri...
Bertaubatlah, merenunglah dan paling tidak lakukan sesuatu untuk negerimu ini. Minimal, di sepertiga malam. Saat Yang Azis turun ke bumi, pintalah tuk menghapus air mata Negerimu yang kian pilu.

Jumat, 03 Maret 2017

Surga di Hari Jum'at

Para lelaki pendamba surga telah meninggalkan jejak pada tanah basah.
Telah menyisakan semerbak di udara yang cerah.
Kening mereka kini menyentuh lantai-lantai surau hingga selasar.
Dua rakaat jum'at mulai ditunaikan.
Seorang wanita berkerudung putih sedang memejam mata.
Tengah merapal do'a-do'a kebaikan.
Dia sadar, pada jum'at segala do'a akan terijabah.
Bocah-bocah lincah berlarian.
Mulai sibuk ikut merapatkan barisan.
Suara mereka melengking mengaamiinkan Al-Fatihah sang Imam.
Mereka tetap bahagia walau berada di shaff belakang.
Para penderma merogoh saku celana.
Menatap sebuah kotak dan memasukkan rupiah ke dalamnya.
Para ibu-ibu sibuk membagikan berbungkus sedekah untuk makan siang si fakir yang kelaparan.
Jumat tetap akan datang pada setiap tujuh hari, maka bercahayalah selama sepekan itu dengan Al-Kahfi.
Jumat tetap akan berberkah dan selamanya akan berberkah, maka bersyukurlah sebab Allah sangat menyayangi kita dengan menciptakan JUMAT..

Aidilku Sayang

Keseruan senja kemarin di beranda rumah. Menikmati memandang pelangi cerah melengkung indah tepat membujur di langit atas rumah.
Ada bocah 2 tahun yang riuh teriak-teriak sambil menunjuk pelangi. Sebab belum lancar ngomongnya, maka dia ngomel dengan jurus cepat babibu walau hanya dia dan Tuhan yang tahu maksudnya. Bocah ini, kemarin malam bikin mewek tiba-tiba. Seminggu kemarin di kampung habis hari-hariku berdua dengannya. Yang syahdunya adalah selama seminggu ini dia panggil saya apa coba?? "mama", mmmhh how sweet ðŸ˜˜ðŸ˜˜. Bagian lucunya semua apa-apa dia liat, selalu dia laporkan. "Mama,,mama.." pokoknya kalau belum dijawab "iye.." tidak berhenti memanggil. "Mama,,ikanggg..(ikan)". "Mama...cicak..". How sweet hmmm.
Kebiasaan sore-sore, jalan-jalan. Ini yang paling disuka. Apa saya bilang, anak-anak paling tidak suka dikurung. Kalau sudah di luar bahagianya. Lari sana sini. Itu pipi tembamnya..yaa Allah bikin gemesh, ikut goyang-goyang senada laju larinya. Apalagi kalau dapat bebek atau ayam, dikejar sampai bebek atau ayamnya yang tepar. Saya heran, anak-anak itu dapat kekuatan kayak gitu dari mana coba.
Dan kemarin sore saya habiskan waktu baik-baik dengannya. Ke sungai lihat sapi. Walau selama ini kami paling wanti-wanti kalau ke sungai, takut dia turun ke air. Sehabis itu, ke lapangan sepak bola, terpaksa meminjamkan bola anak-anak yang lagi latihan untuk ikut pertandingan. Menemaninya main bola sampai puas. Terakhir kejar-kejaran sampai tiba-tiba gerimis dan kembali ke rumah liat pelangi sambil menyanyikan lagu pelangi-pelangi.
Jam 7 malam mobil penumpang ke makassar datang menjemput saya untuk kembali ke makassar. Sebelum itu, saya masih menghabiskan waktu bersamanya. Mendengar dia terkekeh-kekeh melihat saya membuka menutup pintu, entah bagian mana yang lucu dari aksi tutup buka pintu itu. Namun, memang si bocah ini cepat sekali menertawakan hal-hal bodoh yang dilakukan. Dan saat mobil telah datang, dia serta merta minta saya gendong sambil panggil mama. Dan yang bikin mewek adalah saat mobil telah melaju, saat saya melihat wajah bingungnya di belakang mobil. Mungkin bingung, saya mau kemana, kenapa dia tidak ikut. Sebab seminggu ini, kemana-kemana saya pergi dia suka mengekor. Sekarang saya penasaran, dia masih cari-cari saya tidak yah..
Hmmm,, Aidilku sayang, Pelangi kemarin, biarlah jadi kenangan untuk kita cerita jika kau besar nanti nak.
Pokoknya Tanta ia lagi kangen berat sama kamu nak ðŸ˜¥ðŸ˜­

Mama, Baik-baiklah

Ada awan cantik juga gemuk berarak. Ada langit biru cerah di belakangnya. Apa yang terjadi dengan langit hati? Ia sedang mendung. Hari ini aku pulang. Pada wanita yang tidak ingin dikhawatirkan. Semalam, aku sedikit keki. Bagaimana tidak? Wanita yang kusebut mama ini barulah kutahu keadaannya.
"Kenapa tidak bilang-bilang?" protesku.
"Takut kalian khawatir" katanya sambil tertawa lemah.
"Sudah 2 malam di situ tapi tidak mengabarkan apa-apa?". Protesku lebih kencang. Sekali lagi beliau hanya tertawa lemah.
Pulang bukan hanya soal menapak di rumah yang selalu menyajikan ketenangan. Tapi juga menyapa sebuah hati yang lama tertinggal di sana.
_Mama, baik-baiklah. Aku sedang menujumu..

Teman

Dari dulu kesenangan adalah bertambahnya jumlah teman. Pun di dunia maya. Namun, kemarin dulu entah kenapa dan gag sadar juga, jumlah teman di facebook malah sudah sampai batas maksimum. Sedang permintaan pertemanan masih berderet untuk ditanggapi. Padahal sejujurnya ini akun gag penting-penting amat dah. Mungkin juga karena sudah tua #eh.. Maka semalam sampai lembur malah kerjaannya apa coba?? Bersih-bersih rumah, buat ngedepak *ishh terlalu sadis.. Mengurangi jumlah teman, kali aja ada akun yang udah gag produktif gitu yah. Dan benarlah, beberapa sudah saya hapus dengan senang hati campur terpaksa, hihi. Dari sana belajar mengetahui mana akun yang boleh didepak. Ini mungkin ciri-cirinya.
1. Akun tak bernyawa.. Ini paling buanyakkk dan bikin horor. Sepertinya akun model ini sudah ditinggalkan a.k.a ditutup sama pemiliknya. Ciri-ciri, ketika dibuka udah gag bisa, dari list teman keliatan gag ada foto profilnya. Jadi jelas yah, akunnya gag bernyawa. Bahkan ada yang memang terdeteksi gag bernyawa dalam arti sebenarnya atau sudah menghadap Allah.
2. Akun dengan jumlah teman yang dapat dihitung jari. Lah, akun sdh lama begitu masak gag berkembang kan yah? Malah ada yang temannya seorang saja, yaitu akuuu.. Hiks
3. Akun ganda.. Ada nih, heran juga. Cirinya, punya nama yang sama, foto profil yang sama. Malah sampai 5 lagi akun gandanya. Semua mirippppp.. Mungkin dulu pas bikin, bingung kali mau diapai makanya bikin banyak-banyak. Ah, entahlah.. Pokoknya sudah ludes semua saya apus baik-baik.
3. Akun dengan nama gag jelas. Hmmm, mungkin jelas cuma pas dibaca lidah keplintir sana sini. Misalnya cptasd hkldepl.. Hewhh itu bacanya apa??
4. Nama makanan. Ini maybe yang suka jual-jual makanan yah. Aduh mbak,, maafkan. Saya lebih suka makanan rumah soalnya.
5. Akun dengan nama curahan hati. Misalnya "akyu chyang kamyu" atau "chyank celamanya sampai mathi" wadooohhhh rasanya ikut baper kan bacanya. Wkwkwk..
6. Akun penyemangat. Biasanya namanya berisi tagline berapi-api. "Bla bla selalu cemangat yah kakak" atau "Semangat teyuss yakh". Udah aku udah semangat dek. Beneran.. ðŸ˜„😄
7. Akun dengan 2 nama berdampingan. Misalnya "Rhoma dan Anhi" atau "Anjali dan Rahul". Kenapa gag "aku dan kamu" aja sekalian bangggg.. Hihi
8. Akun yang pake nama tokoh anime. Yah kali pengagum setia yah. Sebut aja kayak "Conan Edogawa", "Uchiha Sasuke", "Uzumaki Naruto". Aku sih penyuka anime juga sih, banget banget malah tapi gag segitunya mpe pake nama mereka jadi nama fb gue. *tepok jidat..
9. Akun dengan nama produk kecantikan. Hmmm maybe akunya belum butuh kali yah. Atau lebih nyaman beli langsung di teman yang jadi reseller juga.
Dll dsb. Maafkan aku yah kalau akhirnya kita berakhir jadi mantan teman fb #ehhh.. Masalahnya juga pas dicek cek. Semua muanya sdh pada gag produktif, gag berkembang.

Nama Pada Sebuah Tempat

Pada beberapa episode kehidupan, kita kemudian dititipkan pada beberapa tempat. Ada tempat yang hanya untuk berteduh sementara, merasakan sejuk sepoi hembusan angin yang membawa serta daun-daun yang jatuh siap mencium rerumputan.
Kemudian kita diperjalankan pada suatu tempat yang di sana kita menetap beberapa saat, merasakan detak detik jam beradu dengan segenap ujian hidup yang tak kalah sengit. Sejenak kita ingin pergi untuk lepas dari betapa berat beban di pundak lemah kita. Tapi Tuhan berkata, sabarlah sebentar lagi. Dan ajaibnya, Dia menurunkan berjuta kemudahan pada sebuah kesulitan.
Ada tempat yang menyajikan dan menjanjikan ketenangan. Hidup di sana serasa tidak ingin pergi. Namun, kata Tuhan lagi. Pergilah,, temui takdirmu. Di kota itu, telah menantimu sebuah amanah yang luar biasa, siap kau poles sesuka hatimu tapi tetap dalam koridor ketaatan yang lurus.
Ada tempat, yang hanya namamu yang tersebut dalam do'a takzim saudaramu. Tertulis pada hijau daun-daun berselimut awan, pada putih mengkilap salju-salju, pada cokelatnya padang pasir. Pada tiap-tiap tempat yang tertapak pun yang tak tertapak kaki kokohmu, ketahuilah ribuan tasbih berlantunan diucapkan oleh pepohonan di segenap hutan jelajah, batu-batu pengokoh, angin yang bertiup, oleh bunga-bunga yang bermekaran indah.
Oleh maha luasnya alam semesta kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
*~Hasdaria
Jazaakillah khair Kak Asia yang sudah repot-repot menuliskan namaku di antara putih salju dan indah mekar bebungaan di negeri Naruto #eh negeri Sakura..
Untuk NARUTOnya yang bersanding nama denganku, hihi.. Aku suka aku suka...
Arigatou nee Onechan...