Kau, adalah lelaki pertama yang menatap mataku dengan binar keteduhan. Bahu dan dadamu tempat ternyaman menumpah rindu. Juga, di tiap langkah kesungguhanmu ada aku yang terus menerus kau perjuangkan baik masa depanku. Apa aku telah menjadi anak gadis kebangganmu? Tanyaku suatu saat, tanya yang tak benar-benar kuutarakan dengan lisanku. Hanya, hati kita telah terpaut tanya dan jawab lewat pandangan mata yang beradu pada setiap pisah yang melebarkan jarak. Maafkan aku yang lebih lama hidup menjauh di rantau, sesekali saja menelepon menanyakan kabar di lelahnya hatimu yang selalu memikirkanku. Aku, anak kesayanganmu kata orang-orang. Itu, aku begitu bahagia mendengarnya. Tapi, yang sebenarnya adalah kami semua adalah kesayanganmu bukan? Hanya saja, mungkin akulah yang betul-betul menampakkan kemanjaanku setiap saat. Kemanjaan untuk kau dengarkan ceritaku, untuk kau hapus air mata yang menetes membasahi pipiku, kau cipta tawa selepas raunganku, kau dekap hangat dalam pelukmu. Juga, kau lebih suka berlama-lama duduk di dekatku sekedar berbagi kisah tentang malaikat putih yang telah menunggumu.
Kenapa rindu diciptakan Tuhan? Aku kali ini sungguh menanyakan itu. Sebab, tiap gerak yang kau buat kini hadir menjelma bayang-bayang di tiap dinding kamar tidurku. Memaksaku mengeja satu persatu kenangan tentang kau yang selalu menjagaku, tentang kau yang tanpa letih menghujaniku ribuan perhatian. Kini, tiada lagi sosok sepersismu yang memperlakukanku demikian sempurnanya bentuk kasih sayang.
Suatu malam yang dingin, di tengah sepi yang paling sepi. Ada rintih yang tak kusengaja, itu tercipta oleh mimpi yang ada kau di dalamnya. Menyisakan air mata di sudut mata, membuatku bingung sejenak ketika kusadar. Dan semenit kemudian aku hanya memeluk lututku, membenamkan kepalaku di sana seraya sesenggukan oleh ingatan mimpi yang baru saja dianugerahkan Tuhan. Hari-hari kemarin memang hari yang panjang yang sesak oleh beban yang berat. Membuat lengan malam ikut menyaksikan kedip mata berkali-kali untuk meloloskan bulir-bulir hangat pada tiap lafaz dzikrullah. Bulir-bulir yang akhirnya terpaksa berhenti membasahi alas tidurku karena kantuk yang sekalian membuat tidurku tak nyenyak. Hingga, kutemukan dirimu di dalam mimpiku. Di sini, aku selalu yakin kau selalu memperhatikaku dari sana. Dan demi melihat hatiku yang sedang terluka, kau menghadap dan memohon kepada Tuhan untuk sekali lagi datang menenangkanku. Meski hanya dalam mimpi kau sekali lagi melakonkan peranmu selaku ayah dengan sangat baik. Menenangkan bahuku yang sedang terguncang oleh tangis yang tertahan, membenamkan kepalaku di dadamu yang kokoh seraya membisikkan kata bahwa semua akan baik-baik saja karena ada kau di sisiku. Maka, kubalas memeluk erat tubuhmu seperti saat terakhir kupeluk tubuhmu yang telah kaku, yang telah membeku membuat tangan-tangan kecilku ikut kedinginan. Mengacuhkan mata orang-orang yang ingin melihatmu terakhir kali, kuambil posisi berbaring di samping tubuhmu dan dengan suara parauku, kupanggil namamu yang jelas tak akan pernah lagi bisa kau tanggapi meski sekedar sebuah angguk.
Kenapa rindu diciptakan Tuhan? Adakah agar aku tak lupa padamu? Adakah agar aku akan selalu mengenang sosok hangatmu? Adakah agar dadaku penuh sesak di kesepian dan kesunyian yang paling pedih ketika kuingin menumpahkan gejolak rasa ingin melihatmu? Apakah rindu diciptakan seperti itu? Jika ia, maka biarlah rinduku padamu sekalian tenggelam pada malam-malam sunyi, terbang menyesak langit-langit kota, menepi di tempat paling sepi di tengah belantara, mengiris-iris nadiku hingga aku sadar tiada yang lebih kurindui selainmu.
Papa, baik-baiklah di sana. Aku telah meminta Tuhan kita agar menjagamu dan menyayangimu. Tenang saja, Dia Ar Rohman Ar Rohim Allahu Karim. Papa, aku rindu, rindu yang paling rindu padamu.


