Sabtu, 04 Maret 2017

Thanks Bro

Rasa-rasanya baru kemarin kita berlarian bertelanjang kaki pada petak-petak sawah berlumpur, menghabiskan waktu mencari keong di antara petani padi yang sedang menanam benih. Kemudian banyak waktu kita gunakan memainkan permainan yang kebanyakan adalah keahlian kaummu, para lelaki. Walau akhirnya entah kau atau aku yang menangis atas kekalahan. Akukah yang menghabiskan kelerengmu atau kau yang mengalahkanku dengan telak, meludeskan "wayang-wayangku", mengalahkanmu bermain krambol, bermain bola, pedang-pedangan, menghabiskan malam tendang-tendangan di kamar yang akhirnya menghasilkan tangisan salah satu atau dua-duanya. Dan usia kita yang berselang 1,5 tahun saja membuat kita begitu dekat, saling mengejek dengan sebutan yang melekat hingga besar. Awalnya aku lebih tinggi darimu, maka saat main karate-karatean atau berkelahi betulan, aku yang selalu menang. Dan entah mengapa beberapa tahun kemudian, kau tiba-tiba lebih besar dariku, membuatku menangis di pojokan tempat tidur saat kalah berkelahi. Kita memang suka sekali berkelahi, hingga aku akan sangat senang mengganggumu jika aku pulang kampung sekarang di usia yang jauh dari kanak-kanak. Meninju lenganmu yang kau buat sangat keras, membuat aku yang kesakitan. Memencet pipimu pagi-pagi kalau kau belum bangun atau menarik-narik daun telingamu, sebab jika kupukul sampai babak belur, semenit kemudian maka akulah yang akan babak belur. Kau selalu seperti tak melihat aku sebagai anak perempuan. Selalu membalasku dengan keras. Bahkan dulu saat pertama pulang kampung, kau menertawaiku yang kemana-mana selalau memakai rok. Padahal kan aku setiap hari dulu ke sekolah juga pakai rok, kan?
Waktu berlalu begitu cepat, banyak yang kita lakukan yang sampai sekarang masih terekam jelas di kotak memoryku. Waktu SMP, masih ingatkah? Aku kelas 2 dan kau kelas 1. Kita ke sekolah menaiki sepedamu, karena tidak punya tempat boncengan di belakang dan aku takut berdiri di belakang menaiki baut roda rantai sepeda seperti posisinya jika teman laki-lakimu kau bonceng maka aku memilih duduk di depan diapit lengan-lenganmu memegang stir sepeda. Walau pada akhirnya aku akan teriak kencang-kencang karena sedikit ngeri melihat kau melajukan sepeda dengan kecepatan yang luar biasa kencangnya, kau hanya terkekeh. Dan karena aku malu dibonceng dengan posisi seperti itu, maka aku akan selalu berteriak "stop" sebelum jembatan, kira-kira 100 meter dari sekolah kita. Aku memilih jalan kaki. Dan suatu hari, kita pulang ke rumah, aku memberanikan diri berdiri di belakang hanya bertumpu pada baut-baut roda rantai sepeda. Meski kau tidak sekencang saat aku duduk di depan, aku tetap merasa sangat ngeri. Ku pegang erat-erat bahumu. Dan saat kita dapat turunan yang agak berantakan, di situlah kejadian berkesan kita terjadi. Karena takut dan memang tempatku berpijak sedikit mengkhawatirkan, maka aku serta merta melompat padahal saat itu sepeda berada pada mode cepat dan hasilnya, aku terseret di antara bebatuan yang sedikit tajam. Lututku berdarah. Walaupun tak seorangpun yang melihat kita, aku tetap merasa malu telah terjungkal sedemikian rupa. Maka cepat-cepat aku berdiri kemudian berlari sampai di rumah. Kau mengikutiku di belakang dengan tatapan entah bermakna apa. Dan sesampainya di rumah kau berusaha mengobati lukaku dengan obat merah dan beberapa kapas untuk menutupinya. Berkat aksi jatuh itu, akupun kapok, tidak mau lagi dibonceng olehmu. Lebih memilih naik angkot atau jalan kaki.
Selama beberapa tahun berikutnya aku akan sangat merasa kehilanganmu. Bagaimana tidak? Kau lebih memilih hidup di luar, mencari kesenangan sekaligus merasakan kepahitan yang bersamaan. Kau jarang pulang ke rumah. Aku mulai benci anak laki-laki yang nakal. Saat itu, aku menamaimu anak nakal. Suka buat mama menangis, papa emosi, kakak-kakak yang lainpun merasa hal yang sama. Hingga entah bagaimana kau kembali ke rumah. Meski agak kikuk karena sedemikian lamanya waktu tak mempertemukan kita, aku merasa lega dan senang. Kita sudah berusia remaja yang sebentar lagi akan dewasa. Maka, tidak mungkin kita bermain seperti dulu lagi. Kau malah akan lebih sering menceritakan kisah asmaramu dari A sampai Z. Membuatku akan selalu melotot tidak jelas atau ber 'oh', ber 'wow' mendengarnya. Dan kadang-kadang membuatku depresi dengan sebegitu mudahnya kamu bermain-main perasaan dengan beberapa anak gadis. Itu dulu, entah sekarang. Sepertinya kita akan sepakat tentang bahwa pacaran itu adalah hubungan yang tidak sehat. Kau pernah mengancam adik bungsu kita yang telah duduk di bangku SMP. Ketika aku mengganggunya, mencoba mengorek apa dia telah juga ikut arus hubungan tidak jelas itu, kau kemudian bilang "Pacaranko ika? Awasko, mauko ku lomboki?" Haha.
Saat kita besar maka aku akan jarang sekali melihatmu menangis. Sudah tidak bisa kubuat menangis seperti dulu waktu kita masih bocah ingusan. Terakhir aku melihatmu menangis dengan sangat setahun yang lalu saat papa meninggal. Rasa kehilangan yang luar biasa bukan? Kau masih kadang mengchat bahwa kesedihanmu belum sembuh. Dan kau sedang menangis. Dan apa aku bilang, bro, kau kelihatan sangat jelek kalau menangis (pasang emot ngakak). Kita masih punya satu surga kan, jaga baik-baik itu. Mama.
Hey, bro. Aku cuma mau bilang terimakasih sudah tinggal di rumah dan jaga mama, adik, nenek di sana. Meski kau sepertinya masih agak nakal, haha. Tapi kami yang tinggal jauh dari mereka telah menitipkan mereka padamu. Satu-satunya lelaki di rumah. Berhentilah bermain-main perasaan dengan banyak anak perempuan, atau sudah setia dengan satu? Kata mama, menabung sekarang biar bisa nikah cepat, hehe.
Ah, entah kenapa siang ini, aku malah mengingatmu dan membuat jari jemariku menulis status tentangmu. Masih banyak yang tak bisa kurangkum semua di sini, biar tersimpan jadi kenangan di dalam kotak memory hati.
bro, ke cekong ajak-ajak dong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar