Kau tahu apa itu cinta?
Cinta itu, ketika seorang Thouban RA, seorang budak yang dibebaskan oleh Rasulullah SAW suatu hari terlihat sangat sedih. Raut wajahnya begitu berbeda ketika dia berada di dekat Rasulullah. Ketika ia memandangi wajah Rasulullah, wajahnya akan selalu cerah, penuh senyum kebahagiaan. Dia selalu mencoba melihat wajah Rosulullah beberapa kali dalam sehari, keimanannya akan bertambah, bahkan ia dapat melupakan segala kesulitan dan masalah hidupnya. Dan hari itu, dia sangat murung sebab orang yang sangat dia cintai tidak ia dapati dalam setiap pandangannya.
Maka, ketika Rasulullah menemuinya, Rasulullah menanyakan perihal wajahnya yang begitu sedih. Apa jawabannya? MaasyaaAllah,,bikin terharu
:'(
"Yaa Rosulullah, apakah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu?" Ucapnya kemudian dengan lembut.
"Aku perlu melihatmu setiap hari. Ketika aku melihatmu, aku begitu merasa senang. Aku harus melihatmu setiap hari, tidakkah kau tahu perasaan hatiku?" Air matanya bahkan mulai menetes membasahi pipinya.
"Ya Rosulullah aku begitu bahagia melihatmu sekarang, tetapi ketika aku tidak melihatmu, aku memikirkan kematian dan akhirat. Dan aku berpikir, ketika engkau dipanggil oleh Allah, bagaimana aku dapat melihatmu lagi. Dan saat kita berada di akhirat kelak maka kau akan pergi ke tempat yang paling tinggi di surga. Kau akan bersama para anbiya AS, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang soleh. Dan aku, aku tidak akan melihatmu lagi sebab jikapun aku masuk surga aku akan berada di surga pada tingkat yang paling rendah. Dan apa yang terjadi padaku? Bahkan kemungkinan aku tidak akan masuk ke surga. Dan jika itu terjadi, maka aku tidak akan melihatmu lagi ya Rosulullah, aku tidak dapat melihatmu lagi." Kini, matanya semakin memerah, dadanya sesak.
"Yaa Rosulullah, apakah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu?" Ucapnya kemudian dengan lembut.
"Aku perlu melihatmu setiap hari. Ketika aku melihatmu, aku begitu merasa senang. Aku harus melihatmu setiap hari, tidakkah kau tahu perasaan hatiku?" Air matanya bahkan mulai menetes membasahi pipinya.
"Ya Rosulullah aku begitu bahagia melihatmu sekarang, tetapi ketika aku tidak melihatmu, aku memikirkan kematian dan akhirat. Dan aku berpikir, ketika engkau dipanggil oleh Allah, bagaimana aku dapat melihatmu lagi. Dan saat kita berada di akhirat kelak maka kau akan pergi ke tempat yang paling tinggi di surga. Kau akan bersama para anbiya AS, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang soleh. Dan aku, aku tidak akan melihatmu lagi sebab jikapun aku masuk surga aku akan berada di surga pada tingkat yang paling rendah. Dan apa yang terjadi padaku? Bahkan kemungkinan aku tidak akan masuk ke surga. Dan jika itu terjadi, maka aku tidak akan melihatmu lagi ya Rosulullah, aku tidak dapat melihatmu lagi." Kini, matanya semakin memerah, dadanya sesak.
Demi Allah, tepat ketika dia berkata seperti itu, maka turunlah Jibril AS dan mewahyukan Firman Allah pada surah An-Nisa ayat 69
"Dan barang siapa mentaati Allah dan Rosul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang soleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
"Dan barang siapa mentaati Allah dan Rosul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang soleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
Dan ketika Thouban mendengar ini, maasyaaAllah. Senyumnya mulai merekah, wajahnya kembali ceria. Dan dia sering mengatakan kepada sesiapapun yang ia dapati dengan bahagia. "Apakah kau tahu bahwa ayat ini turun karena diriku? Apakah kau tahu bahwa sebab cintaku kepada Nabi Muhammad begitu besar dan aku takut tidak dapat melihat wajahnya kelak di surga. Maka Jibril AS turun untuk mengabarkan bahwa tak perlu khawatir, jika ingin bersama Rosulullah, ingin melihat wajahnya setiap saat. Maka kau hanya perlu mencintainya sepenuh hatimu. Cinta yang membuatmu menuruti segala petunjuknya, sunnah-sunnahnya dan menjauhi keburukan yang dilarangnya. Maka, serta merta kau akan menggapai derajat itu."
MaasyaaAllah, maka tanyakanlah pada hati-hati kita, sudah seberapa besar kecintaan kita kepada sang Nabi. Sudah seberapa taatnya kita pada ajaran beliau. Sudah seberapa patuh kita menjauhi yang dilarangnya. Seberapa keras kita mengikuti jejaknya. Sudah seberapa khawatirnya kita ketika kita tidak bertemu dengannya kelak, minum di Al-kautsarnya, duduk di dekatnya, seberapa takut dan sedihnya hati-hati kita ketika kelak kita bahkan tak dapat melihat wajahnya barang sebentar saja. Sudah seberapa wahai jiwa-jiwa perindu surga, sudah seberapa??
:'( 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar