Sabtu, 11 Maret 2017

Pohon Menangis

Pernahkah kau melihat pohon yang menangis?

Sebuah perangai yang indah, hanya bisa dilihat oleh hati-hati yang indah. Sebuah akhlak yang bersahaja, hanya bisa dirasa oleh iman-iman yang begitu elegan.
Pada diri Rosulullah apa yang tidak indah? Apa yang tak bersahaja? Maka, berbahagilah yang bisa melihatnya. Bergembiralah yang bisa merasakannya. Dan dari segala elemen alam semesta, pada dirinya yang bersarang iman, maka bashirohnya akan dapat menangkap kelembutan kasih sayang Baginda SAW. Tak terkecuali pada binatang-binatang, pohon-pohon, segala jenis tanaman yang Allah telah ciptakan di muka bumi ini.
Suatu hari, seorang sahabat sedang berjalan dan mendapati sebuah pohon yang di dahannya tengah bersarang seekor induk burung yang menjaga anaknya. Sahabat ini kemudian mangambil anak burung yang kemudian hanya mampu menciat-ciat mencoba melepaskan diri. Melihat itu, sang induk tak berdiam diri, dia mengitari kepala sang sahabat, namun sayang sahabat ini menangkapnya dan memasukkan anak dan induk burung ini ke dalam lengan bajunya. Di tengah jalan sahabat ini bertemu Rosulullah SAW.
"Apa yang ada di dalam lenganmu itu?" Yang ditanya pun mengeluarkan tangannya dan membukanya. Apa yang biasanya terjadi jika ada seekor burung di dalam genggaman dan kita membuka genggaman kita? Burung itu akan langsung terbang bukan? Tapi burung yang ada di tangan sahabat ini tidak bergeming. Dia tahu, ada Baginda Rosulullah SAW di depannya. Seorang yang di hadapannya, keadilan apapun pasti akan terjamin. Burung itu mengadu kepada Rosulullah SAW.
"Pergilah dan tempatkan anak burung dan induknya ini pada tempatnya semula." MaasyaaAllah. Seekor binatang saja, mampu melihat keindahan akhlak Rosulullah, maka bagaimanalah yang mengaku berpenuh iman di dalam hatinya?
Pada saat umur Rosulullah berada pada angka 63 tahun, pada saat sedang melakukan haji, Rosulullah SAW kemudian mengurbankan unta sebanyak 63 ekor. Dari para periwayat dikisahkan unta-unta itu disembelih lima ekor demi lima ekor sekali.
"Aku bersumpah demi Allah, aku melihat seakan-akan unta-unta itu berebut, berlomba-lomba ingin segera dikurbankan di tangan baginda Rosulullah SAW." Mereka mengerti kebajikan dalam hati Rosulullah, mereka dapat melihatnya, dapat mengetahui kebaikan-kebaikan Rosulullah.
Suatu hari di Madinah, Rosulullah berkhutbah di hari jumat. Dia akan selalu bersandar pada sebuah batang pohon. Kemudian seorang wanita datang padanya dan mengajukan pendapat.
"Yaa Rosulullah, aku mempunyai seorang budak yang ia adalah seorang tukang kayu yang handal, jika engkau mau, aku bisa memintanya membuatkan sebuah mimbar untukmu." Rosulullah pun setuju. Maka, pada jumat berikutnya, mimbar itupun jadi dan Rosulullah menaikinya. Apa yang terjadi selanjutnya? Dalam sebuah riwayat tawatur (yang dapat diterima), sebab banyak sahabat yang berkumpul di sana saat itu, setiap mereka meriwayatkan apa yang dilihatnya.
"Ketika Rosulullah menaiki mimbarnya, batang pohon itu mulai gemetar bagaikan ingin meledak."
"Batang pohon itu seperti unta betina yang anaknya telah direnggut darinya."
"Ia seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya"
Bahkan periwayat lain menyebutkan bahwa batang pohon itu menangis dan berteriak seperti induk unta yang sedang melahirkan.
Maka, Rosulullah turun dari mimbarnya dan segera memeluk batang pohon tersebut dan tangisannya perlahan mulai berhenti.
Sebatang pohon yang sangat mencintai Rosulullah inipun akhirnya mendapat kesempatan yang luar biasa yaitu menjadi pohon di Surga di mana para aulia dan salahah makan dari buahnya.
Hasan Al Basri RA mengatakan "Jika ini adalah cinta dari sebuah pohon kepada Rosulullah SAW, maka bagaimanalah seharusnya bentuk cinta orang-orang yang beriman kepada Rosulullah SAW?" Tanyakan pada iman-iman kita, sudah seberapa cinta kita kepadanya? Cinta yang membuat Umar RA seringkali menangis sepeninggal Rosulullah. Dia selalu menangis dan saat ditanya beliau berkata "Tidakkah aku boleh menangis? Tidakkah bahkan sebuah pohon menangis saat kepergian Rosulullah, Mengapa aku tidak boleh menangis? Bukankah seharusnya aku memang menangisi kepergian Rosulullah atas iman yang kumiliki?"
Apa yang membuat iman kita kalah oleh iman pepohonan, binatang-binatang? Apa yang membuat cinta kita dikalahkan oleh segenap semesta kepada Baginda SAW? Apa? Wahai diri, tanyakanlah bentuk imanmu, tanyakan bentuk cintamu. Astaghfirullah, belum ada apa-apanya. Sungguh, belum ada apa-apanya? :'( :'(
Wallahu'alam bisshowwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar