Setelah sekian lama merasa yakin, aku akhirnya harus rela melepasmu. Apa yang telah terjadi padamu? Kemarin aku menangis. Bukan karena keputusanku untuk melepasmu. Sekali lagi bukan. Aku menangisi dirimu yang telah berubah sedemikian rupa. Aku merasa kehilangan yang sangat sempurna. Di mana dirimu yang dulu selalu menjadi cahaya penerang jalan gelap sepiku? Di mana dirimu yang dulu selalu bisa membuatku bergumam kagum pada sosokmu?
Pada sebuah jalan, tiba-tiba saja aku mendapatimu sedang menyiksa dirimu sendiri. Aku bahkan hanya gagu tak bisa menanyakan apa yang sedang kau lakukan itu. Aku hanya sedang berusaha membunuh rasa, membakar cinta yang terlanjur membara, coba menghanguskannya, kemudian menghanyutkannya ke aliran sungai yang deras.
Jujur, aku masih menangis. Bukan karena hati yang tiba-tiba sepi. Bukan karena mekarnya yang tiba-tiba layu. Tapi karena kulihat kau sedang memenggal akhlak indahmu, kau membuatnya buruk, sangat buruk di mata hatiku. Manusia memang tak layak menilai, tapi Tuhan punya cara membuka setiap tabir. Tapi kenapa kau berubah? Apa yang membuatmu berubah? Aku masih merasa tak percaya dengan mata lahirku.
Maka, maafkan aku yang tiba-tiba berhenti jatuh cinta padamu. Aku memang selalu berhasil jatuh cinta padamu berkali-kali. Tapi tidak kali ini. Aku akan mengubur dalam-dalam seluruh rasa, memenjara binar mata dan mencoba kuat mengacuhkan rasa.
Maafkan aku jika akhirnya ingkar pada janji yang kubuat sendiri. Janji pada diriku sendiri untuk menantimu sampai ujung waktu. Aku telah berhenti membuat jejak penantian padamu itu. Sekarang izinkan aku melanjutkan hidupku, tanpa menoleh sedikitpun padamu. Selamat tinggal cinta. Selamat jalan kenangan. Jangan khawatir, aku tetap memohon do'a yang indah padamu. Berharap kau kembali seperti dahulu. Bukan untuk kembali kucintai, tapi kembali pada indah akhlak dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar