Bagaimana rasanya mendapatkan perlakuan baik dari orang-orang yang tidak kamu kenal? Menakjubkan. Menggelitik rasa lalu menghangat.
Terhitung sudah dua hari kami melakukan hal ini. Berewang. Apa itu? Kayak bahasa alien. Saya juga baru dengarnya pas sudah di sini. Itu semacam kegiatan kalau ada tetangga atau kenalan yang mau hajatan dan kita ikutan bantu bantu.
Karena saya identitasnya adalah pendatang baru yang baru hitungan bulan di sini, tak banyak orang yang saya kenal. Juga orang-orang yang ada di tempat rewang itu. Tapi ada hal unik yang terjadi dan saya suka takjub sendiri.
Seperti kemarin ketika saya baru datang dan disuruh mengambil sesuatu di belakang ada mamak mamak semacam mamak sayalah di kampung, beliau langsung merangkul saya sambil elus punggung saya dan bilang "Datang juga kasian." Lalu ibu ibu yang lain bertanya "Istrinya itu yah?" mereka menyebut nama suami kakak saya. Trus saya bilang "Bukan bah, aku ini adiknya" (see, saya sudah ketularan bahasa sini pake aku kamu segala 🙄🙄).
Terus mamak mamak yang merangkul saya bilang "Iyyah, ini loh adiknya si Nor kan" What? Mamak mamak ini kenal saya? Di mana coba? Perasaan gag pernah kemana-mana dan ada ini ibu. Lalu saya mengingat sebuah pengajian yang diikuti ibu-ibu majelis taklim yang mana di ruang yang disesaki ibu-ibu itu cuma ada kami bertiga yang gadis-gadis sampai saya dimarahin pematerinya waktu dia tanya "Ibu-ibu tahu tidak siapa istri Rosulullah yang hapal ribuan hadist?" saya yang gemesh karena gag ada yang jawab langsung jawab dengan lantang "Aisyah RA" Lalu pematerinya balik ke saya "Hus jangan dijawab, saya tanya ibu-ibu di sini" Mampus gue. Nah, maybe di situlah mamak mamak ini lihat saya dan kenal wajah saya. Bolla, pokoknya intinya mah, si mamak mamak ini masih saja merangkul dan bahkan peluk saya sambil usap-usap punggung. Seperti mengisaratkan kehadiran saya begitu berarti padahal kerjanya cuma makan doang. Lah, kok merasa dipeluk mamak sendiri sih?😣😣
Lalu, tadi siang ketika kami sedang mengiris-iris buah sukun untuk dijadikan gorengan dengan sok kerennya saya malah mengiris jari saya. Ketika hendak ke belakang membersihkan darah yang mengucur yang membuat saya heboh sambil berseru seru "Hmmm, berdarah nih, berdarah" cengeng beudh saya yah. Ada seorang ibu dengan sebuah botol yang saya curigai sebagai botol obat luka mencegah saya dan mengatakan "Diobati dulu lukanya" Hah? Saya malah melongo dan terbata-bata bilang "Saya bersihkan dulu bu darahnya". Dan si ibu ini yang memang dari kemarin suka mondar mandir rajin bener kerja apa aja tak saya sangka ketika melihat saya berdarah tadi langsung ke kamar mengambil obat luka dan menunggu saya selesai membersihkan darah saya dan mengolesinya dengan penuh kasih sayang. Kok, serasa diobati nenek sendiri sih? 😭😭 Tidak sampai di situ, setelah obat luka sudah mengenai luka yang padahal cuma seiprit itu, ada lagi ibu-ibu yang menawarkan plester luka yang entah bagaimana ada segantung di dalam tasnya. So, meski mulut saya gag berhenti mengunyah dan meminum sirup dengan begitu santai. Saya sebenarnya diam diam merasakan kehangatan merasa disayang. Mungkin karena jauh dari orang tua, dari keluarga membuat saya sesensitif ini dan baper luar biasa padahal hanya hal remeh temeh menurut pandangan orang lain.
Maka, di bumi manapun Allah selalu menempatkan orang-orang terkasihnya mencurahkan kasih sayang kepada kita. Yakinlah saja.
Saya jadi teringat sebuah film. Judulnya "Love Story". Sebenarnya film ini adalah kumpulan short movie dengan durasi 15-20 menit mengisahkan kisah kisah yang manis. Ada sekitar 5 film atau 6 kalau gag salah. Film Cina sih.
Dan saya tertarik dengan salah satu kisah tentang seorang wanita yang divonis kanker dan tinggal menunggu hari sampai ajal menjemputnya. Dia mempunyai seorang sahabat, laki-laki. Dia memiliki permintaan. Sebut saja kayak permintaan terakhirnya. Setting film ini di Amerika dan permintaan wanita ini adalah dia ingin sekali ke Chicago kalau saya gag salah ingat. Filmnya sekitar sebulanan yang lalu saya nonton sih.
Nah, dia meminta sahabatnya ini menemaninya. Kendalanya adalah pihak RS tidak mengizinkan mereka meninggalkan RS. Tapi wanita ini bersikeras. Dan apa yang mereka lakukan? Yaph, mereka kabur dari RS. Selain itu, agar bisa ke Chicago. Mereka harus memiliki semacam surat apa yah namanya tuh, bukan passport karena surat ini mereka harus meyakinkan pihak instansi kalau mereka adalah suami istri, begity. Ribet ey.
Singkat cerita, mereka akhirnya melakukan perjalanan panjang itu. Awalnya teman laki-lakinya ini tidak mau, secara kan kondisi wanitanya kapan saja bisa drop. Hal gila kemudian dilakukan si wanita. Dia ke toko senjata, membeli sebuah pistol. Buat apa coba? Buat menodongkan pistol itu ke temannya dan mengancam akan menembaknya jika tidak membawanya ke Chicago.
Akhirnya perjalanan panjang itu mereka lakukan. Dan selama perjalanan itu, si wanita yang agak sinting ini suka meminta hal-hal di luar nalar. Yah, kamu akan mencoba melakukan banyak hal jika kamu tahu bisa jadi besok kamu sudah tidak ada di dunia. Suatu hal yang menjadi pelecut semangat seandainya kita tahu bahwa besok adalah hari kematian kita. Dan wanita ini melakukan itu.
Ada anjing lucu di jalan dia mau memilikinya padahal itu punya orang. Untung saja laki-lakinya masih waras. Meski dia ketika singgah di sebuah pusat perbelanjaan diam-diam kembali ke tempat sang anjing dan mencoba membawanya tapi sayang rantai sang anjing terlalu sulit dibuka. Di akhir cerita mereka menemukan anjing yang sama persis. Dan itu diberikan cuma cuma oleh seorang kakek yang mengetahui kisah wanita yang divonis hidupnya tinggal menunggu hari.
Selama perjalanan, banyak hal yang terjadi. Kesulitan-kesulitan yang mereka lalui tidak terlalu berarti. Sebab selalu ada orang-orang baik yang menolong mereka. Membantu mengabulkan keinginan-keinginan konyol wanita ini hingga mereka sampai di Chicago dan di sanalah dia meregang nyawa. Ah, mereka sempat memasang tenda di sebuah puncak yang sangat indah. Itu adalah salah satu keinginan terakhir wanita itu. Dan kerennya, si laki-laki ini sangat sabar luar biasa memenuhi keinginan teman wanitanya. Juga orang-orang luar biasa baik yang seperti disiapkan Tuhan untuknya melewati hari-hari terakhirnya.
Karena kita adalah makhluk sosial. Di sini, makhluk-makhluk sosial itu bertebaran di mana-mana.
Di sini gag ada angkutan umumnya. Jadi kalau kemana-mana harus pakai kendaraan pribadi, dan banyakan di sini, kendaraan masyarakatnya adalah sepeda motor. Kalaupun ada yang bersifat umum itu adalah saudara-saudaranya tayo, bus bus yang mengangkut para pekerja ke tempat kerja, ke arah pertambangan. Dan juga angkot yang sifatnya carteran, itupun rutenya dari pelabuhan saja ke rumah penduduk.
Jadi, selama di sini kita kemana-mananya pake motor saja. Alhamdulillah sih sudah bisa bawa motor sendiri, jadi gag khawatir dibonceng siapa-siapa. Ups. Dannnnnn gays, Alhamdulillah ada motor kita satu-satunya. Tapi harus diengkol dulu, matic juga. Awalnya kami sangat kewalahan. Yah harus standar dua dulu kan. Itu butuh tenaga ekstra, biasanya saya dan kakak harus gotong royong. Aniwei, kakak ipar saya yang laki-laki tinggal di asrama tempat kerjanya, cuti tiga bulanan. Mau tak mau, di rumah hanya cewek-cewek saja. Bertiga sama Afifa, ponakan 4 tahun saya.
Nah. Pernah ketika saya sudah lumayan jago standar dua sendiri. Engkol sendiri. Saya dengan sangat pedenya ke sebuah tempat foto copy langganan. Pak Le dan Buk Le nya sudah hafal muka saya. Hari itu sudah sore, ketika saya sampai si Pak Le lagi asyik berkaraoke dengan layar laptopnya. Saya tidak tega menghancurkan keseruan si Pak Le dong. Jadi, saya menunggunya selesai atau sadar sendiri karena posisinya membelakangi saya sambil bertopang dagu di atas etalase sambil senyum saja.
Menyadari kehadiran saya yang menikmati suara sumbang Pak Le menghabiskan satu lagu, Pak Le kemudian berbalik sambil tersenyum lalu melayani kebutuhan saya.
Singkat cerita, pas mau pulang nih. Si Mio (motor matic) tidak mau menyala mesinnya meski sudah saya engkol berkali-kali. Tengok kiri kanan gag ada orang. Pak Le tidak ada di tempat. Kemungkinan masuk ke dalam. Lalu setelah peluh bercucuran. Ah, lebay. Si Pak Le akhirnya datang masih dengan senyumnya dan bilang "Tidak mau menyala yah, coba sini bapak lihat" Ah, kekuatan laki-laki memang suka bikin kita cengo. Masak cuma sekali engkol langsung menyala? Gila. Saya lalu mengucap banyak terimaksih dan berlalu ke sebuah dermaga menikmati senja di ufuk barat. Menyenangkan hati yang masih bertanya-tanya soal, kenapa si Mio gag mau bersahabat dengan saya. Mesin motor tidak saya matikan sampai senja betul betul hilang. Saya takut tidak bisa menyalakannya lagi.
Lain waktu, saya berangkat sendiri ke sebuah tempat. Pas pulang, si mio tidak mau menyala. Lalu, karena saya tidak melihat siapa siapa. Saya doronglah dia, saya kira bensinnya habis. Lah, tadi di rumah saja saya bisa kok engkol sendiri. Tiba-tiba muncul seorang bapak-bapak, bertanya itu si mio kenapa, saya jawab aja gag tahu (gag tahu kasih nyala 😆😆) dan si bapak periksa ini itu, engkol beberapa kali. Menyala. Alhamdulillah.
Dan beberapa kejadian kejadian bersama si mio yang luar biasa menguras tenaga orang orang yang tidak saya kenal. Orang-orang baik yang dikirim Allah.
Saya jadi teringat sebuah pesan Murobbi saya waktu masih kuliah. Dia bilang kurang lebih begini.
"Ibu saya di kampung itu suka sekali bantu orang. Ketika saya tanya kenapa, beliau bilang. 'Saya berharap bantuan saya ini berbalas kepada kamu di tanah rantau'. Maksud Ibu saya, ketika dia membantu orang lain. Dia ingin Allah membalas dengan memudahkan paling tidak mengirim orang baik juga untuk menolong saya di sini"
See, segala apa yang kita lakukan akan balik kepada kita. Saya yakin, segala pertolongan dari orang-orang baik ini adalah berkat doa mama di kampung, kebaikan mama di kampung. Karena kalau ukuran saya yang selfish, apatis, gag peka sama sekitar, jangan hitung, tanya aja pernah bantu orang lain gag? Jawabannya miris. Maka, tidak bisa diharapkan adanya balasan atas kebaikan dari diri pribadi yang nilainya nol bahkan minus.
So, gays banyak banyak berbuat baik yah. Ini pesan penting buat diri sendiri sih. Pesan garis keras. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukansetiap hari itu, pada akhirnya, di suatu kondisi, membuat kita bisa memecahkan celengan kebaikan yang kita tabung itu. Atau bisa jadi, orang-orang kesayangan kita yang memecahkannya. Untuk apa? Memudahkan urusan. InsyaaAllah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar