Memandang matamu dengan mata berkaca.
Hari demi hari seperti hadiah istimewa.
Lembar demi lembar kenangan berputar dengan begitu lambat.
Mata dan suaramu adalah surga yang sudah lama hilang.
Bisakah sekali saja aku menjadi egois?
Memiliki dengan utuh dan hanya aku.
Ketahuilah, pura-pura kuat bukan keahlianku.
Aku menampung jutaan tetes air mata di pipi.
Menjadi pengecut dan membuat-buat alasan.
Melarikan diri lalu tersandung di tengah jalan.
Kita memiliki cinta yang terluka.
Tapi tidak ada yang mau menyembuhkan.
Rindu tak tersampaikan membujuk kata "Apa kabar?" untuk menggantikannya.
Jika ada sebuah harapan yang kuat,
Aku ingin melihat senyummu sekali lagi.
Agar aku tahu bahwa kau baik-baik saja.
r.i.a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar