Selasa, 15 Januari 2019

Senja dan Hati yang Sepi

Allah tidak akan menghadirkan seseorang yang baru untukmu kecuali orang itu akan memperkenalkan sesuatu yang baru untukmu.

Memasuki sebuah perumahan tiba tiba saja hatiku merasakan sepi yang tidak asing. Sepi sepi yang berwarna sama yang pernah aku rasa ketika masih di Sulawesi. Ada sesak yang kembali hadir, ada kekosongan yang kembali menyeruak. Tempat ini memiliki aura magis. Aku harus pergi dari sini secepatnya.

Lihatlah, rumah rumah yang hanya berlantai satu itu tertutup rapat. Seperti tiada berpenghuni. Seorang anak kecil menyibak gorden, menatapku dari dalam rumahnya. Seakan berteriak "Tolong selamatkan aku, aku tidak ingin kesepian". Aku seolah sedang melihat potret diriku sendiri. Pernah, bahkan banyak kali berada di posisi itu.

Aku mengayun langkah, mencari tempat mana saja yang tidak sepi. Sungguh, Tuhan aku tidak suka sendirian. Di tengah sesak yang mulai hilang aku baru menyadari satu hal, di bawah kendali bawah sadarku, aku menginjak tempat ini lagi. Tempat yang menyembuhkan luka ketika pertama kali datang di pulau ini.

Aku memilih duduk di pinggir dermaga. Di pantai ini suasana selalu ramai. Aku lalu menghadapkan wajah pada matahari yang sebentar lagi meninggalkan bumi di balik cakrawala.

Silau mentari begitu kuat, aku tidak sanggup menatapnya lama-lama. Tapi aku ingin menikmati senja. Harus. Telapak tangan kugunakan untuk menghalau berkas cahaya masuk terlalu banyak ke retinaku, bisa-bisa aku buta nanti.

Tiba-tiba ada benda ringan mendarat di kepalaku. Aku mendongak, sosok itu datang. Selalu datang di waktu yang tidak kuinginkan.
"Kenapa ditatap kalau menyiksa?" suara bariton yang tidak asing.
"Angkasa? Kau?"
"Pakai saja." protesnya saat aku bermaksud membuka topi yang dia letakkan di pucuk kepalaku.

"Ah, mendung dan sepi yah?" dia lalu duduk beberapa jengkal dariku. Dia selalu mengerti dan paham banyak situasi.
"Hah?" Pertanyaan aneh, mana ada mendung ketika mentari sedang silau silaunya. Mana ada pantai yang sepi ketika sedang ramai ramainya. Orang aneh.
"Hati orang-orangnya yang sepi Ra." See, dia selalu bisa memahami banyak hal, bahkan memahami isi kepalaku.
"Mendung ada di hati gadis di sampingku" tambahnya lagi.
"Sok tahu" aku mencibir.

"Kenapa?" tanyanya lembut, seperti nada seorang ayah yang menanyakan masalah kepada putrinya yang sedang menangis.
"Hmm, rindu Sa"
"Pada?"
"Senja"
"Bukannya senja sedang ada di depan kita?"
"Senja ini beda, dia ada di puncak gunung, bukan di laut"
"Apa bedanya?"
"Bedalah Sa, seperti kalau kamu memilih makanan. Satu bakso, satunya mie ayam. Dua duanya beda. Kalau bakso urat sama bakso halus baru boleh bisa memilih karena bahan dasarnya sama."
"Loh, bukannya yang kamu rindukan itu senja, bahan dasarnya sama. Senja. Entah di puncak gunung atau laut. Sama saja."
"Kamu gak ngerti aku." sekali ini, Angkasa gagal paham. Aku merengut. Dia diam. Aku juga diam memandang matahari yang mulai meredup sedikit demi sedikit.

Lama berdiam, tiba tiba dia berdiri menyerahkan handphonenya, bersamaan bunyi notif dari handphoneku. Dia lalu melepas sepatunya.
"Mau ke mana?" tanyaku bingung
"Ketemu sama penduduk bumi yang lain. Yang hatinya tidak sepi."
"Hah?"
"Penduduk bikini Botom" Dasar aneh. Spongebob maksudnya?

BYUR..

Dia sudah melompat ke dalam air ketika kata kata protesku sudah berada di ujung lidah. Aku lalu merogoh saku mengambil handphone yang bunyi tadi. Siapa tahu penting.

"To Naura from Angkasa"
"Ih, norak." Cibirku sambil melihat riak air sisa lompatannya.
"Bukan soal di mana kamu menikmati senja, tapi dengan siapa kamu menikmatinya. Hidup kadang seperti itu, menyenangkan ketika bersama orang-orang tersayang. Aku paham maksud kamu. Sangat paham. Aku tidak tahu dengan siapa kamu menikmati senja di puncak gunung. Aku tidak tahu sebesar apa dia meninggalkan kesan di hatimu. Aku tidak tahu sebesar apa kesepian yang kau tanggung tanpa dirinya. Aku tidak tahu sebesar apa rindu yang sedang kau tabung untuknya setiap hari

Yang aku tahu Ra, hidup cuma sekali. Hidup harus kau nikmati meski tanpa dia atau mereka. Kau sudah memilih pergi dan datang di sini. Dan Tuhan terlalu baik mempertemukan aku denganmu di sini beberapa bulan yang lalu. Kamu mengajarkan banyak hal. Orang baru yang terasa tidak asing.

Ra, mulai sekarang, aku ingin menjadi orang yang menemanimu menikmati senja. Boleh kan? Juga, orang yang menikmati senyummu memandang senja setiap hari. Sampai kapan pun"

Aku menutup mulutku. Menahan nafasku. Tunggu, Angkasa? Orang menyebalkan yang suka mengganggu hari hariku, yang benar saja.

Kupandangi permukaan laut di depanku. Oh iyyah, aku baru sadar, laki-laki itu belum menampakkan diri sejak melompat tadi sampai aku selesai membaca pesan WA darinya. Waktu diam memandang senja tadi, aku tidak sadar ternyata dia menghabiskan waktu itu menulis kata-kata ini.

"Angkasa?" kupanggil namanya. Sepertinya dia sedang menikmati menyapa spongebob dan patrick. Ah, kok aku ikutan gila begini.
"Angkasa..!!" sekali lagi kupanggil dia. Tapi tidak muncul muncul juga. Jangan bilang, yaaAllah. Aku mulai panik. Jangan jangan dia. Tidak tidak. Aku terus memanggil namanya. Berkali kali, dan panik itu semakin menumpuk. Aku hampir saja melompat kalau tidak ingat kenyataan aku tidak bisa berenang.

"Nahhh.. Hahah haha" dia lalu muncul lengkap dengan wajah meledeknya. Aku hanya menatapnya dalam diam. Sungguh aku panik sekali tadi. Aku lupa bahwa aku harus marah. Dia masih tertawa bahkan keras sekali.
"Khawatir yah?" ledeknya, wajahnya sekarang penuh senyuman. Kok manis sih?
"GAKKKKK." dia malah tertawa melihat tingkahku. Aku memalingkan wajah yang sudah memerah. Kenapa selau begini kalau ketahuan bohong. Aku merutuki diri, malu rasanya.

"Tidak apa apa. Aku suka"
"Hah?"
"Aku suka kalau kamu khawatir begitu." tawanya sudah redah. Tega sekali dia mempermainkan aku tadi. Aku lupa bahwa dia anak pulau, mana mungkin tenggelam. Kerjaannya setiap hari memang menyelam kok.

Kami lalu kembali terdiam sambil menikmati detik detik matahari pergi. Benda bulat terang itu akhirnya benar benar tidak kelihatan. Menyisakan semburat orange di kaki langit sebelah barat.

Matahari seolah mengisyaratkan. Yang pergi belum tentu benar benar meninggalkan. Dia selalu ada. Hanya saja, dia berada di sisi yang lainnya. Dan sayangnya tidak bisa kita jangkau. Tapi dia ada, selalu ada, bahkan doa-doa tak pernah berhenti ia panjatkan. Mereka adalah orang-orang yang menyayangi kita tak berjeda.

r.i.a
Senja di Pulau Bunyu, 15 Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar