Seberapa tinggi level kekhawatiranmu ketika kamu mengetahui bahwa orang yang kamu sayangi sedang berjuang antara hidup dan mati di sebuah medan yang rentan mengambil nyawanya? Dari 1-10, pasti kamu akan memilih angka 10 paling banter 9,9.
Nah, seperti itulah yang dirasakan oleh Maria. Gadis pirang dengan wajah mempesona itu memasuki kantor sebuah Instansi penyelamat pantai di sebuah perairan di negara barat (Ah, saya lupa nama tempatnya, sory).
Dengan langkah tegap maria memasuki ruang kepala penyelamat pantai dan dengan suara yang dia tahan getarannya meminta kepada seseorang yang paling bertanggung jawab atas segala yang terjadi di laut lepas saat itu untuk menarik kembali perintahnya kepada 4 orang anggotanya yang sedang berjuang menaklukkan badai di tengah lautan.
Sore hari, ketika matahari sebentar lagi akan menenggelamkan dirinya di balik cakrawala. John Webber, Richie dan dua temannya yang sudah saya lupa nama, mereka adalah petugas penyelamat pantai. Semacam tim SAR kali yah tapi konsentrasi mereka di laut. Mereka ditugaskan untuk melakukan penyelamatan kepada awak kapal yang berjumlah kira-kira 30-40 orang di sebuah kapal cargo ukuran ribuan Ton. Kapal mereka dinyatakan sedang dalam amukan badai, mesin kapal mereka tidak berfungsi dengan baik dan tinggal menunggu waktu sampai mereka tenggelam di dasar laut yang dalam.
John Webber, dia adalah kekasih Maria, sebentar lagi mereka akan menikah. Maria tentu tidak ingin tunangannya itu mati sia-sia melawan amukan gelombang badai di tengah cuaca ekstrim. Hari itu salju turun dengan sangat lebat. Angin bertiup sangat kencang, terjadi pasang dengan tinggi ombak di dangkalan mencapai 5-10 meter.
Tapi jiwa kemanusiaan Webber dan kawan-kawan tidak patut dipertanyakan. Peristiwa naas itu terjadi pada tahun 1950 an. Jadi, jangan berhadap mereka memiliki kapal canggih dalam tugas penyelamatan ini. Mereka mengendarai speed boat kapasitas 12 orang.
Webberlah yang ditunjuk sebagai kapten dalam misi ini. Richie mengawasi mesin, dua teman yang lain berada di haluan kapal mengecek dan mengontrol lampu sorot.
Tibalah mereka di dangkalan yang berombak tinggi. Berkali kali kapal mereka terhempas ombak. Webber yang ahli mengendalikan kemudi tidak kehilangan fokus. Mencoba lagi dan lagi sampai akhirnya mereka melewati ombak yang menggulung. Namun sayang, kompas mereka terlepas terbawa arus gelombang.
Teman-teman Webber merasa ragu sesaat. Bagaimana mereka menemukan lokasi para awak tanpa kompas? Tapi keragu-raguan itu hilang. Mereka menyerahkan semuanya kepada Webber. Mereka menaruh percaya kepada Webber.
Lama waktu berjalan. Sementara kapal Cargo yang setengah mati mempertahankan daya apung yang masih tersisa. Juga telah menghidupkan mesin cadangan manual yang saya tidak pahami cara penggunaanya meski saya anak kapal. Mungkin karena kapal buatan jaman lampau. Beruntung sebelum mesin mati total karena pompa yang sudah terendam air, telah sampai di dangkalan. Mesin mati, instalasi mati, lampu padam menyisakan kekalutan dan ketakutan.
Dalam keheningan malam, air hujan yang membasahi tubuh, dingin menyelimuti, cuaca minus derajat, di daratan salju telah menggunung. Sedangkan Webber dan kawan kawan terluntang lantung di tengah laut. Teman temannya sudah menggelengkan kepala tapi keajaiban selalu datang pada yang tidak pernah menyerah. Sayup sayup terdengar suara kapal bergesekan dengan dasar laut di dangkalan. Webber menyuruh temannya menghidupkan lampu sorot dan terbentanglah kapal raksasa di depan mereka.
Satu, dua detik tidak ada tanda tanda kehidupan. Lalu, seseorang mambalas lampu sorot mereka dengan penerangan seadanya di main dek. Awak kapal yang masih bertahan bersorak sorai melihat kedatangan Webber dan kawan-kawan. Namun masalah muncul. Awak kapal berjumlah 35 orang, speed mereka berkapasitas 12 orang. Maksimal 22 orang. Tapi Webber sekali lagi meyakinkan teman-temannya bahwa mereka bisa membawa 35 orang itu ke daratan dengan selamat.
Maka turunlah satu-satu awak kapal itu menuruni tangga darurat. Masih dengan perjuangan, ada yang langsung membentur speed karena jarak ujung tangga dengan speed masih jauh. Dan di tengah evakuasi seorang awak terjatuh, terlempar mengenai badan kapal. Ah, cargo saat itu dalam keadaan tidak terkendali, ombak yang datang menghantam membuatnya bergerak mengikuti arus.
Singkat cerita, satu orang awak yang terbentur tadi tidak bisa diselamatkan menyisakan 34 orang yang sudah duduk di atas kapal tim penyelamat pantai. Selanjutnya mereka harus memikirkan cara untuk sampai di daratan. Hal itu akan mudah saja bagi Webber jika dia memilki kompas di speednya. Maka satu-satunya cara adalah mengikuti insting dan sebisa mungkin melihat pencahayaan dari arah daratan dan mengikutinya.
Perlahan kapal Cargo yang sudah tidak berpenumpang itu terbalik, buritan kapallah yang terakhir tenggelam sebelum kapal terbawa arus ke laut lepas yang dalam.
Sayangnya dalam melakukan penyelamatan menggunakan insting dan mengikuti pencahayaan kota, di daratan malah mengalami pemadaman listrik, sepertinya ada kendala saat terjadi badai. Webber menghubungi pusat komando dan melaporkan bahwa dia telah mengevakuasi 34 awak cargo. Pusat komando yang juga telah dipenuhi warga yang ingin mengetahui perkembangan proses evakuasi menyuruh mereka mencari salah satu kapal yang menurut informasi sedang berada di dekat mereka yang sayangnya berada di lauatan lepas lebih dalam.
Webber tidak mau mengambil resiko membawa mereka ke tengah-tengah laut sekali lagi. Maka, dia mengikuti instingnya. Melajukan speed boatnya mengikuti arus. Sedangkan Maria yang dari tadi mengikuti perkembangan di pusat komando mengikuti orang-orang yang melajukan mobil mereka ke dermaga, menunggu di sana. Mereka yakin sepenuh hati bahwa mereka, Webber dan kawan-kawan akan kembali dengan selamat. Sesampainya di dermaga, puluhan mobil khas tahun 50 an serempak pengemudinya menyalakan lampu mobil mereka mengarah ke lautan lepas.
Webber dan kawan-kawan beserta awak kapal 34 orang akhirnya melihat setitik cahaya dan mengikuti cahaya itu yang adalah lampu mobil orang-orang di dermaga.
4 orang penyelamat pantai saat itu mendapat penghargaan dari negara. Kisah mereka akhirnya diabadikan dalam sebuah film berjudul "The Finest Hours"
John Webber akhirnya menikah dengan Maria, melahirkan anak-anak yang lucu. Webber masih melakukan pekerjaan kemanusiaannya sampai pensiun dan menutup usia pada tahun 2009. Foto-foto mereka ditampilkam di akhir film.
Yaph, itu adalah review film based on true story yang saya tonton sekitar setahun yang lalu. Ah, sok banget sayah padahal baru seminggu yang lalu. Kan tetap saja 28 Desember 2018 itu setahun yang lalu. Yah yah yah.
Kledioskop 2018 adalah tahun penuh duka di negara kita. Kapal yang karam di Selayar merenggut puluhan nyawa. Saya masih ingat, saya menangis sedih sekali melihat foto seorang bayi yang ditemukan setelah semalaman terombang ambing di tengah lautan bersama pelampung yang dipasangkan oleh orang tuanya. Bagaimana nasibnya sekarang yah. Sudah agak besar kayaknya.
Lalu, gemba di lombok. Ribuan rumah rata dengan tanah, lalu ditambah kebakaran, penjarahan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan mengingat Lombok adalah destinasi wisata yang sangat ingin saya kunjungi. Seorang kawan yang siap menampung jika saya ingin kesana saat ini masih berada di tempat pengungsian.
Tidak sampai di situ, gempa-gempa kecil masih terjadi dan puncaknya Palu, Donggala mengalami peristiwa paling dahsyat sepanjang sejarah. Tsunami, gempa, likuifaksi. Siapa yang mengira bahwa akan ada bencana sekompleks itu.
Belum genap sebulan Lion Air JT 610 jatuh. Tidak ada penumpang yang selamat beserta para kru pesawat.
Lalu, kita menutup tahun dengan bencana Tsunami Lampung dan Banten. Kakak saya sampai menangis melihat band Seventeen berduka dan artis lainnya.
Belum selesai orang-orang yang tak berempati meniup terompet mereka, menyalakan kembang api, membunyikan petasan. Longsor terjadi, menimbun puluhan rumah.
AllhuAkbar. Kita kembali kepadaNya. Segala apapun pasti akan kembali kepadaNya. Innalillahi wa innailaihi roji'un.
Tahun 2018 adalah tahun dimana BNPB dan para relawan memiliki pekerjaan yang sangat banyak. Berapa dari mereka yang tinggal jauh dari keluarga. Bahkan saya melihat beberapa teman di medsos, kerjaan mereka pindah dari satu lokasi bencana ke lokasi bencana yang lain. Pulang ke rumah hanya sekadar memastikan kalau orang di rumah baik-baik saja. Tapi, bagaimana perasaan orang yang ada di rumah mengetahui orang yang mereka sayangi berada di medan yang tidak menjanjikan mereka bertemu kembali esok hari?
Maka, pekerjaan termulia dari sekian banyak pekerjaan adalah pekerjaan kemanusiaan ini. Saya mengangkat topi untuk mereka semua. Terimaksih sudah ada untuk Indonesia. Terimakasih. Semoga Allah membalas dan melindungi kalian semua.
Saya kira, bukan hanya Webber dan 3 kawannya yang berhak mendapat penghargaan. Tapi seluruh pekerja kemanusiaan di manapun berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar