Kamis, 17 Januari 2019

Museum 1 Januari 2019

Seistimewah apa hari kita di tanggal 1 Januari 2019 yang telah lewat ini? Tidak ada kecuali bahwa sama saja dengan hari-hari yang lalu bukan? Tidak ada kecuali bahwa buku-buku resolusi telah diterbitkan dan tinggal membukanya setiap waktu untuk menjadi panduan melewati hari-hari yang tersisa.

Semalam adalah pertama kalinya menjadi malam pergantian tahun saya dengan telinga yang aman dari hal-hal yang memekakkan. Anggap sajalah saya sedang camping di tengah hutan dengan bunyi jangkrik dan binatang malam sebagai backsound tidur saya. Oke, itu agak lebay. Pada kenyataannya memang tidak ada bunyi petasan, yang ada, tepat 00.00 suara sirine panjang yang gak panjang-panjang amat berbunyi sekali, suara yang sama ketika waktu sholat tiba lalu diikuti merdunya adzan. Macam alarmlah pak cik.

Lalu, apa yang menarik hari ini kawan-kawan? Tidak ada. Bagi saya, sama saja. Setelah kurang lebih 10 menit saat bangun bersama matahari, saya berada di atas sebaskom cucian yang penuh busa, lalu meninggalkannya 10 menit dan kembali dengan sebuah ceramah di youtube dengan durasi 1 jam 30 menit yang menemani saya mengucek dan membilas pakaian yang saya tabung selama seminggu.

Rencananya setelah cucian kelar, saya akan bersih-bersih lalu meminta seseorang menjemput saya untuk bergabung bersama puluhan orang di sebuah pantai lalu menikmati acara jalan santai dan pembagian hadiah melalui undian kupon, tapi tidak saya lakukan. Padahal saya sudah siap bermain dengan air laut dan pasir pantai, sekali lagi, tidak saya lakukan. Why? Saya sudah dalam keadaan lazy banget buat berurusan dengan pakaian kotor, apalagi pakaian sehabis berenang di pantai. No, no, no. Akan banyak pasir dan teman temannya yang akan saya bawa pulang.

Lalu, apa yang saya lakukan? Just at home. Alone. Ngapain? Nonton. Ketahuan banget kekurang kerjaan saya yah. Dari sesiang tadi sampai pukul 23.30 saya setia banget mengikuti petualangan si Steve Rogers dan kawan-kawan. Yuph para avenger. Nah, sekurang kerjaan apa lagi coba saya? Dari perjuangan mereka menyelamatkan kota skot(apa yah? lupa sambungannya hehe), lalu kisah Quill, groot, gamora dan kawan kawan melintasi angkasa raya dengan pesawat luar angkasanya. Lanjut "Thor Rognarok" gays, di film ini saya jatuh cinta sama si Thor. Kenapa? Karena ketika dia berada di planet aneh yang bernama sakaar, ada seorang kakek kakek yang memotong rambut si Thor bikin dia handsome berkali kali lipat. Ups.

Tidak sampai di situ, saya lupa tadi ada "Avenger Civil War" gak yah? Itu loh yang di kapten amerikanya berantem sama Tony Stark, Iron Man. Paling gag suka bagian ini. Terus lanjut perjuangan si Raja dari negeri primitif yang punya peradaban canggih pake banget. Errrghh gimana pula itu yah, primitif tapi canggih? Siapa lagi kalau bukan Black Panther. Itu pokoknya mah yang bikin heboh banget kalau sudah bilang "Wakanda Forever" sambil silangkan tangan terkepal di depan dada. Cool. Dan terakhir "Avenger Infinity War". Kamu bakalan tahu kesedihan saya di part ini kalau kamu sangat menyukai si lincah Peter Parker, anak remaja yang masih sekolah dan loncat sana sini pake benang di lengannya. Masak iyyah si spiderman ini harus mati, eh lebih tepatnya menghilang sampai gag ada debu-debunya di tangan si Thanos muka jelek itu.

Well, ketahuan banget model film yang digandrungin itu yang model gimana. Yah, meski sudah nonton berkali kali, gag ada bosan bosannya. Dan jangan tanya siapa hero kesukaan saya. Karena jawabannya. SEMUA.

Tapi kalau maksa dan punya pertanyaan yang sama kayak pertanyaan kakak saya kemarin itu "Siapa paling kamu suka" saya akan diam lama dan bilang "semua" lalu kalau kamu maksa "Pilin satu". YaaAllah, jangan bikin dilema kayak nanya saya lebih suka ayam goreng atau ayam kecap, karena dua duanya enak. Tapi kalau maksa lagi sih. Maybe akan pilih si Thor, karena itu tadi, dia abis cukuran. Soalnya di kamus saya, seberantakan bagaimanapun laki laki gondrong, akan kelihatan keceh badai kalau sudah cukuran. Bukan itu saja sih alasannya. Masak iyyah cuma gara gara cukuran jadi suka. Itu salah satunya. Salah duanya, cuma dia yang bikin Thanos terluka, luka besar di dadanya dengan kapaknya yang sayang banget gag bikin si Thanos mati, kayak yang Thanos bilang "Kenapa tidak di kepala" maksudnya salah sasaran si Thor target dada bukan kepala. Lalu masih ada salah tiganya, apa? Hmm Thor itu maco maco gitu, punya badan gede tapi lucu, kenapa lucu? Ntahlah, kalau nonton Thor Ragnarok, kamu akan mengerti ketika Thor lawan Hulk di arena tanding waktu mereka di sakaar. Mampus dah, padahal bukan begini tadi yang mau saya tulis. Malah ngomongin avenger segala macam. Helowww..

Intinya sih, mau hari ini tahun baru atau tahun lama. Sama aja mah. Tinggal dinikmatin saja. Gag perlu repot bakar bakaran apalagi bakar uang. Hiuhhhh, udah primitif itu mah. Wakanda aja gag pake bakar bakaran kok. Yah, cuma tembak tembakan lalu bakar-bakar alien muka jeleknya pasukannya si Thanos.

Tulisan kali ini unfaedah banget coba. Saya cuma mau memuseumkan hal gag guna yang saya lakukan di tanggal 1 januari 2019 ini.

Tulisan berfaedahnya mungkin lanjut besok. Beginilah kalau ngantuk yah, lain di kepala lain juga yang ditulis. Salahkan jempol, salahkan jempol. Sekali lagi, salahkan jempol yang terlalu banyak nyawanya ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar