Siapa yang tidak ingin waktu hidupnya di dunia ini panjang kayak rel kereta yang gak ada habis habisnya? Semua pasti mau. Apalagi yang memiliki ambisi luar biasa dalam hidupnya.
Waktu umur status kuliah saya baru menginjak setahun. Seorang kawan mengajak menonton sebuah film. Judulnya "In Time". Saya jadi mengingat momen ketika betapa takjubnya saya melihat sebuah dunia yang sehari-hari manusianya tidak pakai uang untuk memenuhi kehidupannya. Tapi pakai umur yang mereka miliki.
Misalnya mau naik bus. Dia bayar pakai umurnya 2 hari. Jadi berkuranglah umur dia dua hari dari misalnya sisa umurnya sebulan. Ah, mereka bisa melihat sisa umur mereka di sebuah jam digital yang terukir langsung di lengan mereka. Cara transfer umur mereka ini dengan menggunakan lengan bawah tangan yang satunya. Mereka bisa saling mentransfer satu sama lain. Caranya, yang mentransfer lengannya di bawah, yang menerima transferan lengannya di atas. Kayak bagi-bagi duit, tapi pakai umur. Ngeri deh.
Ada semacam alat sebut saja chip waktu yang dipasang di berbagai lini kehidupan. Fasilitas umum yang biasanya kita pakai uang untuk bayarnya. Mereka bayarnya pakai umur yang ada di lengan mereka itu. Jadi kelihatan banget yang orang kaya itu jam digital di lengannya menunjukkan angka yang fantastis. Ada yang seabad, ada yang sedekade. Tapi ada juga yang miskin, mereka yang punya sisa umur di lengannya hanya hitungan hari. Jadi setiap hari mereka harus bekerja, biar bisa diupah di sore harinya dengan umur sehari atau dua hari.
Mereka baru bisa menggunakan umur ini saat usia mereka sudah 25 tahun. Sebab dari bayi mereka sudah dibekali umur 25 tahun. Kayak semacam limited time. Ketika 25 tahun itu, jika tidak ada yang mentransfer waktu ke lengannya, dia akan mati. Tapi jika ada transferan dari keluarga, teman atau siapa saja. Mereka bisa bertahan hidup. Dan wajah mereka di usia 25 tahun itu adalah wajah yang akan menjadi wajah yang dibawa sampai mati. Gak ada yang tua, meski usianya ada yang sudah seabad, 100 tahun men.
Di dunia waktu ini, dibagi berbagi zona waktu. Sesuai jumlah "umur" mereka di lengan. Yang punya umur pendek, biasanya ada di zona waktu rendah. Daerah Ghetto namanya, diisi manusia manusia miskinlah istilahnya. Semakin masuk ke zona waktu yang tinggi, strata kehidupan juga naik. Untuk pindah ke zona waktu yang lebih tinggi, mereka melewati pos seperti di jalan tol, bayarnya pake umur, semakin tinggi level zonanya semakin mahal bayarannya. Misal di zona waktu 1, dibayar satu bulan, di zona dua dibayar 3 bulan dst.
Lalu zona waktu level tertinggi ada di daerah Greenwich. Beda sekali dengan Ghetto yang kumuh. Greenwich semacam daerah perkotaan, mobil mobil mewah, rumah mewah, hotel dan segala fasilitas hidup lengkap sekali. Orang-orang yang hidup di sini memiliki jumlah waktu di jam digitalnya ada yang sampai seratus tahun, bahkan ada yang menyimpan chip waktunya di brankas dengan jumlah fantastis, ada yang sampai satu juta tahun. Gimanalah rasanya hidup selama satu juta tahun yah. Seratus tahun saja kayaknya ada yang capek menjalaninya. Hew.
Seperti suatu malam. Will Sallas (toko utama di film ini) menemukan seorang lelaki di bar, di daerah Ghetto. Laki-laki ini memiliki jam digital satu abad di lengannya. Dia mentraktir semua orang minum di bar itu memakai waktu satu abadnya. Will lalu menasihati laki-laki ini. Di daerah ghetto terkenal dengan kriminalitas yang tinggi. Hidup orang kayak laki-laki "kaya" ini akan berada dalam bahaya kalau tetap tinggal di sana.
Belum selesai peringatan Will. Beberapa orang laki-laki mendatangi lelaki seabad ini. Mereka adalah geng "minute time" mereka kerjanya merebut umur orang lain. Mereka bersenjata dan suka seenaknya. Bar langsung kacau. Orang orang berlarian. Kecuali laki-laki seabad ini. Will Sallas yang kasihan akhirnya menolongnya, membawanya ke sebuah gedung. Di gedung yang aman itu, lelaki itu memberikan semua umurnya yang seratus tahun itu kepada Will. Kenapa? Karena umurnya saat ini sudah 105 tahun dan dia sudah lelah menjalani hari harinya. Sepertinya memang dia dari greenwich ke ghetto dalam rangka bunuh diri. Gila bener.
Jadilah Will, yang usianya saat itu tinggal beberapa jam menjadi satu abad tahun.
Melihat ada kejadian janggal, "time keeper" semacam polisilah, mengejar Will yang dicurigai mencuri waktu laki-laki seabad itu tadi.
Terjadilah kejar kejaran. Will akhirnya ke Greenwich. Membeli mobil keceh dan mendatangi tempat perjudian semacam kasino. Tentu orang mempertaruhkan "hidup" mereka di sini memakai sisa umur mereka yang fantastis elastis atlantis ini. Will yang sudah berpengalaman survive dengan sisa umur sehari dua hari itu, mudah saja melewati hidupnya di sini. Walau terkesan buru-buru.
Intinya, di greenwich ini dia mau menabung waktu banyak-banyak agar bisa kembali ke ghetto dan membagi-bagikannya kepada orang-orang "tidak mampu".
Di "In Time" ini ada bank yang isinya chip chip waktu. Akhir dari film ini (spoiler, sory). Will dan seorang wanita dari kalangan atas yang bosan dengan hidup yang mewah, dengan pengawal kiri kanan menjaga lengannya. Mereka berdua menjadi perampok bank waktu. Yang mereka bagi-bagikan kepada semua orang. Bahkan mereka merampok chip ayah dari wanita ini di sebuah brankas. Isinya satu juta tahun. Genap yah dibagi-bagikan kepada banyak orang. Ah, kenapa wanita ini merampok ayahnya sendiri? Karena dia mau membalas ayahnya yang mengurungnya selama ini. Dia tipe wanita yang tidak mau diatur, dikurung dan semacamnyalah. Dia mau melakukan hal-hal gila di luar sana. Dan berhasil melewati hari-hari dengan jam lengan yang hanya berisi beberapa hari saja.
Akhirnya orang-orang di ghetto, yang ada di zona waktu 1, 2, 3 dst. Memiliki waktu yang banyak di lengannya, bertahun tahun. Karena merasa sudah memiliki "Quality Time" mereka berbondong-bondong pindah ke Greenwich.
Wah, kalau dibayangkan kita hidup di dunia kayak gitu. Kayak gimana yah? Setiap hari kita melihat lengan kita, menghitung berapa hari, minggu, bulan lagi kita hidup. Berapa tahun lagi waktu yang dikasih untuk menikmati hidup. Kalau sakit, kita bayar pakai sisa umur. Beli secangkir kopi, kita pakai 2 hari umur kita untuk membayarnya. Kalau di lengan kita tinggal seminggu, beli kopi harga 2 hari, sisa hari kita tinggal 5 hari. Wah. Betapa tidak serunya hidup kita. Setiap hari penuh bayang-bayang kematian.
Berbeda lagi kalau kita punya ratusan, bahkan jutaan waktu di lengan kita. Jangan pikir bahwa kita bebas kemana-mana. Beli ini itu. Yang ada, kita dibuntuti penjahat di mana-mana. Butuh pengawal yang banyak. Jika hidup tidak baik-baik saja, tidak bahagia, betapa bosannya menjalani hidup yang itu-itu saja, mau mati juga tidak bisa karena 'belum waktunya'.
Ternyata, sesuatu yang pasti itu juga kadang tidak baik. Itulah mungkin hikmahnya Tuhan kasih kita waktu hidup di dunia gak pasti kapan habisnya. Sifatnya misteri. Ajal yang tidak kita tahu kapan datangnya itu membuat kita kadang have fun saja menjalani hidup. Enjoy aja, kalau sudah makan, bisa kemana-mana, bisa ini itu, tidak pusing mikirin sisa umur karena kita gak tahu kapan matinya.
Poin lain bahwa, kita harus menghargai waktu yang Allah kasih. Gunakan sebaik mungkin. Jadikan sebagai "Quality Time" kita setiap waktu. Melakukan hal positif, produktif, bermanfaat (ini tamparan keras buat saya sih). Kalau waktu adalah uang. Maka tiap detik demi detik itu lebih berharga dari apapun.
Maafkan saya yang menyimpulkan tidak keren. Setiap orang bisa mengambil ibroh dari banyak hal. Kalau nonton film juga diambil ibrohnya yah. Janga cuma hapal nama pemainnya. #ehhh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar