Apa akhir dari sebuah perpisahan? Eh, bukannya perpisahan itu sendiri adalah akhir dari semua?
Di padang rumput yang luas, seorang wanita menjinjing sebuah tas besar. Dia melewati bunga dandelion yang tumbuh memenuhi padang rumput. Serbuk putih dari dandelion beterbangan mengikuti tiupan angin.
Sebuah sore berubah warna menjadi tidak bahagia ketika wanita itu tiba-tiba menolehkan wajah, menatap untuk terakhir kali sebuah rumah yang memberinya banyak kesan dan kenangan. Air matanya jatuh begitu deras lalu terbang bersama dandelion ke udara. Menguap bersama berbagai harapan.
"Perpisahan membawa kita pada sebuah pertemuan yang baru" ucap seorang lelaki di sebuah kereta.
"Aku baru sadar, perpisahan itu bukan akhir, dia adalah awal dari segala." balas wanita itu sendu
"Kau akan menemukan yang lebih baik, di ujung dunia selalu ada hal menarik yang bisa dilakukan."
Kereta bergerak, dandelion masih beterbangan. Air mata tidak lagi menderas.
Iyyah, akhir dari perpisahan adalah pertemuan yang baru. Pasti ada air mata yang mengiringi sebuah kepergian. Tapi selalu ada senyum menerima pertemuan-pertemuan baru.
Merantaulah kata Imam asy Syafi'i dalam sya'irnya
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).
Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.
Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)
Sumber sya'ir: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39
Tidak ada komentar:
Posting Komentar