Senin, 05 Desember 2016

Biarkan Saja

Biarkan saja ia...
Mungkin sedang menguatkan diri pada tiap kemungkinan.
Biarkan saja ia...
Mungkin sedang mengumpulkan keyakinan, enggan banyak bertanya.
Biarkan saja ia...
Mungkin sedang menunggu dan mencipta kesempatan pada paripurna sebuah bahagia.

Menemukan ALLAH

"Orang yg sudah menemukan ALLAH, dia sdh menemukan segala-galanya. Tapi jika dia kehilangan ALLAH, maka dia telah kehilangan semuanya".
Begitupun dengan pasangan, jika saat ini belum ada pasangan tapi dia tetap menemukan ALLAH maka dia tdk akan lemah, dia telah memiliki segalanya, dlm kesendirian krn dia hanya berharap/bersandarnya pada ALLAH.
Tapi jika dia tidak menemukan ALLAH dikehidupannya, walaupun dia punya pasangan tapi tidak bersama ALLAH maka dia telah kehilangan segala-galanya.
__Ustadz Bachtiar Nashir

Hari itu, tanggal 2 bulan 12 tahun 2016

Hari itu, tanggal 2 tahun bulan 12 2016, banyak gerimis di hati umat Muslim..
Hari itu, tanggal 2 tahun bulan 12 2016, banyak gemuruh di dada umat Muslim..
Hari itu, tanggal 2 tahun bulan 12 2016, banyak cinta berpadu keikhlasan di relung terdalam umat Muslim..
Hari itu, tanggal 2 tahun bulan 12 2016, banyak kalimat penuh kerendahan hati mengetuk pintu langit di bibir umat Muslim..
Hari itu, tanggal 2 tahun bulan 12 2016, banyak keindahan ukhuwah bertebaran di seantero Nusantara di tiap kisah umat Muslim..
Hari itu, tanggal 2 tahun bulan 12 2016, banyak getar penuh perjuangan memilih 2 kemungkinan, hidup mulia atau mati syahid di dada umat Muslim..
Dan aku,,aku begitu takjub,,aku hanya sebuah buih yang mencoba mengikuti arus semangat perjuangan itu..
Dan aku,,aku begitu yakin,,dengan gelombang cinta ini,,Allah akan membalasnya. Bukankah, bahkan Allah tak butuh apa-apa untuk sekedar mencintai hambaNya??
Pada pundak para Ulama,,sungguh kutitipkan nawa cita perjuangan yang belum berakhir ini. Do'a takzim pada mereka selalu dikuatkan tapak-tapak kaki untuk memerangi musuh Allah..
Sekali lagi aku hanya sebuah buih...

Sabtu, 03 Desember 2016

Si Bontot Ultah

Tanggal 2 bulan 12,,hari yang menyejarah.. Tapi bukan tentang aksi damai yang akan kutuliskan,,sudah banyak yang lebih ahli menuliskannya. MaasyaAllah, bergetar hebat menyaksikan, membaca dan melihat foto-foto para mujahid dan mujahidah..
Tanggal 2 bulan 12,,hari lahir seorang anak gadis remaja yang seminggu lalu tepatnya saat aku menelpon ke rumah dia segera merebut hape mama dan langsung menodong
"Mana kadoku?".
"Kado apa?"
"Ultah" sedikit merajuk malu-malu
"Emang kapan?" pura-pura lupa
"Tanggal 2, pas aksi damai bela Islam" jawabnya meyakinkan
"Tawwa,,berarti sama dong, kita ultah di hari pas aksi damai"
"Iyo dih, ultahmu tanggal 4 11 kemarin"
Dan akhirnya dia minta jatah kadonya, gaji saya yang saya tawar 10rb saja dan dia merajuk gag apa-apa 10rb asal dikali 1000 wkwkwk..
Oh,,adikku sayang RisKa Afifah...Kau sudah besar ternyata. Udah belasan tahun, gag terasa yah. Padahal aku ingat dulu, sebelum kau lahir, saat kutau dari tante kalau mama sedang mengandungmu. Aku hampir tiap hari mengabarkan dengan riang gembira kepada teman-temanku di sekolah, SD. Bahwa aku akan segera punya adik padahal usiaku saat itu sudah belasan juga. Mungkin mereka akan lupa pernah kuceritakan perasaan senangku, tapi aku tidak dek. Dan kebahagiaan itu akhirnya pecah setelah saat subuh hari di bulan Ramadhon kami-aku dan kakak-kakakmu yang lain-masih tidur dan terbangun saat mendengar suara tangismu. Mama memang hebat, hampir selalu melahirkan di rumah dengan bantuan nenek dan tetangga. Maka, kami entah mengapa yang sudah terjaga, malu-malu turun dari tempat tidur, malu-malu melihat rupamu bagaimana, hanya saling memandang, bersuarapun tidak hingga nenek membangunkan kami yang sebenarnya sudah terbangun.
Dan kau akhirnya menjadi mainan baru dalam rumah, disayang, direbutin untuk digendong, direbutin dicium, direbutin ditemani main, ditemani bobo, diayun dalam buaian, digantiin celana, baju, dipakaikan topi, hiasan lain-lain untuk bayi perempuan. Kau hadir melengkapi kebahagiaan dalam rumah sederhana kita. Dan tak terasa kau mulai merangkak, hingga bisa berdiri dan akhirnya bisa berjalan. Kau semakin lucu seiring kau bisa bicara walau masih patah-patah, pipi cubby mu selalu jadi rebutan untuk dicium dan dicubit. Kenakalanmu menghiasi keramaian dalam rumah, walau ketika kau menangis suaramu entah mengapa sangat kencang, hampir-hampir satu kampung orang mendengarnya.
Waktu memang seperti anak panah yang melesat, sangat cepat. Kau akhirnya masuk TK, kau sangat membanggakan mama papa. Otakmu mulai kelihatan keren. Itu terlihat saat kau ikut lomba senam TK se kecamatan pada 17 agustusan. Kau tiap hari bahkan mengajariku mengikuti irama senam yang terlihat centil, khas anak TK. Dan saat di arena lomba, ku dengar sayup-sayup para ibu-ibu menunjuk-nunjuk dan mengatakan, kalau irama dan gerakanmu pas, nggak sama dengan anak-anak yang lain yang acak-acakan. Aku berdiri di situ sedikit kagum dan bangga padamu.
Ternyata otak kerenmu sampai di bangku SD, kau selalu rangking 1. Kecuali saat ujian datang sebagai peringatan padamu, kau jatuh di rangking 4 saya lupa kelas berapa, itu akibat keseringan main game. Kau nangis, itu cerita mama, sebab aku sudah di tanah rantau menjadi seorang Mahasiswa. Aku yang menelponmu berusaha membesarkan hatimu, masih ingat? Aku bilang, gag mesti rangking 1 buat sukses kan? Tapi sekali lagi buat mama sama papa bangga dong. Maka, sejak itu kau berusaha mengurangi main-mainmu dan belajar giat lagi. Terbukti kau lulus SD dengan menduduki peringkat pertama.
Dan sekali lagi waktu begitu cepat berlalu, kau masuk SMP. Aku ingat,saat aku balik kampung kau tiba-tiba berubah. Kau sudah tidak mau saya peluk dan cium. Kau mulai masuk pubertas ternyata, mulai malu-malu. Sangat berbeda waktu masih di bangku SD, setiap aku balik kau selalu peluk, dan tetap membiarkan aku mencium pipi cubbymu. Ah, dan itu menjadi senjata baruku. Sebagai ancaman jika kau tidak menurut. "Nggak mau pergi nggak, nanti saya cium" Dan kau mengalah, lebih memilih bersegera dibanding aku cium. Padahal pipimu itu masih cubby walau tak secubby dulu, selalu menggoda untuk dicium. Walau pada akhirnya aku sampai sekarang masih sering berhasil mencium pipimu yang akhirnya kau lap kasar, sebagai bentuk kejengkelan sudah kucium, haha
Hmmm,,kau betul-betul sudah masuk usia remaja, maka setiap saya pulang kau pasti akan bosan mendengar ceramahku tentang bahwa kau sudah wajib sholat loh, sudah wajib berhijab loh. Kau sudah bosan saya suruh menghapal Al-Qur'an, bahkan kau hampir suka menolak menjawab telponku, kata mama, kau malas diceramahi. Alamak.. Tapi, sepertinya kau memang hanya cuek dengan semua. Aku tahu kita sama-sama bergolongan darah B yang cueknya minta ampun. Dan kemarin pas mau Romadhon, mungkin karena terbujuk rayuan gombal kami--aku dan 2 kakak kembar--kau tiba-tiba berbisik untuk ditemani pasar beli jilbab. Tapi aku berharap itu karena hidayah dari Allah. Akhirnya kau membeli jilbab mungil bersama bunda Fifa, sebab you knowlah, aku tak ahli dalam hal itu,hehe. Dan di hari pertama bulan Romadhon, kau pakai jilbab mungil itu. Aku menahan diri untuk tak membullymu, padahal aku sangat ingin menggodamu waktu itu, sekedar bilang "cie cie makin cantik pake jilbabnya" tapi urung. Dan hari-hari berikutnya, aku tak membullymu tapi betul-betul jujur mengatakannya "Cantik ternyata pake jilbab" dan kau hanya bisa senyum-senyum malu-malu.
Yah, kau masih remaja, tapi kau kadang lebih dewasa dariku. Kau malah jadi teman curhat, haha. Padahal usia kita jauhh lebih 10. Kau bahkan lebih tahu banyak tentangku dibanding mama. Kau juga terlihat dewasa ketika kau selalu mengalah, merelakan si TAMPAN (TAbungan Masa dePAN)mu, yang di depannya kau tulis besar-besar 'TAMPAN' untuk berpidah tangan ke aku ketika aku lebih butuh. Dan setiap aku balik kampung, kau selalu sibuk menghitung 'hutang-hutang'ku pada semua orang di rumah. 'Hutang'ku di mama, papa, nenek, amir, kembar, yus, sampai 'hutang'ku padamu. Dan kau menyimpulkan, 'hutang'ku padamu yang paling besar, haha..
Ah,,makasih pokoknya sudah rela berkorban selama ini buat kakakmu yang gag tahu kapan bisa kalian andalkan. Makasih udah jadi sahabat, teman ngakak malam-malam, entah menertawakan apa, yang akhirnya sakit perut karena menahan tawa mengingat orang serumah, bahkan sekampung sudah pada tidur. Dan maaf, kalau belum jadi kakak yang baik untuk kalian, belum jadi kakak yang baik dicontoh olehmu, malah kadang lebih childis dibanding kau.
Eh,,,malah cerita panjang lebar padahal cuma mau bilang "Barokallahu fii Umurik adik bontot kami, doa terbaik buat kamu, tetap jadi adik yang keren dan membanggakan yah. Eh,, itu sholat jangan sampai bolong-bolong yah, kan sayang udah jilbaban tapi sholatnya gitu, ups. Ah, kamu udah hapallah kata-kata ini "Semua dikali nol kalau gag sholat", setiap kuberitahu, kau selalu bilang udah pernah bilang...udah pernah. Pokoknya jadi wanita sholehah yang dicemburui bidadari,,kan itu pernah kamu bilang. OK??"
Kadooooo..gag ada haha..
Kadonya do'a ajah...huhu..
Nantilah,,surprise,,u knowlah kakakmu ini gimana hidupnya.. :) 

Senin, 21 November 2016

Allah Penyembuh Luka

Salah satu ayat yang sangat menarik buatku di Surah Al Qashas.
"Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)." (QS. 28:10)
Ayat yang menceritakan ttg ibu Nabi Musa AS yang dihadapkan pada ujian yang luar biasa, dia harus menaruh bayinya yang baru lahir di air. Seorang ibu yang harus menaruh bayinya di air sungai yang mengalir. Sesuatu hal yang tidak dapat dibayangkan oleh ibu dimanapun berada. Sebab dia hanya punya 2 pilihan, harus melihat anaknya disembelih oleh Fir'aun di depan matanya atau menaruh bayinya di keranjang yang bahkan belum teruji anti air lalu ia jatuhkan keranjang itu ke sungai. Ketika ia menaruh bayinya ke air sungai, ia lakukan atas ilham dari Allah. Karena perasaanya tak mampu melakukannya maka Allah membantunya melakukannya. Allah berfirman "Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa" Karena trauma harus melepaskan anaknya ke air sungai dan tentu tak bisa bersamanya lagi, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada bayinya. Apakah anaknya akan tenggelam, apakah akan ditangkap pasukan Fir'aun, apakah keranjangnya akan terbalik, dia tak tahu. Oh, begitu banyak kekhawatiran yang melandanya. dan hati ibu Musa menjadi kosong. Yah, seperti ketika kau melihat orang yang mendapat berita buruk dan dia jadi tercengang sendiri bahkan ketika kau mengibaskan tanganmu di depan mukanya, dia bahkan tidak berkedip, tidak berbicara, cuma diam, perasaannya benar2 lumpuh. Dan hampir saja dia buka rahasianya, lihat sambungan ayatnya.. "Sesungguhnya hampir saja dia menyatakan rahasia tentang Musa." Rahasia tentang bayi laki2nya, bisa saja dia berlari dan berteriak meminta tolong ut diambilkan lagi anaknya yang telah hanyut bersama keranjangnya tapi dia tidak melakukannya "seandainya tidak Kami teguhkan hatinya" Jika Kami tidak mengikat hatinya, jika Kami tidak jaga hatinya.So amazing,,ini kisah yang luar biasa..Allah yang membuat hatinya kuat, Allah brkata dia mampu melakukannya.
Pelajarannya, ada kemudian orang yang mendapat trauma dan ia tak bisa pulih. Kenapa tak bisa?? Karena Allah tak melepaskan hatinya, Allah belum melepasnya. Terkadang memang manusia tidak bisa pulih dari situasi seperti ini. Ketika tiba2 anaknya meninggal apalagi jika anaknya pergi dalam keadaan yang sehat dan di jalan terkena kecelakaan. Atau seorang anak yang kehilangan orang tuanya, kehilangan pekerjaan, kehilangan apa2 yang dicintainya., Tapi di ayat ini kita tahu bahwa Allah dapat menyembuhkannya.. Kita mungkin saja berkata "Perasaanku tidak bisa memaafkanmu" Tapi Allah bisa membuat hatimu melakukannya. Kamu mungkin berfikir " Oh, saya sangat terpukul atas apa yang terjadi, tidak mungkin saya bisa kembali ke kehidupan saya" tapi keimananmu kepada Allah itu cukup untuk membuatmu kembali pada hidupmu.
Tapi ibu Nabi Musa bisa pulih dan bahkan kemudian bisa berfikir jernih dan kemudian mengirim saudarinya Musa untuk mencari Nabi Musa. Ia tidak akan bisa berfikir jernih jika tidak ada campur tangan Allah. Maka Allah akan turut campur tangan atas kondisi perasaan kita. Ibunya Musa bukanlah seorang Nabi namun ia adalah orang yang beriman, yang artinya, ini kesempatan bagi kita juga. Apapun trauma yang kau hadapi, ketahuilah bahwa akan ada campur tangan Allah untuk memberi ketenangan dalam hati dan pikiranmu... Allah dapat menghilangkan semua luka yang ada di hatimu sepenuhnya..
"....supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)" So, percaya ada Allah di setiap tarikan nafas kita, di setiap luka-luka kita, Allah yang akan menyembuhkannya...

Demam

Kutanya pada ubun-ubun kenapa ada ribuan jarum menusukmu? Ia diam
Kutanya pada tulang-tulang kenapa kau seolah ingin remuk? Ia diam
Kutanya pada jari-jari tangan dan kaki kenapa ada butiran es menyertaimu? Ia diam
Kutanya pada wajah kenapa memanas dan memerah? Ia diam
Kutanya pada hati, adakah yang sakit? Kurayu padanya agar tidak sakit. Biarlah kulit, daging dan tulang yang membungkus yang meradang kesakitan, ia tak boleh sakit

Hidup yang Bertujuan

Syekh Qasim Nanotvi R.A. menulis sesuatu yang sangat indah. Lihat...
Wahai manusia, pikirkanlah fakta ini..
Ketika kalian belum ada, matahari sudah ada.
Ketika kalian belum ada, bulan sudah ada.
Ketika kalian belum ada, binatang-binatang sudah ada.
Ketika kalian belum ada, langit sudah ada.
Ketika kalian belum ada, gunung-gunung sudah ada.
Ketika kalian belum ada, sungai dan laut sudah ada.
Ketika kalian belum ada, banyak hal yang sudah ada dan sepenuhnya berfungsi.
Tiada kesimpulan yang dapat kita ambil kecuali bahwa Allah tidak menciptakan kita untuk hal-hal semacam ini, untuk hal-hal yang tercipta lebih dulu sebelum manusia. Alasannya adalah, jika kita memang diciptakan hanya untuk mereka, maka tanpa kita, maka mereka semua tidak akan berfungsi dengan benar, yah kan??
Itulah mengapa ketika kita belum ada, mereka bekerja dengan baik-baik saja, bukan?
Nah, apa yang terjadi jika kita sudah ada dan semua ciptaan Allah di atas belum diciptakan? Pertanyaan yang menarik.
Jika kita sudah ada, tapi matahari belum ada, dengan panasnya, manfaat dan cahayanya.
Jika kita sudah ada, tapi bulan belum ada dengan cahayanya.
Jika kita sudah ada, tapi bintang-bintang belum ada menghias angkasa.
Jika kita sudah ada, tapi air belum ada yang menjadi muara segala kehidupan.
Jika kita sudah ada, tapi gunung-gunung yang menjadi pasak, yang didaki jutaan orang belum ada.
Jika kita sudah ada, tapi tanaman-tanaman berbagai jenis belum ada.
Jika kita sudah ada, tapi bumi tempat berpijak belum ada.
Jika kita sudah ada, tapi binatang-binatang berbagai macam belum ada.
Dengan begitu, berapa banyak masalah yang harus kita hadapi? Jelas, kehidupan kita menjadi sangatlah sulit.
Lanjut Syekh Qasim Nanotvi,
"Wahai manusia, pahamilah contoh ini bahwa Allah SWT tidaklah menciptakan kalian untuk APAPUN di dunia ini, melainkan SEGALA sesuatunya di dunia ini diciptakan untuk kalian."
Sungguh tidak beruntung orang-orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk dunia kemudian meninggal.
Kita kan sudah mendapatkan segalanya di dunia, sebab Allah telah menciptakan itu semua untuk kita, yah kan? Kita tinggal menikmati saja semuanya.
Lalu, coba kita renungkan sebuah pertanyaan ini. Untuk siapa dan tujuan apa sebenarnya Allah SWT menciptakan kita, jika kita tidak diciptakan untuk apa-apa yang sudah ada sebelum kita ada di dunia ini?
Jika kita memikirkan Al-Qur'an dan hadist Rasulullah SAW, maka kita akan menyadari bahwa "Allah telah menciptakan segala apa-apa di dunia untuk kita, dan Dia menciptakan kita untuk diri-Nya,,menyembahNya."
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz Dzariat :56)

Duka Rohingya

Tiada kepedihan yang terlampau perih mengingat derita saudara kami Muslim Rohingya
Tiada kesedihan yang terlalu menyakitkan selain kesedihan yang dialami saudara kami Muslim Rohingya
Tiada tangisan yang lebih sendu mengiris-iris selain tangisan untuk saudara kami Muslim Rohingya
Yaa Robb, Tuhan sekalian alam. Penggenggam setiap jiwa, kuatkanlah jiwa-jiwa saudara-saudara kami Muslim Rohingya.
Bahkan diri hanya mampu mendo'a, betapa malu rasanya.
Maka, yaa Allah yaa Azis, bebaskanlah mereka dari derita yang telah panjang berderetan siksaan.. Bebaskanlah mereka dari kezhaliman tirani-tirani tak berperikemanusiaan.
Sebab hanya Engkau Yang Kuasa melakukannya.

Rabu, 16 November 2016

Malam

Pada gelap malam, ada misteri yang takzim mengubur diri.
Pada pekat malam, ada jiwa mati yang merintih meneriak tobat.
Adakah waktu romantis bagi pecandu do'a merayu Tuhan selain malam??
Adakah waktu yang indah untuk bercengkrama dengan Tuhan selain malam??
Pada satu pertiga malam, ketahuilah ada yang menunggumu, bersiap dengan kabul doa-doamu. ALLAH...

Kasus Penistaan Agama 2

Ahok dijadikan tersangka atas kasus penistaan agama.

Itu TL terbanyak yang muncul di beranda-beranda medsos hari ini. Pun lengkap dengan tambahan komentar komentar yang masih menjadi 'tanda tanya'. Bukan ingin menjadi yang menambah komentar tentang itu, bukan ahli sama sekali. Well, ini masih harus dikawal, bukan??
Kasus Ahok ini memang sudah menjadi viral di mana-mana sejak 2 bulan belakangan. Memicu Aksi Damai yang sudah terjadi 2 kali dan yang paling besar pada 4 Nopember kemarin, diikuti ribuan pecinta Qur'an yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. Dan titik massa terbanyak berada di ibu kota Jakarta. Pernyataannya yang menyatakan bahwa umat Islam dibohongi oleh surat Al-Maidah ayat 51 membuat kaum Muslim terluka dan membangkitkan semangat jihad pada tiap dada yang berdenyut iman.
Beberapa orang mungkin geram. Yah, salah satunya mungkin kelompok akhwat-akhwat yang turut kecewa karena tidak mendapat instruksi turun aksi pada 4 Nopember lalu. Salah seorang tiba-tiba berujar di sebuah kosan berukuran 2,5x4,5 m pada 2 kawannya.
"Apa yang akan kalian lakukan kalau ketemu Ahok?"
Dan jawabannyapun macam-macam, ada yang bilang mau jambak-jambak rambutnya, duh. Ada yang bilang mau cakar-cakar mukanya. Mau sumpel mulut songongnya. Haha. Karatein ajah sekalian..wewhhh. Eh, Nggak bisa juga sih, Ahok bukan muhrim,,haha..
Dan masih banyak lagi orang di luar sana yang mungkin lebih geram dari pada kumpulan akhwat-akhwat ini..
Namun, kita kembali diingatkan pada kisah seorang lelaki keren yang namanya hampir memenuhi kisah-kisah di dalam kitab suci Al-Qur'an. Yah, Nabi Musa AS... Nabi yang terkaget-kaget ketika mendaki lembah suci, Tuwa, sebab ada yang memanggil namanya. Menyebut namanya Allah, Tuhan Yang Esa. Mengatakan bahwa Ia telah memilih Musa "Sungguh, aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku" kalimat agung ini terabadikan dalam surah Taha ayat 14.
Mengajaknya bercengkrama, yang kelihatan ketakutan, mencoba menenangkannya dengan melayangkan tanya penuh kelembutan
"Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?" (Taha 17). Pertanyaan yang membuat Musa sedikit kikuk dan menjawab tergagap
"Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain." (Taha 18), see,,Musa kehilangan kata-kata yang mencoba cerewet. Aduhai siapa yang tak gembira luar biasa diajak bercengkrama oleh Zat Maha Agung?? Bukannya Allah hanya bertanya tentang apa benda di tangan Musa, Musa menjawab, sedikit menambah fungsinya bukan??.
Dan kemudian Allah menyerunya melemparkan tongkatnya. Oh, ini Allah yang suruh gays,, dan Musa pun refleks, srettt langsung melempar tongkat (ini kepatuhan dan ketaatan,,bukannya akhlak sesuatu yang terjadi secara spontan??)
dan tiba-tiba tongkat itu berubah jadi ular yang merayap dengan cepat. Allah menyerunya mengambilnya. Maka, siapa yang berani memegang ular yang merayap dengan cepat itu? Musa takut tapi Allah menenangkannya, mencoba meyakinkan Musa, its okay.. Lihat firmanNya
"Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula," (Taha 21).. Musa mengambilnya (ini bentuk kepatuhan atas perintah, keberanian sebab ada jaminan, dan kepercayaan bahwa semua atas kuasaNya)..
Serangkaian kisah di atas adalah awal diserukannya tugas mulia yang sungguh berat untuk seorang nabi yang bahkan tergagap saat berbicara maka ia meminta harun kepada Allah. Apa tugas mereka?? Beratttttt.... Menghadapi Fir'aun. Seorang kafir yang mengaku Tuhan, yang membunuhi setiap bayi laki-laki karena takut atas tafsir mimpinya sendiri. Laki-laki yang sungguh melampaui batas.
Namun bagaimana Allah menyeru Musa dan harun menghdapi Fir'aun?? Begini firmannya,,sungguh indah..
"maka berbicaralah kamu berdua kepada Fir'aun, dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." Terabadikan dalam surah Taha ayat 44.
Indah bukan? berlemah lembut. Lalu apa hubungannya dengan Ahok? Yah, semua mungkin setujulah kita tak sebaik Musa, dan Ahok tak sejahat Fir'aun.
Agama Islam agama yang indah mennn, bahkan pada manusia terjahat di duniapun diseruNya berlemah lembut. Lemah lembut bukan berarti tidak kuat kan? Maka, mari menahan diri. Dan jelas tetap bersiap siaga, kita tidak tahu apa yang kan terjadi besok. Seperti Musa awalnya tidak tahu bahwa akhirnya ia akan berperang melawan Fir'aun. Seorang yang istrinya memelihara Musa dari kecil di istananya. Yang Musa tahu Raja ini memiliki tentara yang kuat. Dan siapa yang dimenangkan oleh Allah??? Hmmm,,fir'aun kita tahu meregang nyawa di laut merah, bukan??

Kasus Penistaan Agama

Kasus penistaan agama oleh Ahok semakin ke sini semakin menggelitik untuk diikuti. Pasca aksi damai 411, dalam tenggang waktu penantian 2 pekan untuk diproses, telah terjadi serangkaian tragedi yang miris, lucu, menggemaskan sekaligus memuakkan.
Sebut saja kasus pengeboman gereja di samarinda. Apakah ini kemudian menjadi pengalihan isu seperti alur-alur pada kasus-kasus yang seolah ingin ditutupi ataukah memang settingan orang tak beradab. Entahlah. Dan apapun narasi dari sebuah tindak kriminalitas, itu sungguh terkutuk. Melihat korban dari kasus ini adalah anak-anak. Oh, Tuhan.. di mana nurani mereka?? Kasus ini masuk dalam kategori kemuakkan yang memiriskan..
Pasca 411, apa yang dilakukan Pak Pres JKW? Menyambangi alat-alat negara yang seyogyanya melindungi rakyat, kedaulatan NKRI. So, what u do pak pres? Mencari perlindungan untuk diri atau untuk teman sejawat? Dan kasus ini masuk dalam kategori lucu dan menggemaskan.
Dan kasus yang sangat menggelitik jejeng.... Apa pula faedah membawa ulama Mesir ke Indonesia buat jadi saksi ahli. Haduh,,sekurang apa kapabilitas Ulama Indonesia sekelas MUI untuk jadi saksi ahli. Dan well, dengan berbagai upaya. Entahlah apa yang terjadi syeikh Mesirnya akhirnya pulang sehari setelah kedatangannya. Belum sempat ngapa-ngapain. Katanya buru-buru balik ada keluarga yang sakit. Nyatanya kan bisa jadi surat MUI ke Grand Syeikh Al Azhar telah membuahkan hasil postif. Kasus menggelitik ini juga sekaligus kasus yang memprihatinkan, maybe.. Simak pernyataan KH Muhyiddin Junaidi berikut
“Syeikh Mushthofa didatangkan oleh kelompok yang dekat dengan partai penguasa untuk menjadi saksi meringankan Ahok. Dia tidak tahu menahu soal kasus penistaan agama di Indonesia maupun aksi damai 4 November lalu. Mudah-mudahan tidak ada lagi kelompok tertentu yang mencoba mendatangkan ulama dari negara asing yang berusaha mendelegitimasi otoritas MUI,”
.
.
Kembali menelisik ayat 15-17 surah At-Tariq
"Sungguh, mereka (orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat. dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) yang jitu. Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir. Berilah mereka kesempatan untuk sementara waktu"
Dan bagi orang beriman, meyakini bahwa Allah tak pernah tidur,,Allah menyaksikan,,Allah sebaik-baik perencana atas setiap peristiwa. Dan kita hanya menunggu sembari bertawakkal hingga Allah turunkan pertolongan bagi tiap hamba yang berserah diri...
Wallahu'alam bisshowwab...

Sabtu, 12 November 2016

Hey, Tuan Pengelana

Hey tuan pengelana
Sudah seberapa jauh langkah kakimu berpijak
Beribu-ribu langkah? Berjuta-juta langkah??
Sudah seberapa tinggi kakimu berpijak??
Beribu mdpl katamu.
Hey tuan pengelana
Sudah seberapa kembang yang menarik hatimu di jalan
Ataukah dari segala jenis kembang itu,
Masihkah kau setia memuja edelweis yang tangguh??
Hey tuan pengelana
Sudah seberapa air mata yang jatuh dari pelupuk matamu
Menyadari perjalanan tak menjanjikan kemudahan
Tapi ah, aku yakin kau tak secengeng itu, kau selalu kuat
Hey tuan pengelana
Sudah seberapa banyak keringat yang bercucuran dari tubuhmu
Menanda bahwa kau berjalan dengan sungguh, tak surutkan langkah walau terjal.
Hey tuan pengelana
Sudah seberapa kawan yang kau temui di jalan
Apakah mereka menyenangkanmu ataukah menyusahkanmu?
Aku yakini, menyenangkan, bukan??
Karena kau tak lebih sama dengan mereka, menyenangkan
Hey tuan pengelana
Sudah seberapa lelah ragamu
Adakah darah yang mengucur?
Sudah kukata 'jangan sakit'
Hey tuan pengelana
Sudah seberapa yakinmu untuk pulang
Adakah aku tempat kembalimu??
Aku telah menanam kembang depan rumah
Berharap keindahannya memukau matamu saat kau kembali
Hey tuan pengelana
Apa kau baik-baik saja???

Rabu, 09 November 2016

Sekuat Apa Aku??

Tentang rasa damai yang selalu mengalahkan marah dan cemburu
Tentang setia yang selalu diuji dari berbagai arah
Lalu aku kan sekuat rinjani mungkin, tegak berdiri walau diserang berbagai musim....
Sebab di ujung sana, mungkin masih ada sekeping bahagia yang menanti....

Senin, 07 November 2016

Sapa Aku dalam Akad

Kau bertanya "bolehkah aku menyapamu?"
Jawabku "boleh"
Dalam kalimat akad

Mana Kau Tahu

Rembulan bahkan tak pernah tahu seberapa besar cinta mentari padanya.
Yang dia tahu sinar mentari selalu tepat mengenai separuh tubuhnya.
Membuatnya selalu cantik di kala purnama.
Dan kau..
Ah, mana kau tahu...

Minggu, 06 November 2016

Dan Kitapun Berpisah Sayang

Perpisahan selalu menjadi sejarah kecil yang menyisakan sayatan luka kehilangan yang tak terperih.
Pagi ini, mungkin akan menjadi sejarah kecil itu. Ketika hati tak kuasa mengantar orang-orang kesayangan melanjutkan hidup di tempat lain yang jauh yang tak tak tahu kapan pastinya akan kembali. Ketika pelukan menyisakan muara sungai kecil yang bersumber dari pelupuk mata yang tiada henti. Ketika mulut tak sanggup berkata apa-apa, bahkan sekedar mengungkapkan "Selamat jalan, kami mencintai kalian..." itu rasanya kelu. Terkalahkan sirat dari mata yang saling berpadu mewakili setiap rasa, segala rasa yang bercampur menjadi satu, sangat sulit terungkap. Lihatlah, air mata yang selalu tanpa permisi jatuh satu-satu itu masih deras tak terhenti. Kenapa selalu pihak yang ditinggal yang merasa luka paling dalam atas setiap perpisahan??
Kakak,,, Norma Ivan dan kak Ivan, beserta si kecil Afifah,,walau kita sama-sama tahu kita sebenarnya tidak ingin saling menjauh, tapi kita sadar bahwa ini adalah garis hidup yang harus dijalani. Setiap kita akan pergi entah sekarang atau nanti. Entah jarak ataukah maut suatu saat yang memisahkan. Tapi yang pasti kita tahu kita amat sangat saling menyayangi. Maka, kembali kita mengharap waktu yang kan obati segala sakit.
Eh, si bungsu RisKa Afifah itu masih mengurung diri di kamar, orang pertama yang menangis saat kendaraan yang kalian tumpangi ke bandara sudah siap. Dia masih sesegukan. Aku tahu sebenarnya dari dalam lubuk hati yang terdalam, dia ingin ikut ke bandara, tapi dia tahu jika dia ikut, maka makin sulit untuk melepas kalian, terutama si kecil Afifah. Dia sepertinya memang yang paling luka. Dia sahabat, kakak yang sebenarnya tantenya Afifah, teman main, teman gila-gilaan, orang yang suka dijahili afifa. Tadi pagi saja pas kami mati-matian bangunkan afifa yang kesulitan bangun karena semalam gag henti-henti terbangun mungkin kepanasan dan lapar, dia masih sempat-sempatnya menjahili tante kecilnya itu selagi matanya masih tertutup, menendang-nendang menyuruhnya pindah. Membuat kami tergelak. Tak kuasa menahan tawa.
Dan mama, yang kalian tahulah orang yang terbiasa melepas, tapi sesungguhnya yang paling sulit melepas. Yang subuh-subuh bangun masak buat sarapan. Oh, dia sama saja bahkan tak bisa berkata apa-apa tadi saat melihat punggung kendaraan sudah hilang di pembelokan. Dan matanya udah seperti balon, bengkak akan tangis. Kita tahu, sepertinya kita semua mewarisi kebiasaan itu. Saat menangis akan menyisakan bengkak besar di kelopak. Sampai pada Afifa yang pagi ini saja matanya bengkak gegara menangis semalaman. Bocah 2 tahun ini mungkin yang menambah rasa sesak melepas kalian.
Orang-orang di kampung,, Omnya Afifa satu-satunya Amir Achenk Tillokyang sudah ngaku berhari-hari lalu kalau dia sangat galau. Galau sekali ditinggal pergi. Pasti akan merindukan mendengar rengekan Afifa yang menyuruhnya memboncengnya keliling naik motor setiap sore yang teriak "Om Ming,,naik bung..". Yang rindu menjahili afifa sampai nangis dan ngakak jika sudah nangis dan sok sok an menghentikan tangisannya dengan iming-iming naik BUNG...
Tanta Ommi,, Normy Fitra, dedek aidil dan papa aidiil. Sekarang aidil tidak ada teman mainnya, teman ketawa-ketiwi liat kupu-kupu yang biasa datang di rumah jika malam. Teman berkelahi yang luar biasa, yang tanpa aba-aba sudah mendaratkan pukulan pada adiknya, yang buat aidil nangis sebentar dan sebentar kemudian terbahak lagi, mereka main lagi. Dan malam sebelum afifa ke Makassar, katanya mereka main semalaman, tak ada adegan pukul-pukulan lagi. Seolah mereka tahu, mereka akan berpisah esok hari. Dan melalui mereka berdua kita lihat dunia anak-anak, dunia yang paling damai. Tidak ada dendam, dengki. Penuh kasih sayang.
Tanta Us,, Popy Lolypop Ramadany, yang kemarin-kemarin vidio call an kesini. Yang tak henti ketawa liat tingkahnya Afifa. Pagi ini tanta Us telat call nya. Afifa udah berangkat pas vidio call tersambung. Tanta Us yang paling kencang suaranya kalau liat kekonyolan Afifa sama adek Aidil. Dan Om Dany,,Om yang akhirnya jadi tempat merengek ditemani main masak-masak ketika aku dan tanta Ika sibuk dengan laptop dan HP. Kalian pasti rindu afifa juga kan??
Dan aku, semalam menghabiskan menikmati setiap tingkah Afifa. Menikmati melihat dia merengek. Menikmati melihat dia ketakutan mendengar suara tokke dan suara kucing. Menikmati pelukan ketakutannya mendengar suara tokke sambil tutup mata rapat-rapat. Menikmati terbahak menimpali kenakalannya, membuatku ngos-ngosan menemaninya lompat-lompat di kasur sambil berhitung satu sampai sepuluh. Menikmati ikut melakukan kekonyolan cuma buat dia tertawa. Menikmati mengeluarkan suara-suara aneh cuma buat dia tertawa saat memencet tombol kipas angin. Dan pagi-pagi tadi saat dia belum bangun menikmati memandang wajahnya dalam-dalam memastikan terekam jelas wajah pulasnya dia tidur. Menikmati menjahilinya sampai bangun karena melihat kalian harus bergegas cek in. Menikmati berselfie yang ujung-ujung bikin capek kejar dia, dianya tidak tahu kenapa tidak mau diajak selfie. Dibujuk-bujuk, dirayu-rayu gag mempan. Dia selalu begitu jika tahu akan pergi, sudah pakai baju cantik, tidak mau diganggu-ganggu. Dia mungkin nanti akan kecewa, yang pagi-pagi sudah bilang "mau pergi mandi bola tanta ia" yang akhirnya akan capek melakukan perjalanan jauh hingga pulau Bunyu. Tempat yang ah, kenapa juga jaraknya begitu jauh?
Ini mungkin sedikit melankolis, eh nggak, banyak melankolisnya.
Tidak mau bilang "selamat tinggal" sebab itu berarti gag akan bertemu. Maka kami katakan "Sampai bertemu kembali". Fii Amanillah. Allah selalu melindungi kalian, keluarga kecil yang kami sayangi karena Allah.
Ah, kita kan masih bisa berkomunikasi dengan media lain kan, walau rasanya mungkin agag beda. Nanti sering-sering vidio call an. Mau lihat Afifa tumbuh bagaimana. Dia anak yang cerdas, sangat cerdas. Kami semua akan rindu mendengar suara melengkingnya menyanyikan lagu Nina Bobo, lagu andalan dengan mimik khasnya yang bikin ngakak.. Lagu yang selalu dinyanyikan dimanapun di situasi apapun..
Wah,,panjang. Dan ini yang terakhir,,kami akan sangat merindukan kalian...

Sabtu, 05 November 2016

Jika Tiba Waktu

Jika telah tiba waktu menjawab Aku tak ingin lari lagi Sudah cukup letih yang pernah tertoreh Abaikan gundah, sambut kasih Jika telah tiba waktu mengetuk Akan kubuka sebuah pintu Kusambut tawa bahagia Hilanglah perih yang pudarkan warna Berganti pelangi hati yang sedang mekar Jika telah tiba waktu tangan terulur Kuraih ia dengan debar Kusemat doa kan bawaku ke sana Ke surga firdaus penuh nikmat Jika telah tiba waktu Sungguh ku ingin kau, tiada yang lain

Minggu, 30 Oktober 2016

Zulaikha dan Yusuf

Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya.
Ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf untuknya

Seperti

Seperti sepi, tunggal 
Seperti sunyi, kesendirian 
Seperti tenang, di sesubuhan 
Seperti rindu, pertemuan 
Seperti do'a, di pertiga malam 
Seperti kau, keteduhan 
Seperti aku, b(utuh)

Setangguh Krisan

Dengan ribuan detik berkawan ribuan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. 
Kemarau berganti derasnya hujan. 
Hingga tandus yang menjadi rindang. 
Ketahuilah bahwa di tiap rinai hujan telah kutitipkan doa agar kau selalu baik baik saja. 

Dengan ribuan jejak tapak kaki, ribuan harapan, ribuan janji. 
Hingga tangis berubah jadi tawa.
Ketahuilah, aku masih di sini. 
Tak usah sulit kau cari. 
Mintalah padaNya penunjuk arah padaku. 

Dengan ribuan daun kering yang gugur di kemarau, ribuan daun muda yang kuncup bersama turunnya hujan.
Hingga sepi berganti riuh. 
Ketahuilah, yakinku sebesar tekadku tuk jemput asamu. 

Aku, setangkai krisan yang tangguh di tiap musim...

Aku Dengar, Aku Lihat

Aku mendengar dentuman yang keras.
Ternyata itu adalah suara detak jantungku yang sedang berdebar...

Aku melihat bekas tapak berjejalan.
Ternyata itu adalah jejak yang sedang kutinggalkan...

Aku mendengar teriakan yang keras.
Ternyata itu adalah rintihan hati yang sedang menjerit sepi...

Aku melihat bayangan gelap membesar.
Ternyata itu adalah dosa yang sedang meronta tobat...

Mereka berkata,
syukurlah aku masih berdebar,
syukurlah aku masih menjejak,
pintalah untuk kasih Yang Maha,
pintalah untuk sucikan yang nista..

Papa, Aku Rindu

Kutergugu di sudut ruangan yang sepi.
Kumendengar isak tangisku yang telah mengering dulu.
Pikiranku sibuk meneliti setiap kenangan yang melibatkan kau dan aku.
Ada serpihan sedih, lebih banyak serpihan tawa di sana.
Kau selalu berhasil membuatku tertawa walau dalam sengitnya perdebatan kita.
Aku melakukan banyak hal yang berharap buatmu bahagia, namun tak sedikit kau malah sedih dan terbebani.
Kumenyukai gelak tawamu yang renyah dan sangat kau nikmati.
Bahkan di tengah sakitmu, kau tergelak, atau mencoba tergelak menimpali leluconku yang kuusahakan lucu.
Kau selalu berhasil membuatku nyaman hanya sekedar duduk berdua walau kita terdiam tak berkata.
Dan lebih bahagia ketika kau mulai menceritakan banyak hal terutama tentang kisah perjalanan hidupmu.
Kini meski tak lagi akan kudengar dari lisanmu langsung, masih bisa kudengar dari seseorang yang sangat mencintaimu.
Kau tahu, dia, setiap membicarakan hal tentangmu selalu penuh semangat yang dibarengi tawa, tapi kadang lebih banyak dengan air mata.
Aku selalu merasa yang paling luka atas kepergianmu, namun wanita ini yang setengah mati mencintaimu berpuluh-puluh tahun kutau dialah yang paling terluka.
Kutengadah di tiap doa, mendoa semoga tiap doa untukmu sampai padamu.
Moga meringankan siksa, berharap menambah nikmatmu di sana.
Papa, lelaki pertamaku. Sungguh, putrimu ini sangat merindukanmu. Sangat dengan sungguh, di tiap detik di tiap helaan nafas, lebih lebih di tiap rinai air mata.
Dan di hujan sore ini, di tiap tetes yang dibawa para Malaikat, kutitip doa untukmu. Semoga kita kelak bertemu di surga..

Tentang Menunggu

Seperti mungkin ada yang suka mengungkapkan "aku ingin segera melewati hari ini, bulan ini, setahun ini, dua tahun ini. Segera"

Namun kemudian waktu seolah menjelma penipu ulung. Semenit serasa sejam, sejam serasa seharian, seharian serasa sebulan, sebulan serasa bertahunan tahun. 

Menunggu menjadi sebuah misteri waktu yang menyadarkan bahwa setiap peristiwa adalah titik takdir yang kita pilih. Bahwa masa depan agaknya ditentukan oleh sikap kita dalam menentukan setiap keputusan dengan sebuah kepastian, bukan??

Menunggu akhirnya mencipta ruang debar, cemas sekaligus bahagia.

Seperti debar hati seorang pria dengan cemas menunggu istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak turunannya. Ia cemas, apakah ia beberapa detik kemudian pasti akan dipanggil ayah atau tidak. Namun debar cemasnya terkalahkan oleh debar bahagia bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.

Seorang ibu yang cemas dan debar menunggu buah hatinya yang pagi pagi ke sekolah dan kemudian bahagia ketika sang buah hati datang dan berhamburan masuk dalam pelukannya dan memanggilnya "mama". 

Dan seorang gadis yang debar dan cemas menunggu jika jika Allah mengirim makhluk pelindung untuknya suatu hari nanti. Ada debar kecemasan apakah si pelindung akhirnya datang atau tidak. Debar bahagia kemudian muncul dan menyingkirkan debar cemas, ketika Allah Sang penggenggam hati meyakinkan hatinya bahwa si pelindung itu akan datang tepat di waktu yang baik. 

Maka, ia menunggu dalam senyap, tidak ingin mengganggu siapapun. Takut takut jika sikap yang diambilnya berbuah dosa dan nista. Sengaja mengambil jarak, walau kemudian jarak selalu ditakdirkan untuk menebalkan rindu. Sembari ia berdoa, ia berkata dengan yakin dan sungguh "Tuhan tak pernah terlambat, Dia tidak akan terlambat mengirimkanmu untukku."

Dan pada akhirnya waktu tetap menjadi misteri yang mencipta ruang tunggu bagi bani adam untuk saling menemukan, bukan??

Jumat, 07 Oktober 2016

Polosmu

Kita adalah sahabat yang sangat dekat. Itu menurutku, entah kau. Dan suatu ketika tanpa kutahu salahku kau menjauh, mendiamkanku setiap kita bertemu. Apa salahku? Kau tak pernah bilang. Pernah saat lonceng tanda masuk kelas berbunyi dan saat aku sudah siap di bangkuku yang paling depan, saat itu aku masih memegang donat sisa makan siangku, kau masuk. Kita memang sekelas, selalu satu kelas dari kelas 1 hingga tamat. Kau berhenti sejenak di depanku, aku siap ingin mendengar jika-jika kau ingin mengatakan sesuatu, nyatanya tidak. Kau kemudian melongos, melewati bangkuku menuju bangkumu di samping bangkuku tapi di urutan kedua. Ketika teman sebangkuku masuk, dia tiba-tiba mengingatkan jika ada sisa ceres donat nempel di hidungku. Aku sadar, sedari tadi kau ingin menegur itu, meses ceres yang ada di hidungku, tapi kemudian kau urung. Aku kemudian sedih memikirkannya.

Pernah juga, saat aku habis jatuh dari sepeda, itu dibonceng sama adik laki-lakiku. Lututku berdarah dan beberapa hari kemudian, kau tahu aku akan terpincang-pincang jika berjalan. Hari itu, ada pelajaran olahraga dan lari. Aku absen, tepatnya izin untuk tidak ikut. Aku akhirnya berdiam diri di dalam kelas sambil tidur-tiduran sesekali meringis akibat sakit dilututku jika kuluruskan. Kau tiba-tiba masuk di kelas. Seperti ketika kejadian meses ceres, kau berhenti tepat di depan bangkuku, hanya menatapku, aku menatapmu, bersedia kau ajak bicara. Tapi akhirnya kau lagi-lagi hanya melewatiku dan menuju bangkumu. Mengambil sesuatu dari tasmu dan sudah itu pergi. Kita tak pernah berhasil bersapa seperti dulu. Sudah tidak bisa dekat seperti dulu. Walau kucoba mendekat, kau seolah menghindar. Sangat menghindar.

Hingga suatu hari sahabatku yang juga sahabatmu berbisik bahwa kau mengirim salam padaku. Aku hanya melongo sebentar sudah itu merasa malu sendiri. Dan sejak saat itu, jangankan bersiap kau ajak bicara, menatappun akhirnya aku tidak bisa. Entah mengapa, mungkin terlalu malu. Mengingat usia kita baru meninggalkan angka 10. Kau? Jelas sedari awal selalu berhasil menghindariku. Dan mulailah bisik-bisik tentang kita bersahutan. Katanya, kau dan aku pacaran. Ah, yang benar? Padahal kita tak sekalipun bersapa. Sekali lagi terlalu malu. Awalnya, aku biasa saja, toh kita dulu pernah dekat, sangat dekat malah sebagai teman sekelas. Namun, serasa jauh dan semakin jauh dengan semakin beredarnya kabar tentang kita.

Dan saat porseni (Pekan Olahraga dan Seni), hari paling memalukan yang aku rasa. Tiba-tiba teman-teman kita kompak mengerjai kita. Mereka mengunci kita dalam satu ruangan. Cuma ada aku dan kau. Aku sudah lupa bagaimana bisa terjadi. Aku akhirnya berdiri di depan pintu sambil meneriaki teman-teman di luar untuk membuka pintu. Kau akhirnya kikuk, dan sejurus kemudian sudah hilang melompati jendela kelas. Aku yang melihatmu seketika tertawa kecil dan teman-teman kita akhirnya menyadari kau sudah tidak ada dan akhirnya membukakanku pintu kelas.

Kita masih tetap tak saling bicara hingga ujian akhir sekolah datang, pun hingga acara perpisahan. Acara perpisahan kita diadakan di aula yang sebenarnya adalah 3 kelas yang tersambung dengan 2 kelas lainnya terbuka dinding belakang dan dinding depannya. Para guru di kelas tengah, siswi di kelas sebelah kiri, siswa di sebelah kanan. Posisinya saling berhadapan dengan para guru di tengah. Kata sahabatku yang juga sahabatmu yang ada di sebelahku bahwa sedari tadi pandanganmu tak pernah lepas dari wajahku. Sambil membisikiku untuk tak segera melirik ke arahmu dan menunggu barang sebentar. Akhirnya, setelah kutunggu semenit aku memberanikan diri menoleh ke arah dudukmu. Sebentar kemudian, tatapan kita bertemu, namun cepat-cepat kau alihkan. Aku hanya bingung kemudian.

Itu adalah masa-masa kepolosan kita. Masa polosmu. Dan melihatmu yang sekarang. Seolah tak percaya kau pernah sepolos itu dulu. Sekarang kau berbeda. Meski akhirnya akupun tak pernah rindu denganmu. Aku suka mengingat-ingat masa-masa itu. Masa polos kita, masa penuh kelucuan dan keculunan di Sekolah Menengah Pertama.

Selasa, 04 Oktober 2016

Pertemuan Manusia 1/4 Abad

Setelah beberapa tahun tak saling bertatap, Allah memberikan waktu untuk qt bunuh di 1/4 siang tadi. Walau sebenarnya kita berjanji bertemu di tengah terik mentari. Berjam-jam kumenunggu, hpmupun tak dapat kuhubungi di jam ke 2 setelah waktu yang semestinya kita bertemu. Aku hampir saja menyerah menunggumu, hingga suara adzan ashar terdengar, dering hpku pun berbunyi. Itu kau.
"Maaf" katamu, "sudah buatmu menunggu."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa menunggu. Hehe"
Masih dengan nada menyesal kau menyuruhku menunggu barang sebentar untuk kau jemput. Selepas ashar, kembali aku harus berkutat dengan bukuku, bermaksud membunuh waktu. Ternyata aku harus menunggumu hingga 60 menit kemudian. Kesal? Tidak juga. Tadi kan sudah kubilang aku sudah terbiasa menunggu. Hingga saat sedang asyik-asyiknya kulafalkan kata-kata pada halaman 201 pada buku yang kubaca, buku yang baru siang tadi kupinjam dari seorang teman, hpku berdering. Jelas itu kau, telah sampai di parkiran mesjid kampus.
Kita saling lempar senyum, kusalami tanganmu yg kurasa masih sama teksturnya sejak terakhir bertemu. Tangan yang terbiasa kugenggam saat masih duduk di bangku sma. Kau menyodorkan helm.
"Mau kemana?" tanyamu.
"Kemana saja boleh" jawabku kemudian. Kau tidak terima jawabanku dan memaksaku memilih salah satu tempat.
"Losari?"
"Boleh".
Motor melaju melewati lampu merah pintu 1 unhas saat kau ambil tanganku menyuruhkan pegangan.
"Kenapa kau kurus sekali?" tanyamu heran.
"Kau tidak datang di hari operasiku."
"Oh iya yah. Maaf, aku melewatkan banyak peristiwa penting."
Angin sore menerpa wajah kita.
"Jadi kapan ada undangan?"
"Belum, abisnya yang dikasih kode gag peka sih, mau kayaknya ditabok"
"hahaha" gelak tawa kita pecah.
"Aku malah tunggu undanganmu"
"Aih, belum. Dia itu kayak jarum di antara jerami."
"hahaha" gelak tawa kita yang kedua.
Dan akhirnya kita malah banyak membicarakan permasalahan manusia 1/4 abad di romantisnya sunset penghujung senja.

Rindu

Rindu,,,seperti ketika bias cahaya bertemu air sisa hujan, mencipta indah pelangi.

Rindu,,,seperti ketika air bertemu tanah, menumbuhkan dan memekarkan bunga-bunga..

Ponakan Solehah

Ponakan solehahku,,
Suka panggil "Tanta ia cayangkuuu (Tante Ria sayangku...)
Atau kalau abis cebok ama bundanya, maybe takut lantai licin maka dengan suara nyaring nyelengking akan teriak2 "tanta iaa tanta iaa" gag berenti kalau tantenya ini gag segera jemput dirinya, entah kenapa juga gag mau dipegangin sama bundanya..abis itu kalau udah disamperin gag tau kenapa suka geleng2 kepala perlahan2.. Duh, kangennya,
Paling bahagia kalau diajak pergi jalan, maka dia akan sibuk cari jaket dan jilbabnya sambil bilang bilang "pigikan jalan,,ama bunda, ama ayah, ama tanta ia, ama tanta ika, ama mama, ama om ming" semua orang disebutin. Kalau udah jalan,,duh bahagia lari sana sini, gag mau dipegangin padahal kitanya yang liat geregetan, apalagi kalau di pinggir jalan raya banyak mobil, pengennya pegangin tangannya atau gendong malah nolak, gag mau digendong, tangannya disembunyiin di belakang. Duh, kangennya..
Kalau waktu sholat tiba, apalagi maghrib maunya juga ikut, sambil tunjuk mukenahnya yang digantung. Awal2nya dianya cuma sampai takbiratul ihram abis itu dia buka jilbabnya dan gulung2 sambil dia peluk2in,, dia keluar dari shaff, tunggu kitanya sujud langsung ke belakang sambil tepuk2 dia bilang "panta' panta' (pantat, pantat). Kalau gag khusyuk dan gag kuat imannya pas lagi sholat, tunggu aja bakalan ketawa, ngulang deh sholatnya.. Tapi pas lama2 dianya udah bisa ikutin sampai salam...horeeee.. Duh, kangennya,,
Ada istilah yang sangat suka dia bilang kalau lagi marah, lagi bete, lagi jengkel ma seseorang. Dia pasti bilang "battak (nakal, bahasa duri enrekang)". Misalnya kalau saya gangguin pasti dia bilang "tanta ia battak.." sambil pasang muka jelek, atau kalau jengkel sekali, udah melayang tuh tangan, kalau gag kena kepala muka jadi sasaran. Walau tangannya sekecil itu, kadang sakit juga kalau kena apalagi pas wajah. Atau kalau udah marah sekali dia bakalan melapor ke semua orang. Cari bunda, ayah, mama (neneknya sebenarx, cuma sering dengr orang panggil mama, jadinya panggil mama juga hehe). Siapa aja yang dia dapat, dia bakal ngelapor,,"bunda,,tanta ia battak, ayah tanta ia battak, mama tanta ia battak".. Duh, kangennya,,
__Afifaku sayang, tanta ia kangenn

Gadis Mawar Berduri

Kau, seperti gadis kecil yang kegirangan melompat-lompat di antara bunga-bunga mawar dan kau lupa bahwa ada tangkai yang berduri telah patah dan sesaat kemudian tanpa kau sadari telah melompat tepat di tangkai berduri itu.
Kau,, bahagia luar biasa di satu sisi namun di sisi lain kau sakit luar biasa..
Dan kini, entah mengapa tangismu membangunkanku bahwa kuharus menyingkirkan tangkai berduri itu tanpa kau sadari jika duri itu telah dulu melukai diriku terlalu dalam...

Kejutan

Kejutan,, sesuatu yang membuat jantung berdetak lebih kencang dan darah mengalir lebih lancar..

Sepagi

Sepagi ini, akulah mungkin satu satunya manusia yg bingung mau ngapain hari ini. Setelah menjemur pakaian seember, setelah menyapu rumah dan halaman dan setelah menyirami bunga. Aku bahkan merasa malu hanya sekedar menyapa ibu-ibu di depan, rumahnya hanya dijaraki lapangan sepak bola yg tidak luas dari rumahku. Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku ingin menyapanya sebagai tiket untuk bisa meminta bibit bunga yg indah tertanam di depan rumahnya. Aku pernah ke rumahnya, mungkin dua tahun yg lalu, itupun aku memperkenalkan diriku sebagai tenaga survey sebuah penelitian. Lupa mengatakan kalau aku tetangganya.
Atau terlalu malu menegur kakek tua yg rumahnya pas di samping rumah ibu pemilik bunga, istri si kakek baru meninggal dua hari yg lalu, itu menambah kecanggunganku..
Dan di sinilah aku, hanya melipat lutut yg hampir kesemutan memperhatikan banyak orang. Supir angkot yg sedari subuh sudah mencari penumpang. Semoga tak lupa sholat subuh dulu. Atau bapak2,ibu2 yg mengantarkan anakx ke sekolah dengan sepeda motor. Atau ibu tukang sayur yang mendorong gerobak sayurnya sambil teriak "sayur sayur". Yang kutahu ujung tujuanx adalah pasar lorong kecil di blok C. Si ibu udah hapal wajahku. Hingga jika aku lewat di depannya, dia langsung suruh aku pilih sayurx. Gag nax dulu beli apa tidak, langsung pilih. Maksa kadang2, tp aku suka beli, sayurx pada segar2, tomat dan lombokx pada besar2.
Dan sepagi ini aku yakin. Gag cuma org2 yg lewat di depanku ini yg lagi nyari kehidupan baik yg dijanjikan Allah. Tapi jutaan org di luar sana.
Aku? Kan udah blg dr td kalau masih bingung mau ngapain. Semoga aja gag bnyak yg kyk aku. Tapi,,tetap kudu bersyukur gag bingung gimana caranya bernafas sepagi ini.

Perjanjian

Dan perjanjian dua insan manusia telah dimulai hari ini. Biarlah ini menjadi kenangan sekaligus pengingat jika waktunya tiba.
__Allah...saksikan!!!

17 September 2016

Tempat yang Penuh Rahasia

Tempat yang penuh rahasia adalah daerah air mata.
Di sana bisa didapati pedih yang tertumpah ruah.
Di sana bisa didapati bahagia yang menyeruak.
Atau kadang kadang pedih dan bahagia terpercik bersamaan.
Dan aku selalu menyukai daerah itu. 
Mungkin bisa mengeluarkan sesak yang sempat tertahan di dada, kemudian terbang dan hilang melebur bersama bintang di angkasa.

Perempuan

Padahal udah ngapalin beribu ribu kata, berbaris baris kalimat dalam hati. Eh, pas ditanya "kenapa?", jawabnya "gag kenapa kenapa"
PEREMPUAN

Laki-laki Konyol

Katanya. Ketika Tuhan menciptakan laki laki konyol di dunia ini. Maka, Tuhan juga menciptakan perempuan bodoh yg siap menertawakan kekonyolan laki laki konyol itu setiap hari.

Sahabat

Sahabat,,, cinta terindah tanpa ikrar yang akan hidup selamanya.
__Eidelweis Almira

Pertemuan

Dan pertemuan sebenar adalah saat memulai penantian.
Ujungx tak mungkin meragu. 
Sebab, jikapun hadirmu hanya semu. Nantiku tetap nyata berkawan waktu.

Perpisahan

Perpisahaan,,, upacara menyambut hari-hari penuh rindu.
__Pidi Baiq

Aksi

Sore tadi mungkin bisa dibilang lagi diberi kesempatan bernostalgia masa masa beberapa tahun lalu saat masih berstatus mahasiswa. Pintu satu unhas,,,beberapa anak muda dengan semangat, mereka tidak bermaksud untuk mengganggu pengguna jalan. Sama sekali tidak, hanya ingin memberi kesempatan untuk beramal. Iyyah, amal yang semoga Allah balas dengan pahala yang luar biasa.
Aksi solidaritas untuk saudara kita yang ada di Garut. Dan terwarnailah soreku dengan ikut nimbrung yang sebenarnya jelas tidak ngapa-ngapain. Cuma berdiri di pinggir jalan memperhatikan adik-adik yang terlampau muda dariku. Beda 4 5 angkatan. Jelas saja hanya seorang yang kukenali wajahnya.
Dalam hiruk pikuknya kendaraan yang lalu lalang, sehiruk pikuk juga adik-adik akhwat ini menawarkan untuk membantau saudara-saudara yang terkena banjir bandang beberapa waktu yang lalu. Semangat membantu lebih besar dibanding rasa takut kalau kalau ada kendaraan yang tiba-tiba nyerempet. Beberapa kali merasa ngeri melihat adegan jika lampu merah berubah jadi ijo.
Ah, semoga mudaku dulu (merasa tua) pernah juga sesemangat mereka. Nostalgia yang indah di penghujung sore. Terimakasih adik-adik KAMMI--->KAMMSAT.
Hingga, pulangku berpikir dan mengingat ingat. Ketika jadi anak KAMMSAT, berpikir anak KAMMDA itu keren, saat di KAMMDA berpikir anak KAMMWIL itu keren. Dan saat di KAMMWIL berpikir dan meyakini sepenuh hati,,anak KAMMSAT memang yang paling hebat..

Bangkit

Ada hari-hari saat aku ingin menangis dan melolong,
Ingin menyerah sepenuhnya, mengaku kalah,
Tapi aku mengangkat kepalaku dan maju menyeruak,
Aku punya banyak untuk diberikan dan dilakukan.
Dan aku bersumpah bahwa, meskipun hidup ini sulit,
Aku akan maju sambil tersenyum dan memainkan setiap kartu ini.
Aku memberi semampuku, membantu sesama dan mencintai.
Apa pun yang terjadi, kehidupan akan mekar kembali,
Dan kekuatan yang tak kumiliki akan datang dari Atas.
Maka kemarilah, raih tanganku dan kita berlayar menembus kegelapan.
Kau siap???

Jedah

Berhenti sejenak, mengambil jedah.
Capek?? Tidak juga.
Hanya ingin mengumpulkan kekuatan.
Untuk bisa berlari kencang suatu saat.
Jika takdir mengizinkan.
Kan kutinggalkan masa kini yang nanti hanya akan menjadi masa lalu.
Ini keputusan sudah membulat.
Tak akan kusesali.
Sesalku, jika tidak kukatakan sekarang.
Maka, maaf atas kejujuran yang terlampau gamblang.
Semoga tak menjadi beban, terutama untukku sendiri.
Jikapun ia, akan kunikmati.
Tenang, aku jago soal itu.
Sekali ingin menyejukkan, namun ada kala malah menggerahkan.
Sekali lagi maaf.
Aku, angin musim kemarau yang terlupakan saat penghujan telah datang...

Selasa, 19 Januari 2016

Mitsaqan Gholizah

Sedari pagi dia sudah menyiapkan tekad mengucapkan kata-kata itu. Sedari pagi dia bahkan sudah membaca lagi postingan seorang teman di akun facebook tentang kisah Salman Al Farisi, tentang cintanya yang dia serahkan kepada sahabatnya Abu Dzar. Sedari pagi bahkan dia kembali meyakinkan diri bahwa inilah takdir terbaik yang Allah berikan padanya. Sedari pagi Ahmad saudara tanpa talian darahnya itu kelihatan sangat bahagia, senyum yang dia beri tak pernah seindah itu sebelumnya.
Dan kini dia melihat lagi saudaranya itu di seberang sana masih menghias wajah dengan senyumnya. Kini, dengan bermodal kemeja berlapis jas hitam dan sepatu pantofel dia melangkah mendekat. Di sana ada sahabatnya dan seorang bapak penghulu beserta para saksi. Mitsaqan gholizah, sakral dan hikmat. Hingga beberapa detik berlalu "Sah..." sahutan beberapa saksi menyadarkannya bahwa baru saja ia mengucapkan Ijab Qobul. Arsy bergetar,menggetar pula dadanya.

Minggu, 10 Januari 2016

Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah

Bagaimanalah kami terlampau sedih menghadapi sebuah ujian sedang engkau diuji bertubi-tubi dari Rabbmu dengan sangat berat, bahkan hingga kepergianmu ..
Bagaimanalah kami terlalu mengeluhkan lapar yang hanya beberapa jam, sedang engkau senantiasa menghias pengikat bajumu dengan batu-batu pengganjal laparnya perutmu..
Bagaimanalah kami terlalu mengeluhkan beban dakwah hanya sebab sms kami tak terbalaskan mad'u, seruan menjalankan kewajiban tak diindahkan sedang engkau diolok-olok, difitnah, dilempari, terancam terbunuh, bahkan gigi2mu harus tanggal, besi pelindung wajahmu menembus wajahmu mengucurkan darah di uhud,, sakit yang kau rasa sungguhlah tak bisa tergambarkan..
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami mempelajari, mengamalkan, mengajarkan kepada saudara kami wahyu yang turun kepadamu sedang turunnya padamu membuat keringatmu mengalir, kadang sesak batapa beratnya, tapi engkau mengajarkannya kepada kami dengan tulusmu..
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami membalas cintamu yang jika kami mengumpulkan semua cinta-cinta terserak kami tak sanggup menyamai cintamu kepada kami,,
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami memikirkanmu yang hingga sakaratul mautmu masih engkau pikirkan kami umatmu,, Ummati,ummati,ummati..
Bagaimanalah kami Yaa Rasulullah,, Bagaimanalah kami meneruskan dakwahmu ini yang telah menerangi hidup-hidup kami, yang engkau perjuangkan dengan harta, darah, bahkan nyawamu hingga kami bisa menikmatinya sekarang..
Yaa Rasulullah,, betapa rindu ini.. Betapa rindu ini tak bisa tergambarkan,, betapa inginnya kami yaa Rasulullah,, inginnya kami memandang wajahmu kelak, minum di Al-kautsarmu..
Tapi Yaa Rasulullah, bahkan cinta ini, rindu ini, perjuangan ini amatlah jauh,,jauh dari yang kau lakukan untuk kami ummatmu,, Maka bagaimanalah kami yaa Rasulullah... Bagaimanalah kami...
Allahumma Sholli Ala Muhammad yaa Rabbi Sholli alayhi washolli..