Senin, 29 Januari 2018

Kehilangan Tawa

Aku terkapar di lantai sepi
Kedinginan menatap luka-luka yang menangis pilu
Meneriaki jalan panjang yang berlari menjauh
Meninggalkan berbagai duri kehidupan pada lelahnya jiwa yang meratap pilu

Kemana perginya segala tawa?
Di mana senyum-senyum cemerlang itu singgah dan lupa kembali pulang?
Sungguh, aku sedang rindu
Aku rindu tertawa dengan begitu bahagia
Waktu kau dengan ceria bercerita tentang rupa-rupa lelucon dunia

r.i.a
Maros, 29 Januari 2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Titip Rasa


Ketika lengan malam mendekap dalam gelap
Aku meringkuk bersama sepi di lorong hampa yang dingin
Menyesap berbagai andai
Meraba berjuta harap
Menumpahkan bermacam lara yang tak mau pergi
Memutar ratusan memori tentang kita yang kini hanya bisa menertawai

Ada berapa banyak aku dalam kamu?
Sedang kamu tidak terhitung banyaknya dalam aku yang bertaruh dengan waktu
Pernah kudengar, aku tak lebih dari pandang sebelah matamu
Terusir bersama hening, terkoyak sepi pada labirin kenestapan
Yang sayang masih saja menyimpan banyak ingin jumpa di kedua bola mata

Pada apa harus aku titip rasa ingin temu?
Apakah pada air mata yang menggenangi sungai kesepian?
Ataukah pada do'a yang telah bosan menembus angkasa raya?
Ketahuilah, kau masih saja yang aku sebut

r.i.a
Maros, 27 Januari 2018

Jumat, 26 Januari 2018

Bisik Rindu

Di setiap nafas pagi matahari
Ketika deru suara angin lembut menerpa
Aku dan mata senduku tak pernah berhenti
Mengamati jejak-jejak langkahmu di balik jendela rindu.

Mata yang terpejam
Bibir yang membeku
Hanya mampu mengandalkan telinga
Untuk apa?
Meraba derap suara yang kau tinggalkan di setiap persimpangan-persimpangan canda

Sekali lagi, jatuh yang kesekian kali
Bersama pedih-pedih bisik merpati
Ada air mata yang menitik
Membasahi ujung-ujung terali besi
Tempat aku menabung rindu yang tak terperih

Tidakkah hatimu juga berkeluh
Perihal kangen yang buncah-buncah ingin menggerus
Pada setiap waktu yang begitu tega menggilas tunggu
Hanya sekadar satu kata "temu"?

Beranda ini tuan, telah lelah menjadi sandaran penantian
Telah koyak oleh tetesan kesedihan
Dan kini ia ingin menghilang
Karena tidak mampu menampung perih yang setiap hari tak berhenti tertuang

Jumat, 12 Januari 2018

Janji

Janji yang tak terkatakan begitu hebat menerjang keyakinan.
Jika bukan karena titah dari kerajaan hati,  maka lama sudah aku tumbang bersama puing-puing kenestapaan.

Lelucon

Terlalu banyak lelucon di dunia ini yang minta untuk ditertawakan. Tapi tak ada lelucon yang lebih konyol selain bahwa banyak yang tetap bertahan meski tak ada yang mencoba menahan. Banyak yang tetap menunggu meski tak ada yang berjanji untuk datang. Banyak yang tetap berharap meski tak ada yang pernah menanam benih asa. Yah, karena dunia tak lebih dari hanya sekadar senda gurau berpenuh lelucon yang siap ditertawakan.

Bidadari Kecil

Entah selalu harus bagaimana diri ini mengucap syukur. Di salah satu sudut rumah ini, Allah menitipkan ragaku untuk kembali mengecap cinta melalui deru nafas yang beraturan, melalui kelopak mata yang indah meski sedang terpejam, melalui gerakan slow motion memperbaiki posisi nyenyak yang mungkin terganggu oleh silau lampu kamar atau desir suara kipas angin.

Dua bidadari kecil dengan suara cempreng menyambutku pertama kali di rumah surga ini dengan penuh sayang. Suara cempreng yang berubah indah di kala sebakda subuh melalui tasmi' panjang sehalaman ayat suci keagungan Allah membuka hari dengan syahdu. Suara manja yang memintaku tidur di antara mereka di malam kali pertama mataku sukses terpejam bahagia dalam tenang. Tubuh mungil yang menggeliat kala fajar mulai tampak oleh tepukan lembut atau suara gedoran pintu. Wajah lucu yang tetap imut mencoba mengusir kantuk karena sempoyongan ke kamar mandi lalu membasuh tangan, wajah hingga kaki sampai suci.

Lalu harus bagaimana aku bersyukur bahagia sebab telah dikirim ke dalam kotak penuh sayang ini, dibungkus dengan canda dan tawa, lalu dihiasi pita-pita keberkahan. Lihatlah, dua makhluk kecil yang sedang berenang dalam kolam mimpi ini. Bidadari kecil yang Allah kirim sepaket dengan kelincahan kaki dan tangannya. Betapa aku yang tidur di antara mereka tiba-tiba terjaga oleh laku mereka. Seorang kakinya di atas perutku, seorang lagi kepalanya menggeser posisi kepalaku, membuatku kegerahan dan berakhir menertawakan diri di tengah malam.

Ah, bidadari-bidadari barunya kak Ria. Adik-adik lucu dan imut yang punya senyum bahagia. Ayo bekerjasama yah. Bahkan hari pertama kak ria masuk di rumah surga kita, kalian sudah memberi kak Ria pe er yang begitu banyak. Membuat kak Ria kembali menjadi sosok cerewet yang super bawel karena tidak tenang melihat banyak hal tidak pada tempatnya. Dan sekali lagi, kalian menggunakan senyum yang berkilau untuk menyihirku dan membuatku tenang menjalani hari-hari penuh sayang di tempat ini.

Sekali lagi kupandang wajah dua perempuan cilik ini dan berharap besok mereka masih ada di sampingku menemaniku mengusir gelisah akan kesendirian menyelam dalam mimpi.

Maros, 10 Nopember 2017
~*Hasdaria

Rindu Rosulullah

Wahai lelaki yang punya cinta untuk ummatnya yang luar biasa akbar.
Cinta yang jika ada cinta yang dikumpulkan dari seluruh umatnya tak mampu menyamai sedikitpun menyamai cinta yang ia miliki. #MuhammadSAW

Wahai lelaki yang punya tangisan rindu yang sesak kepada ummatnya. Yang jika ada rindu yang tiada bertepi ditujukan padanya, tak sedikitpun menyamai rasa rindu yang ia miliki. #MuhammadSAW

Yaa Rasulullah. Yaa Nabiullah..
Rindu yang kami miliki adalah rindu-rindu yang malu-malu tertuju padamu. Sebab, apalah rindu yang kami miliki ini, rindu yang dinodai berbagai dosa yang mengkhianati rindumu.

Rindu kami yaa Rasulullah.
Rindu kami, rindu yang walau malu-malu, tetap ingin kami kirimkan lewat dingin malam, lewat pecahan tangis yang bersujud. Karena Engkaulah cahaya firdaus yang dikirim ke bumi untuk menerangi kami.

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

*Maulid Nabi Muhammad SAW 1 Desember 2017 M/12 Rabiul awal 1439 H

Denganmu, Aku

Bersamamu aku bisa memiliki senyum cemerlang.
Hanya mendengar suaramu aku bisa punya tawa yang paling bahagia.
Tapi pada sisi lain, denganmu aku punya tangisan yang sungguh menyakitkan.
Maka, melepasmu adalah caraku membiarkanmu menemukan bahagiamu yang paling berkilau.

r.i.a

Mencintai dengan Cara Ketiga

"Coba tebak tiga cara mencintai?" tanyaku mengujimu
"Pertama, seorang wanita yang menangis.
Kedua, seorang lelaki yang menghapus air mata wanita itu.
Yang ketiga...yang ketiga..."jelasmu menggantung.
"Yang ketiga?" Buruku penasaran..

Dan kau hanya tersenyum...

Lalu aku memandang wajahmu penuh tanda tanya. Menuntut diberi jawaban atas tiga cara mencintai yang masih engkau gantung.

"Hmmm, baiklah.." kau menarik nafas begitu dalam seakan jawabanmu begitu berat kau ucapkan.

"Yang ketiga adalah seorang lelaki yang menangis dan tak seorangpun yang menghapus air matanya." Kali ini kau menatap mataku lekat.

"Dan aku mencintaimu dengan cara ketiga"

r.i.a

Senyum

Sebaris duka yang menggelayut di permukaan wajah seketika sirna oleh satu senyum yang kau lempar ke kedalaman samudera jiwa.

Melepaskan

Sebab pada hakikatnya, cinta itu melepaskan. Melepaskan dan menyerahkan seluruh keputusan hanya di tangan Allah. Melepaskan dan menerima segala ketentuan yang berharap melimpah keberkahan hanya dari Allah. Memang benar, engkau akan bahagia jika berjodoh dengan orang yang kau cintai karena itu berarti nama yang kau sebut dalam doa panjangmu adalah yang bersisian dengan namamu di lauh mahfudz. Pun tentu engkau akan bahagia jika akhirnya dipertemukan dengan orang yang mencintaimu, sebab hanya namamu yang ada dalam doa panjangnya selama ini.

Dan adapun aku. Aku tidak ingin menyebut satu nama. Sebab, aku akan malu jika nanti ternyata Allah pertemukan dengan orang yang tak pernah kusebut namanya dalam talian doa-doaku. Juga aku akan begitu malu jika ternyata  kelak aku berjodoh dengan dia yang dengan khusyuk menyebut namaku dalam sujud panjang di antara rakaat sholatnya.

r.i.a

Rintih Hati

Lihatlah, hati masih saja mengaku pencari surga tapi di dalamnya bersarang ribuan dosa.
Kebaikan secuil serasa selangit, di antara mata manusia ia khusyuk tapi dalam sepi ia berkawan maksiat.
Sungguh, manusia telah banyak meninggalkan iman dalam lorong-lorong kemunafikan.
Diam-diam berharap neraka membeku bahkan hilang lenyap tak bersisa.
Waktu yang ia miliki, ia hambur-hamburkan dalam kedurhakaan kepada Tuhannya.

Tidak cukupkah peringatan yang sampai padamu wahai hati? Marilah kita kembali merengkuh do'a-do'a pengampunan dalam taubat yang sesungguh taubat.
Tidak cukupkah kabar gembira membesarkanmu wahai iman? Marilah kita kembali memeluk do'a-do'a harapan kepada Tuhan kita agar diberi surga.

Dari rintihan tetes air mata yang telah jarang menyentuh pipi tawadhu bersarang iman.

r.i.a

Pesan Rindu

Pesan rindu yang terangkai, kebingungan hendak bagaimana sampai pada pemiliknya.
Maka dia hanya mendekap dalam jeruji kesepian menelan pahit ketaksampaiannya.
Bertanya-tanya, kapankah waktu akan mengajaknya melepaskan bebannya.
Sekarang ia sedang tergugu sendu ingin meneriaki semesta. Meminta tolong agar ia diterbangkan segera menuju. Padamu..

r.i.a

Do'a Kecil

Mengiba kepada hujan untuk berhenti sejenak. Sekadar menyelamatkan ingatan akan percakapan manis dulu. Sebab kini, semua serasa...entahlah, antara legah dan sesak. Dan berada pada dua perasaan yang ambigu ini menimbulkan perasaan aneh yang begitu asing. Kemudian aku menengadah, ada ribuan malaikat yang dengan lembut membawa sisa-sisa air hujan. Di lengan mereka kutitipkan do'a, berharap menembus lapisan langit. Doa kecil perihal agar kau selalu bahagia.

r.i.a

Hidup yang Berwarna

Ada hitam ada putih.
Tapi di sana ada merah kuning hijau.
Di sebelahnya ada biru dan abu-abu.
Namun kaki hanya ada dua.
Sedang ingin begitu banyak.
Ingin menikmati semua warna warni kehidupan.

Allah, tolong panjangkan langkahku.
Karena tak mungkin kutambah jumlah kakiku.
Engkau telah anugerahi keluasan bumiMu untuk kujejaki.
Sehingga, merah kuning hijau serta biru dan abu-abu bisa kudekap begitu erat.

Ada yang bilang, hidup begitu singkat.
Hanya pada awal adzan berujung iqomat.
Lahir diadzani, mati diiqomati.
Maka, sepanjang adzan dan iqomat.
Izinkan aku menyelami aneka rupa warna dunia.
Untuk kubawa kebaikannya hingga ke akhiratku.
Sungguh, nikmatMu yang manakah yang akan terdustakan?

r.i.a

Biarkan Aku Pergi

Telah kutinggalkam sembilu di laci keheningan.
Telah kuusir duka yang mengambang di telaga kekosongan.
Juga telah kucerabut lara yang terus saja mengintai di balik jendela.
Bagiku hidup harus terus bernafas, meski telah kutinggalkan segala yang dulu mengukir cita di segala sudut harapan.
Maka, biarkan aku pergi ke segala penjuru mata angin.
Hingga nanti, kulupa bahwa kau pernah ada di kehidupanku yang telah usai.

r.i.a

Cangkir Rindu

Aku dan sepi duduk berdua menikmati secangkir rindu yang diseduh dengan air mata kehilangan..

r.i.a

Bisik Mata

Mata berbisik kelu perihal ia takut terpejam sebab jika ia terpejam, maka ia akan terjebak dalam bingkai yang penuh wajahmu

r.i.a

Singgahlah

Jika telah lelah, singgahlah sebentar

Sekadar menyapa jutaan kelip sayang yang ada di mataku

Dan, kemaslah kembali pecahan-pecahan rindu kita sebagai bekal dalam perjalananmu

r.i.a

Bahagiaku

Bahagiaku sederhana, sesederhana menghirup udara pagi dan menikmati segelas kopi di teras rumah. Melihat anak-anak kecil berlarian menggigil karena disuruh ibunya mandi sepagi buta di cuaca yang hampir minus derajat. Sebinar mataku dulu ketika bapak pulang sore-sore dari menyetir mobil angkutan umum dan sekali lagi menginjak rem hanya untuk membawa kami anak-anak sekompleks keliling desa sekali putaran yang berhasil memutar kebahagiaan itu berkali-kali dalam ingatan sampai mata terpejam malam harinya.

Dan aku sampai kini masih saja tersesat dalam labirin-labirin kebahagiaan yang sulit aku ungkapkan. Meski di mata orang begitu sepele. Semisal, hanya jalan-jalan ke pasar dan melihat berton-ton ikan segar, berkilo-kilo sayuran dan tomat yang memerah. Semisal menikmati masakan kapurung mama yang menjadi requestan pertamaku setiap kali pulang kampung. Seriang pendengaranku yang dijejali suara mama mengabarkan banyak hal di kampung jika sudah kembali ke kota, menghabiskan 200 menit talk mania yang dipakai untuk curhat apa aja. Seceria langkah kakiku yang tegap namun getar di antara kabut-kabut yang mendinginkan hampir seluruh saraf-sarafku, menghirup udara basah yang penuh kabut dan angin sepoi yang berhembus seakan menampar wajah berkali-kali di sebuah kaki gunung.

Sekali lagi, bahagiaku sederhana. Sesederhana menghabiskan berlembar-lembar goresan pena penulis hebat yang sukses membobolkan air mata saking sedihnya atau meledakkan tawa saking hancurnya. Dan temanku akan bergumam setelah melihat wajahku yang tertekuk atau sedang merenung karena terlalu menghayati isi cerita "Merasa sebagai pemeran utama lagi?" sambil geleng-geleng kepala dan sejurus kemudian melempar ledekan-ledekan jahat soal 'hey, kamu kan gagah, masak gitu aja nangis?' sedikit menjengkelkan tapi sukses menerbitkan kembali senyum yang sempat hilang.

Sesederhana menikmati kembali potongan-potongan kenangan masa lalu lewat beberapa lagu lawas "Hindi" yang aku sendiri kaget, masih hapal di luar kepala saja saya lengkap dengan kisah dan siapa-siapa pemerannya dan buat teman aku geleng-geleng kepala. Secara, entah bagaimana, dulu waktu kecil, di rumah kami yang ruweh setiap hari memutar dvd-dvd india dan ikutan joget nggak karuan. Tidak kehitung lagi berapa vcd yang disewa bapak cuma untuk membawakan hiburan untuk kami di rumah.

Dan ini, di hari pertama liburan yang dikasih ummi adalah sebagian dari banyaknya bahagia yang diturunkan Tuhan kepada hamba yang masih jauh dari ketakwaan dan ketaatan ini tapi selalu diberi dan diberi kejutan setiap saat. Membuatku sadar, untuk bahagia tak perlu mewah. Untuk bahagia tak perlu mapan, untuk bahagia tak perlu jauh-jauh mengejar sampai ke kutub segala. Untuk bahagia tak perlu menunggu siapa untuk membuatmu bahagia. Karena sebenarnya, bahagia itu, ada dalam hati yang bersyukur...

r.i.a

Pagi

Apa yang menerbitkan senyummu pagi begini? Sarapan yang enak? Mendengar lagu kesukaan? Melihat orang-orang tersayang masih dijaga Tuhan?

Aku? Aku melihat matahari terbit dan lengkungan di bibirkupun terbit dengan ceria..

r.i.a

Kenangan

Kenangan adalah hal termegah yang dimiliki setiap orang. Mampu meloloskan beberapa tetes air mata kesedihan. Juga dengan hebatnya bisa membuat lukisan senyum indah di bibir yang sedang bahagia.

Kenangan mudah sekali hadir di dalam kepala. Menari-nari, berputar-putar bahkan berlompatan dengan lincah. Apalagi ketika dihadapkan pada satu momen yang sepersis dengan isi memory kita.

Apa yang aku pikirkan duduk di depan air yang mengalir ini? Tidak ada sebenarnya. Hanya, beberapa kenangan muncul secara tiba-tiba di kepala. Melesatkan berbagai peristiwa-peristiwa hebat masa kanak-kanak.

Sungai, air yang mengalir, suara gemericiknya hingga bebatuan dan rumput-rumput serta daun dan tumbuhan yang begitu asri mengelilingi sungai. Di belakang rumah kami, sungai yang lebar teraliri air yang banyak, tumpah meruah. Salah satu anugerah Tuhan yang melengkapi kanak-kanak kami dengan begitu cerianya berlompatan, berkecipratan, berlarian, bermain apa saja di sekitar sungai dan terutama di dalam air sungai yang mengalir hebat jika sedang musim hujan dan tenang saat kemarau datang.

Aku pernah merasakan, betapa bahagianya ketika sepulang sekolah dan perut telah terisi makanan masakan mamak, teman-teman memanggil di kolong rumah, mengajak bermain di sungai. Berenang sambil main tangkap-tangkapan, membuat rumah-rumahan dari tumpukan batu-batu, saling bercanda, tertawa tanpa beban. Dan jika sedang deras-derasnya air sungai, maka siap-siap kena semprot atau pacutan kayu sebesar lengan orang dewasa ketika pulang dan ketahuan habis berenang. Mungkin karena dulu waktu kecil, saya lebih suka bermain dengan adik laki-laki yang beda usia setahunan, maka tingkahku agak tidak jauh beda dengannya. Nakal ala-ala anak laki-laki yang keluyuran entah sampai di mana. Tapi dulu, orang tua bukanlah orang tua model orang tua jaman sekarang. Orang tua jaman dulu tidak seprotek orang tua sekarang. Nanti kami dicari jika benar-benar sudah maghrib dan belum muncul di depan pintu. Maka, mamak dan bapak selalu percaya, kami akan pulang sendiri jika sudah lapar atau jika sudah sore kami akan kembali entah dengan keadaan baju basah, lumpur di mana-mana dan sukses buat mamak kecapekan hanya karena mencuci baju kami yang super kotor.

Dan di sinilah aku, di hari kedua waktu liburanku, aku kembali menapaki jalan yang sama di hari pertama, walau sedikit menanjak untuk bisa melihat sungai kecil di atas air terjun. Rencana yang tinggal rencana tentang pendakian ke lembah ramma tidak terlaksana sampai kami pulang sebab cuaca yang tidak mendukung. Inipun dari pagi hingga siang hujan mengguyur dan mencipta kabut dengan jarak pandang sekitar satu dua meter saja. Akhirnya, tanpa mengurangi kebahagiaan kami berjalan di antara semak-semak dan udara basah menikmati sepenggal tanah indah di kaki gunung ini. Bukannya sungai adalah salah satu ikon paling sering disebut dalam penggalan surganya Allah?

Maka, selalu ada banyak cara untuk menikmati hidup bukan??

r.i.a

Jika Kita Tersesat di Hutan

Jika suatu hari kita tersesat di hutan. Kau tak perlu susah payah menghiburku agar aku tidak takut. Sebab di dalam sana, ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan dengan lincah di antara bunga-bunga liar yang sedang mekar. Itu sudah cukup membuatku tertawa.

Jika kita akhirnya semakin jauh terjebak. Kau tak perlu takut bahwa aku akan bersedih hati. Tidakkah kau tahu, di sana berbagai warna dunia tercipta sempurna. Hey, kau tahu ada berapa jumlah warna capung? Aku pernah melihat berbagai macam warna. Hijau, kuning,  cokelat, merah dan biru. Dan kau mesti tahu aku suka melihat mereka hinggap di daun-daun rindang.

Jika hutan tiba-tiba menjelma gelap gulita, kau tak perlu cemas. Aku yakin, ribuan kunang-kunang akan menerangi jalan kita untuk kembali pulang. Lincah menuntun kita di antara semak belukar dan bebatuan. Dan yakinlah, aku tidak akan menangis jika kita belum juga berhasil menemukan jalan keluar. Karena, bersamamu sudah cukup menghentikan air mata yang ingin merembesi pipi.  Melengkapi lengkungan senyum di bibir, mencerahkan tawa yang berisik beradu desir angin, mendendangkan degup jantung bernada cinta yang mengusir segala rasa gulana.

Tapi pastikan satu hal saja. Bahwa kau menjaga dirimu baik-baik. Itu sudah cukup.

r.i.a

Cinta Seorang Wanita

Aku bertanya pada seorang wanita
"Mengapa masih bertahan saat telah begitu banyak disakiti?"

Jawabnya "Karena aku punya maaf yang lebih banyak dari sakit-sakit itu."

Dan aku bingung. Sekuat itukah orang yang sedang mencinta?

r.i.a

Tunggu Ibu, Salwa Ingin Pulang

Ibu, adalah surga yang selalu dirindukan. Hangatnya, kasihnya, cintanya, perlindungannya, semua hal yang tidak akan selesai kita hitung hanya menggunakan jari-jari tangan dan kaki kita.

Sudah hampir 2 bulan saya hidup di antara adik-adik yang ketemu gede di sini. Setiap hari  hidup serasa sangat berwarna. Kadang tawa selepas-lepasnya, sebel sesebel-sebelnya, haru seharu-harunya. Seharu malam ini ketika hampir seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam buaian mimpi-mimpi.

Sebakda isya ada seorang adik akhwat yang paling kecil di sini. Dia baru duduk di bangku kelas 4 SD. Memilih hidup di sini berarti anak-anak ini harus berani tanpa ibu dan bapaknya. Sama seperti adik ini. Salwa namanya. Diam, duduk di dekat pintu. Beberapa kali teman sekamarnya memanggilnya untuk tidur. Saya yang duduk di sekitarnya mulai bertanya "Ngapain duduk di situ dari tadi?" merasa heran karena hampir sejam saya duduk di ruang depan mengamati berbagai kesibukan penghuninya yang hiruk pikuk. Ada yang sedang makan, beberapa adik ikhwan menyetor hafalan, beberapa adik akhwat bercerita ngalor ngidul, seorang adik ikhwan menyetrika dengan serius, anak kecil sedang menangis karena ditinggal umminya barang sebentar dan abinya tidak berhasil menenangkannya, seorang bocah balita sibuk dengan mobil-mobilannya dan saya sendiri yang sibuk mengamati mereka satu persatu dengan berbagai ekspresi.

"Tunggu ibu kak" akhirnya Salwa menjawab dengan suara pelan. Dan aku kembali mengedarkan pandangan mengamati berbagai adegan kehidupan. Salwa duduk bersandar di dinding sepersis gaya saya.

Dari bakda isya tadi ibunya Salwa akhirnya datang pukul 22.00, membawakan kebutuhan adik satu ini. Sekejap saja, lalu pergi lagi. Adegan pertemuan mereka tidak sempat saya saksikan karena sudah sibuk bersih-bersih persiapan tidur. Lalu, saya dengar suara deru mobil bersamaan dengan ucapan "da da" dari Salwa. Namun belum beberapa detik setelah menutup pintu rumah, adik yang tadinya saya yakin pasti bahagia akhirnya bertemu ibunya malah kembali membuka pintu, berlari mengejar mobil sambil berseru memanggil ibunya. Suaranya mulai berubah bercampur isakan kesedihan.

Saya dan seorang adik akhwat yang lain ikut keluar rumah, berlari mengejar Salwa yang sudah berada jauh di ujung jalan. Saya percepat berlari takut-takut terjadi apa-apa dengan si kecil. Akhirnya kami bertemu dengannya dalam keadaan sudah berderai-derai. Air matanya jatuh begitu banyak disertai isakan menyedihkan.

"Loh, kenapa dek?" Saya termasuk tipe manusia yang susah sekali menghadapi orang yang sedang menangis. Karena adik ini suka bermain dengan saya, maka saya hanya tertawa melihatnya menangis.
"Mauka pulang kak"
"Kenapa mau pulang?" Saya rangkul menuntunnya kembali ke rumah.
"Rinduka mamaku."
"Kan barusan ketemu." Dia malah bertambah berderai lalu berlari masuk kamarnya menyembunyikam wajah di balik bantal.

"Sudahmi dih, besokpi lagi ketemu mamata, besok kak ria kasih pinjam hape buat telpon"
"Hiks,hiks" tangisnya sedikit redah tapi isaknya belum. Dan saya masih bingung bagaimana menenangkannya. Hanya bisa elus-elus kepalanya. Untuk pertama kalinya saya lihat dia menangis sesedih ini.
"Hmmm, bobo sama kak ria yuk, ntar kita nonton lagu india di kamar kak ria." Entah bagaimana, mungkin karena sudah hampir seminggu ini, dia suka ikut nonton youtube lagu india sama saya akhirnya ikutan suka juga dan seperti dugaanku, tangisnya sudah berhenti saat kami menonton soundtrack aashiqui 2. Tapi isaknya sesekali masih terdengar.

Baiklah, ini pengakuan saja. Lagu india itu sesuatu di hati saya jadi tolong dipahami. Hehe

Melihat Salwa yang akhirnya tertidur pulas sejak tadi setelah menonton sekitar 4 lagu india, juga menerbangkan ingatan saya ketika pertama kali berpisah dengan orang tua. Hampir seminggu kerjanya hanya menangis di kamar mandi karena malu dilihat teman-teman di asrama. Itu saat saya sudah kuliah. Sangat jauh lebih tua dibanding umur Salwa yang masih SD kelas 4 ini. Lalu saya sambil mengelus kepalanya bergumam.

"Dek, kamu lebih kuat dari kak ria sayang..."
Masih sekecil ini sudah mau jauh-jauh dari orang tua, sudah belajar mandiri. Saya salut melihat adik Salwa yang paling kecil ini ketika menjemur pakaiannya sendiri, mengambil pakaian dari jemuran lalu melipatnya, menyapu kamar, mencuci piring sendiri. Dan jarang sekali mengeluh. Paling rajin kak ria mintai tolong. Apalagi kalau sudah sakit sedikit, Salwa suka pijitin dari kepala sampai kaki kadang sampai tangannya sakit dan saya tidak tahu karena dia tidak mengeluh. Nanti kalau sudah lama saya sadar sendiri kalau sepertinya dia sudah capek. Paling suka temani ke warung depan beli apa saja walau tanpa iming-iming akan dibelikan permen atau makanan kecil lainnya. Paling enak diajak jalan-jalan sore keliling kompleks.

Dan meski ribuan tawanya terbit dan memecah rumah, namun hatinya tetaplah menjeritkan kata ibu, ibu, ibu.. Ibu, Salwa rindu.. Semoga makin solehah sayang, Allah sayang sekali sama kamu dek, di sini ibumu punya niat yang mulia. Melihat Salwa menjadi hafizah, penjaga ayat-ayat Allah. Menghadiahkan beliau mahkota kemuliaan di akhirat kelak. Maka semangat adikku. Semoga suatu hari bisa berkumpul lagi dengan ibu dalam keadaan sudah jadi hafizah. Allahumma aamiin

r.i.a

Aku yang Kamu

Ada air yang tumpah-tumpah di sini
Seperti rasaku yang telah tumpah-tumpah sekian kali

Ada angin yang berlari-larian di sini
Seperti imajiku tentangmu yang tak pergi-pergi sejak kemarin

Ada embun dingin yang membekukan di sini
Seperti engkau yang tetap dingin membalas aku yang selalu kamu

r.i.a

Malaikat

Seperti ini: pada suatu hari kau bertemu dengan seseorang dan untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, kau merasa lebih dekat dengan orang asing ini daripada siapa pun-lebih dekat dari keluarga terdekatmu. Mungkin karena dia membawa malaikat dalam dirinya-dia dikirimkan kepadamu untuk tujuan yang lebih mulia; menyampaikan pelajaran penting atau mengamankanmu ketika terancam bahaya. Yang harus kau lakukan adalah mempercayainya-bahkan andai dia datang bergandengan tangan dengan penderitaan-alasan kehadirannya akan menjadi jelas pada waktunya.

Namun, ini adalah peringatan: kau mungkin tumbuh mencintainya, tetapi ingat dia bukan milikmu. Tujuan dia bukan menyelamatkanmu, tetapi menunjukkan kepadamu cara menyelamatkan diri sendiri. Dan, jika hal ini terpenuhi, lingkaran cahaya akan mengangkatnya, malaikat meninggalkan tubuhnya, dan seseorang hadir untuk hidupmu. Dia akan menjadi orang asing bagimu sekali lagi.

..........................................................
.
.
Kini gelap sekali di sini. Tidak ada sepercik cahaya pun di sekelilingku.
Karena cahaya berpendar dari dirimu. Kau tidak bisa melihatnya-hanya orang lain.

Kenang

Satu pagi yang cerah tanpa kabut di kaki gunung bawakaraeng. Setelah sebelumnya bersemedi di balik selimut, akhirnya dengan memberanikan diri, saya ke kamar mandi juga. Bersentuhan dengan air di daerah yang hampir minus derajat adalah salah satu percobaan penyiksaaan diri. Lebay, tapi coba saja sendiri, hehe. Yah, apa mau dikata, kami, pada  jumat terakhir di tahun 2017, datang di tempat ini not just for the fun of spending vacation time. Tapi melaksanakan sebuah “misi rahasia”, OK ini tidak akan saya ceritakan di sini, namanya juga rahasia. Dan buat beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tolong dengan sangat, jangan menjadi orang yang terlalu baik dengan membocorkan rahasia ini dikolom komentar. Hehe

Setelah berjuang mati-matian mengalahkan dinginnya air pegunungan, saya dan seorang teman bersantai sejenak. Menikmati sajian pagi dan sebuah novel. Beruntungnya, kami adalah dua orang dengan banyak kesukaan yang sama. Suka adventure, senang menghabiskan berjam-jam waktu untuk sebuah buku, berbahagia ketika bisa menulis beberapa kata di sebuah buku diary. Dan here we are, secangkir kopi, secercah cahaya matahari yang menghangatkan tubuh dan sebuah story of novel. Bedanya, teman saya ini yang setelah 2 hari bersamanya membuat saya agak sensi setiap berjalan dan dia akan mengeluh about “sepatunya yang akan kotor”. Sumpah mati, saya rasa-rasanya mau ambil sepatunya dan merendamnya di lumpur atau di comberan, haha. Tapi itu tidak akan saya lakukan. Saya sudah sangat beruntung bisa dia temani, setelah sebelumnya harus membujuknya yang sudah capek telah melakukan perjalanan jauh. Sumatera-Jakarta-Makassar. Dan beberapa saat setelah landing di Makassar langsung saya todong dengan “Pokoknya, kamu harus temani saya ke lembanna selama saya liburan, satu minggu, titik”.

Dia bersama Novel-yang saya sudah lupa judulnya-dengan bentuk sebuah buku dan saya bersama novel digital (ebook) di gadget. Dan tentu dengan story yang berbeda pula. Novel religi terjemahan tentang seorang wanita bercadar dengan segala pelik dan cobaan hidupnya membersamai teman saya. Sedangkan saya, berkonsentrasi dengan seorang Keara yang hidup di kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk kehidupannya. Clubing, drunk, boy friend dan intrik percintaan yang sangat alot. Pernah nonton anime Naruto dan fokus dengan kisah asmara mereka. Ah, kita akan gemes dengan Naruto yang menyukai Sakura teman satu timnya sedang Sakura tergila-gila dengan Sasuke yang stay cool dengan ambisinya dan tidak peduli dengan hal-hal berbau asmara dan seorang Hinata yang kalem, secret admirernya Naruto sejak kecil bahkan saat mereka belum masuk akademi ninja. Dan kisah Keara tidak lebih sama. Kisah klasik yang mungkin sangat banyak terjadi di mana-mana. Keara dan 3 orang sahabatnya adalah banker dengan gaji selangit yang diiringi dengan pekerjaan yang complicated. Dan juga punya kisah asrmara yang tidak kalah rumitnya. Ruly, lelaki cool yang baik hati dan alim membuat Keara fall in love at first sight. Denise wanita anggun yang keibuan adalah wanita impian Ruly yang sayangnya sudah mempunyai suami. Sedangkan Harris, sahabat Keara yang selalu ada ketika keara membutuhkan seseorang bahkan hanya sekadar kabur dari meeting yang membosankan, teman win win solution keara sampai mabuk, teman gila-gilaan Keara yang amat sangat rapi menyembunyikan perasaan kepada sahabatnya sendiri, keara. Jangan tanyakan bagaimana ending dari kisah cinta segi empat ini. Yang jelasnya, saya yang selalu dikatai teman saya sebagai “pembaca yang mengaku-ngaku pemeran utama di sebuah novel” sudah tergilas-gilas perasaannya membaca novel ini. Agak lebay
memang, tapi “Ika Natasya” memang penulis yang selalu sukses membuat pembacanya ber’oh’ atau ber’wow’ dan atau ‘oh oh begitu’. Lah, kok jadinya meresensi novel segala saya yah?

Ok, back to nature, eh back on my holiday. Setelah melaksanakan misi rahasia di hari ketiga selama di Lembanna. Kami akhirnya, siang itu selepas dhuhur kembali menjajaki desa. Meski sebenarnya saya tidak akan bosan dengan mengunjungi lagi water fall-nya yang so beautiful, tapi kali ini, karena selama 2 hari kemarin tidak sempat-sempat mendaki lembah ramma sebab cuaca yang tidak mendukung, rain again and again. Maka, di jumat yang cerah yang sayangnya jumat karena yang akan mengantar kami tidak mungkin sholat jumat di hutan. Jadi kami bermaksud menghabiskan saja sore itu dengan menyelesaikan berlembar-lembar novel yang belum selesai di hutan pinus. Hey, liburan malah baca buku? Tolong jangan dibully, ini hanya salah satu cara menikmati hidup bro.

Ketika kami akan sampai di hutan pinus, mata teman saya berbinar-binar melihat padang hijau di sisi kanan hutan dan serta merta mengambil inisiatif mengajak saya menuruni dan mendaki jalan berbatu untuk sampai di sebuah kebun wortel, yang meski hanya sebuah kebun wortel tapi huuu, eksotik banget sampai-sampai saya harus berlebay-lebay memakai gaya ala-ala video klip india yang sedang jatuh cinta hanya untuk mengekspresikan kebahagiaan, haha. Tolong jangan tanya saya ngapain aja di sana. Saya tidak akan jawab, biar Tuhan, alam dan beberapa klip mata kamera yang mengabadikannya yang tahu. Haha.

Karena sudah berkali-kali saya katakan bahwa bahagiaku itu sangat sederhana. Maka, beginilah caraku berbahagia dengan segala keseksian dunia. Tsahhh.

r.i.a