Jumat, 12 Januari 2018

Kenangan

Kenangan adalah hal termegah yang dimiliki setiap orang. Mampu meloloskan beberapa tetes air mata kesedihan. Juga dengan hebatnya bisa membuat lukisan senyum indah di bibir yang sedang bahagia.

Kenangan mudah sekali hadir di dalam kepala. Menari-nari, berputar-putar bahkan berlompatan dengan lincah. Apalagi ketika dihadapkan pada satu momen yang sepersis dengan isi memory kita.

Apa yang aku pikirkan duduk di depan air yang mengalir ini? Tidak ada sebenarnya. Hanya, beberapa kenangan muncul secara tiba-tiba di kepala. Melesatkan berbagai peristiwa-peristiwa hebat masa kanak-kanak.

Sungai, air yang mengalir, suara gemericiknya hingga bebatuan dan rumput-rumput serta daun dan tumbuhan yang begitu asri mengelilingi sungai. Di belakang rumah kami, sungai yang lebar teraliri air yang banyak, tumpah meruah. Salah satu anugerah Tuhan yang melengkapi kanak-kanak kami dengan begitu cerianya berlompatan, berkecipratan, berlarian, bermain apa saja di sekitar sungai dan terutama di dalam air sungai yang mengalir hebat jika sedang musim hujan dan tenang saat kemarau datang.

Aku pernah merasakan, betapa bahagianya ketika sepulang sekolah dan perut telah terisi makanan masakan mamak, teman-teman memanggil di kolong rumah, mengajak bermain di sungai. Berenang sambil main tangkap-tangkapan, membuat rumah-rumahan dari tumpukan batu-batu, saling bercanda, tertawa tanpa beban. Dan jika sedang deras-derasnya air sungai, maka siap-siap kena semprot atau pacutan kayu sebesar lengan orang dewasa ketika pulang dan ketahuan habis berenang. Mungkin karena dulu waktu kecil, saya lebih suka bermain dengan adik laki-laki yang beda usia setahunan, maka tingkahku agak tidak jauh beda dengannya. Nakal ala-ala anak laki-laki yang keluyuran entah sampai di mana. Tapi dulu, orang tua bukanlah orang tua model orang tua jaman sekarang. Orang tua jaman dulu tidak seprotek orang tua sekarang. Nanti kami dicari jika benar-benar sudah maghrib dan belum muncul di depan pintu. Maka, mamak dan bapak selalu percaya, kami akan pulang sendiri jika sudah lapar atau jika sudah sore kami akan kembali entah dengan keadaan baju basah, lumpur di mana-mana dan sukses buat mamak kecapekan hanya karena mencuci baju kami yang super kotor.

Dan di sinilah aku, di hari kedua waktu liburanku, aku kembali menapaki jalan yang sama di hari pertama, walau sedikit menanjak untuk bisa melihat sungai kecil di atas air terjun. Rencana yang tinggal rencana tentang pendakian ke lembah ramma tidak terlaksana sampai kami pulang sebab cuaca yang tidak mendukung. Inipun dari pagi hingga siang hujan mengguyur dan mencipta kabut dengan jarak pandang sekitar satu dua meter saja. Akhirnya, tanpa mengurangi kebahagiaan kami berjalan di antara semak-semak dan udara basah menikmati sepenggal tanah indah di kaki gunung ini. Bukannya sungai adalah salah satu ikon paling sering disebut dalam penggalan surganya Allah?

Maka, selalu ada banyak cara untuk menikmati hidup bukan??

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar