Jumat, 26 Januari 2018

Bisik Rindu

Di setiap nafas pagi matahari
Ketika deru suara angin lembut menerpa
Aku dan mata senduku tak pernah berhenti
Mengamati jejak-jejak langkahmu di balik jendela rindu.

Mata yang terpejam
Bibir yang membeku
Hanya mampu mengandalkan telinga
Untuk apa?
Meraba derap suara yang kau tinggalkan di setiap persimpangan-persimpangan canda

Sekali lagi, jatuh yang kesekian kali
Bersama pedih-pedih bisik merpati
Ada air mata yang menitik
Membasahi ujung-ujung terali besi
Tempat aku menabung rindu yang tak terperih

Tidakkah hatimu juga berkeluh
Perihal kangen yang buncah-buncah ingin menggerus
Pada setiap waktu yang begitu tega menggilas tunggu
Hanya sekadar satu kata "temu"?

Beranda ini tuan, telah lelah menjadi sandaran penantian
Telah koyak oleh tetesan kesedihan
Dan kini ia ingin menghilang
Karena tidak mampu menampung perih yang setiap hari tak berhenti tertuang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar