Jumat, 12 Januari 2018

Tunggu Ibu, Salwa Ingin Pulang

Ibu, adalah surga yang selalu dirindukan. Hangatnya, kasihnya, cintanya, perlindungannya, semua hal yang tidak akan selesai kita hitung hanya menggunakan jari-jari tangan dan kaki kita.

Sudah hampir 2 bulan saya hidup di antara adik-adik yang ketemu gede di sini. Setiap hari  hidup serasa sangat berwarna. Kadang tawa selepas-lepasnya, sebel sesebel-sebelnya, haru seharu-harunya. Seharu malam ini ketika hampir seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam buaian mimpi-mimpi.

Sebakda isya ada seorang adik akhwat yang paling kecil di sini. Dia baru duduk di bangku kelas 4 SD. Memilih hidup di sini berarti anak-anak ini harus berani tanpa ibu dan bapaknya. Sama seperti adik ini. Salwa namanya. Diam, duduk di dekat pintu. Beberapa kali teman sekamarnya memanggilnya untuk tidur. Saya yang duduk di sekitarnya mulai bertanya "Ngapain duduk di situ dari tadi?" merasa heran karena hampir sejam saya duduk di ruang depan mengamati berbagai kesibukan penghuninya yang hiruk pikuk. Ada yang sedang makan, beberapa adik ikhwan menyetor hafalan, beberapa adik akhwat bercerita ngalor ngidul, seorang adik ikhwan menyetrika dengan serius, anak kecil sedang menangis karena ditinggal umminya barang sebentar dan abinya tidak berhasil menenangkannya, seorang bocah balita sibuk dengan mobil-mobilannya dan saya sendiri yang sibuk mengamati mereka satu persatu dengan berbagai ekspresi.

"Tunggu ibu kak" akhirnya Salwa menjawab dengan suara pelan. Dan aku kembali mengedarkan pandangan mengamati berbagai adegan kehidupan. Salwa duduk bersandar di dinding sepersis gaya saya.

Dari bakda isya tadi ibunya Salwa akhirnya datang pukul 22.00, membawakan kebutuhan adik satu ini. Sekejap saja, lalu pergi lagi. Adegan pertemuan mereka tidak sempat saya saksikan karena sudah sibuk bersih-bersih persiapan tidur. Lalu, saya dengar suara deru mobil bersamaan dengan ucapan "da da" dari Salwa. Namun belum beberapa detik setelah menutup pintu rumah, adik yang tadinya saya yakin pasti bahagia akhirnya bertemu ibunya malah kembali membuka pintu, berlari mengejar mobil sambil berseru memanggil ibunya. Suaranya mulai berubah bercampur isakan kesedihan.

Saya dan seorang adik akhwat yang lain ikut keluar rumah, berlari mengejar Salwa yang sudah berada jauh di ujung jalan. Saya percepat berlari takut-takut terjadi apa-apa dengan si kecil. Akhirnya kami bertemu dengannya dalam keadaan sudah berderai-derai. Air matanya jatuh begitu banyak disertai isakan menyedihkan.

"Loh, kenapa dek?" Saya termasuk tipe manusia yang susah sekali menghadapi orang yang sedang menangis. Karena adik ini suka bermain dengan saya, maka saya hanya tertawa melihatnya menangis.
"Mauka pulang kak"
"Kenapa mau pulang?" Saya rangkul menuntunnya kembali ke rumah.
"Rinduka mamaku."
"Kan barusan ketemu." Dia malah bertambah berderai lalu berlari masuk kamarnya menyembunyikam wajah di balik bantal.

"Sudahmi dih, besokpi lagi ketemu mamata, besok kak ria kasih pinjam hape buat telpon"
"Hiks,hiks" tangisnya sedikit redah tapi isaknya belum. Dan saya masih bingung bagaimana menenangkannya. Hanya bisa elus-elus kepalanya. Untuk pertama kalinya saya lihat dia menangis sesedih ini.
"Hmmm, bobo sama kak ria yuk, ntar kita nonton lagu india di kamar kak ria." Entah bagaimana, mungkin karena sudah hampir seminggu ini, dia suka ikut nonton youtube lagu india sama saya akhirnya ikutan suka juga dan seperti dugaanku, tangisnya sudah berhenti saat kami menonton soundtrack aashiqui 2. Tapi isaknya sesekali masih terdengar.

Baiklah, ini pengakuan saja. Lagu india itu sesuatu di hati saya jadi tolong dipahami. Hehe

Melihat Salwa yang akhirnya tertidur pulas sejak tadi setelah menonton sekitar 4 lagu india, juga menerbangkan ingatan saya ketika pertama kali berpisah dengan orang tua. Hampir seminggu kerjanya hanya menangis di kamar mandi karena malu dilihat teman-teman di asrama. Itu saat saya sudah kuliah. Sangat jauh lebih tua dibanding umur Salwa yang masih SD kelas 4 ini. Lalu saya sambil mengelus kepalanya bergumam.

"Dek, kamu lebih kuat dari kak ria sayang..."
Masih sekecil ini sudah mau jauh-jauh dari orang tua, sudah belajar mandiri. Saya salut melihat adik Salwa yang paling kecil ini ketika menjemur pakaiannya sendiri, mengambil pakaian dari jemuran lalu melipatnya, menyapu kamar, mencuci piring sendiri. Dan jarang sekali mengeluh. Paling rajin kak ria mintai tolong. Apalagi kalau sudah sakit sedikit, Salwa suka pijitin dari kepala sampai kaki kadang sampai tangannya sakit dan saya tidak tahu karena dia tidak mengeluh. Nanti kalau sudah lama saya sadar sendiri kalau sepertinya dia sudah capek. Paling suka temani ke warung depan beli apa saja walau tanpa iming-iming akan dibelikan permen atau makanan kecil lainnya. Paling enak diajak jalan-jalan sore keliling kompleks.

Dan meski ribuan tawanya terbit dan memecah rumah, namun hatinya tetaplah menjeritkan kata ibu, ibu, ibu.. Ibu, Salwa rindu.. Semoga makin solehah sayang, Allah sayang sekali sama kamu dek, di sini ibumu punya niat yang mulia. Melihat Salwa menjadi hafizah, penjaga ayat-ayat Allah. Menghadiahkan beliau mahkota kemuliaan di akhirat kelak. Maka semangat adikku. Semoga suatu hari bisa berkumpul lagi dengan ibu dalam keadaan sudah jadi hafizah. Allahumma aamiin

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar