Jumat, 12 Januari 2018

Bahagiaku

Bahagiaku sederhana, sesederhana menghirup udara pagi dan menikmati segelas kopi di teras rumah. Melihat anak-anak kecil berlarian menggigil karena disuruh ibunya mandi sepagi buta di cuaca yang hampir minus derajat. Sebinar mataku dulu ketika bapak pulang sore-sore dari menyetir mobil angkutan umum dan sekali lagi menginjak rem hanya untuk membawa kami anak-anak sekompleks keliling desa sekali putaran yang berhasil memutar kebahagiaan itu berkali-kali dalam ingatan sampai mata terpejam malam harinya.

Dan aku sampai kini masih saja tersesat dalam labirin-labirin kebahagiaan yang sulit aku ungkapkan. Meski di mata orang begitu sepele. Semisal, hanya jalan-jalan ke pasar dan melihat berton-ton ikan segar, berkilo-kilo sayuran dan tomat yang memerah. Semisal menikmati masakan kapurung mama yang menjadi requestan pertamaku setiap kali pulang kampung. Seriang pendengaranku yang dijejali suara mama mengabarkan banyak hal di kampung jika sudah kembali ke kota, menghabiskan 200 menit talk mania yang dipakai untuk curhat apa aja. Seceria langkah kakiku yang tegap namun getar di antara kabut-kabut yang mendinginkan hampir seluruh saraf-sarafku, menghirup udara basah yang penuh kabut dan angin sepoi yang berhembus seakan menampar wajah berkali-kali di sebuah kaki gunung.

Sekali lagi, bahagiaku sederhana. Sesederhana menghabiskan berlembar-lembar goresan pena penulis hebat yang sukses membobolkan air mata saking sedihnya atau meledakkan tawa saking hancurnya. Dan temanku akan bergumam setelah melihat wajahku yang tertekuk atau sedang merenung karena terlalu menghayati isi cerita "Merasa sebagai pemeran utama lagi?" sambil geleng-geleng kepala dan sejurus kemudian melempar ledekan-ledekan jahat soal 'hey, kamu kan gagah, masak gitu aja nangis?' sedikit menjengkelkan tapi sukses menerbitkan kembali senyum yang sempat hilang.

Sesederhana menikmati kembali potongan-potongan kenangan masa lalu lewat beberapa lagu lawas "Hindi" yang aku sendiri kaget, masih hapal di luar kepala saja saya lengkap dengan kisah dan siapa-siapa pemerannya dan buat teman aku geleng-geleng kepala. Secara, entah bagaimana, dulu waktu kecil, di rumah kami yang ruweh setiap hari memutar dvd-dvd india dan ikutan joget nggak karuan. Tidak kehitung lagi berapa vcd yang disewa bapak cuma untuk membawakan hiburan untuk kami di rumah.

Dan ini, di hari pertama liburan yang dikasih ummi adalah sebagian dari banyaknya bahagia yang diturunkan Tuhan kepada hamba yang masih jauh dari ketakwaan dan ketaatan ini tapi selalu diberi dan diberi kejutan setiap saat. Membuatku sadar, untuk bahagia tak perlu mewah. Untuk bahagia tak perlu mapan, untuk bahagia tak perlu jauh-jauh mengejar sampai ke kutub segala. Untuk bahagia tak perlu menunggu siapa untuk membuatmu bahagia. Karena sebenarnya, bahagia itu, ada dalam hati yang bersyukur...

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar