Satu pagi yang cerah tanpa kabut di kaki gunung bawakaraeng. Setelah sebelumnya bersemedi di balik selimut, akhirnya dengan memberanikan diri, saya ke kamar mandi juga. Bersentuhan dengan air di daerah yang hampir minus derajat adalah salah satu percobaan penyiksaaan diri. Lebay, tapi coba saja sendiri, hehe. Yah, apa mau dikata, kami, pada jumat terakhir di tahun 2017, datang di tempat ini not just for the fun of spending vacation time. Tapi melaksanakan sebuah “misi rahasia”, OK ini tidak akan saya ceritakan di sini, namanya juga rahasia. Dan buat beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tolong dengan sangat, jangan menjadi orang yang terlalu baik dengan membocorkan rahasia ini dikolom komentar. Hehe
Setelah berjuang mati-matian mengalahkan dinginnya air pegunungan, saya dan seorang teman bersantai sejenak. Menikmati sajian pagi dan sebuah novel. Beruntungnya, kami adalah dua orang dengan banyak kesukaan yang sama. Suka adventure, senang menghabiskan berjam-jam waktu untuk sebuah buku, berbahagia ketika bisa menulis beberapa kata di sebuah buku diary. Dan here we are, secangkir kopi, secercah cahaya matahari yang menghangatkan tubuh dan sebuah story of novel. Bedanya, teman saya ini yang setelah 2 hari bersamanya membuat saya agak sensi setiap berjalan dan dia akan mengeluh about “sepatunya yang akan kotor”. Sumpah mati, saya rasa-rasanya mau ambil sepatunya dan merendamnya di lumpur atau di comberan, haha. Tapi itu tidak akan saya lakukan. Saya sudah sangat beruntung bisa dia temani, setelah sebelumnya harus membujuknya yang sudah capek telah melakukan perjalanan jauh. Sumatera-Jakarta-Makassar. Dan beberapa saat setelah landing di Makassar langsung saya todong dengan “Pokoknya, kamu harus temani saya ke lembanna selama saya liburan, satu minggu, titik”.
Dia bersama Novel-yang saya sudah lupa judulnya-dengan bentuk sebuah buku dan saya bersama novel digital (ebook) di gadget. Dan tentu dengan story yang berbeda pula. Novel religi terjemahan tentang seorang wanita bercadar dengan segala pelik dan cobaan hidupnya membersamai teman saya. Sedangkan saya, berkonsentrasi dengan seorang Keara yang hidup di kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk kehidupannya. Clubing, drunk, boy friend dan intrik percintaan yang sangat alot. Pernah nonton anime Naruto dan fokus dengan kisah asmara mereka. Ah, kita akan gemes dengan Naruto yang menyukai Sakura teman satu timnya sedang Sakura tergila-gila dengan Sasuke yang stay cool dengan ambisinya dan tidak peduli dengan hal-hal berbau asmara dan seorang Hinata yang kalem, secret admirernya Naruto sejak kecil bahkan saat mereka belum masuk akademi ninja. Dan kisah Keara tidak lebih sama. Kisah klasik yang mungkin sangat banyak terjadi di mana-mana. Keara dan 3 orang sahabatnya adalah banker dengan gaji selangit yang diiringi dengan pekerjaan yang complicated. Dan juga punya kisah asrmara yang tidak kalah rumitnya. Ruly, lelaki cool yang baik hati dan alim membuat Keara fall in love at first sight. Denise wanita anggun yang keibuan adalah wanita impian Ruly yang sayangnya sudah mempunyai suami. Sedangkan Harris, sahabat Keara yang selalu ada ketika keara membutuhkan seseorang bahkan hanya sekadar kabur dari meeting yang membosankan, teman win win solution keara sampai mabuk, teman gila-gilaan Keara yang amat sangat rapi menyembunyikan perasaan kepada sahabatnya sendiri, keara. Jangan tanyakan bagaimana ending dari kisah cinta segi empat ini. Yang jelasnya, saya yang selalu dikatai teman saya sebagai “pembaca yang mengaku-ngaku pemeran utama di sebuah novel” sudah tergilas-gilas perasaannya membaca novel ini. Agak lebay
memang, tapi “Ika Natasya” memang penulis yang selalu sukses membuat pembacanya ber’oh’ atau ber’wow’ dan atau ‘oh oh begitu’. Lah, kok jadinya meresensi novel segala saya yah?
Ok, back to nature, eh back on my holiday. Setelah melaksanakan misi rahasia di hari ketiga selama di Lembanna. Kami akhirnya, siang itu selepas dhuhur kembali menjajaki desa. Meski sebenarnya saya tidak akan bosan dengan mengunjungi lagi water fall-nya yang so beautiful, tapi kali ini, karena selama 2 hari kemarin tidak sempat-sempat mendaki lembah ramma sebab cuaca yang tidak mendukung, rain again and again. Maka, di jumat yang cerah yang sayangnya jumat karena yang akan mengantar kami tidak mungkin sholat jumat di hutan. Jadi kami bermaksud menghabiskan saja sore itu dengan menyelesaikan berlembar-lembar novel yang belum selesai di hutan pinus. Hey, liburan malah baca buku? Tolong jangan dibully, ini hanya salah satu cara menikmati hidup bro.
Ketika kami akan sampai di hutan pinus, mata teman saya berbinar-binar melihat padang hijau di sisi kanan hutan dan serta merta mengambil inisiatif mengajak saya menuruni dan mendaki jalan berbatu untuk sampai di sebuah kebun wortel, yang meski hanya sebuah kebun wortel tapi huuu, eksotik banget sampai-sampai saya harus berlebay-lebay memakai gaya ala-ala video klip india yang sedang jatuh cinta hanya untuk mengekspresikan kebahagiaan, haha. Tolong jangan tanya saya ngapain aja di sana. Saya tidak akan jawab, biar Tuhan, alam dan beberapa klip mata kamera yang mengabadikannya yang tahu. Haha.
Karena sudah berkali-kali saya katakan bahwa bahagiaku itu sangat sederhana. Maka, beginilah caraku berbahagia dengan segala keseksian dunia. Tsahhh.
r.i.a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar