Ketika lengan malam mendekap dalam gelap
Aku meringkuk bersama sepi di lorong hampa yang dingin
Menyesap berbagai andai
Meraba berjuta harap
Menumpahkan bermacam lara yang tak mau pergi
Memutar ratusan memori tentang kita yang kini hanya bisa menertawai
Ada berapa banyak aku dalam kamu?
Sedang kamu tidak terhitung banyaknya dalam aku yang bertaruh dengan waktu
Pernah kudengar, aku tak lebih dari pandang sebelah matamu
Terusir bersama hening, terkoyak sepi pada labirin kenestapan
Yang sayang masih saja menyimpan banyak ingin jumpa di kedua bola mata
Pada apa harus aku titip rasa ingin temu?
Apakah pada air mata yang menggenangi sungai kesepian?
Ataukah pada do'a yang telah bosan menembus angkasa raya?
Ketahuilah, kau masih saja yang aku sebut
r.i.a
Maros, 27 Januari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar