Kali ini saya ingin bercerita tentang "Secret Admirer". Saya yakin semua pasti sudah pada tahu apa itu Secret Admirer. Yah, "Pengagum Rahasia". Bukannya mau menceritakan kalau saya sedang mengagumi seseorang atau semacamnya sebab memang tidak dalam kondisi seperti itu. Namun ini menarik saja buatku, seseorang yang mengagumi orang lain bahkan tanpa sepengetahuan orang tersebut. Bukan hanya dalam waktu satu dua hari tapi beberapa secret admirer sudah kagum bertahun-tahun. Saya jadi penasaran kenapa dan sampai kapan mereka bisa bertahan menahan perasaan mereka dan tidak mengatakannya. Mungkin mereka terlalu malu ketahuan atau berniat memendam sendiri perasaan itu.
Kisah pengagum rahasia juga hampir selalu menjadi pemanis dalam kisah-kisah romantis dalam film-film, sinetron, novel, cerpen dan sebagainya. Dan yang menarik perhatianku adalah kisah-kisah dalam beberapa anime yang belakangan ini saya tonton baik-baik. Bukannya saya seorang Otaku (Maniak Anime) tapi saya sangat suka mendownload dan menontonnya di waktu senggang.
Yang pertama kisah cinta Naruto dan Hinata. Siapa yang tidak tahu Anime yang diadopsi dari manga dengan judul yang sama karya Masashi Kishimoto. Hampir nangkring selama 15 tahun dan masih menjadi salah satu anime populer di kalangan anak-anak bahkan orang dewasa. Kisah cinta dalam anime ini memang menjadi daya tarik tersendiri terutama kisah cinta karakter utamanya Uzumaki Naruto. Naruto yang selalu mengejar-ngejar cinta Haruno Sakura semenjak masih di akademi sedangkan Sakura juga selalu mengagumi teman satu team mereka dalam team tujuh yang dipimpin Kakashi Sensei. Dan tanpa Naruto sadari kecil ada seorang gadis yang sudah mengaguminya diam-diam bahkan sebelum masuk akademi. Hyuga Hinata, gadis pemalu yang selalu canggung dan kurang percaya diri adalah satu-satunya gadis di kelasnya yang sebenarnya selalu mendukung Naruto saat semua orang menganggapnya bocah monster sebab ada Kyubi yang disegel oleh Yondaime Hokage yang tak lain adalah ayahnya sendiri sewaktu dia baru lahir.
Cinta Hinata bahkan tidak pernah diketahui oleh Naruto sebab dia tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Bahkan dalam beberapa adegan Hinata malah blushing bahkan pingsan saat bertemu Naruto. Sifat pemalunya dan kurang percaya diri selalu membuatnya seperti tidak punya kekuatan apa-apa, padahal dia mewarisi kekuatan mata byakugan dari klannya. Terlalu lembut bahkan kepada lawannya sendiri, itulah sebabnya ayahnya tidak terlalu percaya kepadanya untuk menjadikannya pemimpin di klannya kelak. Apalagi setelah dia kalah dari adiknya hanabi yang lebih muda lima tahun darinya. Hinata yang sedih atas kekalahannya berlari meninggalkan area pertarungan dan tanpa sengaja menabrak anak laki-laki bertubuh gempal yang juga seketika kehilangan es krimnya yang jatuh akibat tabrakan Hinata. Tidak mau terima akhirnya anak laki-laki itu mengerjai Hianta bersama dua orang temannya. Saat itulah muncul Naruto yang berniat menyelamatkan Hinata tapi malah babak belur dihajar anak-anak itu. Dari sinilah awal kekaguman Hinata kepada Naruto hingga mereka masuk akademi dan satu kelas.
Suatu hari guru mereka, Iruka Sensei menyuruh mereka menuliskan di kertas siapa yang ingin mereka temani untuk terakhir kalinya jika saja dunia tiba-tiba hancur. Naruto yang saat itu tidak mempercayai bakalan ada peristiwa tersebut tidak menuliskan siapa dan malah membuang kertasnya. Selain memang karena dia hidup sebatang kara sebab ayah ibunya meninggal di waktu dia masih bayi dan tak ada seorangpun teman yang dia miliki karena anak-anak di zamannya menghindarinya. Saat itulah Hinata mengambil pulpennya dan menuliskan nama Uzumaki Naruto di kertasnya sambil tersenyum. Kisah cinta Naruto dan Hinata berakhir pada film " Naruto The Last Movie". Film yang besetting tentang Konoha yang sudah damai pasca perang dunia ninja keempat dua tahun yang lalu. Naruto yang semakin populer sebab dialah pahlawan utama dalam perang dunia tersebut selalu dipuja-puja oleh kalangan gadis-gadis bahkan saat perayaan Rinnei (sepertinya perayaan tahunan ketika musim dingin tiba) Naruto mendapati banyak sekali hadiah dari fansnya. Tak mau ketinggalan Hinata juga berniat memberi Naruto hadiah yaitu syal buatan tangannya sendiri. namun ketika dia ingin memberikan kepada naruto, dia masih belum memiliki keberanian dan malah ciut nyalinya melihat naruto memakai syal pemberian dari seseorang yang menurut perkiraan Hinata, syal itu berasal dari salah satu fansnya naruto.
Naruto yang kelihatan bodoh dan tidak peka dengan perasaan Hinata akhirnya mengetahui sendiri perasaan Hinata padanya ketika mereka dalam misi penyelamatan hanabi yang diculik oleh anak buah Toneri yang berniat menghancurkan bumi dengan kekuatan mata tenseigan yang diaktifkan dengan byakugan milik Hanabi yang sebelumnya diambil oleh Toneri. Dalam perjalanan, mereka terperangkap dalam mimpi genjutsu musuh yang membuat korbannya masuk dalam mimpinya. Dalam mimpi itulah Naruto dibawa ke masa lampau. Saat mereka masih di akademi, Naruto melihat namanya ditulis oleh Hinata tentang siapa orang yang akan menemaninya ketika dunia akan hancur. saat ujian Chunin dan baru saja Naruto berhasil mengalahkan Kiba teman satu team Hinata dan Hinata menawarinya balsem untuk menyembuhkan luka-lukanya. Kemudian Naruto dibawa kembali saat dia melawan Pain dan ketika Naruto terdesak Hinatalah yang menyelamatkannya. Dan ketika Naruto bertanya kenapa Hinata malah datang dan mempertaruhkan nyawanya, dengan jelas Hinata menjawab bahwa dia tidak punya alasan apa-apa kecuali karena dia mencintai Naruto. Dan dalam mimpinya jugalah Naruto mengetahui jika Hinata ingin memberinya syal di perayaan Rinnei Festival.
Selama ini Naruto hanya menganggap Hinata sebagai teman satu kelasnya. Teman sesama Ninja dari Konohagakure dan sangat jarang berbicara dengan Hinata kecuali jika mereka bersama dalam satu tim. Dan setelah sadar dari genjutsu, naruto mulai memperhatikan Hinata dan memulai berbicara dengannya. Bahkan menunggui Hinata yang sibuk memperbaiki syal yang akan diberikan kepada Naruto tempo lalu tapi tidak jadi dan rusak saat Hinata ingin diculik juga oleh anak buah Toneri tapi gagal karena diselamatkan oleh Naruto. Karena sudah mengetahui perasaan Hinata padanya dan selalu bersama dalam misi ini, Naruto juga mulai memiliki rasa dan agak kikuk di depan Hinata dan pada suatu malam saat Hinata merapikan rajutan syalnya, naruto menghampirinya dan mengajaknya ngobrol. Saat itu Hinata merasa tidak berguna sebagai kakak, sebab dia hanya merajut saja padahal adiknya dalam bahaya. Naruto yang merasa khawatir mengatakan jika dia akan menyelamatkan Hanabi dan dibalas oleh Hinata dan mengatakan kalau Naruto memang orang yang sangat baik. Naruto yang agag kikuk jadi salah tingkah dan mengatakan jika dia berlaku baik bukan hanya karena dia mencintai Hinata tapi juga mengkhawatirkan hanabi. Hinata yang mendengarnya ingin memastikan apa yang dikatakan Naruto dan menyuruh naruto mengulang apa yang dikatakannya. malah naruto berkata bahwa dia mengkhawatirkan hanabi. Hinata berkata, bukan itu, yang sebelumnya. "Yang sebelumnya?" tanya Naruto, dia lupa dan Hinata berhenti bertanya. Dan tiba-tiba saja Naruto berkata "Hinata, aku mencintaimu".. so sweet. Hinata yang agak syok, hanya diam terpaku tanpa berkata apa-apa membuat suasana hening hingga datanglah Toneri hendak menjemput Hinata yang sebelumnya sudah menjelaskan pada Hinata keadaan Hanabi dalam istananya beberapa waktu yang lalu saat mereka masih dalam perjalanan dan baru saja lolos dari genjutsu mimpi. Hinata yang sudah berniat menyelamatkan Hanabi ikut saja bersama Toneri yang sebelumnya memberikan syal yang selesai dirajutnya kepada Naruto. Naruto yang tidak terima, mengejar Toneri dan berniat menyelamatkan Hinata namun malah sakit hati sebab Toneri berkata bahwa Hinatalah yang berniat mengikutinya dan sudah takdir mereka untuk dinikahkan. Hingga Toneri memberikannya jutsu yang membuat cakranya terkuras banyak dengan sia-sia dan mebuat lubang yang menghubungkan tempat yang mereka tampati sekarang denga bulan, ada bumi bulat terlihat dari balik lubang tersebut. Naruto sekarat dan tidak sadarkan diri, dalam pingsannya tersebut, dia menyebut-nyebut nama hinata berulang-ulang. Hingga tiga hari lamanya naruto baru sadar, bukannya langsung berniat menyelamatkan Hinata, naruto yang galau hanya tidur-tiduran memikirkan Hinata. Shikamaru, ketua timpun menyadarkan Naruto dan mengajaknya untuk segera menyelamatkan Hinata dan Hanabi. Shikamaru berkata jika Naruto menyerah soal wanita kenapa dia tidak menyerah juga menjadi Hokage, Diketahui cita-cita Naruto sewaktu kecil, dia ingin menjadi Hokage yang melindungi desa. akhirnya naruto sadar saat sebelumnya dia mendapati sakura yang juga sakit akibat penyaluran hampir semua cakranya untuk mencegah Naruto sekarat. Sakura menjelaskan bahwa Hinata pergi pasti memiliki alasan yang tidak bisa dia sampaikan. Dan menanyakan kepada Naruto bahwa dia benar-benar cinta kepada Hinata saat ini tidak sama waktu dia mengatakan cinta kepada Sakura dulu hanya karena Naruto tidak mau kalah dari Sasuke. Sakira berkata, Hinata gadis yang baik bahkan sangat baik untuk naruto. Dan Sakura meyakinkan Naruto bahwa ketika seoramg gadis jatuh cinta, perasaannya itu tidak akan mudah berubah.
Naruto kemudian menyadari cinta Hinata padanya bahwa cintanya seperti syal yang dia rajutkan padanya. Menunggu waktu yang lama untuk bisa diberikan kepada orang, seperti perasaan yang butuh waktu yang lama untuk diungkapkan. Narutopun berjanji akan menyelamatkan Hinata. Berangkatlah mereka menyelamatkan Hinata dan Hanabi memasuki istana Toneri. Naruto dan Shikamaru meneyelamatkan Hinata sedangkan Sakura dan Sai menyelamatkan Hanabi.
Begitulah akhirnya Hinata dan Hanabi bisa diselamatkan dan bumipun selamat. Sepulang dari misi Hinata bertanay kepada Naruto siapa yang memberinya syal yang dia pakai tempo hari. Naruto menjawab itu adalah syal rajutan ibunya yang terakhir. Naruto pun mengajak Hinata pulang ke bumi dengan menggenggam tangannya,,etss dan mengatakan bahwa dulu pada saat di akademi ketika guru Iruka menanyakan siapa yang akan dia ditemani ketika bumi akan hancur, naruto tidak bisa menulis siapa-siapa karena dia tidak punya keluarga dan teman. Dan untuk sekarang dia tahu siapa yang akan dia tulis, dia berkata dia akan menulis nama Hinata dan ingin bersamanya sampai akhir hidupnya,,so sweet. Di akhir film The Last ini, dikisahkan Naruto dan Hinata akhirnya menikah dan memiliki dua orang anak yang diberi nama Boruto dan Himawari.. Pada Film Naruto yang terakhir yaitu "Boruto Naruto The Movie" menayangkan masa depan anak-anak Naruto dan kawan-kawannya. Seperti anak Sakura dan Sasuke yaitu Sarada. Anak Shikamaru dan Temari, Shikadai. Chouco anak Chouji dan Karui (Ninja dari Kumogakure). Inojin anak Sai dan Ino. Dan ada anak misterius, Mitsuki yang di akhir film disebutkan anak dari Orochimaru..
Itulah salah satu anime dengan kisah Secret Admirer nya.. tunggu kelanjutan Anime dengan kisah Secret Admirer yang lain...
Sabtu, 05 September 2015
Selasa, 27 Januari 2015
Resolusi 2015 Ibuku
Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat berarti pun buatku dan terutama ibuku. Baiklah akan aku ceritakan. Sekitar 3 bulan yang lalu, aku divonis sebuah penyakit,,gag parah cuma dengan keadaan yang sendiri tinggal di sebuah rumah di sekitar Makassar membuatku tidak bisa mengurus diri sendiri. Akhirnya dengan sebuah instruksi dari bapak akhirnya pulanglah aku ke kampung. Biasa di kampung, banyak yang urus enak juga. Banyak yang perhatiin, terutama masakin. Masak masakan kesukaan apalagi kalau bukan 'kapurung'. Saat asik-asiknya masak dalam keheningan tiba-tiba ibu memecah kesunyian dengan bergumam "nanti jika sudah masuk tahun 2015 ibu mau berjilbab". "Alhamdulillah, bagus itu bu".
Baiklah kalian pasti sudah bisa menerka, yaph..resolusi ibuku adalah berhijab. Simple mungkin bagi sebagian orang tapi bagiku itu luar biasa. Bagaimana tidak, aku sangat ingat ketika pertama kali pulang ke kampung dengan mengenakan kain segi tiga itu, walau belum syar'i. Biasa anak baru tarbiyah, semangat ikutin apa kata murobbi. Maka, dengan ala kadarnya, hehe. Aku mengenakan jilbab yang masih sangat aku ingat warna pink, transparan, hampir cuma sampai di leher. Tapi tetap aku pakai, entahlah saat itu sangat risih rasanya keluar tanpa menutupi kepala, menyembunyikan mahkotaku ini. Sampailah saat kakak menyuruhku menjemur pakaian di luar, sontak semua orang menegurku, terutama ibu "lah, buka toh itu jilbabnya, malu diliat tetangga". Hiks,,hampir-hampir aku mewek terkewek-kewek, tapi aku tahan mencoba tersenyum, masih bingung juga mau jelasin bagaimana. Akhirnya berat hati aku buka jilbab pink itu menggantinya dengan sarung yang tetap berusaha kututupi rambutku. Akhirnya saat tiba di tempat jemuran tak kuasa kubendung air yang mau keluar tadi, akhirnya jebol, banjirlah pipiku dengan buliran-buliran bening hangat.
Itu kisah yang tak mungkin kulupakan, tak ketinggalan nenek ikut meledek "Tambah alim saja ini cucuku" sambil nyengir memperlihatkan gigi ompongnya. Kakak yang mengataiku kolot, "rantasa'", gag gaul dll. Adik laki-lakiku yang kemudian spontan bilang "mau ceramah dimana ustadzah?". Adik perempuanku yang baru masuk Sekolah Dasar tidak ayal menarik-narik rok yang kukenakan. Mungkin pikirnya sejak kapan kakak tomboyku ini pakai rok lebar kayak gini apalagi berkaos kaki. Huah,,rasa-rasanya ingin segera aku balik ke Makassar, di sana begitu banyak saudara yang selalu mengingatkan tentang menutup aurat, banyak kakak-kakak yang mengingatkan Godhul Bashor (menundukkan pandangan), larangan pacaran selagi belum halal, berkhalwat, ngakak gag jelas, larangan ini itu yang tentunya untuk kebaikanku.
Ok, untungnya bapak yang memang pendiam tidak ikut heboh menyikapi tingkah seisi rumah. Hanya diam. Itu kesyukuranku namun, belum jelas juga apakah beliau menyetujuiku berhijab atau tidak. Hingga akhirnya liburan semester kedua aku pulang lagi ke kampung. Tentu dengan penampilan yang lebih beda dari pulang kampung pertama. Jilbab yang lebar, kaos kaki yang setia membungkus kaki bahkan sampai di dapur dan rok lebar serta baju yang kegedean kata orang di rumah. Maka, makin deraslah segala kata-kata menghujaniku yang rasa-rasanya panas di telinga sampai di hati dan kemudian keluar di mata. Kembali mataku menghangat, pipi banjir dan hidung memerah. Nangis tiap malam memikirkan kata-kata mereka, bukan sebab kata-kata yang tidak sepantasnya namun merasa gagal belum bisa memahamkan mereka tentang ini perintahnya Allah loh, mama, papa, adek, kakak, nenek. Tidak hanya seisi rumah, bahkan saat ada kerabat yang datang mereka juga menghujaniku dengan kata-kata yang sebenarnya bagus tapi menyindir. Duh, sempat berpikir tidak akan pulang kampung lagi. Bahkan Idul Adha beberapa kali aku tidak pulang, selain memang karena lagi bokek, juga sengaja menghindari kata-kata yang nusuk sampai jantung :(
Dan berselang tahun kedua hampir masuk ketiga kuliahku aku pulang. Paling tidak aku lega, tidak ada lagi kata-kata yang membuatku harus menutup telinga. Tidak ada, bahkan celetuk ibu ketika kami sedang sibuk-sibuknya membungkus beras yang akan kami jadikan makanan khas pada saat lebaran Idul Fitri, burasa namanya, beliau berkata "Yah, sebenarnya bagus juga kamu berjilbab begitu, dari pada teman-teman kamu yang kuliah di Makassar pas pulang ke sini mereka malah buka jilbab dan berseksi-seksi ria". Aku hanya berucap syukur dalam hati sembari berdo'a semoga seisi rumah suatu saat nanti diberi hidayah oleh Allah agar mereka mengikutiku berhijab karena taat pada Allah. Tapi tetap saja mereka akan menertawaiku jika dengan hebohnya aku tiba-tiba berlari masuk kamar atau ke dapur hanya karena mendengar suara tamu laki-laki menjejak mengetuk pintu karena biasanya kalau di dalam rumah semua mahram jadi aku buka jilbab sementara. Atau ketika akan keluar rumah, aku sibuk mencari kaos kakiku yang lupa kutaro dimana saat keluar dari kamar mandi.
Yah, begitulah perlahan-lahan keluarga di rumah mulai mau menerima perubahanku. Terkadang malah mereka yang mengingatkan jika ada tamu laki-laki "Ria cepat pakai jilbabmu ada orang" atau saat keluar rumah adik kecilku bersorak "pakai kaos kaki kamu" atau " Ria itu rok transparan loh, double ki". Wah, senangnya..semua yang dulunya merespon negatif malah yang mengingatkan.
Nah, sekitaran tahun yang sama, kakakku yang tinggal di Pare-pare mengatakan akan ikut terbiyah, yah suntuk seharian bahkan sampai malam hanya di asrama yang ruangannya sangat kecil hanya berdua dengan nenek yang #ups sangat cerewet. Jadi, dari pada menghabiskan waktu mendengar ocehan si nenek mending tarbiyah kataku. Dan akhirnya melalui Murobbiku, maka didapatkanlah Murobbi untuk kakakku. Awal ikut kakak biasa, pakai jeans baju lengan pendek dengan sarung bali. Dia bilang lucunya dia dulu awal ikut tarbiyah. Namun lama-lama Alhamdulillah berhijab denga baik dan rapih. Suatu kesyukuran. Dan kebetulan kakakku ini punya kembaran, maka saat pulang kampung diajaklah si kembarannya berjilbab juga. Walau awalnya tidak mau, akhirnya selang beberapa bulan sebelum pernikahan mereka yang digelar di hari yang sama, biasanya orang bilang "nikah kembar" maka kakak yang satu akhirnya berhijab juga. Wah,,makin senanglah aku. Oke di rumah sudah ada tiga anak gadis yang berhijab. Dan saat aku sudah di Makassar lagi, saat adik laki-lakiku menelpon dia bercerita betapa lucunya kakak kembar kami. Kata adikku, mereka yang dulu menertawaimu yang lari-lari ke kamar jika ada ramu laki-laki, sekarang mereka yang melakukannya. hehehe
Lucu memang tapi itu seperti waktu yang tidak terasa akhirnya sekitar setahunan yang lalu dan sekarang kakak kembarku sudah punya anak, dan yang satunya tinggal menunggu hari untuk melahirkan cucu kedua ibu bapak sekaligus ponakan keduaku. Waktu juga terasa begitu cepat ketika awal tahun 2015 ini kakakku mengirimkan foto anak kecilnya yang sedang digendong ibu di depan rumah. Yang buat haru adalah ibu berjilbab saat menggendong si kecil, maka dengan penasaran kutanyakan kepada kakak. Dan diapun berkata "Ibu memang berjilbab pas masuk tahun baru". Alhamdulillah inilah resolusi 2015 ibuku. Yah, mungkin kebahagiaan yang biasa menurut kebanyakan orang, tapi menurutku ini hal luar biasa. Kalian tahu, hidayah itu sangat indah mampu menghangatkan hati, menenangkan jiwa. Do'a yang utama,,Yaa Allah jadikan kami anak yang soleh, dengan begitu Engkau akan mendengar do'a kami untuk ibu bapak kami.
Luv U Mom,,semoga hidupmu selalu diberkahi Allah.
Dan maafkan anakmu yang belum bisa berbuat banyak untukmu.
Baiklah kalian pasti sudah bisa menerka, yaph..resolusi ibuku adalah berhijab. Simple mungkin bagi sebagian orang tapi bagiku itu luar biasa. Bagaimana tidak, aku sangat ingat ketika pertama kali pulang ke kampung dengan mengenakan kain segi tiga itu, walau belum syar'i. Biasa anak baru tarbiyah, semangat ikutin apa kata murobbi. Maka, dengan ala kadarnya, hehe. Aku mengenakan jilbab yang masih sangat aku ingat warna pink, transparan, hampir cuma sampai di leher. Tapi tetap aku pakai, entahlah saat itu sangat risih rasanya keluar tanpa menutupi kepala, menyembunyikan mahkotaku ini. Sampailah saat kakak menyuruhku menjemur pakaian di luar, sontak semua orang menegurku, terutama ibu "lah, buka toh itu jilbabnya, malu diliat tetangga". Hiks,,hampir-hampir aku mewek terkewek-kewek, tapi aku tahan mencoba tersenyum, masih bingung juga mau jelasin bagaimana. Akhirnya berat hati aku buka jilbab pink itu menggantinya dengan sarung yang tetap berusaha kututupi rambutku. Akhirnya saat tiba di tempat jemuran tak kuasa kubendung air yang mau keluar tadi, akhirnya jebol, banjirlah pipiku dengan buliran-buliran bening hangat.
Itu kisah yang tak mungkin kulupakan, tak ketinggalan nenek ikut meledek "Tambah alim saja ini cucuku" sambil nyengir memperlihatkan gigi ompongnya. Kakak yang mengataiku kolot, "rantasa'", gag gaul dll. Adik laki-lakiku yang kemudian spontan bilang "mau ceramah dimana ustadzah?". Adik perempuanku yang baru masuk Sekolah Dasar tidak ayal menarik-narik rok yang kukenakan. Mungkin pikirnya sejak kapan kakak tomboyku ini pakai rok lebar kayak gini apalagi berkaos kaki. Huah,,rasa-rasanya ingin segera aku balik ke Makassar, di sana begitu banyak saudara yang selalu mengingatkan tentang menutup aurat, banyak kakak-kakak yang mengingatkan Godhul Bashor (menundukkan pandangan), larangan pacaran selagi belum halal, berkhalwat, ngakak gag jelas, larangan ini itu yang tentunya untuk kebaikanku.
Ok, untungnya bapak yang memang pendiam tidak ikut heboh menyikapi tingkah seisi rumah. Hanya diam. Itu kesyukuranku namun, belum jelas juga apakah beliau menyetujuiku berhijab atau tidak. Hingga akhirnya liburan semester kedua aku pulang lagi ke kampung. Tentu dengan penampilan yang lebih beda dari pulang kampung pertama. Jilbab yang lebar, kaos kaki yang setia membungkus kaki bahkan sampai di dapur dan rok lebar serta baju yang kegedean kata orang di rumah. Maka, makin deraslah segala kata-kata menghujaniku yang rasa-rasanya panas di telinga sampai di hati dan kemudian keluar di mata. Kembali mataku menghangat, pipi banjir dan hidung memerah. Nangis tiap malam memikirkan kata-kata mereka, bukan sebab kata-kata yang tidak sepantasnya namun merasa gagal belum bisa memahamkan mereka tentang ini perintahnya Allah loh, mama, papa, adek, kakak, nenek. Tidak hanya seisi rumah, bahkan saat ada kerabat yang datang mereka juga menghujaniku dengan kata-kata yang sebenarnya bagus tapi menyindir. Duh, sempat berpikir tidak akan pulang kampung lagi. Bahkan Idul Adha beberapa kali aku tidak pulang, selain memang karena lagi bokek, juga sengaja menghindari kata-kata yang nusuk sampai jantung :(
Dan berselang tahun kedua hampir masuk ketiga kuliahku aku pulang. Paling tidak aku lega, tidak ada lagi kata-kata yang membuatku harus menutup telinga. Tidak ada, bahkan celetuk ibu ketika kami sedang sibuk-sibuknya membungkus beras yang akan kami jadikan makanan khas pada saat lebaran Idul Fitri, burasa namanya, beliau berkata "Yah, sebenarnya bagus juga kamu berjilbab begitu, dari pada teman-teman kamu yang kuliah di Makassar pas pulang ke sini mereka malah buka jilbab dan berseksi-seksi ria". Aku hanya berucap syukur dalam hati sembari berdo'a semoga seisi rumah suatu saat nanti diberi hidayah oleh Allah agar mereka mengikutiku berhijab karena taat pada Allah. Tapi tetap saja mereka akan menertawaiku jika dengan hebohnya aku tiba-tiba berlari masuk kamar atau ke dapur hanya karena mendengar suara tamu laki-laki menjejak mengetuk pintu karena biasanya kalau di dalam rumah semua mahram jadi aku buka jilbab sementara. Atau ketika akan keluar rumah, aku sibuk mencari kaos kakiku yang lupa kutaro dimana saat keluar dari kamar mandi.
Yah, begitulah perlahan-lahan keluarga di rumah mulai mau menerima perubahanku. Terkadang malah mereka yang mengingatkan jika ada tamu laki-laki "Ria cepat pakai jilbabmu ada orang" atau saat keluar rumah adik kecilku bersorak "pakai kaos kaki kamu" atau " Ria itu rok transparan loh, double ki". Wah, senangnya..semua yang dulunya merespon negatif malah yang mengingatkan.
Nah, sekitaran tahun yang sama, kakakku yang tinggal di Pare-pare mengatakan akan ikut terbiyah, yah suntuk seharian bahkan sampai malam hanya di asrama yang ruangannya sangat kecil hanya berdua dengan nenek yang #ups sangat cerewet. Jadi, dari pada menghabiskan waktu mendengar ocehan si nenek mending tarbiyah kataku. Dan akhirnya melalui Murobbiku, maka didapatkanlah Murobbi untuk kakakku. Awal ikut kakak biasa, pakai jeans baju lengan pendek dengan sarung bali. Dia bilang lucunya dia dulu awal ikut tarbiyah. Namun lama-lama Alhamdulillah berhijab denga baik dan rapih. Suatu kesyukuran. Dan kebetulan kakakku ini punya kembaran, maka saat pulang kampung diajaklah si kembarannya berjilbab juga. Walau awalnya tidak mau, akhirnya selang beberapa bulan sebelum pernikahan mereka yang digelar di hari yang sama, biasanya orang bilang "nikah kembar" maka kakak yang satu akhirnya berhijab juga. Wah,,makin senanglah aku. Oke di rumah sudah ada tiga anak gadis yang berhijab. Dan saat aku sudah di Makassar lagi, saat adik laki-lakiku menelpon dia bercerita betapa lucunya kakak kembar kami. Kata adikku, mereka yang dulu menertawaimu yang lari-lari ke kamar jika ada ramu laki-laki, sekarang mereka yang melakukannya. hehehe
Lucu memang tapi itu seperti waktu yang tidak terasa akhirnya sekitar setahunan yang lalu dan sekarang kakak kembarku sudah punya anak, dan yang satunya tinggal menunggu hari untuk melahirkan cucu kedua ibu bapak sekaligus ponakan keduaku. Waktu juga terasa begitu cepat ketika awal tahun 2015 ini kakakku mengirimkan foto anak kecilnya yang sedang digendong ibu di depan rumah. Yang buat haru adalah ibu berjilbab saat menggendong si kecil, maka dengan penasaran kutanyakan kepada kakak. Dan diapun berkata "Ibu memang berjilbab pas masuk tahun baru". Alhamdulillah inilah resolusi 2015 ibuku. Yah, mungkin kebahagiaan yang biasa menurut kebanyakan orang, tapi menurutku ini hal luar biasa. Kalian tahu, hidayah itu sangat indah mampu menghangatkan hati, menenangkan jiwa. Do'a yang utama,,Yaa Allah jadikan kami anak yang soleh, dengan begitu Engkau akan mendengar do'a kami untuk ibu bapak kami.
Luv U Mom,,semoga hidupmu selalu diberkahi Allah.
Dan maafkan anakmu yang belum bisa berbuat banyak untukmu.
![]() |
| My Mom and Dad |
Rabu, 21 Januari 2015
Kupu-kupu Cinta
Kau tahu, sebelum kepakan sayapmu menghampiriku
Kejahiliaan begitu buas menyelimutiku
Begitu banyak gugatan yang kulontarkan kepada Sang Pemberi Hidup
Namun, saat sayap kecilmu menghampiri,
Perlahan menaungi dan akhirnya mengajakku terbang.
Aku tersadar, betapa nikmat perjalanan yang kau tawarkan padaku
Akupun terlarut, perlahan kulepaskan jubah kejahiliaanku
Menyambut indahnya mahkota hidayahNya,,
Terkadang malah beban yang kutambahkan di sela-sela sayapmu begitu berat
Dan kaupun harus berhenti sejenak di antara ranting-ranting dahan kering
Mungkin engkau sedang mengumpulkan kekuatan untuk kembali membawaku
Karena kutahu, kau tak akan pernah meninggalkanku sedetikpun.
Sayap-sayap indah itu kau kepakkan lagi dan lagi
Kembali menuntunku setiap hari tanpa lelah
Aku baru sadar ternyata kau sedang membawaku melewati jalan menuju-Nya
Dengan cintamu, kesabaranmu, kemaafanmu atas segala salahku
Dan dengan sejuta Rabithah di setiap helaan nafasmu, kau rengkuh aku
Kau begitu kuat,
Kau begitu perkasa,
Kaulah kupu-kupu cintaku,
Murobbiku...
Kejahiliaan begitu buas menyelimutiku
Begitu banyak gugatan yang kulontarkan kepada Sang Pemberi Hidup
Namun, saat sayap kecilmu menghampiri,
Perlahan menaungi dan akhirnya mengajakku terbang.
Aku tersadar, betapa nikmat perjalanan yang kau tawarkan padaku
Akupun terlarut, perlahan kulepaskan jubah kejahiliaanku
Menyambut indahnya mahkota hidayahNya,,
Terkadang malah beban yang kutambahkan di sela-sela sayapmu begitu berat
Dan kaupun harus berhenti sejenak di antara ranting-ranting dahan kering
Mungkin engkau sedang mengumpulkan kekuatan untuk kembali membawaku
Karena kutahu, kau tak akan pernah meninggalkanku sedetikpun.
Sayap-sayap indah itu kau kepakkan lagi dan lagi
Kembali menuntunku setiap hari tanpa lelah
Aku baru sadar ternyata kau sedang membawaku melewati jalan menuju-Nya
Dengan cintamu, kesabaranmu, kemaafanmu atas segala salahku
Dan dengan sejuta Rabithah di setiap helaan nafasmu, kau rengkuh aku
Kau begitu kuat,
Kau begitu perkasa,
Kaulah kupu-kupu cintaku,
Murobbiku...
Aku menyebutnya "Move On"
Kita seperti bermain petak umpet,,saling mengejar saling bersembunyi.. Namun, saat giliranq berjaga aku tak mendapatimu dalam setiap ruang pencarianku.. Akupun lelah mencari, dan berniat berhenti. Yah, aku berhenti dan aku pulang meninggalkanmu dalam persembunyianmu. Aku tidak peduli?? Bukan begitu, tapi aku kepayahan mencarimu, terkadang dalam gelap, dalam terang, dalam panas maupun dingin. Tak kutemukan.. benar2 nihil. Dan benar2 sudah tidak mempedulikanmu kali ini.
Maka, saat aku sampai di depan pintu rumahku. Kau tiba2 muncul, mengejutkanku. Bagaimana tidak terkejut, kau hadir dengan rupa yang berbeda. Sangat berbeda saat kubiarkan kau bersembunyi tadi. Apa yang terjadi? Tanyaku.
Kau hanya diam, bibirmu seakan terkunci. Sepertinya apa2 yang kau alami kemarin sudah kau masukkan dalam besi baja. Kau gembok dan kau lemparkan ke dalam palung yang paling dalam.
Oh, tidak... ada setetes,,bukan 2 tetes,,eh,,bukan bukan bertetes tetes air bening membasahi wajah teduhmu. Sungguh payah kau ingin menyembunyikannya dariku, kau berbalik badan dan pergi.. Aku tak dapat menahanmu. Entah mengapa tak sedikitpun usahaku untuk menghentikan langkah gontaimu. Sekali lagi kubiarkan kau. Mungkin saatnya kita untuk tidak bersapa, tidak bertatap.
Paling tidak untuk waktu yang lama. Yah, aku ingin waktu yg lama. Bahkan selamanya.. Bukan karena marah tidak mendapatimu dalam persembunyianmu. Namun, ada seberkas keyakinan bahwa itulah yang terbaik saat ini.
Akhirnya pandanganku sudah tidak menangkap bayanganmu sedikitpun. Dan akupun berbalik, aku memasuki rumahku, menutup dan menguncinya.
Demikianlah, dan keesokan harinya. Aku mendapatkan hadiah yang luar biasa, apa itu?
"Hati yang baru"
Maka, saat aku sampai di depan pintu rumahku. Kau tiba2 muncul, mengejutkanku. Bagaimana tidak terkejut, kau hadir dengan rupa yang berbeda. Sangat berbeda saat kubiarkan kau bersembunyi tadi. Apa yang terjadi? Tanyaku.
Kau hanya diam, bibirmu seakan terkunci. Sepertinya apa2 yang kau alami kemarin sudah kau masukkan dalam besi baja. Kau gembok dan kau lemparkan ke dalam palung yang paling dalam.
Oh, tidak... ada setetes,,bukan 2 tetes,,eh,,bukan bukan bertetes tetes air bening membasahi wajah teduhmu. Sungguh payah kau ingin menyembunyikannya dariku, kau berbalik badan dan pergi.. Aku tak dapat menahanmu. Entah mengapa tak sedikitpun usahaku untuk menghentikan langkah gontaimu. Sekali lagi kubiarkan kau. Mungkin saatnya kita untuk tidak bersapa, tidak bertatap.
Paling tidak untuk waktu yang lama. Yah, aku ingin waktu yg lama. Bahkan selamanya.. Bukan karena marah tidak mendapatimu dalam persembunyianmu. Namun, ada seberkas keyakinan bahwa itulah yang terbaik saat ini.
Akhirnya pandanganku sudah tidak menangkap bayanganmu sedikitpun. Dan akupun berbalik, aku memasuki rumahku, menutup dan menguncinya.
Demikianlah, dan keesokan harinya. Aku mendapatkan hadiah yang luar biasa, apa itu?
"Hati yang baru"
Cinta Yang Terlambat
Sejak awal kita memang terkesan dijodohkan. Bagimana tidak, tante, adik ayahku mengenalkanku padamu. Saat itu untuk pertama kalinya aku mendengar namamu disebut. Kau masuk dalam beberapa pilihan yang akan mengisi hari-hariku ke depan. Hingga tibalah ketika pilihan itu jatuh padamu, entahlah mungkin sudah takdir kita, akupun menerima saja. Lah, ini tante yang pilihkan, dia sudah mengenalmu lebih dari sepuluh tahun, pasti yang terbaik katanya untukku.
Baiklah, aku menerimamu. Kau pun. Kita menjalani hari-hari baru kita berdua. Hari yang biasa-biasa saja bukan? Sangat biasa hingga aku merasa kau mulai menyiksaku. Hari-hariku seperti tersita hanya untukmu. Bahkan malam saat semua orang telah terlelap, aku masih harus menemanimu, mengerjakan tugas-tugas untukmu.
Tidak hanya sampai di situ, kau mulai membuatku menangis. Terkadang saat tidak sanggup lagi menanggung beban ini karenamu, aku menelepon ayah dan ibuku di kampung meminta mereka memisahkan kita. Namun, mungkin saja harapan mereka masih besar untuk baiknya masa depan kita. Oke, aku menyerah aku mengikuti apa kata mereka. Ayahku, ibuku, saudara-saudaraku, yang justru mereka ikut berkorban untukmu. Ah, andai saja hanya diri ini yang merasakan sungguh beratnya hidup bersamamu, mungkin aku akan baik2 saja. Namun, mereka yang kusayangi harus merasakannya juga.
Aku juga paling benci jika beberapa orang menanyakanmu. Awalnya aku begitu menyanjungkanmu. Hah, memang mereka begitu terpesona mendengar ceritaku tentangmu. Bukannya harus begitu? Tapi yah aku memang tidak berbohong, memang seperti itu cerita tentangmu. Hingga makin lama makin jenuh juga selalu menjawab pertanyaan mereka tentangmu. Buat apa? Sepeduli itukah mereka tentangmu? Atau hanya ingin tahu? Atau mau membandingkan dengan apa yang mereka miliki? Entahlah. Aku juga malas mencari tahunya.
Saban hari kau mengajakku jauh, jauh dari teman2ku. Aku mulai berpikir, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenalmu lebih dalam. Mungkin saja nanti setelah mengenalmu aku akan jatuh cinta padamu. Iyyah, CINTA yang bahkan tak pernah kubisikkan padamu. Namun, nyatanya di tempat yang jauh itu belum selesai deritaku karenamu. Memang kau memperlihatkan hal-hal indah di sana. Tempat baru, orang baru, kawan baru. Tapi tetap aku tidak berhasil mengenalimu hingga kita kembali ke rumah. Dan sesampainya di rumah aku mulai berniat untuk mengacuhkanmu. Tidak akan mempedulikanmu. Aku bahkan meninggalkanmu dan pergi berpetualang bersama teman2ku. Kau tahu hal yang paling kusuka? Saat aku dan teman2ku mendaki puncak gunung. Saat-saat itulah aku tak mengingatmu sedikitpun. Aku sibuk dengan perjalananku, bercengkrama dengan teman2 seperjalananku, menikmati indahnya pohon-pohon, air yang mengalir, langit biru yang begitu dekat, awan yang berkumpul bak ombak di pantai, rumput-rumput mungil yang rela jadi pijakan, batu-batu kecil hingga besar. Semuanya memanjakan mataku, hatiku jadi tenang, tasbihku berkejaran, tahmidku bersahutan. Dengan begitu kau tak sedetikpun hadir dalam pikiranku. Itulah saat-saat bahagiaku. Terkadang aku pergi ke pulau seberang, sengaja untuk menghindarimu. Tega? Sungguh tidak, dengan begitu kau bisa berbuat seenakmu. Aku betul-betul berhasil mengacuhkanmu.
Pernah, bahkan banyak kali kita berjanji melakukan hal bersama di luar. Aku tidak peduli, berkali-kali aku malah tinggal di rumah. Terkadang tidur-tiduran saja, atau menonton tayangan di televisi. Atau aku sengaja berdiam diri merajut benang2 woll atau benang katun menjadi beberapa bentuk yang kurasa indah di mataku. Aku lebih suka seperti itu. Aku terus seperti itu dan terus melakukannya. Namun, kau tak juga pergi dariku, tetap bertahan. Oh Tuhan, sampai kapan kau berbuat seperti itu? Pernah aku mendengar bahwa kau akan pergi jika aku mencintaimu. Apakah kali ini aku harus jatuh cinta padamu? Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan? Bagaimana caranya aku mencintaimu?
Baiklah,,aku kali ini juga menyerah. Akan kucoba mencintaimu, lebih dan lebih.
Mencoba segala cara. Bukankah dulu pernah kucoba namun gagal. Tapi, demi kita berpisah akan kucoba. Haha, mana ada cinta seperti ini? Mencintai untuk meninggalkan? Iyyah, katamu. Dan mari kita memulainya. Ah, ini konyol..
Aku mulai mengingat2 apa yang telah kau lakukan padaku selama ini hingga aku bisa mencintaimu. Aku mulai menangkap ingatanku, ada satu hal. Iyyah, satu hal. Bukan bukan dua, tiga, empat, lima, enam. Oh, tidak, Kenapa semakin memikirkannya semakin banyak? Ternyata kebaikanmu begitu banyak, akankah aku benar2 jatuh cinta saat ini padamu? Aku ingat, berkat kaulah aku bertemu dengan beberapa orang yang mampu merubahku, membawaku ke dunia hijrahku yang baru. mereka malaikat-malaikat yang singgah beristirahat di selasar bumi. Aku ingat, kaulah yang membawaku menjelajah separuh bumi jawa di tahun pertama kita bersama. Aku ingat, kaulah yg membawaku pada tokoh-tokoh favoritku. Aku ingat, kaulah yang pertama mengenalkanku teman-teman mendakiku. Aku ingat, kaulah yang mengajarkan ketabahan, kesabaran, pengorbanan, tanggung jawab dan masih banyak lagi. Aku ingat dan aku ingat,,semuanya aku ingat sekarang.
Yah, Tuhan aku mulai mencintainya. Aku ingin mencintainya hingga waktu perpisahan itu terjadi, detik-detik terakhir bersamanya. Walau terlambat tapi biarkan aku mencintainya saat ini. Memperhatikannya, merawatnya, menemaninya siang malam, memenuhi kebutuhannya. Biarkan semua berakhir bahagia. Hingga, saat itu tiba. Saat bukan hanya aku dan kau yang bahagia, tapi semua orang yang mengenal kita.
Dan ini kisah tentang Aku dan Perkapalan...
#Menikmati cinta (skripsi) sampai bergelar ST
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)

