Di sebuah padang rumput. Dandelion tumbuh indah memenuhi rerumputan. Ada air mata yang menetes. Lalu angin bertiup. Seketika menerbangkan serbuk putih dandelion beserta titik-titik air mata. Mereka menyatu, berkilauan di antara cahaya matahari. Menari diiringi lagu kesedihan. Sebanyak dandelion yang beterbangan, air mata tak berhenti berderai. Padang rumput yang luas itu diguyur kesedihan dan kehilangan.
.
.
Sungguh, perpisahan terjadi untuk menemukan pertemuan yang baru.
.
.
Kereta datang, dia menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Melihat sisa air mata yang telah mengkristal. Air mata perpisahan. Sekali lagi, dia memeluk sesak, mengendapkan kenangan di bagian terdalamnya hati.
.
.
Sungguh, perpisahan akan menuntun dirinya menemukan sebuah pertemuan yang baru.
.
.
Kereta menjauh, mendekati takdir baru. Mungkin akan ada tawa bahagia. Tapi semesta tidak selalu berpihak padanya. Pada akhirnya, perpisahan kembali terjadi. Dandelion akan bertemu dengan bulir air matanya. Sekali lagi. Lalu, berkali-kali.
.
.
Sungguh, perpisahan membawanya pada pertemuan demi pertemuan yang baru.
.
.
Juga, sakit yang baru.
.
.
r.i.a
Jumat, 30 November 2018
Perpisahan
Rabu, 28 November 2018
Berat Badan
Kadang kita punya kabar bahagia tapi bagi sebagian orang adalah kabar buruk bagi mereka. Pun sebaliknya, kabar bahagia bagi orang lain, ternyata ketika ada di pihak kita menjadi kabar yang tidak bahagia lagi.
Kemarin saya sedikit berbahagia. Maunya tidak berlebihan jadi pake kata "sedikit" yang padahal kabar itu membuat saya ketawa ketiwi sendiri kayak orang gila plus senyum-senyum sampai hidung kayaknya ikut mekar. Mhehehehehe
Jadi ceritanya kemarin ketika mengantar ponakan ke sebuah puskesmas ketika kami sudah berada di UGD. Dan saya lagi dalam keadaan kuker pake banget. Iseng-iseng saya naik ke sebuah timbangan berat badan. Dan seperti mendapat kejutan luar biasa, sambil menutup mulut yang bibir sudah membulat lirih mengucap "Oh", saya seketika berasa berbunga-bunga. Berat badan saya naik 6 kilo. Enam kilo gais. YaaAllah.
Padahal ketika baru datang ke sini, di puskesmas yang sama saya menimbang berat badan yang buat ekspresi saya masih seperti dulu-dulu. Ekspresi "Kapan naik nih berat badan?" Nah, belum juga 2 bulan saya di sini, bisa naik sedrastis itu. Fantastis, elastis, atlantis woy. 😆😆
Jadi, di puskesmas itu sembari menunggu si fifo fifo ditangani para suster yang memasang infus yang bikin fifo nangis sedih banget, mana tidak sedih, sakit ey disuntik di dua punggung tangan dan tidak berhasil juga si susternya (eh, suster jugakah kalau perawatnya cowok?). Yah, pokoknya setelah 3 kali disuntik, akhirnya selang infus afifa berhasil setelah ditusukkan di kaki dekat mata kaki.
Jadi, saya sedihnya pas di situ aja. Abis afifa sudah ditangani, dan mengingat timbangan saya yang naik, saya kembali senyam senyum dan berkata lirih "Timbanganku naik-timbanganku naik-timbanganku naik". Kakak, si bunda fifa langsung bilang "Kayak gimana aja?" Menurutnya ini hal biasa aja. Saya langsung kepikiran. Baru dua bulan kok bisa naik. Saya jadi bertanya-tanya apa jangan-jangan timbangannya salah atau saya salah lihat. Tidak menunggu waktu lama, mumpung masih di ruang yang sama, sekali lagi saya naik ke timbangan pelan-pelan sambil memperbaiki posisi kaki benar-benar. Waktu itu pagi, saya belum sarapan sama sekali, sudah B*B juga, jadi badan dalam kondisi stabil. Dan hasilnya sama. Saya turun dan senyum sekali lagi sama kakakku dan dia meyakinkan kalau timbangannya tidak rusak, lah itu tadi yang dipakai afifa dan beberapa pasien kok.
Saya kemudian mengelus-elus perut, biasanya lemak akan bertumpuk di sana dan membuat berat badan naik. Tapi perut saya masih sama, kayak papan seluncuran. Rata. Saya lalu duduk dan memegang perut. Gag ada lipatan yang berarti. Jadi, di mana letak penambahan berat badan saya? Ah, serahlah yang penting beratnya naik. Titik.
Ngh, padahal malam sebelumnya saya yang diajak makan sama geng 3M, yang akhirnya berganti jadi geng MR karena ada nama saya jadi tambahan hihi. Berusaha untuk tidak lagi sesemangat dulu berharap BB naik. Waktu pesanan kami sudah datang, salah satu teman ternyata tidak pesan makanan. Dan dia mengaku sudah 3 hari gag makan nasi. Saya langsung syok.
"Diet?" Tanya saya sungguh-sungguh. Melihat teman saya badannya bagus, tinggi, berisi dan jauhhhhhhh dari kata "gemuk", "Buat apa diet segala?" tanya dalam hati doang.
"Udah bagus loh badannya"
"Iyyah mbak, tapi BB sudah bla bla bla"
Saya jadi merenung, ada yang susah-susah loh turunin berat badan, ngapa saya harus frustasi setiap dibilangi "Kurus, ringkih, rata" dsb. Dan mengingat pertanyaan mama ke kakak kalau nelpon "Bagaimana ria, masih kurus?" dan tahulah habis itu mereka membahas soal pola makan saya yang kadang cuma sekali, kadang malam doang, yang bagus kalau saya milih puasa saja. Hehe.
Ngh, yah gitu yah. Hidup cuma gitu gitu aja. Kalau gag bisa bersyukur dengan keadaan diri, maka kita akan berharap berada di posisi orang lain. Yang ternyata orang itu menginginkan berada di posisi kita.
Ada seorang ibu yang mengeluh setiap hari stres menghadapi anak-anaknya dengan segudang pekerjaan rumah. Lalu di sudut rumah yang lain, ada seorang wanita yang mendamba segera diberi amanah juga berupa anak.
Ada seorang anak yang ngedumel setiap hari dapat omelan dari orang tuanya. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang anak yang menginginkan ada yang mengajarinya banyak hal meski diomeli karena dia sebatang kara.
Ada seorang istri yang mengeluh suaminya bla bla bla. Lalu, di sudut rumah yang lain ada seorang gadis yang merintih kepada Tuhan segera dikirimkan jodohnya.
Ada seorang lelaki yang mengeluh soal pekerjaannya yang segunung. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang laki-laki yang menatap sendu berkas lamaran pekerjaannya yang tidak juga memberi kabar baik.
Kalau kita mau saja, menerima keadaan kita apa adanya. Merasa bahagia dengan yang kita punya dan tidak berandai-andai dengan hidup orang lain. Maka, kita akan menikmati hidup dengan lebih bermakna.
Yah, seenggaknya kalau kita kemudian naik level seperti misalnya naik berat badan. Kita akan menemukan sebuah level kebahagiaan baru. Yang kadang menurut orang lain sepele. Tapi bagi kita sangat cukup untuk menambah rasa syukur kita kepada Sang Pemberi Hidup.
r.i.a
Mimpi
Seperti menonton sebuah layar. Ada aku yang menatapmu dengan linangan air mata. Setelah sekian lama. Waktu yang terus masih saja tak bersahabat. Di mimpiku semalam, kita dipertemukan. Tidak dengan keadaan baik-baik saja. Semua penuh drama. Jarak kita begitu dekat. Tapi aku masih sama seperti di mimpi-mimpi sebelum ini, tak bisa menggapaimu.
Bahkan untuk sebuah kata "Hay". Tidak. Kau tidak mengatakan apa-apa. Kau seolah sengaja menjauh. Lalu aku mengejarmu. Langkah yang tak pernah berhenti. Semakin kukejar semakin melesat kau dariku. Menciptakan jarak yang semakin lebar. Kupaksa kaki-kakiku melaju. Kau akhirnya berhenti. Membalikkan wajah dengan gurat yang tidak bisa kueja.
Kusebut namamu, bibirmu berkedut seolah ingin membalas menyebut namaku. Tapi kau menahannya, dengan sekuat tenaga yang kau punya. Aku terisak, kau hanya memandangku (tanpa iba). Aku terduduk, isakanku semakin dalam. Kututupi wajahku yang sudah memerah, sedih, berderai air mata. Kau akhirnya ikut berjongkok. Tapi tak sedikitpun usahamu membuatku merasa lebih baik.
Aku terbangun, untuk kesekian kali. Mengutuk malam yang menghadiahiku mimpi buruk. Sama persis dengan mimpi-mimpi yang hadir sehabis kau mengabaikanku. Mengabaikan perasaanku. Aku paling benci berada di posisi ini. Kau tahu. Ketika aku sudah yakin tidak akan merana ketika mengingatmu lagi. Tapi di sisi lain di hatiku, aku sakit, hanya karena sekali lagi mengingatmu. Mengingat bagaimana tak acuhnya kau padaku. Lebih acuh dibanding dirimu yang ada di mimpiku.
Lalu aku bertanya-tanya pada gelap sisa semalam. Apakah ada sedikit saja waktu, seperti sisa malammu, kau ingat padaku. Sekali saja. Dan kau merasakan hal yang sama. Merasakan ngilu di dada. Perih sampai ke tulang-tulang. Kemudian bibirmu kelu, lirih mengucapkan namaku. Nama yang tak pernah sekali saja kudengar kau menyebutnya. Bahkan dalam sebuah mimpi.
Rabu, 21 November 2018
Papa (2)
Ini sudah tidak bisa terkata. Sungguh, rintik itu begitu memilukan. Menetes di sela tawa, di sela senyum getir. Tanpamu memang aku begitu rapuh. Papa.
Papa
Papa. Selalu ada bagian yang sakit ketika mengingatmu.
Selalu ada titik yang mengalir setiap memandang fotomu.
Papa. 3 tahun ini, adalah tiga tahun terberat dalam hidupku.
Dan aku masih bertanya-tanya "Mengapa engkau pergi secepat itu?"
Aku tidak tahu papa. Tapi aku sangat rindu. Sangat rindu.
Sabtu, 17 November 2018
Hapus Kenang
Kadang. Kita memang harus menyesalkan sebuah pertemuan. Kenapa? Karena terlalu banyak meninggalkan kenangan. Kenangan yang sulit sekali dihapus padahal setiap hari hobbynya menyakiti. Lalu, kita membiarkan saja sakit-sakit itu karena kita tidak tahu cara mengobatinya. Kita tidak tahu cara melupakannya. Kita hanya membiarkannya. Lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai suatu hari, akan datang sebuah kenangan baru yang tugasnya mereset sakit-sakit itu. Mengajarkan cara menerima dan memaafkan keadaan. Bisa jadi menggantinya dengan cerita yang lebih baik. Namun, kita juga harus waspada. Bisa jadi, yang datang adalah kenangan yang lebih buruk dari kemarin.
Rabu, 07 November 2018
Mencari(mu)
Aku pernah menemukanmu tapi sebentar saja lalu kamu menghilang. Lagi. Kususuri kota, kubentangkan peta. Nihil. Bukan. Bukan karena ingin mengajakmu kembali. Aku hanya butuh sosok. Kamu. Denganmu, rangkaian kata selalu mudah tercipta. Juga kisah-kisah yang kau ceritakan adalah susunan tangga yang membuatku semakin tinggi. Aku sekali lagi mencarimu. Di antara serak-serak buku kenangan. Di jelajah-jelajah situs pencarian. Sampai pada sebuah bukit tandus juga gersang. Dan kamu? Kamu tidak ada di sana. Tuhan sedang mengujiku barangkali. Atau sedang menasihatiku banyak-banyak. Tentang, betapa kamu sebenarnya tidak perlu kucari sedemikian rupa. Kamu ada bersama jejak-jejak sneakerku. Berebut jalan. Perihal siapa yang paling jauh langkahnya. Siapa yang paling kuat bertahan. Siapa yang paling jago melewati bukit dan lembah. Akhirnya, kita tidak pernah bertemu. Lagi. Sebab jalan yang kita pilih ternyata jauh berbeda. Jauh berbeda. Kawan, di ujung jalan kita masing-masing, ayo saling menyebut nama. Dengan keras. Dengan lantang. Dan katakan bahwa "Tidak ada yang perlu disesalkan. Kau telah memiliki segala yang kau inginkan". Begitu saja. Yah, begitu saja.
r.i.a
Surga Firdaus
Kita hanya makhluk kecil yang singgah sementara di antara luasnya langit dan bumi.
Dan surga, adalah tempat yang melebihi luasnya langit dan bumi. Betapa tidak berartinya hidup kita ketika di akhirat kelak tak secuilpun tempat kita di sana.
اَللَّهُمَّ إنّيْ أَسْأَلُكَ الفِرْدَوْسَ أَعْلَى الجَنَّة
Allahumma innii asaluka al firdausa a’la al jannah
“Ya Allah hamba meminta dan memohon kepadaMu al firdaus, surga yang paling tinggi.”
Jumat yang Milik Kita
Hari ini hari jumat dan aku merindukanmu dek. Kita akan bahagia bersenandung lagu gubahan kita sendiri.
"Hari jumat, hari jumat, hari jumat sekarang..
Sekarang hari jumat, hari jumat sekarang.."
Dan malamnya kita akan berlomba membaca al-kahfi sampai selesai. Siapa yang duluan, akan mentraktir besoknya. Lalu, saling membangunkan di 1/3 malam. Ini adalah malam yang paling kita paksakan lagi, setelah 6 hari kita tidak bangun-bangun tahajjudan, paling tidak jumat adalah hari di mana kita tercatat sebagai makhluk yang bersujud di malamnya.
Duha pun datang. Apa yang sering kamu bilang? Kak riaaa, nambah 2 rakaat aja lagi yah, biar genap 6. Biar beda sama hari-hari yang lain. Kamu memang teman surgaku dek.
"Kak ria, kak ria ada cogan lewat" serumu di pinggir beranda.
"Ih, godhul bashor dong." kamu lalu tertawa
"Yang mana emangnya? Haha" lalu kamu semakin keras tawanya sambil menunjuk seseorang yang berjalan memunggungi. Kita tidak tahu dia siapa yang jelasnya kita sepakat bahwa laki-laki akan meningkat kadar kegantengannya ketika berpeci, berbaju koko, dan sarungan. Tertunduk melangkah cepat-cepat ke mesjid. Sholat jumat.
"Minta apa kamu dek jumat ini?"
"Jodoh" katamu sambil nyengir
"Ih, jodoh lagi jodoh lagi" sahutku ambil geleng-geleng kepala.
Tapi setelah itu kita heboh soal calon imam rumah tangga.
"Kak, aku mau yang khotbah jumat"
"Kalau yang khotbah kakek-kakek?"
"Mm, yang imamnya aja deh"
"Kalau dia bapak-bapak sepuluh anak gimana?" tanyaku lagi sambil menahan tawa
"Yang datang cepat dan duduk di shaff pertama"
"Kalau semua yang di shaff pertama gabungan kakek-kakek dan bapak-bapak beranak banyak gimana?"
"Ahahaha, pokoknya yang hadir jumatanlah kak."
Lalu kita sepakat lagi bahwa jumat hari terijabah do'a dan kita meminta kebaikan dunia akhirat dengan khusyuk.
Dan jumat memang adalah hari kita yah dek. Hari kamu. Hari kamu dilahirkan di dunia ini. Dan kamu berseru.
"Ulang tahun aku yah kak, sama dengan ulang tahunnya alam semesta. Kan sama-sama dilahirkan di hari jumat. Surga juga dibuat di hari jumat kan. Nabi Adam diciptakan di hari jumat. Dikirim ke bumi juga hari jumat."
"Kiamat juga nanti hari jumat dek."
"Iyyah kak, aku mau mati di hari jumat juga kak. Doakan yah." kamu memang adek sholpicanku.
Sepanjang hari bahkan kamu suka komat kamit sendiri. Lagi bersih-bersih, lagi masak, lagi jemuran, lagi apa ajah.
"Sholawatan kak, sholawatan."
Katamu tegas saat aku memandangimu penuh tanda tanya.
"Oh, kirain doa minta jodohhhh sepanjang hari."
"Ihhh, kak ria toh. Haha. Sholawatan sana."
"Haha"
Begitulah jumat kita, hebohhh sekali dulu yah. Sampai rebutan gunting kuku segala. Secara kan meni pedi cure kita itu hari jumat. Bahkan sudah dilist segala, acara sisiran juga di hari jumat. Dan kita bahagia sekali kalau bisa one juz di hari jumat.
Sehat selalu kamu di sana dek. Kita memang sebentar sekali ketemunya. Tapi rasanya surga begitu dekat ketika kita bersama.
Hari ini hari jumat, dan kita akan tetap mencintainya seperti kita mencintai surga.
r.i.a
Pilihan
Seperti senja yang datang di ujung petang lalu serta merta membawa sinar kehidupan
Meninggalkan hitam pekatnya malam dan tak sekalipun melihat ke belakang
Hanya Tuhan yang tahu kapan kita harus pergi
Perihal kembali, itu hanya pilihan ketika semua sakit telah sembuh
Lalu pilihan lain yang lebih masuk akal adalah melanjutkan langkah
Sebab, di ujung jalan kadang banyak pekerjaan soal membuka rahasia dari tujuan kita dilahirkan di dunia
r.i.a
*Sayonara
Seperti apa warna hidupmu?
Genre apa yang sedang kau mainkan?
Musik apa yang sedang kau dengarkan?
Buku apa yang sedang kau baca?
Yang mana kau suka, gunung atau laut?
Apa mimpi-mimpimu?
Semanis bagaimana wajahmu ketika kau tersenyum?
Apa yang membuatmu bahagia?
Doa apa yang kau panjatkan?
Seyakin mana kau bahwa doa itu telah sampai di langit?
Bagaimana rupamu ketika kau sedang sakit?
Kau lebih suka pagi atau sore?
Apa aku terlalu ingin banyak tahu?
Maafkan aku
Bahkan untuk menanyakan semua itu, aku tak bisa
Kau tahu, aku takut Tuhan marah
Lalu melenyapkan senyummu
Juga bahagiamu
Dan biarkan saja begitu
Sampai aku pergi
Jauh dan tak kembali
Sayonara
Sayonara kehidupanku yang lama
Aku sungguh sangat menyukai semuanya
Sangat menyukainya
.
.
.
*Sayonara adalah ungkapan perpisahan dalam bahasa Jepang yang mengisyaratkan akan pergi ke tempat jauh dan butuh waktu yang lama untuk kembali. Yah, kira-kira begitulah.😁😁😁
.
.
r.i.a
Perihal Kemarin
Kemarin aku melihatmu
Berdiri gagah di sebuah jalan
Setelah sekian lama, hatiku berdegup bahagia sekali lagi
Seperti seorang gadis kecil yang diberi permen raksasa oleh ayahnya
Di perjalanan pulang aku menerka-nerka
Soal takdir apa yang sedang membuntutiku
Pertanyaan seputar mengapa banyak yang pergi darimu
Sedang aku masih saja berusaha mencarimu dan mengenalmu, sekali lagi
Kemarin, saat aku melihatmu
Aku pulang dengan senyum lebar di bibirku
Sudut-sudutnya tidak berhenti terangkat
Lalu, aku bahagia menceritakan bahwa aku melihatmu kemarin
Malam harinya, aku berusaha menghubungimu
Bahwa kini, aku juga ada di sini
Berharap kita punya janji, lalu bertemu dan kembali meramu mimpi
Tapi aku tidak melakukannya
Kepalaku penuh pertanyaan, apa yang akan aku katakan padamu
Namun hari ini, aku sudah berjanji
Bahwa sebelum matahari terbenam di barat
Aku akan mengabarimu
Dan besok mungkin kita bisa bertemu
Sungguh, kejutan tak pernah berhenti
Ketika yang aku khawatirkan
Berbulan-bulan lamanya bahwa aku tidak akan bertemu denganmu di sini
Kemarin, semua cemas itu sirna
Pergi bersama datangnya bayangmu
Kini, di sepotong sore ini
Aku tak berhenti mendoa
Akan esok yang baik-baik saja
Bahwa kita akan berjumpa sambil saling membawakan bunga mawar merah
Seorang sahabat yang berharap menjadi candu akhiratmu selamanya
r.i.a
Berserah
Mencintai takdir adalah cara mencintai Tuhan
Menikmati hidup adalah cara mensyukuri hidup
Hidup itu sederhana
Paralel kuat dengan bahagia
Yang juga amat sederhana
Hey aku, terimakasih telah sudah kuat selama ini
Terimakasih sudah mudah sekali bahagia selama ini
Juga mudah sekali berserah diri
Kita harus lebih dan lebih banyak bersyukur yah
Kita kan tidak tahu, kejutan apa lagi yang akan Allah kasih
r.i.a
Jalan Lurus
Akan ke mana kita?
Ke jalan yang penuh cinta, juang juga kesetiaan
Jalan yang seperti apa itu?
Nak, suatu hari ketika engkau berjalan di atasnya
Keringatmu bercucuran, nafasmu kadang tersengal bahkan engkau akan berdarah-darah
Apa tidak ada kebahagiaan di sana?
Berlelah-lelahlah karena tempat istirahat terbaik adalah surga
Lalu, bagaimana kami melewatinya?
Mintalah petunjuk:
"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat"
r.i.a
Senja
Senja dengan getar takbir berwarna derai air mata.
Luruh bersama bening air surgawi.
Do'a ada pada tempat yang tidak pernah berubah.
Dekat erat dalam dekapan Illahi.
Jarak dan waktu memang kadang tidak pernah berlaku baik.
Tapi Allah Maha Tahu lagi Maha Baik.
Di antara jarak dan waktu Ia selipkan jutaan kisah yang baik.
Seperti rindu yang berjanji akan bertemu di waktu yang baik.
r.i.a
Kita
Matahari berkilau indah di balik awan
Percakapan manis seorang ayah kepada putri kecilnya
Suasana hening di sebuah beranda
Ada air mata yang menetes di dagu
Hidup terus bergulir
Suka, duka
Tawa lalu tangis
Dan dunia harus tumbuh dengan gembira
Kata seorang alim
Allah tersenyum ketika ada seorang hamba yang meminta ampunan
Yang larut dalam istighfar
Berucap, berulang-ulang sambil mengingat dosa yang malu dihadapkan pada Tuhannya
Lalu kita akan mencintai surga, sangat mencintainya
r.i.a
Kembalilah
Inilah air mata yang mengaku paling rindu itu
Tapi ialah yang paling banyak berkhianat
Seolah sedang bertobat tapi sedang menambah puing-puing maksiat
Sangat enggan beristighfar padahal dosa sedang ditabungnya
Di mana sajadah suci tempatmu bersujud itu pergi?
Di mana letak iman yang kau bangga-banggakan selama ini?
Di mana ilmu yang sering kau pamerkan itu?
Di mana wajahmu yang basah oleh wudhu di sepertiga malam?
Ke mana hilangnya mereka semua?
Apakah diganti oleh pekerjaan yang semakin menumpuk?
Diganti smartphone di genggaman yang tak mau lepas?
Diganti oleh tawa anak kecilmu yang sangat menggemaskan?
Diganti istrimu yang sangat elok rupanya?
Diganti suamimu yang penuh wibawa?
Kembalilah wahai jiwa yang merindukan ketenangan
Kembalilah pada Tuhanmu yang Maha Pengampun
Dan dengarlah betapa indah lantunan ayat suci yang dibaca dengan serak tangis rindumu
r.i.a
Pengampunan
Surat itu masih tergeletak di atas meja
Sudah lama bahkan telah berdebu ia
Kesepian dan hampir saja menangisi dirinya yang seolah terbuang
Siapa yang tega membiarkannya seperti itu?
Isinya memang banyak yang tidak begitu memahaminya
Bahkan kesulitan membacanya
Penuh teka teki di setiap kata perkatanya
Apa itu alasan yang tepat untuk mengabaikannya?
Bukan, bukan itu
Bukankah sudah banyak yang mengingatkan untuk senantiasa membacanya?
Bahkan setiap detik seharusnya surat cinta yang penuh romansa itu menjadi oksigen di tiap hirup nafas kita
Lalu, imanlah yang semakin tergerus
Sujud-sujud yang sudah tidak lagi panjang
Do'a-do'a yang sekenanya saja terucap
Malah banyak yang tidak lagi melafalkan baris-baris pinta
Sang Penulis Kehidupan, yang merindu
Yang tetap menunggu
Yang tidak berhenti kasih sayangNya
Yang telah dulu memgampuni sebelum istighfar terucap
Yang setiap nafas hidup kita Dia belai dengan sangat lembut
Menuliskan surat cinta itu untuk menghibur hati yang sedang bersedih
Yang memberi petunjuk bagi yang sesat
Yang mengobati si sakit
Merahmati siapapun yang membacanya
Ampuni lalai yang sangat tega ini
Ampuni cinta yang hanya mengaku saja
Ampuni rindu yang tiada lagi tersedu
Ampuni lisan yang tiada lagi basah oleh dzikir
Ampuni mata yang tiada lagi menangisi dosa
Ampuni tangan yang tiada mendekap surat cintaMu
Ampunilah dosa-dosa yang memenuhi hati
Sungguh, hanya Engkau Yang Maha Hebat mengampuni lalai dan segala dosa-dosa.
Lalu jadikanlah kami hambaMu yang paling mencintaiMu
Allahu Robb semesta alam.
r.i.a
Duka itu seperti apa?
Seperti meramu sesuatu pada sebuah wadah ada kadarnya masing-masing, tidak bisa kurang karena tidak pas, tidak bisa berlebih karena akan tumpah. Mungkin seperti itu sebuah duka. Diberi kepada sesiapa sesuai kadar kesanggupan menghadapinya.
Tadi pagi sehabis membaca postingan beberapa teman di fb saya langsung ngomong sama kakak "Masih ingat teman saya yang ngajak ke Toraja dulu? Yang singgah di rumah. Yang satu-satunya perempuan." Kakak masih ingat. "Hari ini dia menikah, tapi sedihnya pagi ini juga mamanya dipanggil Allah" Saya tidak kuat melanjutkan dan hanya berkaca-kaca. "Wiii, kodong." Lalu kami berdua hanya bisa saling memandang, kakak saya ikutan berkaca-kaca tapi saya sudah tidak kuat, air mata luruh seketika. Beberapa waktu kemudian, ada yang memposting foto di bawah. Saya kembali ke kamar, kembali berderai, dada sesak, membayangkan bagaimana perasaan kakak yang memiliki senyum paling cemerlang ini, punya tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum tapi tidak kali ini. Saya sebenarnya sudah siap bilang "Ciye, akhirnya jadi istri" dengan emot mengejek hari ini. Seharusnya di grup "Enrekang Troop" Penuh bullyan ciye ciye tapi kami tahu ini tidak tepat. Kami lalu bingung harus mengatakan apa.
Dia adalah kakak perempuan semesta. Kak Atun. Kami mengenalnya sosok yang kuat. Saya sebenarnya satu almamater dengannya tapi ajaibnya kami baru akrab selepas jadi alumni. Semenjak kuliah saya sudah mengidolakannya sebenarnya. Dari jauh. Dia memiliki tulisan-tulisan yang keceh badai. Pertama kali bertemu ketika ada agenda pengolahan data di dpd, saya malah surprise. Kirain kak Atun orang yang kaku dan semacamnya. Tapi jauh bedaaaa, orangnya humble, rame dan asik. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa sangat disayang olehnya.
Sekitar 2 tahun lalu kembali kami dipertemukan dalam sebuah proyek. Sekantor dengan orang-orang hebat lainnya. Beberapa saat kemudian kami yang cuma bertiga perempuan di proyek tersebut memutuskan untuk tinggal bersama. Ah, narasinya tidak begitu. Saya bersama seorang adik partner si Muz yang nebeng di kosan kak Atun dan seorang teman kosnya. Kos pelangi, di tamalanrea. Kami lalu lebih mengenal satu sama lain. Lebih memahami satu sama lain. Sayalah yang paling banyak menyusahkan sebenarnya, paling malas dan paling suka-sukanya. Meski begitu, mereka masih saja sayang. Ada kak Mitha di sebelah. Mereka berdua semacam kakak juga mama. Suka menyuruh-nyuruh sesuatu yang untuk kebaikan saya. Nyuruh mandi, nyuruh sikat gigi sebelum tidur dengan tertib. Kak Atun selalu bilang "Kalau malas dari sekarang sikat gigi, nanti kalau tua baru tau rasa". Nyuruh minum air putih yang banyak. Nyuruh makan, walau saya suka lebih memilih tidur ketika dihadapkan pada dua keadaan, lapar dan ngantuk. Mereka tidak mengizinkan saya tidur kalau belum makan. Bahkan mereka siapkan segala. Hidup hampir 3 bulan bersama lalu mengerjakan hal yang sama dan kemana-mana bersama rasanya kita lebih dari seorang adik kakak saja. Di sebuah kamar di kos pelangi itu setiap hari tawa kami meledak. Saya tidak pernah membayangkan akan hidup dengan seseorang yang dulu adalah idola saya.
Beberapa waktu yang lalu kakak keceh ini menyebarkan undangan pernikahannya. Alhamdulillah. Tidak lupa undangan spesial untuk "Enrekang Troops" itu untuk member yang jalan-jalan ke enrekang dan toraja sekitar 3 bulan lalu. Kami lalu mencie ciekan. Secara, grup itu kakak ini yang paling ditunggu undangannya. Tepat hari ini akadnya.
Tapi apa yang membuat cie cie itu tidak lagi menerbitkan tawa dan serasa hambar bahkan getir? Duka itu. Duka itu datang tepat beberapa jam saja sebelum akad. Pukul 06.30 mama kak Atun, orang yang disayanginya dipanggil oleh Allah selama-lamanya. Membuat ijab kabul itu terasa getir. Bergema di antara isak tangis, di depan jenazah sang mama. 😭😭😭
Kak Atun, perempuan semesta yang kami kenal adalah perempuan yang kuat. Sangat kuat. Yang punya senyum paling cemerlang, tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum. Saya pernah mendengar, cobaan besar diberikan kepada orang yang besar, cobaan hebat diberikan kepada orang hebat. Sesuai wadahnya. Kami menyayangimu, tapi Allah Yang Maha Pengasih lebih menyayangimu dengan ujian ini.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wafuanha untuk mamata.
Kakak Atun, selamat sudah jadi istri. Barokah kehidupan baruta. Sakinah mawaddah warohmah. Walau tidak akan sama tapi Allah menghadirkan seseorang yang menyayangimu seperti mama menyayangimu. Uhibbukifillah.
r.i.a
Dukanya pada Idul Adha
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
Sudah beberapa hari ini langit di atas rumah begitu cerah dan saya sangat suka melihatnya. Tapi tidak sore tadi, tidak sama sekali. Bahkan udara di sekitar tampak begitu berkabut, hujan masih turun rintik-rintik. Sangat nyaman untuk terlelap. Saya sedang bersembunyi di balik selimut tebal ketika tiba-tiba hape saya berdering. "Ada telpon ria, dari Marha" sahut si bontot yang sedang memainkan sebuah game ofline di smartphone saya. Telepon dari seorang ukhty yang suka sekali menanyakan "Sudah makan?" ketika sedang menelpon. Tapi tadi saya tidak mendengar pertanyaannya itu. Dia sedang menangis pedih di ujung sana. Dengan menguat-nguatkan diri dia memberitahu kabar duka itu. Bapaknya dipanggil oleh Allah SWT selama-lamanya. Sejenak saya hanya bisa tertegun, kerongkongan yang tercekat, hampir bingung harus mengatakan apa. Sangat sedih rasanya, kalau bisa saya ada di sana sekarang juga untuk sekadar memeluknya dan memberi kata-kata penguat lainnya. Walau itu tidak banyak membantu, tapi keadaan mengharuskan saya hanya bisa mengatakan beberapa patah kata bela sungkawa dan kata-kata penguat lainnya lewat udara.
Lalu saya sibuk mengabari teman-teman kami tentang berita duka ini. Memohon do'a agar Pak e diterima di sisi Allah, di tempatkan di tempat terbaik. Sungguh, beliau adalah orang yang baik. Sangat baik. Saya tidak mengatakannya begitu saja tanpa merasakan kebaikannya. Ketika Marha saudariku ini menikah awal tahun lalu, saya datang ke rumahnya di Bone-bone. Saya datang lebih dulu, 3 hari sebelum hari H. Saya disambut dengan sangat baik. Diperlakukan seperti anak sendiri, bahkan mereka tidak keberatan ketika saya panggil mereka pak e dan mak e. Sepersis panggilan bapak dan ibu sohib saya ini kepada mereka. Selain mereka begitu takjub, bisa-bisanya kami sangat mirip. Ah, bukan rahasia lagi bahwa saya dan teman saya ini selalu disangka saudara kembar oleh beberapa orang. Lalu, di rumah seketika menjadi heboh, bukde-bukdenya Marha selalu tertawa renyah ketika ada yang salah mengira kalau saya Marha. Saya hanya senyum-senyum malu-malu. Yang lebih parahnya adalah ketika sehari sebelum hari bahagia, kami sedang belajar wedding make up. No no, bukan kami, hanya Marha, make up seadanya, karena di akadnya, dia memoles wajahnya sendiri. Dan ketika hampir selesai memoles wajahnya. Mak e datang. Dan langsung mengajak saya bicara, dikiranya saya Marha dan yang make up an adalah saya. Lalu Mak e tidak berhenti tertawa ketika mengetahui yang mana kami sebenarnya. Mak e dan semua orang di rumah yang ramai waktu itu sangat baik kepada saya. Selalu menyuruh makan, tidak menganggap orang lain dan bahkan ketika saya sudah pulang ke makassar, beliau mencium kedua pipi saya sambil mengucapkan banyak terimakasih padahal saya tidak banyak membantu, membantu mengahabiskan makanan iyyah. Dan saya yakin, sekarang mak e sangat sedih kehilangan pak e. Rasanya ingin kesana sekarang juga dan memeluk mak e biar tidak sedih lagi dan lagi.
Lalu Pak e. Beliau tidak pernah menyangka saya marha. Sepertinya beliau sangat tahu yang mana anak kandungnya. Dan suatu pagi setelah acara pernikahan telah selesai, Pak e sedang makan pisang masak di meja makan. Saya dipanggilnya untuk ikut makan. Saya lantas makan dan dengan bahagianya berkata kalau pisang itu enak sekali. Lalu apa yang dilakukan pak e? Besoknya ketika saya sudah mau balik ke makassar, beliau sibuk memasukkan bersisir pisang teman yang kami makan di meja makan kemarin bersama kue-kue yang disiapkan mak e ke dalam kardus dan membungkusnya sambil berkata "Ini untuk ria" untuk sejenak hati saya begitu hangat dan tidak terasa mata saya berair. Saya mengingat almarhum bapak yang juga suka sekali mengemas apa-apa di kardus untuk saya bawa ke makassar. Dan melihat Pak e melakukannya untuk saya, saya seketika sangat bahagia. Allah, Engkau yang paling tahu seberapa baiknya sosok Pak e, Engkau yang paling tahu di tempat terbaik mana beliau layak ditempatkan.
Dan saya jadi mengerti kenapa langit di atap rumah tiba-tiba berubah menjadi kabut.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihiwa'fu'anhu. Yaa Allah, terimalah segala amal beliau, ampuni dosa-dosanya, lapangkan kuburnya, terangilah dengan cahayaMu dan penuhilah dengan kenikmatan. Allahumma aamiin.
Catatan Sebelum (menuju) Pernikahan
Marriage is a little bit like gambling, isn’t it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua. Kemenangan yang bisa kita
peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua, tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita
ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. Saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita ”pertaruhkan”. Cinta, hati, tubuh, pemikiran,
keluarga, idealisme, masa depan, karier, setiap sel keberadaan kita sebagai manusia. Tidak bisa setengah-setengah. Saat menang, kita memang bisa memenangkan jauh
lebih besar daripada yang kita pertaruhkan. Cinta yang kita rasakan bisa berlipat-lipat, tubuh kita tidak lagi satu tapi sudah bisa melahirkan keturunan yang lucu-lucu. In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.
Note: Kata-kata di atas jelas bukan buah tangan saya. Saya dapat dari catatan yang entah dari mana saya copy. Kalau nggak salah ingat dari novelnya Ika Natassa, yang critical eleven atau antologi rasa. Entahlah. Tapi, jelasnya, saya copy bukan tanpa alasan. Menjadi catatan penting untuk para single. Bahwa hey, nikah gag segampang itu yehhh. Kita kayak mempertaruhkan banyak hal yang kita miliki. Makanya, sebelum deal dealan, lihat-lihat dulu dia kualitasnya kayak gimana. Dannnn, kualitas kita kayak gimana juga. Wajar aja mengharapkan yang sekelas Nabi Muhammad SAW uhuk, tapi apakah kita sudah sebaik Ibunda Khodijah? Nah, lalu bagaimana biar nggak rugi ketika sudah mempertaruhkan segalanya dan nggak menyesal di kemudian hari? Dari diri kita bos. Kalau kita baik, kita akan mendapatkan yang baik pula. Sudah sering dengar kan firman Allah "Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik dan sebaliknya". Tugas kita setelah mengajak diri kita baik adalah very very believe bahwa Allah gag akan ingkar janji. Jodohmu sesuai dirimu. Itu aja sih. Ahhhhh, maafkan saya yang belakangan ini suka tulis yang beginian, padahal masih unyu-unyu. Peace. Cuma sekadar alarm buat diri, biar makin baik. Etapi, tujuan utama menjadi baik bukan itu yah, tapi mengharapkan ridho dari Allah. Semangat para singlelillah. 😊😊
r.i.a
ISTRI BAHAGIA ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN PERKAWINAN
Saya tidak tahu apakah nanti akhirnya saya bertemu dengan seseorang dan menjalani sebuah pernikahan. Siapa yang tahu. Tapi, sebagai seorang perempuan yang juga mendambakan sebuah ikatan dan menjalankan ibadah yang disebut pernikahan, adalah hal wajar mengetahui ilmu-ilmu seperti ini. Sebenarnya, ini sangat cocok untuk yang sudah menikah. Saya copy dari fb pak Cahyadi Takariawan. Penulis hebat tentang wedding, parenting dan apapun. Bahkan berkali-kali mengadakan seminar tentang itu. Bagi yang sedang galau tentang pernikahannya, bagus membeli bukunya atau paling tidak membuka fbnya beliau saja. Banyak nasihat pernikahan diposting di sana. Dan ini salah satu postingan beliau, baru saja saya baca. Cocoknya buat bapak-bapak sih. Tapi gag ada salahnya semua pihak membacanya.
ISTRI BAHAGIA ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN PERKAWINAN
Ketika Harry Benson melewati 8 tahun kehidupan perkawinan, Kate, sang istri mengatakan bahwa dia tidak bahagia dalam pernikahannya bersama Harry.
"Kau tahu aku mencintaimu, Harry. Namun setelah kita memiliki anak, aku semakin sulit untuk bicara denganmu. Kita punya hidup yang nyaman, dan kau adalah ayah yang baik. Namun, kelihatannya kau sama sekali tidak tertarik padaku. Kita bukan lagi teman. Aku merasa kesepian dan tidak berharga. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan dalam keadaan ini."
Itulah yang dikatakan Kate pada Harry. Dan hal ini menyadarkan Harry, bahwa hubungan pernikahan mereka berada di ujung tanduk.
"Semua orang tahu bahwa sebuah pernikahan yang berjalan baik, bisa saja memburuk. Tapi kami berpikir bahwa hal tersebut tidak akan terjadi pada kami. Tetapi, secara tidak sadar kami semakin menjauh dari satu sama lain, dan perlahan-lahan mulai menuju ke ambang perpisahan," ungkap Harry.
Istri yang bahagia kunci pernikahan yang sehat
Saat itulah, Harry memutuskan untuk mengutamakan istrinya. Dan ternyata, dia berhasil menyelamatkan pernikahan mereka.
Harry dan Kate melakukan survey pada 300 ibu rumah tangga untuk membuat sebuah buku berjudul What Mums Want (And Dads Need to Know). Mereka menemukan bahwa mayoritas ibu rumah tanga, mengatakan bahwa persahabatan, suami yang perhatian pada istri dan anak-anak adalah sikap terpenting yang mereka hargai dari pasangan.
Harry juga menambahkan, bahwa jika dalam sebuah rumah tangga ada istri yang bahagia, maka seluruh anggota keluarga juga akan bahagia. Itulah mengapa dirinya selalu mengutamakan kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Karena Harry tahu, istri yang bahagia akan membuat rumah tangga berjalan lancar dan langgeng.
Harry mengatakan, "Seperti halnya Kate, kebanyakan wanita menginginkan adanya persahabatan dari sang suami, melebih hal lainnya. Itu saja. Saya belajar cara mencintai Kate dengan benar, dan dia membalas cintaku. Itulah yang benar-benar diinginkan para istri, dan para suami harus mengetahuinya."
Sumber : The Asia Patent online