Rabu, 28 November 2018

Berat Badan

Kadang kita punya kabar bahagia tapi bagi sebagian orang adalah kabar buruk bagi mereka. Pun sebaliknya, kabar bahagia bagi orang lain, ternyata ketika ada di pihak kita menjadi kabar yang tidak bahagia lagi.

Kemarin saya sedikit berbahagia. Maunya tidak berlebihan jadi pake kata "sedikit" yang padahal kabar itu membuat saya ketawa ketiwi sendiri kayak orang gila plus senyum-senyum sampai hidung kayaknya ikut mekar. Mhehehehehe

Jadi ceritanya kemarin ketika mengantar ponakan ke sebuah puskesmas ketika kami sudah berada di UGD. Dan saya lagi dalam keadaan kuker pake banget. Iseng-iseng saya naik ke sebuah timbangan berat badan. Dan seperti mendapat kejutan luar biasa, sambil menutup mulut yang bibir sudah membulat lirih mengucap "Oh", saya seketika berasa berbunga-bunga. Berat badan saya naik 6 kilo. Enam kilo gais. YaaAllah.

Padahal ketika baru datang ke sini, di puskesmas yang sama saya menimbang berat badan yang buat ekspresi saya masih seperti dulu-dulu. Ekspresi "Kapan naik nih berat badan?" Nah, belum juga 2 bulan saya di sini, bisa naik sedrastis itu. Fantastis, elastis, atlantis woy. 😆😆

Jadi, di puskesmas itu sembari menunggu si fifo fifo ditangani para suster yang memasang infus yang bikin fifo nangis sedih banget, mana tidak sedih, sakit ey disuntik di dua punggung tangan dan tidak berhasil juga si susternya (eh, suster jugakah kalau perawatnya cowok?). Yah, pokoknya setelah 3 kali disuntik, akhirnya selang infus afifa berhasil setelah ditusukkan di kaki dekat mata kaki.

Jadi, saya sedihnya pas di situ aja. Abis afifa sudah ditangani, dan mengingat timbangan saya yang naik, saya kembali senyam senyum dan berkata lirih "Timbanganku naik-timbanganku naik-timbanganku naik". Kakak, si bunda fifa langsung bilang "Kayak gimana aja?" Menurutnya ini hal biasa aja. Saya langsung kepikiran. Baru dua bulan kok bisa naik. Saya jadi bertanya-tanya apa jangan-jangan timbangannya salah atau saya salah lihat. Tidak menunggu waktu lama, mumpung masih di ruang yang sama, sekali lagi saya naik ke timbangan pelan-pelan sambil memperbaiki posisi kaki benar-benar. Waktu itu pagi, saya belum sarapan sama sekali, sudah B*B juga, jadi badan dalam kondisi stabil. Dan hasilnya sama. Saya turun dan senyum sekali lagi sama kakakku dan dia meyakinkan kalau timbangannya tidak rusak, lah itu tadi yang dipakai afifa dan beberapa pasien kok.

Saya kemudian mengelus-elus perut, biasanya lemak akan bertumpuk di sana dan membuat berat badan naik. Tapi perut saya masih sama, kayak papan seluncuran. Rata. Saya lalu duduk dan memegang perut. Gag ada lipatan yang berarti. Jadi, di mana letak penambahan berat badan saya? Ah, serahlah yang penting beratnya naik. Titik.

Ngh, padahal malam sebelumnya saya yang diajak makan sama geng 3M, yang akhirnya berganti jadi geng MR karena ada nama saya jadi tambahan hihi. Berusaha untuk tidak lagi sesemangat dulu berharap BB naik. Waktu pesanan kami sudah datang, salah satu teman ternyata tidak pesan makanan. Dan dia mengaku sudah 3 hari gag makan nasi. Saya langsung syok.

"Diet?" Tanya saya sungguh-sungguh. Melihat teman saya badannya bagus, tinggi, berisi dan jauhhhhhhh dari kata "gemuk", "Buat apa diet segala?" tanya dalam hati doang.
"Udah bagus loh badannya"
"Iyyah mbak, tapi BB sudah bla bla bla"

Saya jadi merenung, ada yang susah-susah loh turunin berat badan, ngapa saya harus frustasi setiap dibilangi "Kurus, ringkih, rata" dsb. Dan mengingat pertanyaan mama ke kakak kalau nelpon "Bagaimana ria, masih kurus?" dan tahulah habis itu mereka membahas soal pola makan saya yang kadang cuma sekali, kadang malam doang, yang bagus kalau saya milih puasa saja. Hehe.

Ngh, yah gitu yah. Hidup cuma gitu gitu aja. Kalau gag bisa bersyukur dengan keadaan diri, maka kita akan berharap berada di posisi orang lain. Yang ternyata orang itu menginginkan berada di posisi kita.

Ada seorang ibu yang mengeluh setiap hari stres menghadapi anak-anaknya dengan segudang pekerjaan rumah. Lalu di sudut rumah yang lain, ada seorang wanita yang mendamba segera diberi amanah juga berupa anak.

Ada seorang anak yang ngedumel setiap hari dapat omelan dari orang tuanya. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang anak yang menginginkan ada yang mengajarinya banyak hal meski diomeli karena dia sebatang kara.

Ada seorang istri yang mengeluh suaminya bla bla bla. Lalu, di sudut rumah yang lain ada seorang gadis yang merintih kepada Tuhan segera dikirimkan jodohnya.

Ada seorang lelaki yang mengeluh soal pekerjaannya yang segunung. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang laki-laki yang menatap sendu berkas lamaran pekerjaannya yang tidak juga memberi kabar baik.

Kalau kita mau saja, menerima keadaan kita apa adanya. Merasa bahagia dengan yang kita punya dan tidak berandai-andai dengan hidup orang lain. Maka, kita akan menikmati hidup dengan lebih bermakna.

Yah, seenggaknya kalau kita kemudian naik level seperti misalnya naik berat badan. Kita akan menemukan sebuah level kebahagiaan baru. Yang kadang menurut orang lain sepele. Tapi bagi kita sangat cukup untuk menambah rasa syukur kita kepada Sang Pemberi Hidup.

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar