Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
Sudah beberapa hari ini langit di atas rumah begitu cerah dan saya sangat suka melihatnya. Tapi tidak sore tadi, tidak sama sekali. Bahkan udara di sekitar tampak begitu berkabut, hujan masih turun rintik-rintik. Sangat nyaman untuk terlelap. Saya sedang bersembunyi di balik selimut tebal ketika tiba-tiba hape saya berdering. "Ada telpon ria, dari Marha" sahut si bontot yang sedang memainkan sebuah game ofline di smartphone saya. Telepon dari seorang ukhty yang suka sekali menanyakan "Sudah makan?" ketika sedang menelpon. Tapi tadi saya tidak mendengar pertanyaannya itu. Dia sedang menangis pedih di ujung sana. Dengan menguat-nguatkan diri dia memberitahu kabar duka itu. Bapaknya dipanggil oleh Allah SWT selama-lamanya. Sejenak saya hanya bisa tertegun, kerongkongan yang tercekat, hampir bingung harus mengatakan apa. Sangat sedih rasanya, kalau bisa saya ada di sana sekarang juga untuk sekadar memeluknya dan memberi kata-kata penguat lainnya. Walau itu tidak banyak membantu, tapi keadaan mengharuskan saya hanya bisa mengatakan beberapa patah kata bela sungkawa dan kata-kata penguat lainnya lewat udara.
Lalu saya sibuk mengabari teman-teman kami tentang berita duka ini. Memohon do'a agar Pak e diterima di sisi Allah, di tempatkan di tempat terbaik. Sungguh, beliau adalah orang yang baik. Sangat baik. Saya tidak mengatakannya begitu saja tanpa merasakan kebaikannya. Ketika Marha saudariku ini menikah awal tahun lalu, saya datang ke rumahnya di Bone-bone. Saya datang lebih dulu, 3 hari sebelum hari H. Saya disambut dengan sangat baik. Diperlakukan seperti anak sendiri, bahkan mereka tidak keberatan ketika saya panggil mereka pak e dan mak e. Sepersis panggilan bapak dan ibu sohib saya ini kepada mereka. Selain mereka begitu takjub, bisa-bisanya kami sangat mirip. Ah, bukan rahasia lagi bahwa saya dan teman saya ini selalu disangka saudara kembar oleh beberapa orang. Lalu, di rumah seketika menjadi heboh, bukde-bukdenya Marha selalu tertawa renyah ketika ada yang salah mengira kalau saya Marha. Saya hanya senyum-senyum malu-malu. Yang lebih parahnya adalah ketika sehari sebelum hari bahagia, kami sedang belajar wedding make up. No no, bukan kami, hanya Marha, make up seadanya, karena di akadnya, dia memoles wajahnya sendiri. Dan ketika hampir selesai memoles wajahnya. Mak e datang. Dan langsung mengajak saya bicara, dikiranya saya Marha dan yang make up an adalah saya. Lalu Mak e tidak berhenti tertawa ketika mengetahui yang mana kami sebenarnya. Mak e dan semua orang di rumah yang ramai waktu itu sangat baik kepada saya. Selalu menyuruh makan, tidak menganggap orang lain dan bahkan ketika saya sudah pulang ke makassar, beliau mencium kedua pipi saya sambil mengucapkan banyak terimakasih padahal saya tidak banyak membantu, membantu mengahabiskan makanan iyyah. Dan saya yakin, sekarang mak e sangat sedih kehilangan pak e. Rasanya ingin kesana sekarang juga dan memeluk mak e biar tidak sedih lagi dan lagi.
Lalu Pak e. Beliau tidak pernah menyangka saya marha. Sepertinya beliau sangat tahu yang mana anak kandungnya. Dan suatu pagi setelah acara pernikahan telah selesai, Pak e sedang makan pisang masak di meja makan. Saya dipanggilnya untuk ikut makan. Saya lantas makan dan dengan bahagianya berkata kalau pisang itu enak sekali. Lalu apa yang dilakukan pak e? Besoknya ketika saya sudah mau balik ke makassar, beliau sibuk memasukkan bersisir pisang teman yang kami makan di meja makan kemarin bersama kue-kue yang disiapkan mak e ke dalam kardus dan membungkusnya sambil berkata "Ini untuk ria" untuk sejenak hati saya begitu hangat dan tidak terasa mata saya berair. Saya mengingat almarhum bapak yang juga suka sekali mengemas apa-apa di kardus untuk saya bawa ke makassar. Dan melihat Pak e melakukannya untuk saya, saya seketika sangat bahagia. Allah, Engkau yang paling tahu seberapa baiknya sosok Pak e, Engkau yang paling tahu di tempat terbaik mana beliau layak ditempatkan.
Dan saya jadi mengerti kenapa langit di atap rumah tiba-tiba berubah menjadi kabut.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihiwa'fu'anhu. Yaa Allah, terimalah segala amal beliau, ampuni dosa-dosanya, lapangkan kuburnya, terangilah dengan cahayaMu dan penuhilah dengan kenikmatan. Allahumma aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar