Rabu, 07 November 2018

Duka itu seperti apa?

Seperti meramu sesuatu pada sebuah wadah ada kadarnya masing-masing, tidak bisa kurang karena tidak pas, tidak bisa berlebih karena akan tumpah. Mungkin seperti itu sebuah duka. Diberi kepada sesiapa sesuai kadar kesanggupan menghadapinya.

Tadi pagi sehabis membaca postingan beberapa teman di fb saya langsung ngomong sama kakak "Masih ingat teman saya yang ngajak ke Toraja dulu? Yang singgah di rumah.  Yang satu-satunya perempuan." Kakak masih ingat. "Hari ini dia menikah, tapi sedihnya pagi ini juga mamanya dipanggil Allah" Saya tidak kuat melanjutkan dan hanya berkaca-kaca. "Wiii, kodong." Lalu kami berdua hanya bisa saling memandang, kakak saya ikutan berkaca-kaca tapi saya sudah tidak kuat, air mata luruh seketika. Beberapa waktu kemudian, ada yang memposting foto di bawah. Saya kembali ke kamar, kembali berderai, dada sesak, membayangkan bagaimana perasaan kakak yang memiliki senyum paling cemerlang ini, punya tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum tapi tidak kali ini. Saya sebenarnya sudah siap bilang "Ciye, akhirnya jadi istri" dengan emot mengejek hari ini. Seharusnya di grup "Enrekang Troop" Penuh bullyan ciye ciye tapi kami tahu ini tidak tepat. Kami lalu bingung harus mengatakan apa.

Dia adalah kakak perempuan semesta. Kak Atun. Kami mengenalnya sosok yang kuat. Saya sebenarnya satu almamater dengannya tapi ajaibnya kami baru akrab selepas jadi alumni. Semenjak kuliah saya sudah mengidolakannya sebenarnya. Dari jauh. Dia memiliki tulisan-tulisan yang keceh badai. Pertama kali bertemu ketika ada agenda pengolahan data di dpd, saya malah surprise. Kirain kak Atun orang yang kaku dan semacamnya. Tapi jauh bedaaaa, orangnya humble, rame dan asik. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa sangat disayang olehnya.

Sekitar 2 tahun lalu kembali kami dipertemukan dalam sebuah proyek. Sekantor dengan orang-orang hebat lainnya. Beberapa saat kemudian kami yang cuma bertiga perempuan di proyek tersebut memutuskan untuk tinggal bersama. Ah, narasinya tidak begitu. Saya bersama seorang adik partner si Muz yang nebeng di kosan kak Atun dan seorang teman kosnya. Kos pelangi, di tamalanrea. Kami lalu lebih mengenal satu sama lain. Lebih memahami satu sama lain. Sayalah yang paling banyak menyusahkan sebenarnya, paling malas dan paling suka-sukanya. Meski begitu, mereka masih saja sayang. Ada kak Mitha di sebelah. Mereka berdua semacam kakak juga mama. Suka menyuruh-nyuruh sesuatu yang untuk kebaikan saya. Nyuruh mandi, nyuruh sikat gigi sebelum tidur dengan tertib. Kak Atun selalu bilang "Kalau malas dari sekarang sikat gigi, nanti kalau tua baru tau rasa". Nyuruh minum air putih yang banyak. Nyuruh makan, walau saya suka lebih memilih tidur ketika dihadapkan pada dua keadaan, lapar dan ngantuk. Mereka tidak mengizinkan saya tidur kalau belum makan. Bahkan mereka siapkan segala. Hidup hampir 3 bulan bersama lalu mengerjakan hal yang sama dan kemana-mana bersama rasanya kita lebih dari seorang adik kakak saja. Di sebuah kamar di kos pelangi itu setiap hari tawa kami meledak. Saya tidak pernah membayangkan akan hidup dengan seseorang yang dulu adalah idola saya.

Beberapa waktu yang lalu kakak keceh ini menyebarkan undangan pernikahannya. Alhamdulillah. Tidak lupa undangan spesial untuk "Enrekang Troops" itu untuk member yang jalan-jalan ke enrekang dan toraja sekitar 3 bulan lalu. Kami lalu mencie ciekan. Secara, grup itu kakak ini yang paling ditunggu undangannya. Tepat hari ini akadnya.

Tapi apa yang membuat cie cie itu tidak lagi menerbitkan tawa dan serasa hambar bahkan getir? Duka itu. Duka itu datang tepat beberapa jam saja sebelum akad. Pukul 06.30 mama kak Atun, orang yang disayanginya dipanggil oleh Allah selama-lamanya. Membuat ijab kabul itu terasa getir. Bergema di antara isak tangis, di depan jenazah sang mama. 😭😭😭

Kak Atun, perempuan semesta yang kami kenal adalah perempuan yang kuat. Sangat kuat. Yang punya senyum paling cemerlang, tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum. Saya pernah mendengar, cobaan besar diberikan kepada orang yang besar, cobaan hebat diberikan kepada orang hebat. Sesuai wadahnya. Kami menyayangimu, tapi Allah Yang Maha Pengasih lebih menyayangimu dengan ujian ini.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wafuanha untuk mamata.

Kakak Atun, selamat sudah jadi istri. Barokah kehidupan baruta. Sakinah mawaddah warohmah. Walau tidak akan sama tapi Allah menghadirkan seseorang yang menyayangimu seperti mama menyayangimu. Uhibbukifillah.

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar