Di sebuah padang rumput. Dandelion tumbuh indah memenuhi rerumputan. Ada air mata yang menetes. Lalu angin bertiup. Seketika menerbangkan serbuk putih dandelion beserta titik-titik air mata. Mereka menyatu, berkilauan di antara cahaya matahari. Menari diiringi lagu kesedihan. Sebanyak dandelion yang beterbangan, air mata tak berhenti berderai. Padang rumput yang luas itu diguyur kesedihan dan kehilangan.
.
.
Sungguh, perpisahan terjadi untuk menemukan pertemuan yang baru.
.
.
Kereta datang, dia menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Melihat sisa air mata yang telah mengkristal. Air mata perpisahan. Sekali lagi, dia memeluk sesak, mengendapkan kenangan di bagian terdalamnya hati.
.
.
Sungguh, perpisahan akan menuntun dirinya menemukan sebuah pertemuan yang baru.
.
.
Kereta menjauh, mendekati takdir baru. Mungkin akan ada tawa bahagia. Tapi semesta tidak selalu berpihak padanya. Pada akhirnya, perpisahan kembali terjadi. Dandelion akan bertemu dengan bulir air matanya. Sekali lagi. Lalu, berkali-kali.
.
.
Sungguh, perpisahan membawanya pada pertemuan demi pertemuan yang baru.
.
.
Juga, sakit yang baru.
.
.
r.i.a
Jumat, 30 November 2018
Perpisahan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar