Rabu, 07 November 2018

Pengampunan

Surat itu masih tergeletak di atas meja
Sudah lama bahkan telah berdebu ia
Kesepian dan hampir saja menangisi dirinya yang seolah terbuang
Siapa yang tega membiarkannya seperti itu?

Isinya memang banyak yang tidak begitu memahaminya
Bahkan kesulitan membacanya
Penuh teka teki di setiap kata perkatanya
Apa itu alasan yang tepat untuk mengabaikannya?

Bukan, bukan itu
Bukankah sudah banyak yang mengingatkan untuk senantiasa membacanya?
Bahkan setiap detik seharusnya surat cinta yang penuh romansa itu menjadi oksigen di tiap hirup nafas kita

Lalu, imanlah yang semakin tergerus
Sujud-sujud yang sudah tidak lagi panjang
Do'a-do'a yang sekenanya saja terucap
Malah banyak yang tidak lagi melafalkan baris-baris pinta

Sang Penulis Kehidupan, yang merindu
Yang tetap menunggu
Yang tidak berhenti kasih sayangNya
Yang telah dulu memgampuni sebelum istighfar terucap

Yang setiap nafas hidup kita Dia belai dengan sangat lembut
Menuliskan surat cinta itu untuk menghibur hati yang sedang bersedih
Yang memberi petunjuk bagi yang sesat
Yang mengobati si sakit
Merahmati siapapun yang membacanya

Ampuni lalai yang sangat tega ini
Ampuni cinta yang hanya mengaku saja
Ampuni rindu yang tiada lagi tersedu
Ampuni lisan yang tiada lagi basah oleh dzikir
Ampuni mata yang tiada lagi menangisi dosa
Ampuni tangan yang tiada mendekap surat cintaMu
Ampunilah dosa-dosa yang memenuhi hati
Sungguh, hanya Engkau Yang Maha Hebat mengampuni lalai dan segala dosa-dosa.

Lalu jadikanlah kami hambaMu yang paling mencintaiMu
Allahu Robb semesta alam.

r.i.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar