Marriage is a little bit like gambling, isn’t it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua. Kemenangan yang bisa kita
peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua, tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita
ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. Saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita ”pertaruhkan”. Cinta, hati, tubuh, pemikiran,
keluarga, idealisme, masa depan, karier, setiap sel keberadaan kita sebagai manusia. Tidak bisa setengah-setengah. Saat menang, kita memang bisa memenangkan jauh
lebih besar daripada yang kita pertaruhkan. Cinta yang kita rasakan bisa berlipat-lipat, tubuh kita tidak lagi satu tapi sudah bisa melahirkan keturunan yang lucu-lucu. In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.
Note: Kata-kata di atas jelas bukan buah tangan saya. Saya dapat dari catatan yang entah dari mana saya copy. Kalau nggak salah ingat dari novelnya Ika Natassa, yang critical eleven atau antologi rasa. Entahlah. Tapi, jelasnya, saya copy bukan tanpa alasan. Menjadi catatan penting untuk para single. Bahwa hey, nikah gag segampang itu yehhh. Kita kayak mempertaruhkan banyak hal yang kita miliki. Makanya, sebelum deal dealan, lihat-lihat dulu dia kualitasnya kayak gimana. Dannnn, kualitas kita kayak gimana juga. Wajar aja mengharapkan yang sekelas Nabi Muhammad SAW uhuk, tapi apakah kita sudah sebaik Ibunda Khodijah? Nah, lalu bagaimana biar nggak rugi ketika sudah mempertaruhkan segalanya dan nggak menyesal di kemudian hari? Dari diri kita bos. Kalau kita baik, kita akan mendapatkan yang baik pula. Sudah sering dengar kan firman Allah "Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik dan sebaliknya". Tugas kita setelah mengajak diri kita baik adalah very very believe bahwa Allah gag akan ingkar janji. Jodohmu sesuai dirimu. Itu aja sih. Ahhhhh, maafkan saya yang belakangan ini suka tulis yang beginian, padahal masih unyu-unyu. Peace. Cuma sekadar alarm buat diri, biar makin baik. Etapi, tujuan utama menjadi baik bukan itu yah, tapi mengharapkan ridho dari Allah. Semangat para singlelillah. 😊😊
r.i.a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar