Seperti menonton sebuah layar. Ada aku yang menatapmu dengan linangan air mata. Setelah sekian lama. Waktu yang terus masih saja tak bersahabat. Di mimpiku semalam, kita dipertemukan. Tidak dengan keadaan baik-baik saja. Semua penuh drama. Jarak kita begitu dekat. Tapi aku masih sama seperti di mimpi-mimpi sebelum ini, tak bisa menggapaimu.
Bahkan untuk sebuah kata "Hay". Tidak. Kau tidak mengatakan apa-apa. Kau seolah sengaja menjauh. Lalu aku mengejarmu. Langkah yang tak pernah berhenti. Semakin kukejar semakin melesat kau dariku. Menciptakan jarak yang semakin lebar. Kupaksa kaki-kakiku melaju. Kau akhirnya berhenti. Membalikkan wajah dengan gurat yang tidak bisa kueja.
Kusebut namamu, bibirmu berkedut seolah ingin membalas menyebut namaku. Tapi kau menahannya, dengan sekuat tenaga yang kau punya. Aku terisak, kau hanya memandangku (tanpa iba). Aku terduduk, isakanku semakin dalam. Kututupi wajahku yang sudah memerah, sedih, berderai air mata. Kau akhirnya ikut berjongkok. Tapi tak sedikitpun usahamu membuatku merasa lebih baik.
Aku terbangun, untuk kesekian kali. Mengutuk malam yang menghadiahiku mimpi buruk. Sama persis dengan mimpi-mimpi yang hadir sehabis kau mengabaikanku. Mengabaikan perasaanku. Aku paling benci berada di posisi ini. Kau tahu. Ketika aku sudah yakin tidak akan merana ketika mengingatmu lagi. Tapi di sisi lain di hatiku, aku sakit, hanya karena sekali lagi mengingatmu. Mengingat bagaimana tak acuhnya kau padaku. Lebih acuh dibanding dirimu yang ada di mimpiku.
Lalu aku bertanya-tanya pada gelap sisa semalam. Apakah ada sedikit saja waktu, seperti sisa malammu, kau ingat padaku. Sekali saja. Dan kau merasakan hal yang sama. Merasakan ngilu di dada. Perih sampai ke tulang-tulang. Kemudian bibirmu kelu, lirih mengucapkan namaku. Nama yang tak pernah sekali saja kudengar kau menyebutnya. Bahkan dalam sebuah mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar