Minggu, 19 Februari 2017

Kau Aku Rindu

Ada gelap di luar sana. Pun hujan rintik tak berhenti sedari tadi. Apa yang kupikir sekarang katamu? Aku terlampau pencemburu. Entahlah. Bahkan aku tak tahu jelas apa yang kucemburui. Apakah pada daun yang jatuh di sampingmu yang kau bisikkan kata rindu. Ataukah pada bintang di angkasa yang kau puja kecantikannya. Apakah pada hujan di luar sana yang membuat gerahmu hilang.

Aku bahkan tak pernah mengerti sejak kapan aku cemburu pada apa yang kau lihat, kau rasa, kau dengar, kau raba. Apa aku terlalu menaruh harap pada janji yang kubuat sendiri? Apa aku terlalu jatuh terlalu dalam pada rasa yang tak sepantasnya? Jika demikian ajari aku memendamnya sekalian mengacuhkannya.

Ada yang luka ketika kutatap wajahmu. Sebab tak dapat kubaca apa yang tereja di sana. Apa yang sedang kau rasa. Apa yang sedang kau pikir. Apakah kau bahagia ataukah bersedih. Lalu apakah...apakah pernah sekali aku hadir di pikiranmu? Apakah...apakah pernah sekali aku ada di hatimu meski ruangnya sedikit saja? Kapan aku dapat mengetahui semua jawaban tanyaku ini? Ataukah adakah waktu untuk aku dapat mengetahui jawaban atas semua rasa gelisah ini?

Jika memang semua harus kupendam sendiri. Kuredam sendiri. Maka ajarilah aku. Ajari aku tuk tak memikirkanmu. Tuk tak khawatir tanpa sebab padamu. Tuk tak cemburu pada apa yang ada di dekatmu. Ajari aku. Biar hati ini tenang. Kauuuu..aku rindu.

Bersetia

Ternyata aku tak setega itu mengusir bayang gelap yang sebaris lagi akan lenyap.
Atau tak pernah tega menutup pintu dan jendela untuk menghalangi seberkas cahaya menyeruak.
Karena kehilangan cahaya juga berarti kehilangan sepekat bayang.
Maka, tetaplah seperti itu, meski aku tak pernah yakin di antara kita mana cahaya dan mana bayang. 
Tapi yang kutahu mereka tak pernah bisa dipisah bukan??

Pertarungan Takalar

Tanggal 15 kemarin memang akan menjadi sejarah suatu hari nanti. Selayaknya sejarah, tentu akan menjadi kisah di masa mendatang. Selayaknya sejarah, jika tak diceritakan dan dituliskan mungkin hanya akan jadi kenangan. Maka, biarlah saya kisahkan satu kisah pertarungan dari 101 pertarungan Pemilu di Indonesia kemarin.
Takalar...
Alhamdulillah, diberi kesempatan menjadi saksi sejarah pertarungan yang luar biasa di sini. Bahagia mungkin dikasih kesempatan mengawal istri calon bupati ust Syamsari Kitta, ibu Irma.
Pukul 12 tanggal 14 sehari sebelum pemungutan suara berlangsung. Saya beserta ibu dan supir pribadinya akhirnya berangkat dari Makassar ke Takalar. Setelah sebelumnya sibuk sana sini mengurus beberapa hal yang perlu diurus di Makassar. Agak lama, sehingga kami baru tiba di Takalar pukul 2. Sesampainya di sana, euforia masyarakat Takalar luar biasa. Kami memulai agenda sore itu dengan do'a bersama mengetuk pintu langit untuk kemenangan esok hari. Dimulai dengan melantunkan ayat-ayat kemenangan Al Anfal dan At Taubah, dilanjut dzikir dan do'a penutup yang syahdu membuat ibu-ibu yang memenuhi mesjid ini sesenggukan bersahutan dan diakhiri dengan do'a Robitha yang dipimpin sendiri oleh ibu Irma. Setelah agenda yang dihadiri ratusan jamaah ibu-ibu ini, saya yang bertugas mengcover ibu sedikit kewalahan atas banyaknya permintaan foto bareng di dalam masjid sebab di luar sedang turun hujan. Sesekali saya harus mengambil jarak yang jauh dari ibu untuk memberi ruang pada ibu-ibu yang berebut foto berdua, foto berkelompok, foto selfie dan beberapa kali harus jadi fotografer dadakan juga. Agenda ditutup dengan santunan anak yatim. MaasyaaAllah, tulisan ini tidak bermaksud riya', hanya ingin menyampaikan kebenaran untuk kemudian bisa dipelajari di kemudian hari, terkhusus diri pribadi.
Hingga maghrib menjelang, barulah suasana menjadi sedikit tenang. Di rumah salah satu timses kami beristirahat. Ibu yang saya ikuti bagaikan ekornya kesana kemari itu selalu melantunkan do'a "Semoga kita besok menang yah..semoga kita menang"
"Aduh ria,,kalau bisa saja, tapi ibu gag berani juga, mau ibu tiru do'a Rosulullah di perang badar yang begini 'Yaa Allah jika tidak Engkau menangkan kami di perang ini, maka jangan harap akan ada yang menyembahMu' tapi ibu agak gimana gitu.. Yah kita sudah berikhtiar semaksimal mungkin tinggal mengetuk pintu langit ini. Jangan lupa nanti Tahajjud yah"
Iyyah, ikhtiar yang maksimal, saya langsung ingat agenda Direct Selling. Agenda meyakinkan warga untuk memilih SKHD (Syamsari Kitta Haji Dede). Banyak kisah yang tak habis jika diceritakan semuanya. Yang mengesankan adalah agenda dor to dor ini tak sedikit dihadiri ibu-ibu. Ibu muda yang baru satu dua ekornya. Yang anaknya masih merah digendong kesana kemari. Yang punya anak sampai 3,4,5 maasyaaAllah...Luar biasa mereka mengajarkan perjuangan sedari kecil pada anak-anaknya. Tentang dakwah yang jalannya terjal, berkerikil, tidak mudah. Di sana segala peluh, air mata bahkan darah menjadi saksi atas setiap perjuangannya.
Pagi hari yang ditunggu-tunggu datang. Hari pencoblosan. Ustad dan istri siap-siap ke TPS. Pagi yang haru biru. Setelah menghabiskan malam dengan bermunajat, calon bupati ini juga pagi-pagi masih berkutat dengan Qur'an, melantunkannya dengan syahdu. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tengah, si ibu yang saya tunggu dari kamar akhirnya muncul juga yang dibantu ustad membawakan barang-barangnya. Matanya sedikit sembab, entah apa yang terjadi saat kami menunggu pasangan suami istri ini keluar. Dan matanya semakin sembab saat acara pamit-pamitan sama orang tua. Ustad dan istri sungkeman kepada ibu, mencium tangannya, memohonkan do'a kebaikan membawa kemenangan untuk rakyat Takalar.
Sekitar pukul 08.30 kami tiba di TPS ustad dan istri mencoblos. Hari itu, ditemani juga dengan anak pertama mereka yang bernama Safira. Sesampai di sana TPS tiba-tiba riuh dan kembali acara foto-foto berlangsung. Ustad yang tak pernah lepas senyum dari wajahnya inipun tak pernah bosan dan lelah meladeni acara foto bersama para pendukungnya. Ternyata awak mediapun tak ketinggalan, sudah menunggu di TPS ini, membuat ustad kemudian mencandai warga bahwa nama kampung mereka sudah sampai di Jakarta. Warga kembali riuh. Hujan deras tiba-tiba turun, kami yang tadinya berada di luar ruang tempat mencoblos yang hanya beratap terpal yang bocor pun akhirnya masuk ke ruang pencoblosan. Nama ustad dan ibu dipanggil, juga Safira. Segalanya terabadikan di kamera media, pengambilan kertas suara, masuk bilik, memasukkan kertas suara di kotak suara hingga kelingking yang menjadi ungu. Terakhir interview. Saya bayangkan, betapa lelahnya semua yang dilakukan untuk ini. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa guna-gunanya ikut pesta demokrasi, habiskan uang dan tenaga. Ah, yang berkelakar seperti itu hanya tak tahu saja nikmatnya berjuang. Lihatlah bapak ibu ini, tak pernah mengeluh. Demi apa? Jika ada yang berkata untuk uang, maka bisa saya jaminkan keluarga ini sudah cukup sejahtera soal itu. Maka, ini tentang mensejahterakan orang lain yang tak bukan adalah rakyat, tentang menegakkan keadilan, tentang memakmurkan kehidupan mereka. Soal ini, banyak yang lebih mengerti dibanding saya yang hanya bertugas mengawal.
Selesai mencoblos, singgah sebentar di rumah orang tuanya ustadz. Lanjut ke rumah timses. Di sana agak lama. Banyak cerita perjuangan di sana. Sayangnya saya bukan orang yang tahu bahasa Makassar. Sedikit-sedikit mengerti setelah ada yang bantu jelaskan. Bahwa sudah beberapa malam, warga di sana jarang ada yang tidur malam hari. Mereka menjaga basis agar tidak dimasuki pihak tak bertanggung jawab. Ada ibu-ibu yang semangat sekali menceritakan kepada saya bahwa sudah beberapa kedapatan datang membagi-bagikan amplop, maka warga di sana menginisiasi untuk menjaga basis pemenangan dengan bergantian keliling malam-malam. Bahkan si ibu ini juga ikut-ikut tidak tidur. Ada bapak-bapak juga bercerita berapi-api, sayangnya pakai bahasa Makassar, saya selalu merasa sedih jika tidak mampu mengerti apa-apa. Maka jadilah saya seperti pengawal yang mematung di samping ibu.
Mendekati waktu sholat dhuhur, rombongan 3 mobil berangkat ke DPD PKS Takalar untuk melihat proses Quick Count dan real Count. Semua sudah pada penasaran. Yang membuat haru tiba-tiba adalah sepanjang perjalanan ke DPD supir harus membuka kaca jendela mobil oleh banyaknya pendukung SKHD di jalan yang menyapa sambil teriak "Berua Baji" jargon pemenangan. Dan tak sedikit ibu-ibu dan bapak-bapak yang menangis, mereka seakan melihat masa depan kebaikan di wajah Ustad. Ustad menyalaminya satu-satu. Bapak supir yang juga warga Takalar ikut tersedu. Duh, saya yang duduk di samping Pak supir hampir-hampir ikut berderai kalau tidak ingat sedang bertugas. Saya menoleh ke belakang, Ibu Irmapun tak ketinggalan. Hanya ustad yang selalu memasang wajah senyum wibawanya. Sepertinya memang warga sudah sangat merindukan sosok baru yang bisa melegakan setiap harap. Melepaskan setiap kezaliman. Mengangkat setiap angan-angan kesejahteraan rakyat.
Perjalanan ke DPD ternyata lumayan jauh. Takalar indah, samping kiri kanan sedang berhijauan padi yang tertanam. Di kaki langit ada awan hitam menggantung,siap-siap memuntahkan air hujan. Curahnyalah yang menggenangi tiap petak sawah. Pukul 12.30 kami sampai di lokasi. Saya, ibu dan Safira berpisah dengan rombongan bapak-bapak. Kami menuju rumah salah seorang kader pas di samping DPD. Di sana agak surprise, akhwat-akhwat dari Makassar memenuhi rumah. Mereka mendapat amanah jadi koki buat semua timses, pengelola data quick count dan real count dan tamu-tamu lainnya di sekitar DPD. Dan selalu merasa nyaman berada di kumpulan orang-orang ini. Wajah-wajah teduh yang selalu penuh keikhlasan berjuang, wajah yang lelahnya tiada nampak oleh keceriaan melakoni peran dakwah. Dan selalu yang bikin merinding adalah bu ibu yang membawa jundi-jundi kecilnya kemana-mana. Sekali lagi, bukan 1, 2 yang mengekori mereka. Tiga, empat, lima anak yang jarak usia mereka tak berjauhan. Dan saya akan selalu speachless mendapati yang seperti ini. Mana ada bayi lagi.. Untungnya banyak akhwat-akhwat jomblowati yang gemas melihat anak-anak kecil yang akhirnya berebutan menggendong anak-anak ini hehe.
Hari semakin beranjak. Satu dua laporan dari saksi TPS tentang hasil perhitungan cepat. Maka, tiap TPS yang memenangkan SKHD, seruan takbir menggema. Mata berkaca-kaca, mulut bersahutan, semoga dakwah ini menang, semoga dakwah ini menang, tidak ada yang sia-sia, kita sudah berjuang. Laporan-laporan terus masuk, telpon berbunyi, pesan grup WA memenuhi tentang hasil perhitungan. Wajah-wajah penasaran ingin tahu, yang sebenarnya gedung di sebelahlah yang lebih tahu. Maka akhwat-akhwat dan ummahat-ummahat ini hanya update melalui ponsel. Aura-aura optimis tetap disunggingkan. Hingga sore hari tiba-tiba ada konvoi bersahutan dari pihak lawan. Memang saat itu, ada laporan dari sebelah hasilnya beda tipis, hanya beda nol koma persen. Jangan panik dulu, tetap tenang, jangan terbawa suasana, tetap tenang, data yang masuk belum 100 persen, masih ada harapan.
Dalam situasi seperti ini, saya yang kebiasaan kalau ketemu akhwat-akhwat kadang lupa tugas. Dan sempat kehilangan wajah ibu yang saya kawal. Maka mulai panik, kemana? saya cari ke dapur, ke ruang tengah, ke atas lantai 2, turun lagi, ternyata ibunya lagi di kamar sedang sholat. Eh, bukannya tadi sudah dijamak yah sholatnya? Ternyata ibu sedang sholat memohon pertolongan. Bukannya di surah Al-Baqoroh 45 mengatakan "mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat". Sedari tadi memang wajah ibu tidak tenang dengan keadaan beda tipis ini, maka mahfumlah saya bahwa kemudian ibu langsung ambil wudhu dan sholat meminta pertolongan kepada Allah. Bukankah do'a adalah senjata terbaik kita? Grup-grup WA mulai penuh seruan memanjatkan doa, tilawah yang banyak untuk kabar gembira kita bersama.
Hingga sehabis isya, dari gedung sebelah sesekali terdengar takbir, atau tepuk tangan. Yang kepo di tempat kami pada ingin tahu ada apa, ada apa? Si ibu masih bermunajat, dia bilang tetap tenang sampai hasil final. Sekitar pukul 20.10 di grup WA info dari sebelah kita sudah menang, sudah mulai konferensi pers. Saya tanya ibu, "Gag mau ke sebelah bu, sudah konferensi pers katanya?"
"Tunggu sampai ada kejelasan.." Ibu sabar benar..
Semakin besarlah teriakan takbir dari samping makin kepolah kami yang tinggal beberapa orang, sebab beberapa teman akhwat sudah pada balik ke Makassar sore harinya. Dan sekitar pukul 21.30 ibu panggil-panggil saya..
"Ayo ke sebelah, mau kasih congrats buat Pak syamsari"
Sesampainya di sebelah pada riuh mengucapkan selamat kepada ibu. Setelah masuk ruangan ibu menyalami Pak Syamsari mengucap selamat. Di sana wajah bahagia terukir, pun wajah waspada untuk tugas selanjutnya. Mengawal suara hingga akhir..
Hanya yang berjuang yang bisa merasakan nikmat kemenangan..
Hanya yang berpeluh yang bisa merasakan nikmat pertarungan..
Barokallahu buat Pak Syamsari Kitta .. Semoga amanah..
Kemenangan ini adalah kemenangan Rakyat Takalar..
Ikut teriakan para konvoiers "LANTIKMI...."
_Makassar, 16 februari 2017

Deras Hujan

Tiga orang anak perempuan. Umur berkisar 4 dan 5 tahun. Sore ini, hujan deras di Makassar, ketiga anak ini dari tadi melengkingkan suara tawa keceriaan. Nasib mereka tak jauh beda denganku. Kuyup. Hanya saja kuyup mereka, mereka nikmati. Mana tidak, lantai keramik depan sebuah bangunan yang kujadikan tempat berteduh tergenang air, ketiga bocah ini menjadikannya tempat seluncuran dari ujung ke ujung. Kelihatan sangat bahagia, tawa mereka melengking, kadang membalikkan wajah padaku penuh senyuman. Aku membalasnya, apalagi ketika salah satunya melakukan atraksi aneh. Aku ikut tertawa yang sudah menggigil kedinginan. Toh, kecilku dulu sepersis mereka. Bahagia saat deras hujan. Lari kesana kemari mencari genangan, bahagia ketika mendapati air meluncur deras dari pancuran atap rumah warga di kampung..
Yah, di balik kekesalan sebagian orang pada hujan yang tiba-tiba menderas. Ketahuilah ada keceriaan anak-anak di sana.

Menerka

Di balik waktu aku berlindung pada khianatnya jiwa yang membeku.
Di balik dinding yang kokoh, ada kata yang tak pernah terbaca oleh hati.
Tak mampu menebak dan tak berani menyimpulkan. 
Maka, biar saja jadi teka-teki, sampai waktu membuka dan meruntuhkan.
Dan akhir dari segalanya adalah jiwa yang tenang mengeja setiap apapun yang tersembunyi di sana.

Nama Laki-laki

Belakangan pas mulai tanam menanam di halaman depan rumah entah sayur atau bunga, ada aja bu ibu yang singgah buat nanya boleh berbagi dek??
Alhamdulillah daun kelor dari dulu emang selalu subur ditambah hujan makin subur dan kangkung yang makin menjalar. Dan bunga-bungaan yang bijinya saya bawa dari kampung Alhamdulillah juga sudah mulai mekar semua.
Maka, bu ibu tetangga mulai melirik halaman yang dulunya penuh rumput wkwkwk. Mungkin merasa heran atas perubahan halaman, halahhhh..
Dan kemarin ada seorang ibu yang sering ketemu di toko sebelah menyempatkan diri mengambil beberapa pohon bunga yang sebenarnya sudah saya tata baik-baik tapi tak apalah namanya juga bertetangga #eh..
Dan mulailah selalu bu ibu yang datang nanyain "sama siapa?" saya jawab sendiri saja..
Dan bu ibunya mulai kasih beberapa tips selain memang bu ibunya sudah mendengar desas desus tentang beberapa bulan yang lalu rumahku kemasukan maling. Apalagi pas liat saya yang masih single wkwkwkwk. Maka di penghujung nasihatnya bu ibu ini bilang gini "kamu kalau mau tidur, sebelum matikan lampu, kamu sebut saja satu nama laki-laki. Biar seolah-olah ada orang yang kau temani"
Saya yang lagi memperhatikan kupu-kupu yang lewat hanya bisa nyengir dan hanya bisa iyyah iyyah saja, tapi dalam hati "jadi siapami nama ini saya sebut sebelum tidur??" ðŸ˜„😄😄

Kerinduan Pelangi Kepada Hujan

Mungkin pelangi kadang bersedih mengapa ia tak pernah bertemu hujan meski sama-sama berasal dari langit.
Maka ia akhirnya hanya mampu melipat segala rasa rindu yang pernah terurai untuk bisa menerima sebab hujan yang tak pernah menemuinya.
Dan hanya saja pelangi tak pernah tahu bahwa hujanlah yang melukis indah warnanya bukan??