Jumat, 12 Januari 2018

Aku yang Kamu

Ada air yang tumpah-tumpah di sini
Seperti rasaku yang telah tumpah-tumpah sekian kali

Ada angin yang berlari-larian di sini
Seperti imajiku tentangmu yang tak pergi-pergi sejak kemarin

Ada embun dingin yang membekukan di sini
Seperti engkau yang tetap dingin membalas aku yang selalu kamu

r.i.a

Malaikat

Seperti ini: pada suatu hari kau bertemu dengan seseorang dan untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, kau merasa lebih dekat dengan orang asing ini daripada siapa pun-lebih dekat dari keluarga terdekatmu. Mungkin karena dia membawa malaikat dalam dirinya-dia dikirimkan kepadamu untuk tujuan yang lebih mulia; menyampaikan pelajaran penting atau mengamankanmu ketika terancam bahaya. Yang harus kau lakukan adalah mempercayainya-bahkan andai dia datang bergandengan tangan dengan penderitaan-alasan kehadirannya akan menjadi jelas pada waktunya.

Namun, ini adalah peringatan: kau mungkin tumbuh mencintainya, tetapi ingat dia bukan milikmu. Tujuan dia bukan menyelamatkanmu, tetapi menunjukkan kepadamu cara menyelamatkan diri sendiri. Dan, jika hal ini terpenuhi, lingkaran cahaya akan mengangkatnya, malaikat meninggalkan tubuhnya, dan seseorang hadir untuk hidupmu. Dia akan menjadi orang asing bagimu sekali lagi.

..........................................................
.
.
Kini gelap sekali di sini. Tidak ada sepercik cahaya pun di sekelilingku.
Karena cahaya berpendar dari dirimu. Kau tidak bisa melihatnya-hanya orang lain.

Kenang

Satu pagi yang cerah tanpa kabut di kaki gunung bawakaraeng. Setelah sebelumnya bersemedi di balik selimut, akhirnya dengan memberanikan diri, saya ke kamar mandi juga. Bersentuhan dengan air di daerah yang hampir minus derajat adalah salah satu percobaan penyiksaaan diri. Lebay, tapi coba saja sendiri, hehe. Yah, apa mau dikata, kami, pada  jumat terakhir di tahun 2017, datang di tempat ini not just for the fun of spending vacation time. Tapi melaksanakan sebuah “misi rahasia”, OK ini tidak akan saya ceritakan di sini, namanya juga rahasia. Dan buat beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tolong dengan sangat, jangan menjadi orang yang terlalu baik dengan membocorkan rahasia ini dikolom komentar. Hehe

Setelah berjuang mati-matian mengalahkan dinginnya air pegunungan, saya dan seorang teman bersantai sejenak. Menikmati sajian pagi dan sebuah novel. Beruntungnya, kami adalah dua orang dengan banyak kesukaan yang sama. Suka adventure, senang menghabiskan berjam-jam waktu untuk sebuah buku, berbahagia ketika bisa menulis beberapa kata di sebuah buku diary. Dan here we are, secangkir kopi, secercah cahaya matahari yang menghangatkan tubuh dan sebuah story of novel. Bedanya, teman saya ini yang setelah 2 hari bersamanya membuat saya agak sensi setiap berjalan dan dia akan mengeluh about “sepatunya yang akan kotor”. Sumpah mati, saya rasa-rasanya mau ambil sepatunya dan merendamnya di lumpur atau di comberan, haha. Tapi itu tidak akan saya lakukan. Saya sudah sangat beruntung bisa dia temani, setelah sebelumnya harus membujuknya yang sudah capek telah melakukan perjalanan jauh. Sumatera-Jakarta-Makassar. Dan beberapa saat setelah landing di Makassar langsung saya todong dengan “Pokoknya, kamu harus temani saya ke lembanna selama saya liburan, satu minggu, titik”.

Dia bersama Novel-yang saya sudah lupa judulnya-dengan bentuk sebuah buku dan saya bersama novel digital (ebook) di gadget. Dan tentu dengan story yang berbeda pula. Novel religi terjemahan tentang seorang wanita bercadar dengan segala pelik dan cobaan hidupnya membersamai teman saya. Sedangkan saya, berkonsentrasi dengan seorang Keara yang hidup di kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk kehidupannya. Clubing, drunk, boy friend dan intrik percintaan yang sangat alot. Pernah nonton anime Naruto dan fokus dengan kisah asmara mereka. Ah, kita akan gemes dengan Naruto yang menyukai Sakura teman satu timnya sedang Sakura tergila-gila dengan Sasuke yang stay cool dengan ambisinya dan tidak peduli dengan hal-hal berbau asmara dan seorang Hinata yang kalem, secret admirernya Naruto sejak kecil bahkan saat mereka belum masuk akademi ninja. Dan kisah Keara tidak lebih sama. Kisah klasik yang mungkin sangat banyak terjadi di mana-mana. Keara dan 3 orang sahabatnya adalah banker dengan gaji selangit yang diiringi dengan pekerjaan yang complicated. Dan juga punya kisah asrmara yang tidak kalah rumitnya. Ruly, lelaki cool yang baik hati dan alim membuat Keara fall in love at first sight. Denise wanita anggun yang keibuan adalah wanita impian Ruly yang sayangnya sudah mempunyai suami. Sedangkan Harris, sahabat Keara yang selalu ada ketika keara membutuhkan seseorang bahkan hanya sekadar kabur dari meeting yang membosankan, teman win win solution keara sampai mabuk, teman gila-gilaan Keara yang amat sangat rapi menyembunyikan perasaan kepada sahabatnya sendiri, keara. Jangan tanyakan bagaimana ending dari kisah cinta segi empat ini. Yang jelasnya, saya yang selalu dikatai teman saya sebagai “pembaca yang mengaku-ngaku pemeran utama di sebuah novel” sudah tergilas-gilas perasaannya membaca novel ini. Agak lebay
memang, tapi “Ika Natasya” memang penulis yang selalu sukses membuat pembacanya ber’oh’ atau ber’wow’ dan atau ‘oh oh begitu’. Lah, kok jadinya meresensi novel segala saya yah?

Ok, back to nature, eh back on my holiday. Setelah melaksanakan misi rahasia di hari ketiga selama di Lembanna. Kami akhirnya, siang itu selepas dhuhur kembali menjajaki desa. Meski sebenarnya saya tidak akan bosan dengan mengunjungi lagi water fall-nya yang so beautiful, tapi kali ini, karena selama 2 hari kemarin tidak sempat-sempat mendaki lembah ramma sebab cuaca yang tidak mendukung, rain again and again. Maka, di jumat yang cerah yang sayangnya jumat karena yang akan mengantar kami tidak mungkin sholat jumat di hutan. Jadi kami bermaksud menghabiskan saja sore itu dengan menyelesaikan berlembar-lembar novel yang belum selesai di hutan pinus. Hey, liburan malah baca buku? Tolong jangan dibully, ini hanya salah satu cara menikmati hidup bro.

Ketika kami akan sampai di hutan pinus, mata teman saya berbinar-binar melihat padang hijau di sisi kanan hutan dan serta merta mengambil inisiatif mengajak saya menuruni dan mendaki jalan berbatu untuk sampai di sebuah kebun wortel, yang meski hanya sebuah kebun wortel tapi huuu, eksotik banget sampai-sampai saya harus berlebay-lebay memakai gaya ala-ala video klip india yang sedang jatuh cinta hanya untuk mengekspresikan kebahagiaan, haha. Tolong jangan tanya saya ngapain aja di sana. Saya tidak akan jawab, biar Tuhan, alam dan beberapa klip mata kamera yang mengabadikannya yang tahu. Haha.

Karena sudah berkali-kali saya katakan bahwa bahagiaku itu sangat sederhana. Maka, beginilah caraku berbahagia dengan segala keseksian dunia. Tsahhh.

r.i.a

Rabu, 11 Oktober 2017

Pergi


Aku kembali tapi bukan untuk menetap.
Aku kembali untuk mengumpulkan puing-puing kenangan untuk kubawa serta. 
Memeluknya satu-satu di kala malam tiba dalam keheningan sebuah nostalgia.

Aku akan lekas pergi entah kemana.
Jangan ditanya karena akupun masih meramu peta. 
Mungkin ke arah bintang timur biar tidak tersesat, 
sebab bayang bahkan tak ingin memberi tunjuk akan tujuan.

Aku tak usah kau tunggu untuk kembali pulang. 
Sebab, pulangku kini telah lenyap bersama petikan dawai yang melebur desau angin malam. 
Pun rinduku sudah tak lagi soal pulang. 
Tapi ia telah menjelma rimba raya yang ingin disapa.

Aku sekali lagi pamit, pergi tak kembali dan kedatangannya tidak usah ditunggu lagi. 
Semesta telah menantiku. 
Malaikat tolong aku untuk tidak lagi menengok ke belakang. 
Cukup tuntun aku tuk terus melangkahkan kaki hingga ke selatan lalu ke utara dan tidak meninggalkan satupun jejak. 
Sebab, aku adalah si sunyi yang tak ingin berjejak.

Selasa, 02 Mei 2017

Ngantuk

Aku menyeka air di sudut mata. Entah sudah berapa kali aku menguap. Aku melirik jam di dinding, baru pukul delapan. Semalam memang aku tidak tidur sampai subuh. Badanku malah pegal-pegal berbalik kiri kanan kayak sate yang lagi dibakar. Sate aja nggak sampai semalaman di bolak balik. Huh, mana aku harus begadang malam ini buat selesaikan tugas yang sudah di ujung deadline. Wajah sudah kubasuh berkali-kali, kopi kental sudah habis kuteguk. Hanya mata yang tidak mau kompromi.
Hoammm, sekali lagi aku menutup mulut dengan punggung tangan kiri. Kali ini dibarengi dengan air kelenjar yang keluar cukup banyak. Buru-buru kulap dengan ujung lengan baju, sebentar kalau ada yang lihat dikiranya aku nangis gara-gara apa. Ah, sudahlah, mungkin saatnya tidur walau hanya semenit. Kata mama, nggak boleh paksakan diri, nanti malah sakit. Yang repot siapa coba?
Mataku segera merapat seiring kepala menyentuh benda empuk di ujung tempat tidur. Keesokan harinya, aku gelagapan melihat jam di handphoneku. Pukul 12.00.

Bintang

Aku baru tahu kalau bintang yang bercahaya paling terang di angkasa adalah juga yang paling cepat mati. Suhu yang sangat tinggi membuat massanya cepat habis dan lama-lama hilang. Tapi sayangnya, aku terlanjur mengagumi bintang yang paling terang. Menatap dan berandai-andai bisa memetiknya. Ah, pikiran bodoh. Meski begitu, aku rasa justru itu keistimewaannya. Hadirnya cuma sebentar, tapi cahayanya mampu menenangkan jutaan hati yang sedang jatuh pada kedalaman yang sangat gelap.

Minggu, 30 April 2017

Kematianku

Sekuat apa kau mengusirku, sekuat itu pula rantai-rantai pemberat mengikat kakiku, mencegahku melarikan diri darimu. Lalu apa yang harus aku lakukan ketika bayang-bayang menertawakan secercah cahaya di gelap kesadaranku. Percuma juga rintih itu, sia-sia juga teriakan yang meronta dalam diam itu. Kini, api yang membakar mulai padam. Meninggalkan segenggam abu yang siap kau hanyutkan di kedalaman arus jiwamu. Biarkan ia di situ, lama, dan akhirnya mengendap tak berbentuk. Biarkan ia menjelma peri kecil yang menemanimu menertawakan sebening air yang jatuh di pipiku, membantumu mempertebal kabut di pelupuk mataku. Dan akhirnya membuatku buta. Sebuah keadaan yang kuyakini akan berujung bahagia bagimu. Katamu, mataku adalah racun, maka musnahnya menerbitkan kegirangan dalam hatimu. Ah, selamat bagimu. Kau kini berhak bersorak atas kematianku. Tapi sayangnya, meski aku telah mati, jantungku masih berdenyut meneriakkan sebuah nama yang persis namamu. Mataku masih mencari-cari di mana matamu. Pikiranku masih sibuk mencemaskan bagaimana kabarmu. Dan itulah saat aku mati dalam keadaan tidak tenang.